Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Juli 2008

IBADAH DAN KERJA


Esra Alfred Soru



Beberapa waktu yang lalu saya diminta oleh sekelompok orang untuk membawakan sebuah renungan dengan tema “Ibadah dan Kerja”. Ini tentu adalah tema yang bagus dan menarik. Mengapa? Karena tema ini ingin mempertemukan dua hal yang seolah-olah bertolak belakang. Di satu sisi ada orang yang bekerja sampai lupa beribadah. Mereka terlalu sibuk dengan urusan-urusan pekerjaan di kantor, di laut, di kebun, di pasar dan tempat-tempat lainnya sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan atau lupa untuk beribadah kepada Tuhan. Itulah sebabnya Mat 6:33 berkata : ‘Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu’. Di sisi yang lain ada orang-orang yang terlalu bersemangat dalam beribadah sampai mereka lupa untuk bekerja. Bagi mereka, ibadah adalah segala-galanya. Dan mereka bisa menghabiskan seluruh waktu mereka untuk beribadah dan enggan untuk bekerja. Aliran-aliran sesat yang berkaitan dengan akhir zaman yang sering menubuatkan bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali tanggal sekian bulan sekian tahun sekian biasanya mempunyai gejala semacam ini. Mereka biasanya menghentikan diri dari segala macam aktivitas dunia dan hanya berkonsentrasi pada ibadah (menyanyi, berdoa, baca Kitab Suci) saja. Ambil contoh grupnya Mangapin Sibuea yang heboh beberapa tahun yang lalu yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali di kampung Baleendah di Bandung pada tanggal 10 November 2003. Mereka lalu berkumpul di kampung itu dan hanya beribadah mempersiapkan diri menanti kedatangan Tuhan Yesus dan menghentikan diri dari berbagai aktivitas pekerjaan. Ada begitu banyak orang dari NTT yang termakan tipu daya si Sibuea itu dan menjual semua harta benda mereka (rumah, sawah, tanah, dll) bahkan ada juga yang mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri hanya untuk pergi ke Baleendah untuk menanti kedatangan Tuhan Yesus. Demikian juga dengan sekte pimpinan Jim Jones di Amerika yang karena percaya bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali pada tanggal, bulan dan tahun tertentu lalu menyerukan kepada semua pengikutnya : ‘Hai suami-suami, ceraikanlah isterimu, hai isteri-isteri, ceraikanlah suamimu. Juallah rumahmu dan semua hartamu, berhentilah dari segala pekerjaan duniawi, para pelajar, berhentilah dari sekolah/kuliahmu dan marilah berhimpun bersama menyongsong kedatangan Tuhan Yesus’. Itulah ciri-ciri dari hampir semua sekte akhir zaman. Berhenti dari segala macam pekerjaan dan hanya beribadah saja. Jadi ada orang-orang yang hanya mau bekerja dan lupa ibadah, ada orang lain lagi yang hanya mau beribadah dan lupa bekerja.


Bagaimana pandangan Alkitab tentang kedua sikap ekstrim ini ? Ternyata Alkitab mengecam keduanya. Alkitab mengecam orang yang tidak mau beribadah dan juga mengecam orang yang tidak mau bekerja. Bagi orang yang tidak mau beribadah, Kitab Suci berkata : “Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu -- kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kau dirikan; rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kau isi; sumur-sumur yang tidak kau gali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kau tanami -- dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah’. (Ulangan 6:10-13). Tetapi bagi yang tidak mau bekerja, Kitab Suci berkata : ‘Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya…., karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu…..Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri’. (2 Tes 3:6-12).


Memang ada juga orang yang menyeimbangkan “ibadah” dan “kerja” tetapi tidak dalam pengertian yang benar. Mereka menganggap ibadah adalah hal-hal yang sifatnya rohani saja seperti baca Alkitab, berdoa, menyanyi, dll. Dan kerja adalah hal-hal yang sifatnya duniawi seperti main bola, memasak, kerja kantoran, dll. Dari sini kita bisa melihat bahwa pemahaman tentang ibadah dan kerja bagi kebanyakan orang Kristen masih terlalu kabur. Karena itu lewat tulisan ini akan saya ungkapkan 3 hal penting.


ALLAH ADALAH ALLAH YANG BEKERJA


Allah adalah Allah yang bekerja. Alkitab selalu menampilkan Allah sebagai Allah yang aktif, Allah yang bekerja. Misalnya dalam cerita penciptaan alam semesta. Jelas Allah telah bekerja yakni mencipta. Memang ada kalanya Allah hanya berfirman dan semuanya jadi tetapi itu tidak menghilangkan kesan bekerjanya Allah. Toh waktu Ia menciptakan manusia, Alkitab bersaksi : ‘ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup’ (Kej 2:7). Juga Kej 2:21-22 : “Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu’. Sebelum penciptaan manusia perempuan, Allah juga membentuk binatang dari tanah : “Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu’ (Kej 2:19). Semua ini membuktikan bahwa dalam peristiwa penciptaan, Allah telah menampilkan diri sebagai Allah yang bekerja walau harus ditambahkan bahwa kerjanya Allah tidak boleh dibayangkan sebagai sesuatu yang melelahkan Dia.


Bukan hanya dalam peristiwa penciptaan Allah tampil sebagai Allah yang bekerja. Allah adalah Allah yang bekerja juga terlihat dari karya providensi-Nya atau karya pemeliharaan-Nya atas alam semesta yang telah dijadikanNya. Aliran Deisme percaya bahwa setelah menciptakan alam semesta ini, Allah lalu meninggalkannya berjalan menurut hukum-hukumnya sendiri. Jadi Allah tidak lagi berurusan dengan dunia ini sama seperti seorang pembuat jam tangan. Ia merancangkan jam tangan sedemikian rupa dan setelah itu jam tangan itu berjalan berdasarkan hukum-hukumnya tanpa kontrol dari si pembuat jam lagi. Jadi apa yang terjadi dengan jam tangan itu di kemudian hari bukanlah urusan si pembuat jam tadi. Kita tidak percaya dengan teori omong kosong dari aliran Deisme ini. Alkitab mengatakan bahwa Allah setelah menciptakan alam semesta tidak lalu meninggalkannya sendiri. Ia tetap berurusan dengan alam semesta ini terutama manusia yang ada di bumi. Ia memelihara manusia dengan memenuhi kebutuhannya seperti memberikan matahari dan hujan. Mat 5:45 berkata : “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar’. Juga dalam Kis 14:15-17 dikatakan : "….supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan." Pemeliharaan Allah juga nampak dalam hubungan dengan bangsa-bangsa. Ia mendisiplin Israel yang tidak taat (Ul 28:15-68) tetapi Ia juga memulihkan mereka (Ul 30:1-10). Ia menghakimi Mesir (Kel 7-11), Ia membangkitkan bangsa-bangsa untuk berkuasa dan menurunkan mereka (Dan 2:21a, 31-43). Penulis surat Ibrani menulis dengan sangat indah tentang Yesus Kristus bahwa : ‘Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan…”. Jelas bahwa setelah Allah bekerja menciptakan alam semesta ini, Ia terus bekerja di dalam memelihara kelangsungan alam semesta ini. Ia tidak berhenti bekerja.


Pekerjaan Allah terus berlanjut. Ya, Ia bekerja dalam karya penebusan dosa manusia. Bapa mengutus Yesus ke dalam dunia ini dan bekerja keras demi menebus dosa manusia. Yesus adalah Allah sendiri tapi dalam masa inkarnasi-Nya, Ia juga menjadi manusia. Dan sebagai manusia Ia terkenal sebagai orang yang suka bekerja. Alkitab memang mengatakan bahwa Ia adalah anak tukang kayu (Mat 13:55) tetapi juga mengatakan bahwa Ia adalah tukang kayu. “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? ….’. (Mark 6:3). Pastilah Ia adalah orang yang bekerja. Dalam konteks yang lain Ia berkata : “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga." (Yoh 5:17).


Apakah pekerjaan Allah sudah selesai sampai di situ saja? Tidak! Pekerjaan-Nya masih berlanjut dalam kaitan dengan eskatologi Kristen di mana pada akhir zaman nanti Ia akan bekerja untuk menghakimi dunia ini. Kis 17:31 berkata : “Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, … Demikian juga Roma 2:16 : “Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus” dan masih banyak ayat lainnya.


Jadi jelas bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang bekerja. Memang di dalam Kej 2:2-3 dikatakan bahwa : “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” tapi itu hanya menunjukkan bahwa Ia berhenti mencipta bukan berhenti bekerja dalam segala hal. Fakta ini menarik. Allah adalah Allah yang bekerja! Artinya, jika kita bekerja maka kita mirip Allah. Kalau kita tidak bekerja atau malas bekerja berarti kita mirip siapa? Setan? Tidak! Karena setan pun bekerja bahkan rajin bekerja untuk tujuannya. Tuhan bekerja! Setan juga bekerja! Kalau engkau tidak bekerja maka engkau menjadi makhluk aneh yang tidak mirip Tuhan juga tidak mirip setan. Entah mirip apa? Jawab saja sendiri!!!


MANDAT KEBUDAYAAN = MANDAT KERJA


Saya pernah mendengar ada orang yang berkata demikian : “Coba kalau Adam dan Hawa tidak jatuh ke dalam dosa, mungkin kita tidak akan bekerja repot-repot. Kita pasti tinggal seperti dalam taman Eden. Makan, minum, tidur, bermain, dll. Pokoknya semua serba santai !’ Benarkah demikian ? Tidak ! Setelah Allah menciptakan manusia, Ia telah memberikan kepada manusia suatu mandat atau perintah untuk bekerja. Ini terjadi sebelum manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Perintah kerja ini tertuang dalam Kej 1:28 yang berbunyi demikian : “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi’. Di dalam Alkitab terjemahan lama (TL) bunyinya demikian : “Maka diberkati Allah akan keduanya serta firman-Nya kepadanya: Berbiaklah, dan bertambah-tambahlah kamu, dan penuhilah olehmu akan bumi itu dan taklukkanlah dia, dan perintahkanlah segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang menjalar di atas bumi”. Lebih jelas lagi dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) : “Kemudian diberkati-Nya mereka dengan ucapan "Beranakcuculah yang banyak, supaya keturunanmu mendiami seluruh muka bumi serta menguasainya. Kamu Kutugaskan mengurus ikan-ikan, burung-burung, dan semua binatang lain yang liar”. Ayat lainnya yang senada dengan Kej 1:28 adalah Kej 2:15 yang berbunyi : “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Terjemahan BIS berbunyi : “Kemudian TUHAN Allah menempatkan manusia itu di taman Eden untuk mengerjakan dan memelihara taman itu”. Terjemahan Todays English Version (TEV) berbunyi : “Then the LORD God placed the man in the Garden of Eden to cultivate it and guard it (Lalu Tuhan Allah menempatkan manusia di taman Eden untuk mengolah/menanami dan menjaga/memeliharanya”). Jadi manusia sesaat setelah diciptakan langsung diberi perintah oleh Allah untuk bekerja, mengolah, menanami, memelihara/menjaga lingkungannya. Tentu saja kerja manusia saat itu dalam hubungan dengan konteks mereka yakni mengurus ikan-ikan, burung-burung dan semua binatang serta lingkungan mereka (taman Eden). Dalam konteks kita, ayat ini harus dimengerti secara lebih luas berkaitan dengan semua bentuk pekerjaan atau tugas harian kita yang membawa keseimbangan bagi kelangsungan hidup bersama. Jadi pada saat seorang pegawai bekerja dengan sungguh-sungguh di kantor, seorang nelayan bekerja di laut, seorang petani bekerja di sawah dan ladang, seorang sopir dan tukang ojek bekerja di jalan, seorang pedagang bekerja di pasar, seorang guru/dosen bekerja di kelas dan lain-lainnya, itu berarti bahwa mereka semua sementara melakukan mandat kerja yang diberikan oleh Tuhan. Ini juga berarti bahwa yang malas kerja atau bekerja dengan malas-malasan, yang absent terus, yang pura-pura sakit, yang kerja “curi tulang”, yang kerja sambil ngomel, dsb sama dengan melawan perintah Tuhan dan itu adalah dosa. Ingat, Alkitab menentang orang yang malas. Di dalam kitab Amsal ada begitu banyak kecaman terhadap kemalasan seperti Ams 6:6-9 : “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak ”, Ams 6: 9-11 : “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" -- maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata”. Ams 18:9 : ‘Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak’ dan masih banyak ayat lainnya. Juga rasul Paulus memberi nasihat yang tegas dalam 2 Tes 3:6-12 : (6) Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. (7) Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, (8) dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu. (9) Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. (10) Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (11) Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. (12) Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. Jadi TIDAK BEKRJA = DOSA !!!


KERJA = IBADAH


Di bagian awal tulisan ini sudah saya katakan bahwa ada orang yang hidupnya tidak seimbang. Ada yang rajin bekerja tapi tidak suka beribadah dan ada orang lain lagi yang sukanya hanya beribadah dan malas bekerja. Keduanya salah! Manusia harus bekerja dan juga harus beribadah. Lebih dalam dari itu, ternyata bekerja juga dapat dilihat sebagai suatu bakti atau ibadah kepada Tuhan. Ibadah tidak boleh dibatasi pada ritual-ritual religius saja atau aktivitas-aktivitas rohani saja seperti berdoa, baca Kitab Suci, menyanyi, dll tetapi pada seluruh bakti kita kepada Tuhan dan sesama. Efesus 6:5-7 berkata : “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia”. Itu berarti bahwa setiap orang adalah hamba Tuhan. Jadi salah kalau kita menganggap bahwa hamba Tuhan hanyalah para pendeta atau penginjil. Semua orang percaya yang bekerja dalam profesi masing-masing adalah hamba-hamba Tuhan termasuk Pak John yang adalah pegawai di kantor, Pak Charles yang adalah dosen/guru di kelas, Ama Tobo yang adalah nelayan di laut, Om Tinus yang adalah petani di ladang, Minggus, Jefry dan Maksi yang adalah sopir, kondektur dan tukang ojek di jalanan, Ina Dohe yang adalah pedagang di pasar, dll. Semuanya adalah hamba Tuhan asal semuanya melakukan pekerjaan masing-masing dengan kesadaran bahwa itu dilakukan sebagai orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Karena semua itu dilakukan untuk Tuhan, dapatlah dikatakan bahwa kerja kita = ibadah kita.


Anda pernah mendengar kata “liturgi”? Kata “liturgi” ini biasa dikaitkan dengan susunan acara dalam sebuah ibadah atau ritual keagamaan yang bersifat resmi seperti di gedung gereja misalnya. Kata “liturgi” ini sebenarnya sudah dipakai sejak 400 tahun sebelum Yesus lahir ke dalam dunia ini. Kata ini berasal dari 2 kata bahasa Yunani yakni “LEOS” yang berarti rakyat dan “ERGON” yang berarti kerja. Jadi “Leitorgia” berarti kerja bakti yang dilakukan oleh penduduk kota. Inilah arti kata “liturgi” yang mula-mula. Jadi pada saat itu ‘liturgi’ menunjuk pada apa yang dibaktikan seseorang bagi kehidupan bersama. 100 tahun kemudian (300 SM) barulah kata tsb dikaitkan dengan ritual dalam kuil penyembahan dan pada waktu yang lebih kemudian barulah secara eksklusif dipakai dalam tata ibadah di Bait Allah, Sinagoge dan kemudian Gereja. Dengan demikian ibadah dan kerja adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kerja kita adalah ibadah kita. Jadi kalau ada orang yang rajin berbakti di gereja tetapi di dalam pekerjaan setiap hari bermalas-malasan maka sebenarnya ia tidak beribadah dengan baik atau dengan kata lain ibadahnya pincang.


Karena kerja kita adalah ibadah maka tidak bekerja / malas bekerja sama dengan tidak beribadah / malas beribadah. Bekerja tidak sungguh-sungguh sama dengan beribadah tidak sungguh-sungguh. Bekerja tidak jujur sama dengan beribadah tidak jujur. Menipu dalam bekerja sama dengan menipu dalam ibadah. Dan semua itu adalah dosa di hadapan Tuhan. Ingat, ibadahmu adalah kerjamu; kerjamu adalah ibadahmu. C.S. Lewis ketika mengomentari bidat-bidat yang hanya menantikan kedatangan Yesus kembali dan melarang pengikut-pengikutnya untuk bekerja berkata demikian : “Berbahagialah seorang petani yang pergi mengerjakan sawahnya supaya dapat memberikan makanan kepada yang lapar, atau seorang ilmuwan yang mencoba atau berupaya menemukan pengobatan yang berguna untuk menyelamatkan beribu-ribu nyawa. Bila Kristus datang, si petani tidak akan menuai tuaiannya, si ilmuwan tidak berhasil dalam pencariannya. Hal tersebut tidak menjadi masalah. Yang penting mereka berada dalam tugasnya masing-masing ketika Sang Pemeriksa datang. (The Christian Hope; hal 50). SELAMAT BERIBADAH, SELAMAT BEKERJA!


Senin, 07 Januari 2008

RAHASIA KEBAIKAN ALLAH

Mazmur 100:5


Esra Alfred Soru



Mazmur pasal 100 adalah Mazmur yang berisi puji-pujian sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah dalam bait-Nya. Mazmur ini berisi dorongan-dorongan agar pendengar mau mengambil keputusan memuji, beribadah dan bersyukur kepada Allah. Ayat 1-4 memperlihatkan ajakan-ajakan pemazmur untuk memuji Allah, sedangkan ayat 5 adalah alasan mendasar dari puji-pujian, ibadah dan syukur yang di-kemukakan dalam ayat 1-4. Jadi dengan kata lain pemazmur ingin berkata bahwa kita harus bersorak-sorak bagi Tuhan, harus beribadah kepadaNya dengan sukacita, harus bersyukur kepadaNya, dll karena Tuhan itu baik. Kebaikan Tuhan haruslah menjadi salah satu dasar ibadah orang percaya.


Jika demikian, betapa pentingnya bagi kita untuk memahami dan merenungkan kebaikan Allah itu. Berikut ini akan dikemukakan 3 sifat dari kebaikan Allah yaitu :


1. Kebaikan Allah itu bersifat “total absoluta”


“Total” itu artinya adalah menyeluruh, dan “absoluta/absolut” artinya mutlak. Jadi kebaikan Allah itu bersifat menyeluruh dan mutlak. Maksudnya adalah Allah dalam segala tindakan-Nya adalah baik atau dengan kata lain apapun yang dilakukan oleh Allah itu baik adanya, dan tidak satupun dari perbuatan/tindakan-Nya yang mengandung nilai ketidakbaikan.


Jika kita renungkan dengan lebih mendalam maka kita akan menemukan banyak hal sebagai manifestasi kebaikan Allah, namun saya hanya akan sejenak membawa pikiran kita ke arah peristiwa penciptaan bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang diciptakan Allah itu baik adanya. Kejadian 1:31 berbunyi : “Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu sungguh amat baik”. Mungkin dalam bahasa Indonesia (EYD) kalimat “sungguh amat baik” tidak terlalu tepat karena kata “sungguh” dan “amat” adalah dua kata yang mempunyai makna yang sama, dan jika digunakan secara bersama-sama dalam satu kalimat maka itu adalah suatu pemborosan. Tetapi tidak demikian dengan struktur bahasa Ibrani (bahasa PL). Penggunaan semacam ini diperkenankan dan benar karena memang demikianlah ide yang hendak diterangkan. Kalimat "sungguh baik” tidak dapat menjelaskan/mewakili ide tentang kebaikan Allah, demikian pula dengan kalimat ”amat baik". Itulah sebabnya perlu penggabungan dua kata ini yaitu “sungguh amat baik” untuk dapat mendekati ide yang sempurna dari kebaikan Allah yang sempurna karena kebaikan Allah itu merupakan kebaikan tertinggi.


Segala sesuatu yang diciptakan Allah itu baik adanya terutama dalam hal penciptaan manusia yang nota bene adalah “gambar” (Ibrani : Tselem) dan “rupa” (Ibrani : Demuth) Nya sendiri. Ujung rambut hingga ujung kaki manusia adalah gambaran kebaikan Allah.


Suatu hari saya berdiri di hadapan cermin dan memperhatikan wajah saya dengan seksama. Saat itu pikiran saya tertuju kepada dua mata saya, dan timbullah suatu pertanyaan “Mengapa Allah menciptakan saya dengan dua mata dan ditempatkan di bagian depan wajah saya?” Alangkah baiknya jika mata ini ditempatkan tepat di ujung jari telunjuk saya. Dengan demikian saya tidak akan mengalami kesulitan untuk melihat bagian-bagian tubuh yang sulit dijangkau. Saya dapat melihat telinga saya tanpa bantuan cermin tetapi cukup hanya dengan me-ngarahkan tangan/jari telunjuk ke arah telinga saja. Demikian pula dengan rambut, pundak, dll. Ini kan lebih mudah/gampang. Tetapi tiba-tiba muncul pertanyaan di pikiran saya “apa yang akan terjadi dengan mata saya (yang berada di jari telunjuk) pada saat saya mencuci pakaian? Akhirnya saya berke-simpulan bahwa memang Tuhan itu baik sehingga Ia menempatkan dua mata saya di bagian depan wajah saya.


Marilah kita sejenak berpikir tentang seluruh organ tubuh kita. Semuanya itu telah diciptakan Tuhan dengan baik. Telinga kita diciptakan dengan tulang yang rawan dan “elastis”. Seandainya tidak demikian berapa banyak bantalkah yang telah kita habiskan pada saat kita melakukan aktivitas yang bernama tidur? Demikian pula dengan hidung kita. Allah menciptakan kita dengan hidung satu yang berlubang dua, dan anehnya kedua lubang itu mengarah ke bawah. Seandainya lubang hidung kita mengarah ke atas maka cobalah bayangkan apakah yang akan terjadi pada saat kita kehujanan?


Suatu hari saya pergi ke sebuah toko untuk mencari kado pernikahan buat teman saya, dan saya tertarik pada sebuah jam dinding yang berisi tulisan yang menarik. Tulisan itu berbunyi demikian: “Tuhan tidak menciptakan wanita dari tulang kepala pria, karena nanti ia akan berkuasa atas suaminya. Tuhan tidak menciptakan wanita dari tulang kaki pria, karena nanti ia akan “diinjak-injak” suaminya. Tetapi Tuhan menciptakannya dari tulang rusuk pria, dekat dengan jantung dan hati, agar dapat dikasihi, disayangi dan dilindungi” Luar biasa! Itulah kebaikan Tuhan. Di dalam setiap perbuatan/tindakan-Nya selalu meman-car nilai-nilai kebaikan. Mengapa? Karena Ia adalah kebaikan tertinggi itu.


2. Kebaikan Allah bersifat “misteri”


Kebaikan Allah itu juga bersifat misteri. Maksudnya adalah bahwa kadang kebaikan Allah itu tak dapat dipahami sepenuhnya oleh kita. Ia memang baik, tetapi kadang kebaikan-Nya itu “dibungkus” oleh fenomena-fenomena yang kelihatannya tidak baik bahkan sepintas lalu kelihatan sebagai sebuah kejahatan. Itulah sebabnya kadang kebaikan-Nya itu tak dapat dipahami oleh kita. Tekanan-tekanan hidup, masalah-masalah hidup, duka dan nestapa yang kita alami dalam hidup ini membuat kita tak dapat memahami kebaikan Allah. Kita lalu bertanya “kalau memang Allah baik, mengapa Ia menimpakan kemalangan-kemalangan ini padaku padahal aku setia berbakti padaNya?” “Kalau memang Allah itu baik, mengapa Ia “memanggil” suamiku sedangkan anak-anakku masih sangat kecil?” “Mengapa rumah tanggaku jadi hancur?” “Mengapa pacarku meninggalkan aku?” Mengapa orang tuaku meninggal dunia secepat ini?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Semuanya ini mengarahkan pikiran kita kepada kebaikan Allah yang bersifat misteri.


Memang benar sepintas lalu perbuatan-perbuatan Allah itu lebih kepada sebuah ketidakbaikan bahkan kejahatan, tetapi kalau kita sadari sesungguhnya Allah telah me-nyediakan kebaikan-kebaikan-Nya bagi kita di akhir semua kemalangan-kemalangan itu. Kadang Allah menyediakan kebaikan melalui apa yang kelihatannya tidak baik. Karena itu sesungguhnya Ia tidak “tidak baik” (baik) adanya. Ketika Ayub mengalami kesengsaraan dan penderitaan hidup, saat itu di matanya kebaikan Allah merupakan sebuah misteri tak terpecahkan. Ia mulai bergumul dengan sebuah pertanyaan teologis “mengapa orang benar menderita?” Ia juga sempat mengutuki hari lahirnya (Ayub 3) dan berkata “…janganlah kiranya Allah yang di atas menghiraukannya…” (4a). Di matanya Allah kelihatan tidak baik (Ayub 16). Ia berkata “tetapi sekarang Ia telah membuat aku lelah dan menceraikan segenap rumah tanggaku” (Ayub 16:7), namun kebaikan Allah itu akhirnya muncul di ujung penderitaannya ketika Allah memulihkan keadaannya sehingga di hadapan Tuhan ia berkata : “Aku tahu bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencanaMu yang gagal” (Ayub 42:2). “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau, oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dengan menyesal dan duduk dalam debu dan abu” (Ayub 42:5-6). Ayub akhirnya dapat memahami kebaikan Allah yang bersifat misteri itu.


Saya pernah membaca sebuah cerita tentang seorang misionaris muda yang menyerahkan dirinya untuk menjadi utusan misi ke suatu daerah terpencil di mana masyarakat suku tersebut masih tergolong kanibal. Ketika ia menunggu kereta api di stasiun, ia tertidur dan baru sadar ketika kereta api telah berjalan beberapa meter. Ia mengejar dan melompat ke atas kereta api, tetapi malang baginya. Ia terjatuh dan kaki kanannya digilas kereta api hingga hancur dan akhirnya harus diamputasi dan diganti dengan kaki palsu. Di atas tempat tidur di rumah sakit ia mengeluh dan memarahi Tuhan katanya “Tuhan, bukan-kah aku telah menyerahkan diri untuk melayaniMu? Bukankah aku rela meninggalkan orang tua, saudara-saudara, rumah dan pekerjaanku demi kerajaan-Mu tetapi mengapa Engkau menimpakan musibah ini padaku?” Ia sungguh marah dan kecewa pada Tuhan. Tuhan dilihat sebagai Allah yang jahat, tetapi Roh Kudus menghibur dan menguatkannya sampai akhirnya ia dapat menerima keadaannya walaupun tidak mengerti apa maksud Tuhan di balik semuanya itu. Setelah sembuh ia kembali menuju ke daerah misi yang terasing itu. Baru saja ia menginjakkan kakinya di derah itu, ia telah ditanggkap oleh sejumlah anggota suku itu dan diperhadapkan kepada ketua suku. Seluruh anggota suku bergembira karena hari itu mereka mendapatkan mangsa yang empuk. Menurut suku itu kualitas daging manusia ditentukan oleh jempol kaki kanan. Jika jempol kaki kanan itu enak rasanya, maka enak pula daging orang tersebut, tetapi kalau tidak, maka tidak enak pula dagingnya. Kepala suku memutuskan untuk memotong jempol kaki kanan dari pemuda itu dan anggota-anggota suku mulai memotong jempol kaki palsu yang terbuat dari besi yang tentu saja sangat keras. Karena tak dapat memutuskannya maka mereka berkesimpulan bahwa daging pemuda itu keras dan tentu tidak enak rasanya, maka ia akhirnya dibebaskan. Setelah mengalami semuanya itu si pemuda ini sujud di hadapan Tuhan dan berkata “Terima kasih Tuhan! Seandainya Engkau tidak mematahkan kaki saya di rel kereta api dulu, mungkin hari ini saya telah menjadi santapan suku tersebut. Sekarang aku tahu bahwa Engkau sungguh baik” . Luar biasa! Itulah kebaikan Allah. Ia tetap baik walau kadang kelihatannya tidak baik. Itulah misteri kebaikan Allah.


3. Kebaikan Allah bersifat kekal dan sempurna


Ide tentang kekekalan dan kesempurnaan kebaikan Allah ini nampak dalam perkataan pemazmur : “Kasih setia-Nya untuk selama-lamanya dan kesetiaan-Nya tetap turun temurun” (Mazmur 100:5). Allah itu baik, dan akan tetap baik. Ia tidak pernah menjadi baik atau menjadi tidak baik. Ia tidak pernah bertambah baik atau berkurang kebaikan-Nya. Kebaikan-Nya dulu sama dengan kebaikan-Nya sekarang dan sama pula dengan kebaikan-Nya di masa akan datang.


Manusia dapat saja baik dihari kemarin tetapi menjadi tidak baik dihari ini. Manusia dapat saja baik dihari kemarin dan hari ini tetapi menjadi tidak baik dihari esok, tetapi Allah kita di dalam Kristus Yesus selalu baik. Kebaikan-Nya tidak pernah berubah. Pacar bisa berubah, orang tua bisa berubah, sahabat bisa berubah, tetapi Kristus tidak pernah berubah. Penulis kitab Ibrani berkata : “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8). Jika Ia sungguh baik maka bersama dengan pemazmur, marilah kita menaikan puji-pujian, penyembahan dan syukur di hadapan-Nya.

Rabu, 02 Januari 2008

RAHASIA MENGAMPUNI

Matius 18:22-35


Esra Alfred Soru


Jika kita memperhatikan bagian Firman Tuhan ini dengan teliti, maka kita akan melihat suatu konteks yang jelas di mana hal ini diawali dari ajaran Yesus tentang menasihati sesama saudara (18:15-20). Di sana Yesus mengajarkan bahwa apabila ada orang yang berdosa, maka harus ada 3 tahapan di dalam menanganinya yaitu :

1) Menegur dia secara pribadi (15)

2) Menegur dia dengan bantuan beberapa orang (16)

3) Dibawa ke depan sidang jemaat (17)


Setelah Yesus mengajarkan hal itu, maka datanglah Simon Petrus dengan pertanyaan-nya : “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudara-saudaraku jika ia ber-buat dosa terhadap aku?” (21) Jadi rupanya pengajaran Yesus inilah yang menjadi penyebab munculnya pertanyaan Petrus. Coba kita perhatikan ayat 15 “apabila saudaramu berbuat dosa…” dan pertanyaan Petrus “sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa…” (21). Kata “saudara” yang muncul baik dalam pengajaran Yesus maupun pertanyaan Petrus memberikan keterangan bahwa sebenarnya hal pengampunan itu dibicarakan dalam konteks relasi dengan sesama saudara seiman. Ini dikuatkan dengan adanya sidang jemaat yang terlibat dalam menasihati orang berdosa tersebut (17). Menanggapi pertanyaan Petrus ini terutama pertanyaan lanjutannya “…sampai tujuh kali?” Yesus berkata “bukan tujuh kali melainkan tujuh puluh kali tujuh kali” (490 kali).


Mungkin menarik juga untuk dipikirkan bahwa Petrus memakai jumlah tujuh untuk pertanyaannya “sampai tujuh kali?” Penggunaan angka tujuh dan kelipatannya (seperti angka 40) adalah hal yang lazim dalam masyarakat Yahudi antara lain seperti pada hari ketujuh Allah berhenti dan menguduskan ciptaan-ciptaan-Nya (Kej 2:2), Yesus mengutus 70 murid (Luk 10:1-12), Yesus mengucapkan 7 perkataan di atas kayu salib, dan jemaat mula-mula memilih 7 orang diaken untuk membantu pelayanan mereka (Kis 6:1-7). Kemungkinan penggunaan angka 7 ini didasarkan pada perhitungan mingguan di mana ada 7 hari dalam seminggu, dan ini dikaitkan dengan pengudusan ciptaan oleh Allah pada hari ke tujuh. Jika demikian maka pertanyaan Petrus “sampai tujuh kali?” mungkin adalah pertanyaan yang mewakili kurun waktu seminggu di mana dalam satu hari harus mengampuni satu kali.


Tetapi apakah jawab Yesus? Yesus berkata “…bukan sampai tujuh kali melainkan tujuh puluh kali tujuh kali” (490 kali). Melihat konteks di atas maka sebenarnya Yesus ingin berkata bahwa Petrus harus mengampuni 70 kali dalam sehari. Kalau dalam sehari harus mengampuni 70 kali maka setiap jam harus mengampuni sebanyak 2,9166 kali (3 kali). Mungkinkah kita mengampuni 3 kali dalam satu jam? Mungkin! Tetapi mungkinkah ada orang yang sama yang dalam setiap jam berbuat tiga kali kesalahan terhadap kita dalam satu minggu? Tidak mungkin! Tetapi seandai pun ada kita harus mengampuninya. Hal ini haruslah membawa kita kepada kesimpulan bahwa sebenarnya Yesus ingin berkata bahwa tidak ada kemungkinan bagi Petrus (termasuk kita) untuk tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita walaupun ia bersalah 3 kali dalam setiap jam selama seminggu. Hal ini jelas kontras dengan pengalaman hidup kita sehari-hari. Kebanyakan orang biasanya memberikan batasan pengampunan sebanyak 3 kali saja untuk selamanya. “Kalau satu kali saya ampuni, dua kali saya ampuni, tiga kali? Tidak ada ampun bagimu!” Jika kita renungkan ajaran Yesus ini maka sungguh betapa jauhnya kita dari apa yang diharapkanNya.


Selanjutnya untuk memperdalam aja-ran-Nya tentang pengampunan ini, Yesus memberikan satu contoh ilustrasi seperti yang tercatat dalam ayat 23-35. Di sana diceritakan bahwa seorang hamba berhutang pada rajanya sebesar 10.000 talenta (1 talenta = 6000 dinar, dan 1 dinar = Rp.750,00. Jadi hutangnya kira-kira 45 milyar rupiah). Tentu ini adalah jumlah yang sangat besar bukan hanya pada masa itu tetapi juga pada masa kini. Karena tidak dapat melunasi hutangnya maka sang raja berniat untuk menjualnya beserta dengan anak, istri dan milik-miliknya demi pelunasan hutangnya. Menghadapi hal ini maka hamba itu menyembah dan merendahkan diri di hadapan raja dan memohon belas kasihan serta perpanjangan waktu, dan rupanya hal itu menimbulkan belas kasihan sang raja dan akhirnya semua hutang hamba itu dihapuskan.


Setelah mendapatkan pengampunan dan pembebasan dari raja, hamba itu pergi dan bertemu dengan seorang teman yang berhu-tang kepadanya 100 dinar (kira-kira Rp.7.500,00). Ia mencekik kawannya itu dan memaksanya untuk membayar hutangnya. Meskipun kawannya itu telah memohon perpanjangan waktu dan belas kasihan (seperti yang dilakukannya pada raja) tetapi ia menolak dan menjebloskan kawannya itu ke dalam penjara. Rupanya perbuatannya itu diketahui oleh raja hingga mendatangkan murkanya dan ia menyerahkan orang tersebut (hamba yang pertama) ke tangan algojo-algojo sampai ia dapat melunasi hutang-hutangnya karena ia tidak membebaskan dan mengampuni kawan-nya sebagaimana ia telah di-bebaskan dan diampuni oleh raja. Demikianlah perumpamaan yang dipakai Yesus untuk menjelaskan pengajaran-Nya tentang pengampunan.


Dengan melihat cerita di atas dan dikaitkan dengan jawaban Yesus atas pertanyaan Petrus, maka kita dapati kebenaran bahwa pengampunan Kritiani itu adalah pengam-punan tanpa batas baik menyangkut kualitas maupun kuantitas pelanggaran, dosa dan kesalahan saudara-saudara kita. Pengampunan semacam ini di dasarkan pada dua pertim-bangan :


Pertimbangan teologis


Jika kita melihat kesimpulan dari peng-ajaran Yesus yang tercatat dalam ayat 35, maka kita tentu tahu bahwa sang raja dalam cerita Yesus itu adalah gambaran Bapa yang di sorga dan hamba-hambanya adalah kita sebagai sesama manusia. Yang diinginkan raja itu (Bapa di sorga) adalah kita harus mengampuni saudara-saudara kita yang bersalah kepada kita karena kita telah diampuni terlebih dahulu oleh Bapa yang di sorga sebagaimana hamba itu telah diampuni oleh sang raja. Inilah pertimbangan teologis.


Dengan kata lain yang diinginkan oleh Tuhan ialah kita yang telah diampuni olehNya dapat menjadi saluran pengam-punan itu kepada sesama kita. Tuhan sudah mengampuni kita, dan kita wajib mengampuni orang lain.


Jika kita bandingkan hutang hamba yang pertama itu kepada raja yakni 10.000 talenta (45 milyar rupiah) dengan hutang hamba yang kedua kepada hamba yang per-tama yaitu 100 dinar (Rp. 7.500,00), maka terlihat betapa jauhnya jumlah perbandingannya. Rupanya Yesus ingin katakan lewat cerita ini bahwa sebesar apapun dosa orang lain terhadap kita, masih lebih besar dosa kita kepada Tuhan. Sekalipun demikian Tuhan mau mengampuni kita. Mengapa kita tidak mau mengampuni sesama kita?


Seorang jemaat pernah datang kepada saya dan menceritakan masalahnya di mana ia sulit untuk mengampuni mertuanya yang sering mencuri uang dari tokonya. Ia berkata kepada saya “saya tahu bahwa saya harus mengampuni. Saya tahu bahwa Yesus me-ngajarkan kita untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali, tetapi kalau mengingat perlakuan mertua saya semacam itu, saya tidak mampu mengampuninya. Bukan saya tidak mau mengampuni, tetapi saya tidak mampu” . Terus terang saya agak bingung menghadapi maslah semacam ini sebab ini bukanlah menghadapi orang yang tidak mau mengampuni tetapi orang yang tidak mampu mengampuni. Saya hanya memberikan kepadanya beberapa masukan dan berjanji kepadanya bahwa beberapa hari lagi saya akan menemuinya dan membicarakan hal ini lagi. Sepanjang tiga hari saya berdoa untuk masalah ini, dan akhirnya saya mendapatkan suatu formula yang ampuh dari Tuhan. Saya menemui orang itu dan berkata kepadanya “alasan utama ibu tidak dapat mengampuni mertua ibu adalah karena fokus pikiran ibu terarah kepada kesalahan mertua kepada ibu dan bukannya kesalahan-kesalahan ibu (dulu) terhadap Tuhan yang telah diampuni olehNya. Ibu begitu mengingat kesalahan mertua pada ibu sehingga ibu menjadi lupa akan kesalahan-kesalahan ibu kepada Tuhan (yang telah diampuni). Ibu lupa bahwa kesalahan mertua kepada ibu tidak sebanding dengan kesalahan ibu pada Tuhan. Kesalahan mertua pada ibu membuat ibu kehilangan materi (uang), tetapi kesalahan ibu kepada Tuhan membuat Yesus harus kehilangan nyawa-Nya. Kesalahan mertua pada ibu membuat ibu mengalami kerugian sekian juta rupiah, tetapi kesalahan ibu kepada Tuhan membuat Yesus harus tergantung di atas kayu salib. Besar manakah? Kesalahan mertua pada ibu atau kesalahan ibu pada Tuhan? Sekalipun demikian Tuhan telah mengampuni ibu. Mengapa ibu tidak mau mengampuni mertua ibu? Persoalan ibu sebenarnya bukanlah tidak mampu tetapi tidak mau! Fokuskan pikiran ibu pada pe-ngampunan Tuhan yang telah ibu terima dan buka hati ibu agar Roh Kudus memampukan ibu untuk mengampuni” Puji Tuhan, beberapa minggu kemudian ia bertemu dengan saya dan berkata bahwa ia hampir dapat mengampuni mertuanya.


Jika kita mempunyai pertimbangan teologis bahwa :

1) Dosa atau kesalahan kita kepada Tuhan lebih besar dari dosa atau kesalahan sesama kepada kita.

2) Tuhan telah mengampuni dosa kita yang besar itu


Maka tidak ada alasan untuk tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita.


Pertimbangan sosiologis


Yang menjadi pertimbangan sosiologis di sini adalah bahwa ketidakmauan untuk mengampuni dapat merusak nilai-nilai sosial yang ada dalam setiap relasi kita baik relasi dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan diri sendiri.


Dalam cerita Tuhan Yesus tadi, hamba pertama yang tidak dapat mengampuni kawannya tanpa sadar telah merusak nilai-nilai sosial dalam relasinya di mana relasinya dengan raja, kawannya dan dirinya sendiri menjadi hancur. Yesus ingin berkata bahwa jika kita tidak mengampuni sesama kita maka :


Relasi kita dengan Tuhan menjadi rusak


Mengapa? Tuhan ialah Ia yang mempunyai hak penuh untuk tidak mengampuni. Sekalipun demikian Ia mau mengampuni kita, sedangkan kita yang tidak mempunyai hal untuk sama sekali untuk tidak mengampuni tidak mau mengampuni sesama kita. Itu berarti bahwa kita secara sengaja menem-patkan diri di atas Allah. Dengan kata lain dengan tidak mengampuni kita telah mening-gikan diri di hadapan Allah dan jelas ini merusak relasi denganNya.


Selain itu pula seperti yang telah di-singgung sedikit di atas bahwa sebenarnya Tuhan menginginkan agar kita menjadi saluran pengampunan yang telah kita terima dari Allah, tetapi dengan tidak mengampuni maka kita telah salah memanfaatkan pengam-punan yang telah kita terima itu.


Relasi kita dengan sesama menjadi rusak


Selama kita tidak mau mengampuni orang lain, maka selama itu pula relasi kita dan sesama menjadi rusak. Ilustrasi Yesus menceritakan bahwa karena tidak mau mengampuni, maka hamba yang pertama itu mencekik temannya dan menje-bloskannya ke dalam penjara. Mungkin se-belum peristiwa itu mereka adalah sahabat karib, tetapi ketidakmauan untuk mengam-puni menyebabkan persahabatan mereka menjadi hancur. Ada berapa banyak per-sahabatan, persaudaraan yang hancur karena ketiadaan kemauan untuk mengampuni?


Relasi kita dengan diri sendiri menjadi rusak


Akibat lain yang tidak kalah parahnya dari ketidakmauan untuk mengampuni adalah rusaknya relasi kita dengan diri sendiri. Ketika kita tidak mau mengampuni, maka kita sementara melakukan 2 hal yaitu :


a. Kita membatalkan pengampunan yang telah kita terima dari Tuhan


Hamba yang pertama tadi telah menerima pengampunan dan pembebasan dari raja, tetapi akhirnya pengampunan dan pembebasan itu dicabut kembali dan malah ia diserahkan kepada algojo-algojo (disiksa) karena ia tidak mau mengampuni temannya. Ini adalah suatu korelasi yang menarik antara mengampuni dan diampuni di mana di satu sisi kita harus mengampuni karena kita telah diampuni,tetapi di sisi yang lain kita harus mengampuni agar kita diam-puni/tidak kehilangan pengampunan. Itulah sebabnya dalam doa “Bapa kami” yang diajarkan Yesus berbunyi “dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Jadi pengampunan terhadap orang lain menjadi syarat diampuni oleh Allah sebagaimana tercatat dalam Mat 6:14-15 : “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni kesalahan orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”


Beberapa tahun yang lalu di Kentucky ada seorang bernama Sam Holmes yang dihukum karena melakukan pembunuhan. Pada saat ia menantikan pelaksanaan hu-kumannya, seorang temannya yang ber-nama Lucien Young mendatangi gubernur dan memintakan pengampunan baginya. Setelah permohonannya dikabulkan, ia segera pergi ke penjara untuk membawa kabar baik itu. Sebelum menceritakan tentang pembebasan itu Young terlebih dahulu bertanya kepada Holmes “jika engkau dibebaskan dari penjara ini, apakah yang akan engkau lakukan pertama kali?” Tanpa berpikir panjang lagi Holmes segera berkata “aku akan pulang lalu membunuh saksi yang telah menuduhku dan hakim yang telah menghukumku” Young sangat sedih mendengarkan perkataan tersebut dan meninggalkan penjara itu tanpa mem-beritahukan pengampunan dari gubernur dan ia menangis di luar penjara. Holmes kehilangan pengampunan yang diberikan kepadanya karena ia tidak mau belajar mengampuni orang lain. Jangan rugikan diri kita sendiri dengan tidak mau mengampuni orang lain.


b. Kita memelihara “penyakit” berbahaya di dalam diri kita.


Dengan tidak mengampuni orang lain, maka itu berarti kita menyimpan dendam, sakit hati, amarah dan kedengkian di dalam hati kita untuk orang tersebut. Ketika ada dendam, sakit hati, amarah dan kedengkian dalam hati kita, maka yang mengalami kerugian besar bukanlah orang yang ke-padanya kita menyimpan dendam, amarah dan kedengkian itu melainkan diri kita sendiri sebab dendam, amarah dan kedeng-kian itu laksana penyakit mematikan yang sulit dicari obatnya.


Beberapa tahun yang lalu seorang teman saya sempat melayani seorang yang sakit lumpuh sudah 4 tahun. Setelah dilayani secara pribadi ternyata ia se-mentara menyimpan dendam terhadap temannya kira-kira selama 6 tahun. Setelah dibereskan dari dendam dan didoakan maka saat itu juga ia sembuh dan dapat berjalan seperti biasanya. Ini adalah sebagian kecil dari penyakit fisik yang diakibatkan dari penyakit rohani yang berupa dendam, amarah dan kedengkian itu.


Jangan rugikan diri kita sendiri dengan menyimpan dendam, amarah dan kedeng-kian terhadap orang lain sebab hal itu laksana membakar rumah kita sendiri demi mengusir seekor tikus. Berilah pengam-punan bukan hanya untuk kebaikan orang lain tetapi demi kebaikan kita juga.


Selasa, 01 Januari 2008

MENANG ATAS KEGAGALAN

Esra Alfred Soru




Di dalam kehidupan ini, sesungguhnya semua orang ingin berhasil. Tidak ada seorang pun yang ingin gagal. Kalaupun ada orang yang ingin gagal, pastilah ada yang tidak beres dengan orang tersebut lagi pula tentunya jika ia ingin gagal maka ia ingin berhasil dalam kegagalan itu. Secara umum, keinginan untuk berhasil ini mencakup seluruh bidang kehidupan. Kita ingin berhasil dalam pekerjaan kita, rumah tangga, studi, pelayanan dan termasuk juga dalam hal cinta atau asmara. Ini adalah hal yang wajar karena kita adalah manusia. Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang unik di mana ia diberikan sesuatu di dalam dirinya yang bernama “harapan”. Seorang mahasiswa belajar dengat siang dan malam karena ia mempunyai harapan bahwa suatu saat nanti ia akan meraih gelar sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya. Seorang yang karam di tengah laut dengan erat memeluk sebatang kayu tanpa mau melepaskannya karena ia mempunyai harapan. Ia berharap agar sebentar lagi datang pertolongan. Seorang yang sakit berusaha mencari dokter ke sana kemari karena ia mempunyai harapan untuk sembuh. Harapan adalah kekuatan untuk hidup. Itulah keunikan manusia.


Namun demikian karena memiliki harapan inilah maka manusia bisa kehilangan harapan. Seseorang hanya bisa kehilangan sesuatu yang ia punyai. Tidak mungkin saya kehilangan apa yang tidak saya punyai. Manusia mempunyai harapan maka manusia bisa kehilangan harapan. Jika mahasiswa tadi kehilangan harapan maka ia akan kehilangan gairah belajar. Jika orang yang karam tadi kehilangan harapan, maka secara perlahan-lahan ia akan melepaskan pegangannya pada kayu itu dan mati tenggelam. Jika si sakit sudah kehilangan harapan maka ia pun berhenti berusaha mencari dokter. Jadi dapatlah dikatakan bahwa sepanjang manusia hidup ia mempunyai harapan, dan sepanjang ia mempunyai harapan ia akan tetap hidup. Keadaan memiliki harapan dan kemungkinan kehilangan harapan inilah yang membuat manusia berbeda dengan binatang. Binatang tidak mempunyai harapan, dan karena itu ia tidak bisa kehilangan harapan. Mana pernah kita mendengar bahwa ada kambing yang mati gantung diri? Mana pernah kita membaca di koran bahwa ada kucing yang mencoba membunuh diri dengan meminum baygon karena cintanya bertepuk sebelah tangan? Tidak ada kan? Mengapa? Karena mereka tidak memiliki harapan dan karenanya tidak bisa kehilangan harapan.


Manusia bisa kehilangan harapan. Pertanyaan kita adalah apa sajakah yang membuat manusia kehialangan harapan? Jawabannya adalah karena kenyataan hidup tidaklah sesuai dengan harapan itu sendiri. Apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Apa yang real tidak selaras dengan apa yang ideal. Dalam hubungannya dengan ide tentang keberhasilan dan kegagalan yang telah disebutkan di atas maka dapat dikatakan pula bahwa harapan menjadi hilang karena orang gagal mencapai apa yang ingin dicapai. Inti dari semuanya itu adalah “kegagalan”. Dengan kenyataan semacam ini maka harapan itu menjadi pudar dan mati. Keadaan semacam inilah yang disebut sebagai putus pengharapan atau putus asa.


Hal kehilangan pengharapan atau putus asa ini sering juga dialami oleh kita yang percaya kepada Tuhan. Mengapa? Karena seringkali apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang kita alami. Apa yang kita yakini melalui Firman Tuhan tidak sesuai dengan apa yang kita alami dalam kehidupan nyata hari lepas hari. Firman Tuhan yang kita baca, renungkan dan terima seolah-olah gugur di hadapan fakta kehidupan kita. Alkitab memang berisi janji-janji Allah yang luar biasa tentang keberhasil orang-orang yang mempercayai-Nya. Mazmur 1:3 : “Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” Yes 48:15 : “Aku, Akulah yang mengatakannya, dan yang memanggil dia juga, Akulah yang mendatangkan dia, dan segala usahanya akan berhasil.” Itulah janji Firman Tuhan, dan benarlah bahwa tokoh-tokoh Alkitab digambarkan sebagai orang yang berhasil sesuai dengan janji Firman Tuhan itu. Yusuf adalah contohnya. Alkitab berkata : “Tetapi Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi orang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu” (Kej 39:2. Tokoh lainnya yang juga menonjol dalam keberhasilannya adalah Daud. 1 Sam 18:5 berkata : “Daud maju berperang dan selalu berhasil ke mana juga Saul menyuruhnya...” Demikian juga 1 Sam 18:30 : “...setiap kali mereka maju berperang, maka Daud lebih berhasil dari semua pegawai Saul, sehingga namanya sangat masyur”. Namun demikian hal yang tidak bisa kita mengerti adalah bahwa kadang yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari bukanlah keberhasilan seperti yang dijanjikan Firman Tuhan dan yang dialami oleh tokoh-tokoh Alkitab seperti Yusuf dan Daud melainkan kegagalan-kegagalan. Di sini kita diperhadapkan dengan sebuah kontradiksi; kontradiksi antara harapan dengan fakta, antara Firman Tuhan dan pengalaman. Pengalaman berumah tangga tidak sesuai dengan janji Firman Tuhan untuk itu. Pengalaman di dalam bekerja dan studi tidak sesuai dengan janji Firman Tuhan untuk itu, dan juga tidak kalah menyakitkan adalah bahwa pengalaman bercinta bagi para pemuda dan pemudi tidak sesuai dengan janji Firman Tuhan untuk itu.


Semua yang telah digambarkan di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa apa yang kita harapkan tidak selalu menjadi kenyataan. Dengan kata lain hidup kita terbentur pada onggokkan-onggokan karang kegagalan dan karena kegagalan-kegagalan inilah banyak orang mulai kehilangan pengharapan atau putus asa. Lalu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai orang-orang percaya dalam menghadapi fakta kegagalan-kegagalan ini?


1. Mengoreksi diri sendiri


Langkah pertama yang mesti dilakukan ketika kita berhadapan dengan kegagalan adalah mengoreksi diri sendiri. Kadangkala ketika kita mengalami kegagalan, hal pertama yang biasanya kita lakukan adalah menyalahkan Tuhan. Betapa sering Tuhan telah dijadikan “kambing hitam” oleh kita. Kita gagal naik kelas karena malas belajar lalu Tuhan yang disalahkan. Kita gagal dalam bisnis karena kurang bijaksana lalu Tuhan yang disalahkan. Kita gagal membangun komunikasi dalam keluarga sehingga muncul perceraian lalu Tuhan yang disalahkan. Kita seharusnya mengoreksi diri sendiri pada langkah pertama kegagalan kita. Mengapa kita sampai gagal? Adakah itu adalah salah kita sendiri. Firman Tuhan memang menjanjikan keberhasilan tetapi mengapa saya gagal? Mungkinkah ada dosa yang belum diselesaikan di hadapan Tuhan? Bukankah dosa adalah penghambat doa? Atau mungkin karena kita sendiri yang malas-malasan dalam belajar, bekerja dan berusaha? Atau mungkin karena kita terlalu bersandar pada kemampuan, kepintaran dan pengalaman pribadi kita sehingga mengabaikan kuasa Allah? Kira-kira begitulah yang sering kita alami. Kita terlalu mengandalkan kemampuan dan pengalaman serta kepintaran kita daripada kerja kuasa Allah yang berada di atas kita. Marilah kita mengoreksi diri kita sendiri, siapa tahu diri kita sendirilah sumber kegagalan itu. Penggalan syair sebuah lagi berbunyi : “Kegagalan-kegagalan mungkin salahku sendiri Tuhan Kau mata hatiku….


2. Jangan cepat putus asa, sabar dan tetaplah berusaha


Langkah kedua menghadapi kegagalan adalah jangan cepat-cepat putus asa atau kehilangan harapan atau dengan kata lain kita harus bersabar. Selanjutnya siapkanlah diri untuk terus maju dan berusaha karena itu adalah rahasia keberhasilan. Salah satu tantangan yang paling berat dalam hal ini adalah sifat dasar manusia yang pada dasarnya selalu menginginkan jalan pintas yang singkat dan cepat. Bukankah orang lebih suka menjadi kaya mendadak karena menang undian atau karena korupsi daripada bekerja dengan giat untuk mencapai sukses? Bukankah orang lebih suka sogok sini sogok sana daripada menempuh jalur yang semestinya? Manusia memang suka jalan yang pintas yang singkat. Itulah sebabnya bunga-bunga dan rumput-rumput di taman lebih cepat mati karena terinjak pejalan kaki yang tidak sabar jika berjalan di jalan yang telah disediakan. Itulah juga sebabnya para produsen selalu menyediakan makanan-makanan yang serba instant. Ada mie instant, kopi instant, susu instant, dll. Yang lebih parah lagi banyak hamba Tuhan yang tidak suka sekolah atau menempuh pendidikan yang lama. Cukup dengan membayar saja dan ditambah kursus Alkitab 6 bulan sudah menjadi Pendeta dengan gelar STh (Sarjana Theologia) di belakang namanya. Itulah sifat manusia, tetapi rupanya Alkitab dan pengalaman hidup mengajarkan kepada kita bahwa keberhasilan bukanlah sesuatu yang instant, keberhasilan bukanlah sesuatu yang dapat diraih dengan jalan pintas, keberhasilan adalah sesuatu yang harus dibayar mahal. Salah satu bayaran mahal dari keberhasilan itu adalah ketegaran hati menghadapi kegagalan, sabar dan tidak mudah menjadi putus asa.


Marilah kita melihat beberapa tokoh yang pernah berhadapan dengan kegagalan namun mereka tidak menjadi putus asa melainkan bersabar sambil terus berusaha. Kegagalan mereka tidaklah menjadi alasan untuk mundur melainkan menjadi motivator untuk tetap maju.


Iblis.


Salah satu hal yang seharusnya menjadi pelajaran berarti bagi kita adalah pribadi dan cara kerja iblis. Di dalam cerita iblis mencobai Yesus (Luk 4:1-13), ia (iblis) memperlihatkan dirinya sebagai pribadi yang tidak gampang putus asa. Dikisahkan bahwa iblis mencobai Yesus sebanyak tiga kali. Pertama-tama ia mencobai Yesus yang sedang lapar dengan menyuruh Yesus merubah batu-batu menjadi roti tetapi ia gagal. Selanjutnya iblis melancarkan pencobaannya yang kedua tetapi gagal juga. Iblis melanjutkan dengan cobaan ketiga dan ternyata bukan saja Yesus tidak tergoda, tetapi ia malah diusir oleh Yesus (Matius 4:10).


Walaupun iblis tidak berhasil menggoda Yesus, tetapi minimal kita dapat melihat bahwa iblis tidak mudah putus asa dalam pekerjaannya. Kegagalan cobaan pertama tidak membuat ia mundur. Ia masih mencobai untuk kedua kalinya, dan ternyata gagal juga maka ia mencobai untuk ketiga kalinya. Ketika cobaan yang ketiga pun gagal, apakah ia putus asa? Tidak! Alkitab berkata : “iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu watu yang baik” (Luk 4:13). Setelah beberapa waktu kemudian, iblis mulai mengadakan serangan lewat Petrus (Mat 16:21-23), lewat Yudas Iskariot (Luk 22:3) dan lewat Petrus lagi saat Petrus ia meyangkal Yesus. Bukankah semuanya itu sudah cukup untuk membuktikan ketidakputusasaan iblis? Memang ia tidak berhasil mencobai Yesus di padang gurun karena kuasa, otoritas dan komitmen Yesus kepada kebenaran, tetapi bukankah ketidakputusasaannya cukup membuahkan hasil dengan tergodanya Yudas dan penyangkalan Petrus pada Yesus? Bukankah ketidak-putusasaannya banyak membuahkan hasil dengan banyaknya hamba Tuhan yang jatuh ke dalam dosa walaupun di awalnya begitu kuat menghadapi godaan? Rupanya hal inilah yang merupakan kunci keberhasilan iblis.


Thomas Alfa Edison


Tentu nama Thomas Alfa Edison bukanlah nama yang asing bagi kita. Ia adalah penemu lampu pijar pertama kali yang akhirnya dikembangkan menjadi lampu listrik yang ada sekarang ini. Ia lahir pada tanggal 11 Februari 1847 di Milan, Ohio Amerika Serikat. Pada umur 7 tahun masuk sekolah dan 3 bulan kemudian dikeluarkan karena dianggap sangat bodoh dan kepalanya kosong. Pada umur 10 tahun tertarik dengan ilmu pengtetahuan kue di kereta api. Pada umur 12 tahun menjadi penjual koran. Pada umur 14 tahun kondektur Kereta Api menampar kepalanya sehingga gendang telinga kanannya pecah dan ia menjadi tuli. Pada umur 15 tahun menyelamatkan anak kepala stasiun. Pada umur 16 tahun menjadi petugas telegram. Pada umur 22 tahun mendapat pekerjaan di New York, gajinya cukup besar. Pada umur 23 tahun membuat telegraf dan mendirikan pabrik kecil di New Ark, New Jersey. Pada umur 29 tahun pindah ke Menlo Park, New Jersey. Di sini ia mendirikan laboratorium riset yang merupakan fondasi bagi industri modern. Laboratorium ini mendapat julukan “Pabrik Penemuan”. Pada umur 30 tahun, secara kebetulan ia menemukan fonograf. Inilah satu-satunya penemuan Edison yang tidak mengalami kegagalan sekalipun. Pada tanggal 21 Oktober pada umur 32 tahun, berhasil membuat lampu listrik yang lebih baik mutunya daripada lampu listrik tenaga ciptaan Swan. Pada umur 33 tahun membuat lokomotif listrik eksperimental. Pada umur 35 tahun membuat pusat listrik tenaga uap di London dan New York. Pada umur 41 tahun membuat kamera film dan proyektor film. Dan akhirnya pada tanggal 18 Oktober 1931, umur 84 tahun ia menutup usia. Edison adalah seorang jenius, artinya orang yang berbakat besar untuk menciptakan sesuatu. Tetapi, waktu ia ditanya “Apakah jenius itu?” Jawabnya “Jenius adalah 1 % bakat, 99 % keringat.” Maksudnya, kalau ingin berhasil kita harus bekerja keras.


Edison sering mengalami kegagalan, tetapi ia tidak kenal putus asa untuk menemukan kawat pijar, ia mengalami kegagalan 9000 kali. Untuk menemukan aki, ia mengalami kegagalan 10.000 kali. Namun ia terus berusaha sampai ia mendapatkan yang ia cari. Dalam perkembangan selanjutnya ada murid Edison yang datang mengeluh karena sudah mengalami 99 kali kegagalan, dan Edison menjawab “Engkau bukan mengalami 99 kali kegagalan melainkan 99 kali pelajaran. Dengan gagal 99 kali berarti engkau tahu bahwa ada 99 hal yang tidak boleh dilakukan. Jadi kegagalan adalah pelajaran”. Rajin belajar, giat bekerja, gemar berpikir. Tentang berpikir, Edison berkata “Orang yang tidak mau mengembangkan kebiasaan berpikir, kehilangan kenikmatan hidup yang paling besar.” Hasil pemikiran Edison telah membuat umat manusia menikmati terang listrik, bioskop, telepon, telegraf, radio, televisi, tape recorder, dsb. Itulah pengalaman yang dapat kita timba dari kehidupan dan prestasi Edison. Ia mengalami kegagalan demi kegagalan, namun itu tidak membuatnya menjadi putus asa dan menyerah melainkan memberinya semangan untuk terus berpestasi dan meraih keberhasilan.


Abraham Lincoln


Siapakah Abraham Lincoln sebenarnya? Berikut marilah kita melihat sejarah hidup tokoh ini yang tidak jarang mengalami kegagalan dalam hidupnya. Tahun 1831 ia mengalami kebangkrutan dalam usahanya. Tahun 1832 ia kalah dalam pemilihan lokal. Tahun 1833 ia kembali mengalami kegagalan dalam usahanya. Tahun 1835 isterinya meninggal dunia. Tahun 1836 ia stres dan menderita tekanan mental sedemikian rupa sehingga hampir saja masuk rumah sakit jiwa. Tahun 1837 ia kalah dalam lomba pidato. Tahun 1840 ia gagal dalam pemilihan anggota Senat Amerika Serikat. Tahun 1842 ia menderita kegagalan untuk duduk sebagai anggota kongres Amerika. Tahun 1847 ia ka kalah lagi di kongres. Tahun 1855 ia kalah lagi di senat Amerika Serikat. Tahun 1856 ia gagal untuk duduk sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat. Tahun 1858 ia gagal lagi di Senat. Akhirnya pada tahun 1860 ia berhasil terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat.


Sungguh ini adalah suatu pengalaman yang luar biasa. Saya belum pernah berjumpa dengan seorang pun yang begitu banyak mengalami kegagalan seperti Lincoln, tetapi fakta memperlihatkannya sebagai orang yang tidak gampang menjadi putus asa dengan sekian banyak kegagalan itu. Inilah cara kedua yang seharusnya kita miliki ketika hidup kita diperhadapkan dengan berbagai kegagalan. Janganlah cepat putus asa, tetaplah bersabar dan teruslah berusaha, maka keberhasilan akan menjadi bagian hidup kita.


3. Bersyukurlah dan belajarlah untuk melihat rencana Allah yang lebih indah.


Sebagai langkah terakhir yang perlu kita lakukan di dalam menghadapi kegagalan setelah mengoreksi diri dan terus berusaha adalah bersyukur dan belajar untuk melihat rencana Allah yang lebih indah di balik semua kegagalan itu. Sebenarnya konsep yang ada di balik sikap ini adalah iman dan kepercayaan bahwa Allah adalah Allah yang baik dan selalu menginginkan yang terbaik bagi kita sebagai anak-anak-Nya. Kebaikan Allah ini adalah sifat yang unik karena kebaikan ini kadang disalurkan melalui kegagalan-kegagalan kita. Ia menginginkan yang terbaik bagi kita namun apa yang kita inginkan kadang tidak baik bagi diri kita sendiri tetapi kita tidak mengetahui hal itu. Itulah sebabnya demi menghindarkan kita dari “kecelakaan” karena keinginan semacam itu maka Ia mengijinkan kegagalan kedalam setiap usaha dan keinginan kita sehingga kegagalan demi kegagalan selalu mendampingi kita. Menghadapi kebenaran semacam ini maka sikap yang paling bijaksana adalah keberanian untuk belajar bersyukur dan mata untuk melihat rencana-Nya yang lebih indah.


Kalau demikian, apakah kegagalan itu selalu adalah kemalangan? Tentu tidak! Ada kegagalan yang adalah kemalangan dan itu datangnya dari diri kita sendiri, tetapi ada kegagalan yang justru adalah keuntungan. Kegagalan semacam ini biasanya datang dari sifat kebaikan Allah. Di sini kita seharusnya mempunyai cara pandang yang baru terhadap kegagalan bahwa kegagalan kadangkala menguntungkan kita. Di hadapan fakta semacam inilah seharusnya ketika berhadapan dengan kegagalan maka setelah mengoreksi diri langkah yang perlu kita lakukan adalah bersyukurlah kepada Allah dan belajarlah untuk melihat rencana-Nya yang lebih indah karena Dia adalah Allah yang baik yang dapat menyediakan keberhasilan bagi kita di balik semua kegagalan kita.