Selasa, 31 Maret 2009

TANGGAPAN PDT. BUDI ASALI, M.DIV ATAS TULISAN YAKUB TRI HANDOKO TENTANG "ANAK-ANAK ALLAH"

Dalam webseite GKRI Exodus (www.gkri-exodus.org), Pdt. Yakub Tri Handoko, MTh menulis sebuah artikel dengan tema "DUNIA ROH MENURUT PERSPEKTIF REFORMED". Pada bagian ke 4, beliau menulis tentang "Anak-anak Allah dalam Kej 6:1-8" dan kelihatannya beliau berkesimpulan bahwa anak-anak Allah dalam Kej 6:1-8 itu adalah malaikat-malaikat yang jatuh. Silahkan lihat tulisannya di sini : www.gkri-exodus.org/page.php?BIB-Dunia_Roh-04.Nah, tulisan tersebut akhirnya ditanggapi oleh Pdt. Budi Asali, M. Div. Berikut ini tulisan Pdt. Yakub Tri Handoko, MTh dan tanggapan Pdt. Budi Asali, M.Div di sela-selanya.


Dunia Roh Menurut Perspektif Reformed
Bagian-4 : Anak-anak Allah di Kejadian 6:1-8
Pendalaman Alkitab GKRI Exodus, Surabaya 13 November 2007
Yakub Tri Handoko, Th. M.



Yakub Tri Handoko menulis :
Salah satu teks Perjanjian Lama yang paling sering menimbulkan perdebatan adalah Kejadian 6:2. Lebih khusus lagi, fokus perdebatan terletak pada identitas “anak-anak Allah” (bene ‘elohim) dalam ayat ini. Ada tiga pandangan utama berkaitan dengan identitas “anak-anak Allah”: keturunan Set, kaum bangsawan dan malaikat. Setiap pandangan memiliki argumen dan kelemahan sendiri-sendiri sehingga pilihan yang pasti diantara tiga alternatif ini sulit untuk dicapai. Sebagian penafsir bahkan memilih menghindari perdebatan ini dan lebih memfokuskan pembahasan pada inti dari Kejadian 6:1-8 secara keseluruhan. Dalam makalah ini masing-masing pandangan di atas akan diselidiki secara mendetil untuk menemukan alternatif mana yang paling memungkinkan. Pembahasan pertama akan diarahkan pada kecenderungan sebagian sarjana yang menghindari persoalan ini. Setelah itu, kita akan membahas argumen dan kelemahan masing-masing alternatif yang ada.

Identitas “anak-anak Allah” tidak terlalu penting dalam Kejadian 6:1-8


Seperti sudah disinggung di atas, sebagian sarjana mencoba menghindari perdebatan tersebut dengan berpendapat bahwa identifikasi seperti itu tidak terlalu relevan dengan isi perikop secara keseluruhan. Mereka yang termasuk ke dalam kategori ini tidak mau memilih salah satu alternatif. Sebaliknya, mereka memilih untuk memfokuskan pada inti perikop, yaitu keberdosaan manusia yang sedemikian parah dalam bentuk pelecehan dan kekerasan (Richard Pratt, Dirancang Bagi Kemuliaan, 77). Yang lain melihat perikop ini sebagai sesuatu yang sangat wajar dan tidak berkaitan dengan identifikasi di atas (John Sailhamer, Genesis, EBC Vol. II; The Pentateuch As Narrative, 120-121). Menurut Sailhamer, Kejadian 6:1-8 merupakan penutup bagi bagian sebelumnya (silsilah Adam di pasal 5) dan bukan sebagai pendahuluan atau penyebab dari kisah penghukuman air bah. Jika ini diterima, maka Kejadian 6:1-8 hanya merupakan penjelasan bagaimana keturunan Adam telah bertambah banyak di bumi, yaitu melalui perkawinan. Dia menganggap bahwa peletakan perikop ini (tentang perkawinan) sebelum penghukuman merupakan strategi penulisan semata-mata, sama seperti perkawinan Adam dan Hawa di Kejadian 2:21-25 diletakkan sebelum penghukuman mereka di Kejadian 3. Singkatnya, identifikasi “anak-anak Allah” merupakan upaya yang tidak relevan dan didasarkan pada asumsi yang keliru bahwa Kejadian 6:1-8 merupakan pendahuluan (penyebab) penghukuman ilahi melalui air bah.

Tanggapan Budi Asali:
Apakah Yakub Tri setuju dengan pandangan Sailhamer ini atau hanya sekedar menuliskannya? Saya justru setuju dengan pandangan yang diserang oleh Sailhamer ini, dan pandangan ini sesuai dengan kontext. Kalau tidak, mengapa bagian ini diceritakan persis sebelum air bah? Kalau dikatakan ‘tidak relevan’, saya tanya: bagaimana tidak relevannya? Apanya yang tidak relevan? Lalu dikatakan itu hanya ‘strategi penulisan’. Strategi apa? Kalau itu strategi pasti punya tujuan. Lalu apa tujuan dari strategi itu? Kalau itu ‘hanya merupakan penjelasan bagaimana keturunan Adam telah bertambah banyak, yaitu melalui perkawinan’, lalu mengapa kok dijelaskan pernikahan anak-anak Allah dan anak-anak perempuan manusia? Mengapa tidak dikatakan ‘pernikahan’ begitu saja? Yang menunjukkan pertambahan jumlah keturunan Adam dan Hawa adalah Kej 5. Tetapi Kej 6 mulai menekankan dosa / kejahatan mereka yang menyebabkan Tuhan menghukum dengan air bah. Seluruh kontext menunjukkan pernikahan itu sebagai suatu dosa, dan itu menyebabkan hukuman Tuhan yang dibicarakan dalam ay 3,5-7. Ini sama sekali tidak bisa disamakan dengan pernikahan Adam dan Hawa dalam Kej 2, yang diceritakan persis sebelum penghukuman mereka dalam Kej 3. Mengapa? Karena dalam kasus Adam dan Hawa, jelas-jelas di antara kedua cerita / peristiwa itu ada penceritaan kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa!!


Yakub Tri Handoko menulis :
Sebelum memaparkan kelemahan dari pandangan ini, kita pertama-tama harus mengakui bahwa apa yang diusulkan di atas tidak sepenuhnya salah. Identitas “anak-anak Allah” memang bukan inti dari Kejadian 6:1-8. Inti perikop ini terletak pada kondisi manusia yang sedemikian jahat sehingga Allah perlu menghukum mereka, entah hukuman tersebut dipahami dalam kaitan dengan pasal 6:3 saja atau pasal 6-7 secara keseluruhan.

Tanggapan Budi Asali:
Saya justru berpendapat bahwa identitas ‘anak-anak Allah’ dalam Kej 6:2 ditekankan sebagai penyebab dari rusaknya manusia, dan rusaknya manusia menyebabkan penghukuman dari Allah. Juga saya berpendapat bahwa kita tidak bisa memisahkan Kej 6:3 dengan Kej 6:4-7:24, karena 120 tahun yang dibicarakan dalam Kej 6:3 merupakan jangka waktu untuk bertobat bagi orang2 jahat itu, sebelum dunia dihancurkan oleh air bah itu. Jadi, hubungannya justru sangat dekat!


Yakub Tri Handoko menulis :
Hubungan Kejadian 6:1-8 dengan pasal 5 juga tidak terbantahkan (lihat Gordon Wenham, Genesis 1-15, WBC Vol. I). Ungkapan “ketika manusia mulai bertambah banyak jumlahnya di bumi” (Kej 6:1) jelas merujuk pada silsilah di pasal 5. Penyebutan “anak-anak perempuan” sudah ada di pasal 5. Kalau di pasal 5 “anak-anak perempuan” hanya disebut secara sambil lalu saja, di pasal 6:1-8 mereka menjadi fokus perhatian. Beberapa kosa kata muncul baik di pasal 5 maupun 6:1-8, misalnya “Tuhan”, “manusia”, “anak-anak laki-laki”, “anak-anak perempuan”, “membuat”, dsb.

Tanggapan Budi Asali:
Apa yang dimaksud dengan ‘hubungan yang tidak terbantahkan’ antara Kej 6 dan Kej 5??? Ada hubungannya, tak perlu diragukan, tetapi ada perkembangan cerita juga. Karena Kej 5 hanya membicarakan perkembang-biakan, sedangkan Kej 6 menekankan dosa / kejahatan dari manusia yang telah bertambah banyak itu. Kosa kata yang sama antara Kej 5 dan Kej 6 merupakan sesuatu yang biasa, yang tidak bisa dijadikan dasar argumentasi. Tetapi mengapa Yakub Tri tidak membahas kosa kata / thema yang berbeda antara kedua text ini? Misalnya: dalam Kej 6 ada pernikahan anak-anak Allah dengan anak-anak perempuan manusia, dan ini tak ada dalam Kej 5. Juga dalam Kej 6:2 ada kata-kata ‘cantik-cantik’, ‘siapa saja yang disukai mereka’, yang jelas menunjukkan tindakan ‘semau gue’! Juga adanya kata ‘kejahatan manusia’ (Kej 6:5), ‘menyesallah Tuhan’ (Kej 6:6,7), ‘memilukan hatiNya’ (Kej 6:6), ‘Aku akan menghapuskan manusia’ (Kej 6:7). Juga penceritaan tentang Nuh dalam Kej 6:8 diawali dengan kata ‘tetapi’ yang jelas menunjukkan suatu kontras dengan orang2 jahat dalam ayat2 sebelumnya. Sekali lagi, mengapa semua perbedaan ini diabaikan oleh Yakub Tri?


Yakub Tri Handoko menulis :
Walaupun dua cara menghindari problem identifikasi “anak-anak Allah” di atas dapat dibenarkan, tetapi persoalan tetap tidak terselesaikan. Para pembaca tetap mempertanyakan siapa yang dimaksud anak-anak Allah dalam perikop itu.

Tanggapan Budi Asali:
Betul-betul lucu! Yakub Tri berkata bahwa dua cara itu ‘dapat dibenarkan’, tetapi lalu ia melanjutkan dengan membantah kata2nya sendiri!


Yakub Tri Handoko menulis :
Sehubungan dengan pandangan Sailhamer, kita perlu menandaskan bahwa Kejadian 6:1-8 jelas berhubungan dengan hukuman air bah (ayat 7a “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan dari muka bumi”). Mengapa Allah ingin memusnahkan manusia? Karena Dia melihat bahwa dosa manusia di bumi sudah sedemikian besar sehingga Dia menyesal telah menciptakan manusia (ayat 5-6). Kejahatan apa yang dilihat Allah di bumi? Jawabannya jelas terletak di ayat 1-4. Jadi, Kejadian 6:1-8 lebih cocok sebagai pendahuluan bagi bagian sesudahnya daripada kesimpulan dari bagian sebelumnya, walaupun pasal 6:1-8 memiliki kaitan dengan pasal 5.

Anak-anak Allah adalah keturunan Set

Salah satu usulan identifikasi “anak-anak Allah” adalah yang menganggap bahwa “anak-anak Allah” merujuk pada keturunan Set (orang benar), sedangkan “anak-anak perempuan manusia” adalah keturunan Kain (orang fasik). Pandangan ini dipegang oleh beberapa rabi Yahudi abad ke-2, beberapa bapa gereja ternama (Agustinus dan John Chrysostom) dan para reformator serta dipercaya oleh hampir semua orang Kristen awam. Di antara semua penganut pandangan ini, Agustinus mungkin adalah yang paling penting dan berpengaruh. Argumen yang dia berikan dijelaskan dalam bukunya The City of God.
Jika ini benar, maka inti dosa dalam perikop ini bukanlah sekedar pelampisan hawa nafsu. Fokus yang dibahas adalah kawin campur dengan orang yang fasik. Akibat dari kawin campur ini adalah hilangnya kesaksian untuk Tuhan dan standar moral (Gleason L. Archer, Encyclopedia of Bible Difficulties, 70.Beragam argumen telah dimunculkan untuk mendukung dugaan ini.

Pertama, pertentangan antara keturunan Kain dan Set memang sudah diajarkan di pasal 4 dan 5. Kedua keturunan ini mewakili dua macam keturunan yang saling berperang sejak Kejadian 3:15 (keturunan ular melawan keturunan perempuan). Perkawinan campur antara keturunan yang benar (“anak-anak Allah”) dengan yang tidak benar jelas merupakan dosa yang sangat serius di mata Tuhan.

Tanggapan Budi Asali:
Apakah perang antara keturunan (benih) ular / setan dan keturunan (benih) dr perempuan / Hawa, menunjuk pada perang antara org benar dan org jahat, atau antara org benar dengan setan, atau menunjuk pada perang antara setan dan Yesus?
Kej 3:15 - “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.’”. Catatan: yang saya persoalkan adalah bagian pertama dr Kej 3:15. Yang bagian akhir tidak bisa tidak menunjuk kepada Yesus vs setan.


Yakub Tri Handoko menulis :
Kedua, larangan kawin campur antara orang percaya dan orang yang tidak percaya diajarkan secara konsisten dan jelas dalam Alkitab. Allah memberikan larangan ini kepada bangsa Israel sebelum mereka menduduki tanah Kanaan (Ul 7:1-6). Larangan ini dipertegas lagi oleh Yosua pada akhir hidupnya (Yos 23:12). Alkitab juga menyaksikan bahwa perkawinan campur memang mengakibatkan dekadensi moral, misalnya Salomo (1 Raj 11:1-4). Pada saat bangsa Yehuda kembali dari pembuangan di Babel, mereka sangat menentang perkawinan campur (Ezra 9:14). Dalam Perjanjian Baru pun Paulus memberi nasehat yang sama (2 Kor 6:14-18).

Ketiga, sebutan “anak-anak Allah” dalam Alkitab dapat merujuk pada umat perjanjian. Tuhan berkata bahwa “Israel adalah anak-Ku” (Kel 4:22). Ulangan 14:1 “kamulah anak-anak TUHAN, Allahmu”. Mereka yang memberontak terhadap Tuhan disebut sebagai “yang bukan anak-anak-Nya” (Ul 32:5). Di hadapan Tuhan Asaf menyebut para leluhurnya sebagai “angkatan anak-anak-Mu” (Mzm 73:15). Pada saat Tuhan memulihkan Israel, Dia akan menyebut mereka “anak-anak Allah yang hidup” (Hos 1:10). Penyebutan ini tetap dipertahankan oleh para penulis Perjanjian Baru. Orang-orang yang percaya adalah anak-anak Allah (Mat 5:9; Luk 6:35; 20:36; Yoh 1:12; 11:52; Rom 8:16, 19, 21). Paulus bahkan secara khusus menyebut keturunan perjanjian sebagai anak-anak Allah (Rom 9:8). Adam pun disebut sebagai anak Allah (Luk 3:38).

Terakhir, penafsiran ini lebih meminimalisasi masalah yang dapat muncul. Alkitab mengajarkan bahwa malaikat adalah roh (Ibr 1:14). Walaupun malaikat dapat menampakkan diri dalam bentuk manusia, namun mereka tidak memiliki tubuh fisik sehingga tidak mungkin mengadakan hubungan seksual dengan manusia. Penafsiran “anak-anak Allah” sebagai malaikat merupakan akibat dari pengaruh mitos-mitos kafir.

Anak-anak Allah adalah keturunan bangsawan


Identifikasi kedua adalah yang menganggap “anak-anak Allah” sebagai keturunan bangsawan/raja, sedangkan “anak-anak perempuan” adalah keturunan rakyat biasa. Pandangan ini mulai dipopulerkan oleh para penafsir Yahudi pada pertengahan abad ke-2 M dan dianut oleh beberapa penafsir Kristen. Beberapa targum Yahudi mulai abad ke-2 M tampak mendukung pandangan ini. Dalam Targum Neofiti istilah “anak-anak Allah” diterjemahkan dengan istilah Aram yang artinya “anak-anak para penguasa”. Targum Onkelos memilih terjemahan “anak-anak para pembesar”, sedangkan Symmachus memakai “anak-anak yang berkuasa” atau “anak-anak para penguasa”.
Jika tafsiran ini yang benar, maka inti dosa di Kejadian 6:1-8 adalah poligami. Para pembesar mengambil banyak istri dari kalangan rakyat biasa “siapa saja yang disukai mereka” (6:2). Dosa ini sama seperti yang dilakukan oleh Lamekh (4:19-24).

Tanggapan Budi Asali:
Saya tidak melihat sedikitpun adanya petunjuk bahwa ini merupakan polygamy. Kata2 ‘siapa saja yang disukai mereka’ tetap bisa menunjuk pada satu istri. Tetapi pada waktu laki2 itu mengambil istri itu, ia hanya mempersoalkan kesukaan dirinya sendiri, bukan kesukaan Allah.


Yakub Tri Handoko menulis :
Argumen yang diajukan sebagai dukungan bagi pandangan ini biasanya hanya berkaitan dengan studi kata “anak-anak Allah”. Dalam Alkitab para pembesar juga kadangkala disebut sebagai “anak Allah”. Dalam Mazmur 82:6 Allah menyebut para hakim sebagai “anak-anak Yang Mahatinggi”. Para raja dari keturunan Daud disebut sebagai anak Allah (2Sam 7:14; Mzm 2:7).

Tanggapan Budi Asali:

Kedua ayat yang digunakan di sini tidak masuk akal. 2Sam 7:14 menunjuk kepada Salomo, yang memang adalah org percaya. Ia disebut sebagai ‘anak Allah’ karena ia adalah org percaya, bukan karena ia adalah raja dari keturunan Daud.
Sedangkan Maz 2:7 jelas menunjuk kepada Kristus.


Yakub Tri Handoko menulis :
Bukti di luar Alkitab juga mengarah pada arti yang sama. Dalam sebuah tulisan, raja Sumer-Akkadia disebut sebagai ‘Sang Raja, anak dari dewa[nya]”. Raja Hittit disebut sebagai ‘anak dewa cuaca’. Dalam sebuah teks Ugarit, raja Keret disebut sebagai ‘Keret ben El’ yang artinya “raja Keret, anak allah”.

Tanggapan Budi Asali:
Ini terlalu konyol utk ditanggapi.


Yakub Tri Handoko menulis :

Anak-anak Allah adalah para malaikat

Pandangan ini banyak dipegang oleh para penafsir modern. Salah satu teolog Reformed yang menganut pandangan ini adalah James M. Boice. Berikut ini adalah beberapa argumen penting yang biasa dikemukakan untuk mendukung pandangan ini.

Pertama, dalam Alkitab sebutan “anak-anak Allah” dipakai sebagai rujukan untuk para malaikat (Ay 1:6; 2:1; 38:7). Penerjemah New International Version (NIV) bahkan secara eksplisit menerjemahkan sebutan itu di Ayub 1:6 dan 2:1 dengan “malaikat-malaikat”. Sebutan yang mirip dengan itu – yaitu bar ‘elohim – juga muncul di Daniel 3:25 (LAI:TB “anak dewa”). Dalam konteks ini, bar ‘elohim jelas merujuk pada malaikat (band. ayat 28). Pemakaian seperti ini juga dapat ditemukan dalam literatur Ugarit kuno yang menyebut para penghuni surga sebagai “anak-anak allah”.
Penyebutan “anak-anak Allah” untuk malaikat dalam contoh-contoh di atas disebut sebagai pemakaian yang bersifat atributif. Artinya, “anak-anak Allah” memang nama lain dari para malaikat, sebagaimana mereka memiliki sebutan-sebutan yang lainnya, misalnya “yang kudus”, “utusan”, dsb. Hal ini jelas berbeda dengan argumen sebelumnya yang dipakai untuk menafsirkan “anak-anak Allah” sebagai “keturunan Set” atau “keturunan bangsawan”. Dalam dua pemakaian ini, sebutan “anak-anak Allah” digunakan secara predikatif. Artinya, sebutan itu dipakai untuk menerangkan keadaan atau status dari sesuatu. Untuk mempermudah pemahaman, perhatikan perbedaan dari dua contoh berikut ini:
Atributif Si ganteng itu sedang pergi
Predikatif Dia adalah laki-laki yang ganteng

Tanggapan Budi Asali:
Saya berpendapat bahwa bagian tentang atributif dan predikatif ini adalah omong kosong yang sengaja dibuat mbulet dan sukar, padahal sama sekali tak punya nilai dalam argumentasi.


Yakub Tri Handoko menulis :
Kedua, berdasarkan pertimbangan konteks, kata “manusia” (ha ‘adam) dan “anak-anak perempuan” (banot) dalam ungkapan “anak-anak perempuan manusia” harus dipahami secara umum sebagai rujukan pada semua manusia tanpa terkecuali. Dari pasal 1-5, kata Ibrani ‘adam (24x) selalu merujuk pada Adam atau manusia secara umum. Tidak ada alasan untuk membatasi “manusia” di sini hanya pada keturunan Kain atau rakyat biasa, apalagi kata ini malah muncul sebagai pendahuluan bagi silsilah Set (5:1-2). Begitu pula dengan kata Ibrani banot. Kata ini muncul 9 kali di pasal 5 (ayat 4, 7, 10, 13, 16, 19, 22, 26, 30) dan semuanya merujuk pada keturunan Set. Tidak ada bukti apapun untuk menunjukkan bahwa banot terbatas pada keturunan Kain saja.

Tanggapan Budi Asali:
1)Pertama2 jelas bahwa dalam kontext yang sama / berdekatanpun, suatu kata bisa diartikan secara berbeda. Misalnya

a)Mat 3:10-12 - “(10) Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (11) Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. (12) Alat penampi sudah ditanganNya. Ia akan membersihkan tempat pengirikanNya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakarNya dalam api yang tidak terpadamkan.’”.

Kata ‘api’ dalam ay 10,12 menunjuk pada hukuman, tetapi kata ‘api’ dalam ay 11 menunjuk pada penyucian / pengudusan.

b)Ro 5:12,18-19 - “(12) Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. … (18) Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. (19) Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar”.

Perhatikan kata2 ‘satu orang’ yang muncul 3x, dan kata2 ‘semua orang’ yang muncul 6x, dan pikirkan sendiri apakah artinya sama?

c)Yoh 1:10 - “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya”.

Kata ‘dunia’ yang pertama dan kedua menunjuk pd ‘bumi’, tetapi kata ‘dunia’ yang ketiga menunjuk pada orang2 yang tidak percaya / orang2 Yahudi yang tidak percaya.

2)Juga dalam Kej 6:1-2 itu ada semacam kontras antara kata2 ‘anak-anak Allah’ dan ‘anak-anak perempuan manusia’. Menurut saya merupakan kemustahilan kalau menafsirkan bahwa ini adalah kontras antara malaikat dan manusia. Jadi, ini harus diartikan sebagai kontras antara orang2 yang percaya dan orang2 yang tidak percaya.

3)Kej 6:1-2 itu disusul oleh Kej 6:3 yang berbunyi: “Berfirmanlah TUHAN: ‘RohKu tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.’”.

Pertama, Roh Kudus itu bekerja / memberi waktu bertobat selama 120 tahun. Kalau mrk bukan orang yang tidak percaya lalu bagaimana bisa ada kalimat ini? Juga dikatakan ‘manusia itu adalah daging’. Apakah kata ‘manusia’ ini tidak menunjuk kepada orang2 yang tidak percaya??


Yakub Tri Handoko menulis :
Di samping itu, kita perlu menambahkan bahwa tidak ada ide tentang perkawinan campur di Kejadian 6:1-8 yang dilarang oleh Tuhan. Mengapa? Kalau memang perkawinan campur dilarang dalam teks ini, maka Set juga bersalah. Bukankah dia pasti menikah dengan salah satu dari saudara perempuannya (Kej 5:4)? Apakah saudara perempuan ini (istri Set) termasuk orang kafir atau orang benar? Bagaimana dengan saudara-saudara Set lain yang laki-laki? Apakah mereka termasuk orang kafir atau orang benar? Dari penjelasan ini terlihat bahwa pembagian manusia ke dalam “keturunan Kain” dan “keturunan Set” adalah kategorisasi yang terlalu sempit dan tidak memperhatikan data lain dalam kitab Kejadian.

Tanggapan Budi Asali:

1)Yakub Tri sendiri tak yakin Set kawin dengan orang beriman atau tidak, tetapi bisa menjadikan hal ini sebagai argumentasi. Berargumentasi dari ketidak-yakinan?? Lucu sekali!
2)Saya sendiri tak menganggap secara mutlak bahwa ‘anak-anak Allah’ sebagai keturunan Set, tetapi sebagai orang2 percaya. Sedangkan ‘anak-anak perempuan manusia’ tidak secara mutlak ssebagai keturunan Kain tetapi sebagai orang2 yang tidak percaya. Paling2 bisa dikatakan bahwa pada umumnya keturunan Set adalah orang beriman dan keturunan Kain adalah orang tak beriman.
3)Sekalipun tak ada larangan secara explicit, bisa saja ada larangan secara implicit. Sejak Kej 4 ada peristiwa Kain (orang tak beriman) membunuh Habel (orang beriman), dan lalu disusul oleh silsilah Kain (yang ditandai dengan adanya orang brengsek bernama Lamekh), dan lalu disusul dalam Kej 5 dengan menceritakan keturunan Set (yang ditandai dengan adanya orang saleh yang bernama Henokh, yang lalu diangkat oleh Tuhan). Semua ini menunjukkan pengkontrasan. Juga jangan lupa bahwa sekalipun belum ada hukum Taurat atau Firman apapun, hukum hati nurani sudah ada. Bdk. Ro 2:14-16 - “(14) Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. (15) Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. (16) Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”.

Sekarang pikirkan, kalau seseorang betul2 beriman dan mengasihi Tuhan, bisakah ia tidak bersalah dengan menikahi orang kafir yang sama sekali tidak mencintai Tuhan, dan bahkan selalu menyakiti hati Tuhan? Sebagai tambahan, Kitab Suci mengatakan bahwa Lot menderita (tersiksa jiwanya yang benar) pd saat tinggal di Sodom, karena tingkah laku yang jahat dari orang2 Sodom (2Pet 2:7-8). Ini menunjukkan bahwa secara rohani pasti akan ada ketidak-cocokan antara orang beriman dan tidak beriman. Kalau tetap terjadi pernikahan, itu hanya karena orang beriman itu menuruti dagingnya. Dan pada saat seperti itu tidak mungkin hati nuraninya tidak merasakan hal itu sebagai suatu dosa / kesalahan!
4)Kalau benih perempuan ditafsirkan sebagai orang2 benar, sedangkan benih ular / setan sebagai orang2 jahat / tak beriman, seperti ditafsirkan oleh beberapa penafsir (misalnya JFB), maka jelas sudah ada suatu pengumuman akan adanya permusuhan antara kedua kelompok ini. Dan tetap adanya pernikahan antar kedua kelompok ini sudah pasti bertentangan dengan pengumuman ini.
5)Dan seandainya kawin campur itu memang bukan dosa, fakta bahwa mrk memilih istri yang cantik2 (hanya demi kedagingan mrk), dan mengambil istri yang manapun yang mrk sukai (tak peduli itu memperkenan Allah atau tidak), jelas merupakan dosa. Bdk. Kej 6:2 - “maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka”.
6)Dan hal lain, yang menurut saya paling penting adalah: sekalipun / seandainya pernikahan itu tidak bisa dianggap sebagai dosa, itu tetap memberi hasil yang jelek, yaitu munculnya keturunan yang jahat. Kalau org beriman menikah dengan org yang tidak beriman, biasanya yang baik ketularan menjadi buruk, dan bukan sebaliknya. Setelah muncul generasi baru yang jahat itu, maka Tuhan akhirnya menghukum dengan air bah.


Yakub Tri Handoko menulis :
Ketiga, pandangan ini dapat menjelaskan keberadaan para nephilim (para raksasa di dunia purba) di Kejadian 6:4. Walaupun tidak semua orang yang bertubuh besar adalah hasil persetubuhan malaikat dan manusia (misalnya Bilangan 13:33; 1Sam 17; 2Sam 21:16-22), namun pemunculan nephilim sebagai hasil persetubuhan akan lebih masuk akal jika dipahami bahwa ini adalah persetubuhan yang tidak wajar. James Boice bahkan meyakini bahwa mitos kuno tentang para pahlawan yang separuh dewa-separuh manusia yang ada di hampir semua kisah rakyat (suku) dapat memberi dukungan ke arah sana (Genesis Vol I, 310).

Tanggapan Budi Asali:
1)Apa alasan dari Kitab Suci bahwa kalau malaikat bersetubuh dengan manusia, akan muncul keturunan yang bertubuh besar / raksasa? Jangan menggunakan Kej 6:4, karena ayat ini yang saat ini sedang dipersoalkan. Apakah dasarnya hanya mitos kuno, seperti yang dikatakan oleh James Boice? Alangkah alkitabiahnya!
2)Lebih-lebih lagi, apa dasarnya dari Kitab Suci bahwa malaikat bisa bersetubuh dengan manusia. Dan perlu ditambahkan bahwa Kej 6:2 tidak sekedar mengatakan huhungan sex, tetapi ‘mengambil istri’! Bagaimana malaikat bisa menganbil istri manusia? Lalu bagaimana cara mereka berumah tangga? Malaikat memberi belanja kpd istrinya? Dan mengantar anaknya ke sekolah? Lucu sekali!
3)Apakah kata ‘nephilim’ memang menunjuk kpd raksasa? Ini sedikitnya perlu diragukan.
KJV: ‘giants’ (= raksasa).

RSV/NIV/NASB: ‘the Nephilim’ [ini bukan terjemahan tetapi transliteration (menuliskan kata Ibraninya dengan huruf Latin)].
Terjemahan ‘giants / raksasa’ ini timbul karena:
a)Diambil dari Septuaginta / LXX (Perjanjian Lama yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani) yang menterjemahkan GIGANTES.
b)Dihubungkan dengan Bil 13:33 yang dalam versi NIV menterjemahkan sebagai berikut: “We saw the Nephilim there (the descendants of Anak come from the Nephilim). We seemed like grasshoppers in our own eyes, and we looked the same to them” [= Kami melihat orang-orang Nephilim di sana (keturunan Anak datang / muncul dari orang Nephilim). Kami kelihatan seperti belalang dalam mata kami sendiri, dan kami kelihatan sama bagi mereka].Terjemahan ini memang menunjukkan bahwa orang Nephilim itu pasti sangat besar / raksasa.

Tetapi ada kemungkinan penafsiran yang lain: Kata bahasa Ibrani NEPHILIM berasal dari akar kata NAPHAL yang bisa berarti:
1.‘to fall’ (= jatuh).
Mungkin semua orang yang bertemu mereka jatuh tersungkur karena takut kepada mereka.
2.‘to fall upon / to attack’ (= menyerang).
Jadi, NEPHILIM berarti penyerang, bandit, perampok.
Kedua arti ini bisa digabungkan. Jadi, kata NEPHILIM menunjuk kepada perampok-perampok yang ditakuti orang. Penafsiran ini lebih cocok dengan kontext dibandingkan dengan penafsiran di atas yang mengatakan bahwa NEPHILIM adalah raksasa. Kontext Kej 6 ini berbicara soal dosa manusia secara moral. Kalau tahu-tahu ay 4 ini berbicara tentang ukuran tubuh, itu tidak sesuai dengan kontext atau tidak berhubungan dengan kontext. Tetapi kalau NEPHILIM diartikan perampok, itu sesuai dengan kontext.


Yakub Tri Handoko menulis :
Keempat, konteks kitab Kejadian secara keseluruhan mendukung adanya intervensi iblis secara langsung dalam sejarah keselamatan. Dimulai dengan hukuman dan janji Allah di pasal 3:15. iblis terus berusaha menggagalkan munculnya keturunan perempuan yang akan meremukkan kepalanya. Dia berhasil memakai ular, Kain, para pembangun menara Babel dan orang-orang lainnya untuk menggagalkan janji Allah tersebut. Hal ini akan semakin jelas apabila kita memperhatikan kesejajaran pola yang dipakai iblis di Kejadian 3:6 dan 6:2 yaitu “melihat...baik...mengambil” (catatan: terjemahan LAI:TB “cantik-cantik” di 6:2 seharusnya “baik” karena kata Ibrani yang dipakai sama dengan yang di 3:6).

Tanggapan Budi Asali:
Lucu, ini omongan / argumentasi apa? Bagaimana Iblis memakai ular setelah Kej 3:15? Ular dipakai sebelum Kej 3:15!!!! Dan itu jelas bukan utk menggagalkan rencana keselamatan dr Allah, tetapi hanya utk menjatuhkan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Lalu Iblis menggunakan Kain? Dengan cara bagaimana? Dengan membunuh Habel? Siapa bilang Allah mau menggunakan Habel utk rencana keselamatan bagi umat manusia? Dan menara Babel? Apa hubungannya dengan rencana keselamatan Allah? Kesejajaran antara Kej 3:6 dan Kej 6:2 tentang ‘melihat … baik … mengambil’ juga ada dalam tempat2 lain, spt pd waktu Akhan jatuh ke dalam dosa (Yos 7:21), dan waktu Daud jatuh ke dalam dosa dengan Batsyeba (2Sam 11:2-4). Itu hanya menunjukkan bahwa setan / iblis sering bekerja menjatuhkan manusia ke dalam dosa dengan cara spt itu. Apa hubungannya dengan penggagalan rencana keselamatan Allah? Iblis tak pernah bisa menggagalkan rencana itu!


Yakub Tri Handoko menulis :
Kelima, para penerjemah Septuaginta (LXX) dan semua penulis Yahudi sebelum jaman Perjanjian Baru memahami “anak-anak Allah” sebagai sebutan lain untuk para malaikat (Ay 1:6; 2:1; 38:7, LXX). Fakta ini tentu saja tidak secara otomatis membuktikan bahwa apa yang mereka percayai adalah benar. Mereka bisa saja melakukan kesalahan yang sama secara bersama-sama. Bagaimanapun, fakta tersebut akan tampak sangat meyakinkan apabila kita melihat salah satu tulisan Yahudi tersebut yang dipakai oleh beberapa penulis Perjanjian Baru, yaitu kitab 1Henokh (dipakai dalam surat 1Petrus, 2Petrus dan Yudas). Dalam pasal 6-8 dari kitab ini disebutkan bahwa yang menghampiri anak-anak perempuan manusia adalah para malaikat atau anak-anak surga. Akibat dari persetubuhan ini lahirlah para raksasa di jaman purbakala.

Tanggapan Budi Asali:

Wah, wah, wah, makin lama makin tidak alkitabiah. Sekarang mengunakan penterjemah LXX dan penulis2 Yahudi, dan bahkan kitab Apokripa! Dimana kekuatan argumentasi spt itu?
Lalu yang dikutip adalah ayat2 dr Ayub dimana memang di sana kata2 ‘anak-anak Allah’ memang menunjuk kpd malaikat2. Mengapa tak memakai ayat2 lain? Bagaimana pemahaman penterjemah LXX dan penulis2 Yahudi itu ttg kata2 ‘anak-anak Allah’ dalam ayat2 spt Kel 4:22,23 2Sam 7:14 dsb?

Kel 4:22-23 - Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung."

2Sa 7:14 - Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.

Juga siapa bilang Petrus dan Yudas mengutip dr kitab Henokh? Apa buktinya?

Saya akan mengutip pembahasan saya sendiri ttg Yudas 14-15 di bawah ini:

1)Apakah Yudas mengutip dari kitab Henokh, yang termasuk dalam Apocrypha?

a)Dalam kitab Henokh, ada satu ayat yaitu Henokh 1:9, yang berbunyi sebagai berikut:

Versi William Barclay: “And behold! He cometh with ten thousands of his holy ones to execute judgment upon all, and to destroy all the ungodly; and to convict all flesh of all the works of their ungodliness which they have ungodly committed, and of all the hard things which ungodly sinners have spoken against him” (= Dan lihatlah! Ia datang dengan sepuluh ribu orang-orang kudusNya untuk melakukan penghakiman terhadap semua orang, dan untuk menghancurkan orang jahat; dan untuk meyakinkan semua daging / orang tentang semua kejahatan yang mereka lakukan secara jahat, dan tentang semua kata-kata keras yang diucapkan oleh orang-orang berdosa yang jahat menentang Dia).

Henokh 1:9 Versi William Barclay ini boleh dikatakan identik dengan Yudas 14-15.

Versi Pulpit Commentary: “And behold, he comes with myriads of the holy, to pass judgment upon them, and will destroy the impious, and will call to account all flesh for everything the sinners and the impious have done and committed against him” (= Dan lihatlah, Ia datang dengan puluhan ribu orang kudus, untuk memberikan penghakiman terhadap mereka, dan akan menghancurkan orang jahat, dan akan meminta pertanggungjawaban semua orang untuk setiap hal yang orang berdosa dan jahat lakukan menentang Dia).

Henokh 1:9 versi Pulpit Commentary ini sedikit berbeda dengan Yudas 14-15, karena dalam Henokh 1:9 ini tidak ada tentang ‘kata-kata keras’ dari orang-orang jahat itu.

Versi Barnes’ Notes sama dengan Pulpit Commentary.

b)Kutipan dalam Yudas 14-15 ini menyebabkan banyak pertanyaan dan problem.
Haruskah kita menganggap Kitab Henokh itu sebagai Kitab Suci? Atau, haruskah kita membuang surat Yudas dari Kitab Suci, seperti yang dilakukan oleh Jerome? Saya berpendapat bahwa kita tidak boleh menganggap bahwa Kitab Henokh harus dimasukkan ke dalam Kitab Suci (Catatan: tidak adanya kata-kata ‘ada tertulis’ dalam Yudas 14 ini menunjukkan bahwa ia tidak sedang mengutip Kitab Suci), dan kita juga tidak boleh mengeluarkan surat Yudas dari Kitab Suci. Mengapa? Karena adanya kemiripan atau kesamaan antara Yudas 14-15 dan Henokh 1:9 memberikan beberapa kemungkinan, yaitu:
1.Yudas mengutip dari Kitab Henokh.
Perlu diketahui bahwa ada banyak penafsir, yang termasuk golongan injili dan alkitabiah sekalipun, yang mempunyai anggapan seperti ini! Tetapi perlu diingat bahwa ini bukan satu-satunya kemungkinan. Orang yang menganggap bahwa Yudas mengutip dari kitab Henokh pada umumnya sampai pada kesimpulan ini karena mereka menyimpulkan terlalu cepat. Mereka tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang lain.
2.Penulis kitab Henokh mengutip dari Yudas, sedangkan Yudas mengutip dari tradisi.
3.Yudas maupun penulis kitab Henokh mengutip dari tradisi.


Tidak ada kemungkinan untuk membuktikan bahwa kemungkinan pertamalah yang benar, sehingga adanya kemiripan / kesamaan antara Yudas 14-15 dengan Henokh 1:9 ini tidak membuktikan bahwa Yudas mengutip dari Kitab Henokh.

Barnes’ Notes: “There in no clear evidence that he quoted it from any book extant in his time. There is, indeed, now an apocryphal writing called ‘the Book of Enoch,’ containing a prediction strongly resembling this, but there is no certain proof that it existed so early as the time of Jude, nor, if it did, is it absolutely certain that he quoted from it. Both Jude and the author of that book may have quoted a common tradition of their time, for there can be no doubt that the passage referred to was handed down by tradition” (= Tidak ada bukti yang jelas bahwa ia mengutipnya dari buku apapun yang ada pada jamannya. Memang sekarang ada tulisan apokripa yang disebut ‘Kitab Henokh’, yang berisi ramalan yang sangat mirip dengan ini, tetapi tidak ada bukti tertentu bahwa kitab itu sudah ada pada jaman Yudas, atau, jika kitab itu sudah ada pada jaman Yudas, tidak ada kepastian yang mutlak bahwa Yudas mengutip dari kitab itu. Keduanya, Yudas dan penulis kitab itu, bisa telah mengutip dari suatu tradisi yang umum pada jaman mereka, karena tidak ada keraguan bahwa bagian itu diturunkan oleh tradisi).

c)Pandangan yang meninggikan kitab Henokh.

Pulpit Commentary: “Though never formally recognized as canonical, it was in great esteem, largely accepted as a record of revelations, and regarded as the work of Enoch” (= Sekalipun tidak pernah diakui secara resmi sebagai kanon, itu dihargai / dihormati, sebagian besar diterima sebagai catatan wahyu, dan dianggap sebagai pekerjaan Henokh).

Pulpit Commentary: “An attempt has been made by some to bring the composition of the book down to Christian times, so that Enoch should quote Jude, not Jude Enoch. But there is every reason to believe that it belongs to the second century B.C. Certain portions of the book, however, are of later date. For it is scarcely possible to deny that it is the work of more than one hand. The original seems to have been written in Hebrew or Aramaic. We cannot be far astray, therefore, in accepting it as the composition of a Jew of Palestine dating between B.C. 166 and 110” (= Suatu usaha telah dilakukan oleh beberapa orang untuk membawa penyusunan kitab itu ke jaman kristen, sehingga Kitab Henokhlah yang mengutip Yudas, bukan Yudas mengutip Kitab Henokh. Tetapi ada banyak alasan untuk percaya bahwa buku itu berasal dari abad kedua S.M. Tetapi, beberapa bagian dari kitab itu ditulis belakangan. Karena adalah sesuatu yang hampir mustahil untuk menyangkal bahwa kitab itu merupakan pekerjaan dari lebih dari satu tangan. Kitab aslinya kelihatannya ditulis dalam Ibrani atau Aramaic. Karena itu, kita tidak bisa terlalu tersesat dalam menerima bahwa kitab itu disusun oleh seorang Yahudi di Palestina antara 166 S.M. - 110 S.M.).

Catatan: Ia berkata bahwa kelihatannya kitab itu ditulis dalam bahasa Ibrani atau Aramaic. Ia jelas tidak tahu kitab Henokh yang asli; yang ia tahu paling banter adalah terjemahannya. Menurut dia dari terjemahan itu kelihatannya kitab Henokh yang asli ada dalam bahasa Ibrani atau Aramaic. Ini sudah merupakan kesimpulan yang sangat tidak pasti. Lalu dari sini ia mengambil kesimpulan lagi, yaitu bahwa penulisnya pasti seorang Yahudi di Palestina pada abad 2 S.M. Ini lagi-lagi merupakan kesimpulan yang sangat tidak pasti. Mengingat bahwa pada jaman Yesus hidup di dunia, yaitu pada abad 1 Masehi, bahasa Ibrani dan Aramaic banyak digunakan, maka bisa saja penulisnya hidup pada jaman itu atau bahkan sesudahnya. Dari semua ini saya berpendapat bahwa penafsir Pulpit Commentary ini menyimpulkan tanpa dasar yang kuat.

d)Pandangan yang merendahkan terhadap kitab Henokh, diikuti dengan pandangan bahwa Yudas mengutip dari tradisi.

Calvin’s editor: “There is no evidence of such a book being known for some time after this epistle was written; and the book so called was probably a forgery, occasioned by this reference to Enoch’s prophecy. ... Until of late, it was supposed to be lost; but in 1821, the late Archbishop Laurence, having found an Ethiopic version of it, published it with a translation” (= Tidak ada bukti tentang diketahuinya kitab seperti itu untuk beberapa waktu setelah surat ini ditulis; dan kitab itu mungkin merupakan suatu pemalsuan, disebabkan oleh hubungannya dengan nubuat Henokh ini. ... Sampai waktu belakangan, kitab itu dianggap / diduga hilang; tetapi pada tahun 1821, Uskup Laurence, setelah menemukan versi Ethiopia kitab ini, menerbitkannya dengan terjemahannya).

Catatan: kelihatannya ia berpendapat bahwa pada jaman Yudas kitab Henokh itu belum ada. Tetapi karena Yudas berbicara tentang nubuat Henokh, lalu muncul orang yang membuat sebuah kitab yang lalu di-namakan kitab Henokh, supaya kelihatannya Yudas mengutip dari kitab itu. Kitab itu disebut palsu karena sekalipun memakai nama Henokh tetapi penulisnya bukan Henokh. Si pemalsu mungkin mempunyai kesengajaan untuk menimbulkan kebimbangan dan keraguan dalam diri orang kristen terhadap surat Yudas / Kitab Suci.

Thomas Manton: “The Jews have some relics of this prophecy in their writings, and some talk of a volume, extant in the primitive time, consisting of 4802 lines, called the Prophecy of Enoch; but that was condemned for spurious and apocryphal. Tertullian saith there was a prophecy of Enoch kept by Noah in the ark, which book is now lost. Be it so; many good books may be lost, but no scripture. But most probably it was a prophecy that went from hand to hand, from father to son. Jude saith, ‘Enoch prophesied;’ he doth not say it is written, as quoting a passage of scripture” (= Orang-orang Yahudi mempunyai peninggalan tentang nubuat ini dalam tulisan-tulisan mereka, dan beberapa orang berbicara tentang sebuah buku, ada dalam jaman primitif, terdiri dari 4802 baris, disebut Nubuat Henokh; tetapi itu dikecam sebagai palsu dan bersifat apokripa. Tertullian berkata bahwa ada nubuat Henokh yang dijaga oleh Nuh di dalam bahtera, yang sekarang sudah hilang. Biarlah itu demikian; banyak buku yang baik / bagus hilang, tetapi tidak ada kitab suci yang hilang. Tetapi kemungkinan besar itu adalah nubuat yang pindah dari tangan ke tangan, dari bapa kepada anak. Yudas berkata: ‘Henokh bernubuat’; ia tidak berkata ‘ada tertulis’, seperti mengutip suatu bagian Kitab Suci).

S. Maxwell Coder: “The Book of Enoch is a patchwork of writings by various unknown persons at various unknown times. It contains fanciful and legendary material, some of it quite ridiculous. Those who love the Word of God and trust it implicitly need not fear that any attack upon Jude will succeed in showing that he took any part of his epistle from such a volume” (= Kitab Henokh merupakan suatu tulisan campur aduk oleh bermacam-macam orang yang tidak dikenal pada berbagai waktu yang tidak diketahui. Kitab itu mengandung bahan yang aneh / khayal dan bersifat dongeng, beberapa di antaranya cukup menggelikan. Mereka yang mencintai Firman Allah dan mempercayainya secara implicit tidak perlu takut bahwa serangan terhadap Yudas akan berhasil dalam menunjukkan bahwa ia mengambil sebagian dari suratnya dari kitab seperti itu).

2)Mengapa Yudas mengutip nubuat Henokh?

Dalam Kitab Suci ada banyak ayat tentang kedatangan Kristus untuk menghakimi, seperti Ul 33:5 Daniel 7:10 Zakh 14:5b. Mengapa Ia mesti mengutip dari nubuat Henokh dan bukannya dari ayat-ayat Kitab Suci?

a)Karena biasanya makin kuno suatu kutipan, makin ia dihormati. Karena itu Yudas memilih yang sekuno mungkin.

b)Karena Tuhan menghendaki nubuat Henokh itu, yang tadinya hanya ada dalam tradisi, masuk ke dalam Kitab Suci.

Thomas Manton: “if he receives it by tradition, it is here made authentic and put into the canon” (= jika ia menerimanya melalui tradisi, di sini itu dijadikan otentik / berotoritas dan dimasukkan ke dalam kanon).


Yakub Tri Handoko menulis :
Keenam, beberapa teks Perjanjian Baru memberi indikasi yang cukup jelas bahwa anak-anak Allah di Kejadian 6:1-8 memang para malaikat. Dalam hal ini ada tiga teks yang perlu kita perhatikan secara seksama. Yang paling penting adalah Yudas 1:6-7. Surat ini adalah salah satu yang secara eksplisit memakai kitab 1Henokh (lihat Yud 1:14-15 band. 1Henokh 1:9 dan 60:8). Setelah Yudas menjelaskan bentuk kesalahan malaikat (tidak taat pada batas-batas kekuasaan, meninggalkan tempat kediaman mereka, ayat 6), ia lalu menjelaskan bahwa penduduk Sodom dan Gomora melakukan dosa dengan cara yang sama (ayat 7). Ayat ini secara eksplisit menghubungkannya dengan dosa seksual. Lebih jelas lagi, ungkapan Yunani yang dalam beberapa versi modern diterjemahkan “perbuatan yang tak wajar” (NIV) atau “nafsu yang tidak alamiah” (RSV) adalah sarkos heteras. Walaupun ungkapan ini secara hurufiah berarti “daging yang lain”, tetapi beberapa versi secara tepat menerjemahkannya dengan “daging yang aneh” (ASV/KJV/NKJV/NASB). Jika kita melihat kisah penduduk Sodom dan Gomora di Kejadian 19 maka kita akan menemukan bahwa mereka memang menginginkan daging yang aneh atau yang lain, yaitu tubuh para malaikat (ayat 1-5, NIV ayat 5 “supaya kami dapat berhubungan seks”, LAI:TB “memakai mereka”). Jika mereka dengan cara yang sama dengan malaikat mengingini daging lain, maka jelas para malaikat pernah terlibat dalam dosa seksual yang melibatkan manusia.

Tanggapan Budi Asali:

1)Ttg kata2 ‘dengan cara yang sama’ dalam Yudas 7, saya merasa Yakub Tri sengaja menyembunyikan arti2 lain yang memungkinkan. Ia banyak belajar, dan karena itu pasti tahu adanya arti2 lain yang memungkinkan. Mengapa disembunyikan? Saya berikan di sini beberapa kemungkinan arti dr Yudas 6-7 - “(6) Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar, (7) sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang”.
a)Orang Sodom dan Gomora berbuat dosa dengan cara yang sama seperti malaikat-malaikat dalam ay 6. Hanya ini arti yang diberikan oleh Yakub Tri.
b)Orang Sodom dan Gomora berbuat dosa dengan cara yang sama seperti guru-guru palsu dalam ay 4.
c)‘Kota-kota sekitarnya’ itu (Adma dan Zeboim) melakukan dosa dengan cara yang sama seperti Sodom dan Gomora, dan dihukum dengan cara yang sama pula.
Saya berpendapat bahwa yang benar adalah arti ke 3 ini, dan dengan demikian, tak ada hubungan antara dosa org2 Sodom dan Gomora dengan dosa malaikat / setan.

2)Ttg kata2 ‘daging yang aneh’ lagi2 saya yakin Yakub Tri sengaja menyembunyikan arti2 lain yang memungkinkan. Mengapa ia menyembunyikan? Ini cara menjelaskan yang tidak jujur! Saya berikan arti2 lain di bawah ini.

Yudas 7: ‘mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar’.
NASB: went after strange flesh (= mengikuti daging / kedagingan yang aneh).

Bahasa Yunaninya: SARKOS HETERAS yang sebetulnya berarti ’other flesh’ (= daging yang lain), artinya: ‘other than what nature hath appointed’ (= lain dari yang telah ditetapkan oleh alam), dan ini menunjuk pada homosex, karena ‘yang ditetapkan oleh alam’ adalah heterosex. Karena itu NIV menterjemahkan ‘sexual perversion’ (= penyimpangan sexual).

Ini terlihat dari Kej 19:4-5 dimana orang laki-laki dari Sodom, dari yang muda sampai yang tua, seluruh kota tanpa terkecuali, mengepung rumah Lot, dan menghendaki hubungan sex dengan malaikat-malaikat, padahal mereka menyangka malaikat-malaikat itu adalah orang laki-laki.

Kej 19:4-5 - “(4) Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. (5) Mereka berseru kepada Lot: "Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka.’”.

Catatan: Kata ‘orang-orang’ dalam Kej 19:5 menggunakan kata Ibrani yang sama dengan kata ‘orang-orang lelaki’ dalam Kej 19:4, yaitu ENOSH. Yang jelas mrk tidak berkata ‘malaikat2’!

Tindakan orang-orang Sodom dan Gomora ini menyebabkan sampai sekarang ada istilah yang merupakan peringatan tentang tindakan mereka yang memalukan, yaitu Sodomy, yang menunjuk pada semua hubungan sex yang tidak normal, seperti homosex atau hubungan sex antara manusia dengan binatang.


Yakub Tri Handoko menulis :
Teks lain yang penting adalah 1Petrus 3:19-20. Menurut terjemahan LAI:TB, “roh-roh yang di dalam penjara” (ayat 19) adalah “roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah” (ayat 20). Dari terjemahan ini tersirat bahwa yang dikunjungi Yesus di penjara dunia roh adalah roh-roh orang yang mati pada jaman Nuh. Kesan ini akan langsung sirna jika kita mengetahui bahwa terjemahan “mereka” sebenarnya tidak ada dalam teks aslinya. Ayat 20 hanya menyebutkan “roh-roh” yang tidak taat pada jaman Nuh. Dari penyebutan ini (“roh-roh”) terlihat bahwa yang dikunjungi Yesus adalah makhluk roh yang tidak taat pada jaman Nuh.

Tanggapan Budi Asali:
Saya kira tak ada org Reformed yang percaya bahwa Yesus turun ke manapun pd saat Ia mati. Ternyata Yakub Tri percaya!! Dan hebatnya, ia memberi judul tulisannya ini ‘Dunia roh menurut perspektif Reformed’! Pandangan ‘Reformed’ liar dr mana ini? Lalu bagaimana ini bisa diharmoniskan dengan kata2 Yesus kpd penjahat bahwa hari itu juga Ia akan ada bersama penjahat itu di Firdaus / surga? Juga bagaimana bisa diharmoniskan dengan kata2 terakhirNya kpd Bapa dimana Ia menyerahkan rohNya ke tangan Bapa, yang pasti harus diartikan bahwa Ia pergi ke surga? Bdk. Luk 23:43,46.

Lalu Yakub Tri mengatakan bahwa ‘Dari penyebutan ini (“roh-roh”) terlihat bahwa yang dikunjungi Yesus adalah makhluk roh yang tidak taat pada jaman Nuh’! Ini kesimpulan dr mana? Apakah tak bisa diartikan lain? Tak bisakah roh2 itu diartikan sebagai roh manusia, dan bukan sebagai roh setan?

Tadi Yakub Tri mengatakan ‘anak-anak Allah’ itu adalah malaikat2. Saya sdh bertanya2, yang dimaksud malaikat yang jatuh / setan, atau malaikat yang tidak jatuh? Kalau malaikat yang tidak jatuh, bagaimana mungkin ia berhubungan sex / mengambil istri manusia? Kalau malaikat yang jatuh (dan Yakub Tri kelihatannya mengambil pandangan ini karena ia mengatakan ‘yang tidak taat pada jaman Nuh’), bagaimana mungkin disebut sebagai ‘anak Allah’?

Malaikat sudah jatuh ke dalam dosa sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, karena kalau tidak, siapa yang menggoda mrk? Tetapi anehnya, dalam Kej 6 itu Yakub Tri menganggap malaikat jatuh lagi. Jadi, mrk bisa jatuh terus menerus, satu per satu, dan akhirnya habis? Semua jadi setan?

Utk apa Yesus mengunjungi makhluk roh / setan yang jatuh pd jaman Nuh itu? Ingat, Yesus tak pernah menebus malaikat yang jatuh (Ibr 2:16). Apa mrk bersahabat?


Yakub Tri Handoko menulis :
Jika kita menyadari bahwa gaya bahasa di ayat 19-20 bersumber dari kitab 1Henokh, kita akan semakin yakin bahwa roh-roh di sini adalah para malaikat di Kejadian 6:1-8. Dalam surat 1Henokh para malaikat disebut dengan “roh-roh” (15:4, 6, 8). Para malaikat ini berada di dalam penjara (18:12-19:2; 21:1-10). Pemenjaraan ini juga dikaitkan dengan air bah pada jaman Nuh. Hal yang menarik adalah bahwa di pasal 12 dari kitab 1Henokh diceritakan bahwa Henokh diutus untuk memberitakan hukuman kepada para malaikat yang ada di penjara (di 1Petrus 3:19-20 yang memberitakan hukuman adalah Kristus).

Tanggapan Budi Asali:
Bagi Yakub Tri, ‘hal yang menarik’ ternyata adalah kitab apokripa!! Wah, wah, wah! Saya sendiri percaya pd SOLA SCRIPTURA! Dr penjelasan Yakub Tri sendiri terlihat ada pertentangan antara kitab Henokh itu (pemberita hukuman adalah Henokh) dengan 1Pet 3:19-20 (pemberita hukuman adalah Yesus). Lalu bagaimana mungkin ia mempercayai kitab Henokh itu, dan bahkan ‘semakin yakin’ karena adanya apa yang tertulis dalam kitab Henokh itu? Saya sendiri tak percaya Kristus turun kemanapun pd saat mati. Ia naik ke surga sesuai dengan Luk 23:43,46. Jadi adalah omong kosong kalau 1Pet 3:19-20 dianggap mengajarkan bahwa ia turun dunia roh utk memberitakan hukuman setan.


Yakub Tri Handoko menulis :
Teks terakhir yang perlu diselidiki adalah 2Petrus 2:4-6. Dalam bagian ini Petrus merujuk balik pada tiga peristiwa penghukuman yang semuanya terjadi pada masa Perjanjian Lama: para malaikat, orang-orang pada jaman Nuh dan penduduk Sodom dan Gomora. Tiga peristiwa ini tampaknya ditulis secara kronologis sesuai dengan alur cerita kitab Kejadian. Tiga peristiwa ini juga dikaitkan dengan pemuasan hawa nafsu (2Pet 2:2, 7, 10). Jika ini benar, maka para malaikat di 2Petrus 2:4 sangat mungkin menunjuk pada anak-anak Allah di Kejadian 6:1-8.

Tanggapan Budi Asali:

2Pet 2:4-6 - “(4) Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; (5) dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik; (7) dan jikalau Allah membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian”.

2Pet 2:2,7-10 - “(2) Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. … (7) tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, - (8) sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa - (9) maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman, (10) terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan”.

Ketiga peristiwa yang diceritakan dalam 2Pet 2:4-6 itu hanyalah contoh2, dan kalaupun itu memang sifatnya khronologis, itu tidak berarti apa-apa. Juga kalau dikatakan bahwa ketiganya berhubungan dengan pemuasan nafsu, perlu dipertanyakan: nafsu apa yang ada pada malaikat? Apakah mrk mempunyai nafsu sex? Nafsu makan?

Pandangan saya ttg bagian ini: Penafsiran yang diberikan Yakub Tri ttg ayat2 di atas ini hanya bersifat spekulasi. Ini terbukti dr kata2 Yakub Tri sendiri yang mengatakan ‘jika ini benar’, dan ‘sangat mungkin’. Dan menurut saya semua ini sama sekali tidak mempunyai kekuatan argumentasi.


Yakub Tri Handoko menulis :

Kesulitan dan jawaban
Pandangan yang dianut dalam makalah ini bukan tanpa kesulitan. Seandainya kita dapat menafsirkan Alkitab sesuai kehendak kita sendiri, maka kita pasti akan menghindari pandangan ini dan cenderung pada pandangan pertama (anak-anak Allah adalah keturunan Set). Bagaimanapun, kita harus membiarkan Alkitab menafsirkan dirinya sendiri, walaupun hasil dari penafsiran tersebut mengandung beberapa hal yang sulit kita jelaskan. Apa saja kesulitan atau keberatan yang sering diajukan oleh mereka yang menentang pandangan ini?

Mereka umumnya menyanggah berdasarkan ucapan Yesus di Matius 22:30 (para malaikat di surga tidak kawin maupun mengawinkan). Jika dibaca secara lebih teliti, teks ini sebenarnya tidak berkontradiksi dengan pandangan kita di atas. Ayat ini berlaku bagi para malaikat-malaikat di surga. Bagaimana dengan mereka yang “meninggalkan tempat kediaman mereka” (Yud 1:6)? Bukankah selama di dunia para malaikat dapat menampakkan diri dalam bentuk manusia? Bukankah dosa-dosa malaikat yang dicatat di Yudas 1:6-7 dihubungkan dengan dosa seksual?

Tanggapan Budi Asali:
1)Apa yang diberikan oleh Yakub Tri sama sekali bukan alkitab yang menafsirkan dirinya sendiri, tetapi Yakub Trilah yang memilih ayat2nya, mengarahkan dan bahkan membengkokkannya, menyensor penafsiran2 yang tak sesuai pandangannya, lalu menyimpulkan. Belum lagi penggunaan apokripa oleh Yakub Tri! Inikah ‘alkitab yang menafsirkan dirinya sendiri’?
2)Ttg Mat 22:30 - “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga”. Apakah kata2 ‘di sorga’ dihubungkan dengan org2 yang telah mengalami kebangkitan, atau kpd malaikat2? Lagi2 Yakub Tri membuang kemungkinan penafsiran yang rasanya bisa bertentangan dengan pandangannya. Inikah ‘alkitab yang menafsirkan dirinya sendiri’?
3)Yakub Tri membedakan ‘malaikat yang di surga’ (tak bisa berhubungan sex) dengan ‘malaikat yang meninggalkan tempat kediaman mrk’ (bisa berhubungan sex). Apa dasarnya? Yudas 6-7 sdh saya jelaskan di atas dan sama sekali tidak harus diartikan spt penafsiran Yakub Tri.
4)Malaikat, apakah ia di surga atau telah meninggalkan tempat kediamannya, sama saja dalam hal sex. Mrk bisa atau tidak bisa melakukan hubungan sex, tak tergantung tempat dimana mrk berada, tetapi tergantung keberadaan mrk. Mrk adalah makhluk roh yang tidak mempunyai tubuh, dan karena itu tidak mempunyai nafsu maupun kemampuan utk melakukan hubungan sex, apalagi dengan manusia. Kalau mrk mau dan memang bisa berhubungan sex, mengapa tidak dengan sesama malaikat, tetapi dengan manusia? Apakah mrk menderita semacam penyakit jiwa yang mirip dengan Zoophilia / bestiality (manusia yang melakukan hubungan sex dengan binatang)??
5)Bahwa mrk bisa menampakkan diri dalam bentuk manusia, itu memang benar. Tetapi itu sama sekali tak berarti bahwa mrk juga bisa berhubungan sex dengan manusia. Allah juga menampakkan diri dalam bentuk manusia. Apakah Allah juga bisa berhubungan sex dengan manusia? Kalau memang demikian, mengapa Yakub Tri tidak menganggap Maria mengandung karena Roh Kudus berhubungan sex dengan dia?


Yakub Tri Handoko menulis :
Sanggahan lain yang diajukan biasanya adalah masalah ketidakadilan dalam hukuman Allah. Jika “anak-anak Allah” adalah malaikat, maka yang melakukan dosa di Kejadian 6:1-8 adalah para malaikat dan manusia. Mengapa Allah hanya menghukum manusia saja? (Bruce K. Waltke, Genesis, 116). Terhadap sanggahan di atas, beberapa jawaban dapat diberikan. Pertama, jenis hukuman yang diberikan Allah di Kejadian 6-8 merupakan hukuman yang luar biasa. Hukuman yang luar biasa ini akan masuk akal jika dilatarbelakangi tindakan dosa yang luar biasa pula. Kedua, surat 1Petrus, 2Petrus dan Yudas menjelaskan tentang hukuman yang dialami oleh para malaikat yang jatuh. Ketiga, Musa tidak selalu mencatat hukuman apa yang diterima iblis pada saat mereka terlibat dalam suatu dosa. Dalam kasus keberdosaan Kain, tidak ada hukuman yang disebutkan untuk iblis, walaupun dia sangat jelas tersirat dalam kejatuhan Kain (4:7). Faktanya, Musa hanya mencatat hukuman untuk iblis secara eksplisit di Kejadian 3:15.

Tanggapan Budi Asali:
1)Seandainya manusia memang bisa berhubungan sex dengan malaikat, apa alasannya utk mengatakan bahwa itu adalah dosa yang luar biasa. Apa dasar Kitab Sucinya?
2)Ini salah! Kalau tafsiran Yakub Tri di atas memang benar, maka yang berbuat dosa adalah malaikat dan org2 perempuan!!! Lalu mengapa hukumannya (air bah jaman Nuh) menimpa semua manusia, termasuk org laki2??
3)Seandainya dalam 1Pet, 2Pet, dan Yudas memang membicarakan hukuman setan, tak ada dasar utk mengangap bahwa dosa mrk adalah melakukan hubungan sex dengan manusia.


Yakub Tri Handoko menulis :
Sanggahan terakhir yang dikemukakan berkaitan dengan hasil persetubuhan. Mereka menganggap bahwa persetubuhan yang dilakukan oleh para malaikat yang adalah makhluk roh tidak mungkin menghasilkan apapun. Di samping itu mereka juga mempertanyakan apakah kejatuhan seperti ini masih dapat terjadi.Sanggahan di atas merupakan yang paling sulit untuk dijawab. Kemungkinan besar kejatuhan para malaikat di Kejadian 6:1-8 merupakan kejatuhan yang terakhir yang diijinkan Allah, walaupun tidak ada teks yang mendukung hal ini secara eksplisit. Bagaimanapun, dugaan ini bukannya tidak mungkin. Penghukuman air bah harus dilihat sebagai sebuah akhir dan awal: akhir dari suatu tatanan dunia lama dan awal bagi yang baru. Hal ini tampak jelas dalam tulisan Petrus yang membagi dunia ini menjadi sebelum dan sesudah air bah (2Pet 3:5-7 “dunia yang dahulu dan dunia yang sekarang”). #

Tanggapan Budi Asali:
Ada 2 keberatan / sanggahan yang diberikan oleh Yakub Tri sendiri di sini. Mengapa hanya yang kedua yang ia jawab? Bagaimana dengan yang pertama? Yang pertama justru yang merupakan argumentasi yang kuat yang menentang penafsiran / pandangan Yakub Tri ini. Malaikat adalah makhluk roh, dan karena tidak mungkin bisa mempunyai nafsu / kemampuan utk berhubungan sex dengan manusia. Dan seandainya bisa, bagaimana mungkin bisa mempunyai keturunan / anak? Apakah malaikat itu juga bisa mengalami orgasme, mengeluarkan sperma, yang lalu membuahi sel telur perempuan, dengan siapa ia melakukan hubungan sex? Kalau Yakub Tri bilang bisa, apa dasar Kitab Sucinya?

Ttg keberatan yang kedua, dan jawabannya dr Yakub Tri, saya bertanya: dengan dasar apa Yakub Tri mengatakan bahwa ini adalah dosa / kejatuhan terakhir dr malaikat? Kalau ia mengatakan bahwa tak ada dukungan text yang explicit, maka saya tambahkan bahwa yang implicitpun juga tidak ada. 2Pet 3:5-7 sama sekali tidak mengarah pada penafsiran itu, bahkan secara implicitpun tidak. Saya berpendapat Yakub Tri melakukan eisegesis, dan itu memang satu-satunya kemungkinan sehingga ayat spt itu bisa menjadi dasar dr ajarannya.

1 komentar:

PELANGI KASIH MINISTRY mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.