<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366</id><updated>2011-08-12T05:17:26.732-07:00</updated><category term='Lain-lain'/><category term='Commentary'/><category term='Keunikan Yesus Kristus'/><category term='Khotbah'/><category term='Debat'/><category term='Esra Soru Menjawab'/><category term='Mengapa Allah Menciptakan Manusia?'/><category term='Doktrin Tritunggal'/><category term='Apologetika Terhadap Bidat Saksi Yehuwa'/><category term='Trinitarian VS Unitarian'/><category term='Perbandingan Ajaran'/><category term='Renungan-Ilustrasi'/><category term='Kontroversi Cara Baptisan Air'/><category term='SMS Center'/><category term='Foto Kemenangan Tim Trinitarian'/><category term='Kegiatan Rohani'/><category term='Seputar Paskah'/><category term='Artikel Natal'/><category term='Salam Natal Esra Alfred Soru'/><category term='Gereja Yang Sejati'/><category term='Dekodenisasi &quot;The Da Vinci Code&quot;'/><category term='Buku Harian Nayla'/><title type='text'>PELANGI KASIH MINISTRY</title><subtitle type='html'>"PELANGI KASIH MINISTRY" adalah sebuah lembaga pelayanan yang berpusat di Kupang-NTT yang didirikan dan dipimpin oleh Esra Alfred Soru. Melayani dalam bidang pelayanan pemuda, pelayanan anak, pelayanan multi media (televisi, radio, internet) dan sekolah teologia bagi kaum awam.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>171</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-5356495573655664807</id><published>2009-04-30T00:52:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T12:27:39.720-07:00</updated><title type='text'>Sementara Di non Aktifkan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Maaf untuk sementara account anda di non-aktifkan.&lt;br /&gt;Khususnya posting tentang pencekalan nama baik Pdt Pariadji.&lt;br /&gt;Sesama Hamba Tuhan tidak seharusnya anda seperti itu.&lt;br /&gt;Ibarat mata memandang dari kejauhan, tidak akan jelas melihat. Tapi jika anda berjalan untuk mendekat dan melihat, pasti akan melihat apa yang sebelum tidak terlihat.&lt;br /&gt;Untuk itu saya sarankan, lebih baik anda melihat isi dari Tiberias dan Pdt Pariadji.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Jika saya mau, khasus ini bisa saya bawa ke jalur Hukum, karena pencemaran nama baik.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;..!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Seluruh aktifitas anda di dunia Internet sudah saya SADAP.&lt;br /&gt;yakub.israel@gmail.com  ( Tim Server Asia )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-5356495573655664807?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/5356495573655664807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=5356495573655664807&amp;isPopup=true' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/5356495573655664807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/5356495573655664807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/04/sementara-di-non-aktifkan.html' title='Sementara Di non Aktifkan'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-3448105377211329009</id><published>2009-04-07T08:16:00.000-07:00</published><updated>2009-04-07T08:49:26.738-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><title type='text'>SURAT TERBUKA UNTUK AGNES MONICA</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tentang Pencekalan Lagu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Allah Peduli”&lt;/span&gt; di Malaysia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada, Ykks&lt;br /&gt;Sdr. Agnes Monica &lt;br /&gt;di mana saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Salam dalam kasih Kristus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sdr. Agnes, baru-baru ini saya membaca di koran lokal NTT (Timor Express) maupun koran-koran lainnya juga di internet sebuah berita tentang pencekalan lagumu (“Allah Peduli”) oleh pemerintah Malaysia. Saya yakin anda sendiri pasti tahu hal ini karena anda yang mengalaminya tapi tepatnya berita yang saya baca itu sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dicekal di Malaysia&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;LANTARAN menggunakan kata Allah dalam judul dan lirik, lagu Agnes Monica yang bertajuk Allah Peduli dicekal beredar oleh Pemerintahan Malaysia. Bahkan dengan tegas pemerintah Malaysia akan menghukum salah satu warganya bila ketahuan menyanyikan lagu yang dimaksudkan sebagai penggambaran Nabi Isa tersebut. Menurut Mohammad Adzib Mohd Isa, pengurus Majelis Agama Islam Selangor, Malaysia (Mais), larangan itu akan dikenakan kepada siapapun yang menyanyikan lagu tersebut di bagian Selangor, Malaysia. Mohammad mengatakan, penggunaan kata Allah hanya diperuntukkan bagi pemeluk agama Islam, sedangkan bagi yang non Muslim harus menggantinya dengan kata Tuhan. "Penyelidikan akan dilakukan oleh pegawai yang mempunyai wewenang dan jika terbukti mempunyai kesalahan akan dikenakan denda 1.000 ringgit (Rp 3,2juta) bagi yang ketahuan menyanyikannya," Mohammad Adzib'. Selain Agnes, Pemerintah Malaysia juga melarang majalah mingguan Katolik, The Herald yang juga menggunakan kata Allah. Hingga kini, kasus tersebut dalam proses meja hijau. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga membaca pemberitaan terkait persoalan tersebut dalam sebuah publikasi Malaysia sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MAIS Mahu Lagu Agnes Monica Diharamkan&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;SHAH ALAM, 13 Mac (Bernama) -- Majlis Agama Islam Selangor (MAIS) mahu agar tindakan diambil mengharamkan sebuah lagu Indonesia berjudul "Allah Peduli" kerana liriknya antara lain menyebut "..sebab Allah Yesusku mengerti." Pengerusi Mais Datuk Mohamad Adzib Mohd Isa berkata walaupun beliau belum pernah mendengar lagu itu, tindakan mengharamkannya wajar diambil memandangkan ia menyentuh sensitiviti yang membabitkan soal agama. "Kita umat Islam dalam perakuan kepercayaan kepada Allah yang maksudnya tiada tuhan yang disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu pesuruh Allah, jelas mengakui Allah itu Esa, maka larangan penggunaan Allah oleh agama selain Islam adalah untuk mengelak kekeliruan di kalangan orang Islam," katanya kepada pemberita di sini Jumaat. Beliau diminta mengulas mengenai lagu berkenaan nyanyian penyanyi Indonesia, Agnes Monica. Dalam lagu berkenaan, perkataan Allah diulang beberapa kali manakala perkataan 'sebab Allah Yesus ku mengerti' kedengaran pada bahagian akhir lagu selama tiga minit 40 saat itu. "Ada sesetengah dari kita yang tidak faham dengan kandungan lirik dan membuta tuli ikut menyanyi. Lirik ini secara senyap memesong keimanan dan akidah," kata Mohamad Adzib. Beliau berkata Mais akan mengambil tindakan mengharamkan lagu itu serta menarik semua edaran album yang mengandungi lagu berkenaan sebaik kajian dan penelitian dibuat. "Kita minta pihak yang berkenaan di peringkat kerajaan pusat turut memantau isu lirik lagu ini dan mengambil langkah sewajarnya demi memelihara kesucian agama Islam," katanya.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang ketika membaca berita ini saya merasa kesal dengan tindakan dari pemerintah Malaysia tersebut yang menurut saya adalah sebuah tindakan yang ngawur dan tanpa dasar sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sdr. Agnes, Supaya anda ketahui juga bahwa sebenarnya bukan anda saja yang mengalami persoalan semacam ini. Sebagaimana kalimat terakhir dari pemberitaan di koran Timex yang saya kutip di atas, majalah Katolik ‘The Herald’ juga mengalami hal yang sama. Mereka dilarang karena menggunakan nama “Allah”. Entah sekarang bagaimana, tapi dalam sidang kasus tersebut pada tanggal 5 Mei 2008 lalu majalah “The Herald” tersebut memenangkan gugatannya atas pemerintah Malaysia dan kembali berhak menggunakan kata “Allah” dalam terbitan-terbitan mereka. Berikut beritanya yang saya kutip dari koran Jawa Pos tanggal 6 Mei 2008 (hal. 6, kolom 1-2) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Menang Gugatan Kata ‘Allah’”.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kuala Lumpur - Surat kabar Katolik Roma di Malaysia The Herald memenangkan hak menggunakan kata ‘Allah’ dalam artikel mereka. Sidang yang diadakan kemarin (5/5) itu merupakan upaya mereka sebelum menggugat pemerintah yang melarang agama lain selain Islam menggunakan kata ‘Allah’. Menurut mereka, hal tersebut sah-sah saja. Sebab, ‘Allah’ merupakan sinonim dari ‘Tuhan’. Hakim Lau Bee Lan yang memimpin sidang memutuskan bahwa larangan pemerintah itu tidak pantas. Hakim pun mengizinkan media tersebut menggugat pemerintah atas larangan itu di pengadilan. Sidang tersebut merupakan buntut dari pernyataan pemerintah yang melarang media itu menggunakan kata ‘Allah’ dalam edisi bahasa Melayu mereka. Menurut pemerintah, kata tersebut hanya layak digunakan orang Islam. Pemerintah mengeluarkan larangan tersebut untuk mencegah timbulnya kebingungan pada umat Muslim. Bahkan, pemerintah mengancam akan mencabut izin terbit media yang membangkang. The Herald menyatakan bahwa kata itu bukan semata hak eksklusif bagi Muslim. Saat ini sirkulasi media tersebut mencapai 850 ribu. Surat kabar itu menampilkan artikel dalam empat bahasa, yakni Inggris, Mandarin, Tamil, dan Melayu”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sdr. Agnes, mungkin fakta ini membingungkan anda. Ada apa sebenarnya di balik kata “Allah” itu hingga album anda yang ada kata “Allah”nya harus dicekal? Apalagi anda memodifikasi akhir lagu “Allah Peduli” itu menjadi “S’bab Allah Yesusku mengerti”. Inilah yang mau saya jelaskan kepada anda. Supaya anda tahu, di kalangan agama Islam tertentu (bahkan ada juga di kalangan Kristen) ada pemahaman bahwa “Allah” itu adalah nama pribadi dari Tuhan/sesembahannya umat Islam. Sama seperti SBY adalah nama pribadi dari presiden Indonesia, Barak Obama adalah nama pribadi dari presiden Amerika Serikat, Lee Myung-Bak adalah nama pribadi dari presiden Korea Selatan maka “Allah” adalah nama pribadi dari Tuhannya orang Islam. Karena itu maka sebagaimana orang Amerika tidak boleh memanggil presidennya dengan nama SBY atau orang Indonesia memanggil presidennya dengan nama Lee Myung-Bak atau orang Korea Selatan memanggil presidennya dengan sebutan Barak Obama maka orang non Islam tidak boleh memanggil Tuhan/sesembahannya dengan sebutan “Allah”. Itu salah alamat! “Allah” itu khusus milik orang Islam karena itu adalah Tuhan mereka. Sebagaimana saya singgung di atas bahwa paham seperti ini juga ada di kalangan Kristen, kelompok Kristen ini membenarkan bahwa “Allah” adalah nama pribadi dari Tuhannya umat Islam sedangkan nama pribadi dari Tuhannya orang Kristen dan Yahudi adalah Yahweh. Mereka lantas mengharamkan penggunaan kata “Allah” bagi orang Kristen dan sebaliknya mengharuskan penggunaan “Yahweh”. Kembali ke masalah sebelumnya, karena alasan demikianlah maka pada saat seorang non Islam memanggil Tuhannya sebagai “Allah” maka itu dianggap sebagai kesalahan yang membingungkan maupun penghinaan. Dalam kasus lagu anda, itu lebih sensitif karena anda berani menyebut Yesus sebagai “Allah”. Itu pasti lebih membingungkan mereka lagi. Itulah masalahnya mengapa mereka mencekal atau melarang peredaran lagu anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sdr. Agnes, tanggapan saya dalam masalah ini adalah bahwa menurut saya anda dan juga majalah “The Herald” hanyalah korban dari pemahaman yang salah, keliru dan tanpa dasar dari pemerintah Malaysia ini. Mereka mengatakan bahwa “Allah” adalah nama pribadi dari Tuhan/sesembahan orang Islam. Benarkah demikian? Tidak! Mereka salah total. Saya ingin mengutipkan bagi anda sejumlah sumber yang memberikan penjelasan tentang kata Allah ini. Coba anda perhatikan keterangan dari Microsoft Encarta Reference Library 2003 berikut ini : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Allah, nama / sebutan bahasa Arab untuk Tuhan / makhluk tertinggi. Istilah ini merupakan singkatan dari kata Arab Al-llah, ‘the God’. Baik gagasan maupun kata itu sudah ada dalam tradisi Arab sebelum Islam, dalam mana beberapa bukti dari suatu monoteisme yang primitif juga bisa ditemukan. Sekalipun mereka mengakui allah-allah / dewa-dewa lain yang lebih kecil, orang-orang Arab sebelum Islam mengakui Allah sebagai Allah yang tertinggi”.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber yang sama (dengan topik ‘definition of Allah’) menjelaskan lebih jauh : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Sebutan bahasa Arab untuk God, Allah, menunjuk kepada God / Allah yang sama yang disembah oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang kristen. Ajaran pokok Islam adalah bahwa hanya ada satu Allah yang maha kuasa dan maha tahu, dan Allah ini yang menciptakan alam semesta. ... Kata bahasa Arab ‘Allah’ artinya ‘the God’, dan Allah ini dimengerti sebagai Allah yang menciptakan dunia / alam semesta dan menopangnya sampai pada akhirnya. ... Sebelum Islam, banyak orang Arab percaya kepada suatu Allah yang tertinggi dan maha kuasa yang bertanggung-jawab untuk penciptaan; tetapi mereka juga mempercayai allah-allah / dewa-dewa yang lebih kecil. Dengan datangnya Islam, konsep orang Arab tentang Allah dimurnikan dari elemen-elemen politeisme, dan dibelokkan pada konsep yang berbeda secara kualitas tentang kepercayaan tanpa kompromi kepada satu Allah, atau monoteisme”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dari sumber yang sama (dengan topik ‘Christian Arab’) dikatakan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Allah adalah kata bahasa Arab untuk ‘God’. Sekarang coba lihat lagi Encyclopedia Britannica 2007 (dengan topik ‘Allah’). Dikatakan bahwa :“(bahasa Arab: ‘God’), satu-satunya God / Allah dalam agama Islam. Dari sudut ilmu asal kata, sebutan ‘Allah’ mungkin merupakan suatu singkatan dari kata bahasa Arab ‘al-Ilah’, ‘the God’. Asal usul sebutan itu bisa ditelusuri jejaknya sampai pada tulisan-tulisan Semitik dalam mana kata untuk ‘god’ adalah Il atau El, yang terakhir ini merupakan kata Perjanjian Lama yang sama untuk Yahweh. Allah adalah kata standard bahasa Arab untuk ‘God’ dan digunakan oleh orang-orang kristen Arab maupun oleh orang-orang Islam”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber lain lagi yakni Ensiklopedia Wikipedia  menjelaskan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“In Islam, Allah is the name of the nameless God” (Dalam Islam, Allah adalah sebutan dari Allah yang tak bernama).&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas ini menunjukkan secara jelas bahwa dalam bahasa Inggris kata ‘name’ bisa berarti ‘nama’ ataupun ‘sebutan’. Dalam kutipan di atas ini, jelas bahwa kata ‘name’ yang pertama harus diartikan sebagai ‘sebutan’, sedangkan kata ‘name’ yang kedua (yang digabungkan dengan kata ‘less’, sehingga menjadi ‘nameless’), harus diartikan sebagai ‘nama’. Kata-kata ‘nameless God’ (Allah yang tidak bernama) jelas menunjukkan bahwa Encyclopedia ini menganggap bahwa ‘Allah’ bukanlah nama dari Tuhannya orang Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dari sumber yang sama dikatakan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Allah ... adalah kata standard bahasa Arab untuk ‘God’. Sementara istilah ini di Barat dikenal karena penggunaannya oleh orang-orang Islam berhubungan dengan God / Allah, kata ini digunakan oleh orang-orang yang berbicara dalam bahasa Arab dari semua iman Abrahamik, termasuk Kristen dan Yahudi, berhubungan dengan ‘God’. &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dikatakan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dalam Islam, Allah adalah sebutan ilahi yang tertinggi dan mencakup segala sesuatu. Semua sebutan ilahi yang lain dipercaya menunjuk kembali kepada Allah. Allah itu unik, satu-satunya God / Allah, pencipta alam semesta yang transenden (melampaui pengetahuan / terpisah dari materi), dan maha kuasa. Orang-orang kristen Arab sekarang tidak mempunyai kata lain untuk ‘God’ selain ‘Allah’, menggunakan istilah-istilah seperti Allah al-ab untuk memaksudkan ‘God the Father / Allah Bapa’. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dari sumber yang sama lagi dikatakan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Orang-orang yang berbicara dalam bahasa Arab DARI SEMUA IMAN Abrahamik, termasuk orang Kristen dan orang Yahudi, menggunakan kata ‘Allah’ untuk memaksudkan ‘God’. Orang-orang kristen Arab jaman sekarang tidak mempunyai kata lain untuk ‘God’ selain ‘Allah’. Sebagai contoh, orang-orang kristen Arab menggunakan istilah-istilah Allah al-ab yang berarti ‘God the Father / Allah Bapa’, Allah al-ibn berarti ‘God the Son / Allah Anak’, dan Allah al-ruh al qudus yang berarti ‘God the Holy Spirit / Allah Roh Kudus". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Catatan: dalam bahasa Indonesia juga tidak ada kata lain selain ‘Allah’ untuk menerjemahkan kata ‘God’. Seringkali kata ‘God’ diterjemahkan ‘Tuhan’, tetapi saya berpendapat itu salah, karena kata ‘Tuhan’ merupakan terjemahan dari kata ‘Lord’, bukan dari kata ‘God’). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya The International Standard Bible Encyclopedia (dengan topik ‘God, names of’) menjelaskan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“EL: dalam kelompok bahasa-bahasa Semitik, kata yang paling umum untuk Allah adalah EL, diwakili oleh kata Babilonia ILU dan kata Arab ‘Allah’. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya A. Heuken SJ menulis : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kata ‘Allah’ merupakan perpaduan dua kata Arab: ‘al’ dan ‘ilah’, artinya ‘the God’ atau Yang (Maha)kuasa. Kata Semit ‘ilah’ sama arti dan akarnya dengan kata Ibrani ‘el’, yang berarti ‘yang kuat’, ‘yang berkuasa’ dan menjadi sebutan untuk ‘Tuhan’” (&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;‘Ensiklopedi Gereja’, vol I, hal 88&lt;/span&gt;). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga Sir Hamilton A. R. Gibb mengatakan : &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Kata Arab ‘Allah’ adalah bentuk singkat dari al-ilah” (&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Islam Dalam Lintasan Sedjarah’&lt;/span&gt;, hal 50). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua data ini jelas bahwa ‘Allah’ bukanlah nama pribadi sesembahan umat Islam karena kata itu adalah kata yang umum yang menunjuk pada pencipta alam semesta ini. Karenanya, mencekal lagu anda yang ada kata “Allah”nya,  melarang sebuah majalah menggunakan kata “Allah”, dan melarang agama lain memakai kata ‘Allah’ adalah sebuah kekeliruan yang besar sekali. Apalagi kalau memberikan denda kepada orang yang kedapatan menyanyikan lagu anda di Malaysia. Ini benar-benar sebuah kegilaan. Pemerintah Malaysia dan semua orang yang berpemahaman sama dengan mereka harusnya sadar akan hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sdr. Agnes, satu hal lagi yang perlu anda ketahui yang mungkin sudah nampak dalam kutipan-kutipan di atas, bahwa sebenarnya sebelum agama Islam ada, kata ‘Allah’ sudah digunakan oleh orang-orang Kristen Arab. Inilah yang menjadi pertimbangan Hakim Lau Bee Lan yang memimpin sidang gugatan The Herald terhadap pemerintah Malaysia dan akhirnya memutuskan bahwa larangan pemerintah itu tidak pantas. Ia lalu secara benar / adil / tepat memenangkan gugatan surat kabar Katolik itu. Bahwa kata ‘Allah’ sudah dipakai oleh orang Kristen jauh sebelum Islam ada dibenarkan oleh sejumlah pakar. Bambang Noorsena misalnya. Ia mengatakan dalam sejumlah tulisannya yang beredar di internet : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Istilah Allah dipakai sebagai sebutan bagi Khaliq langit dan bumi oleh orang-orang Kristen Arab di wilayah Syria. Hal ini dibuktikan dari sejumlah inskripsi Arab pra-Islam yang semuanya ternyata berasal dari lingkungan Kristen”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Catatan: kata ‘inskripsi’, dalam bahasa Inggris ‘inscription’, artinya adalah ‘prasasti’). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Heuken SJ juga menulis : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Alkitab, Terjemahan Arab. Sebelum kebangkitan Islam, agama Kristen berdiri kokoh di beberapa tempat di Jazirah Arab, khususnya di bagian baratnya dan di Yaman. Sejak abad ke 2 bagian-bagian dari Kitab Suci sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk digunakan sebagai bacaan dalam ibadat” (&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ensiklopedi Gereja’&lt;/span&gt;, vol I, hal 87).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heuken melanjutkan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mengingat sejarah terjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Arab, peraturan beberapa negara bagian - Malaysia, yang melarang orang Kristen menggunakan kata-kata Arab seperti nabi, Allah ... adalah tidak adil. Sebab kata-kata itu sudah digunakan sebelum zaman nabi Muhammad oleh orang Kristen bangsa Arab” (hal 88). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heuken melanjutkan lagi : &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Sebelum masa Muhammad, kata ‘Allah’ sudah dipakai dalam bahasa Arab untuk Pencipta alam semesta yang terlalu jauh atau tinggi untuk disembah atau dimintai perhatian. Orang Kristen keturunan Arab pada waktu itu pun sudah memakai sebutan ‘Allah’ untuk Tuhan” (hal 88-89). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpendapat bahwa fakta sejarah ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan. Karena kata ‘Allah’ sudah lebih dulu digunakan oleh orang-orang Kristen Arab sebelum Islam ada, maka menurut saya adalah tidak masuk akal untuk membentuk suatu ajaran tentang boleh tidaknya menggunakan kata ‘Allah’ berdasarkan ajaran dari Islam. Kalau mau katakan secara singkat dari sudut pandang sejarah maka orang Kristenlah yang harus melarang orang Islam menggunakan kata “Allah” karena kata tersebut sudah dipakai orang Kristen jauh sebelum agama Islam hadir di dunia ini, jauh sebelum Muhammad lahir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perlu diketahui bahwa sebelum Islam ada, ada banyak orang Arab yang beragama Yahudi. The International Standard Bible Encyclopedia (dengan topik ‘Arabia’) mengatakan : &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Yudaisme: Sebelum zaman Muhammad, Yudaisme tersebar secara sangat luas di Arab, khususnya di Hijaz. Tak diragukan bahwa hal itu dimulai dengan perpindahan keluarga-keluarga disebabkan kondisi politik yang terganggu di Palestina / Kanaan. Penaklukan Palestina oleh Nebukadnezar, oleh orang-orang Babilonia, oleh orang-orang Romawi di bawah Pompey, Vespasian dan akhirnya Hadrian, memaksa banyak orang Yahudi untuk mencari tempat yang damai dan aman di padang pasir, dari mana nenek moyang mereka datang. Ke sana juga Paulus menarik diri setelah pertobatannya (Gal 1:17). Dua dari suku-suku pendatang, suku Nadir dan Koreiza, menetap di Medina, mula-mula dalam kebebasan / kemerdekaan, tetapi lalu menjadi orang-orang yang tergantung pada orang-orang Aus dan Kheibar. Pada akhirnya mereka disiksa / dirampok dan dihancurkan oleh Muhammad. Koloni Yahudi di Kheibar mengalami nasib yang sama. Beberapa suku Arab bebas juga mengakui iman Yahudi, khususnya cabang-cabang tertentu dari Himyar dan Kindaq, keduanya keturunan dari Kahtan, yang lebih awal di Arab selatan, dan yang lebih akhir di Arab tengah. Yudaisme diperkenalkan di Yaman oleh satu dari orang-orang Tubba, mungkin pada abad ke 3 SM, tetapi baru pada abad 6 agama / gerakan itu mengalami banyak kemajuan”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data ini perlu ditanyakan, dengan kata apa orang-orang Arab yang beragama Yahudi ini menyebut kata ‘God’? Tidak bisa tidak, mereka pasti menggunakan kata ‘Allah’! Jadi kalau memang kata ‘Allah’ sudah digunakan sebelumnya oleh orang Yahudi di Arab dan juga orang Kristen Arab, sebelum Islam ada, lalu atas dasar apa orang Kristen dan juga agama lain dilarang menggunakan kata ‘Allah’? Atas dasar apa pemerintah Malaysia melarang majalah Katolik “The Herald” menggunakan kata itu? Atas dasar apa lagu anda “Allah Peduli” dilarang/dicekal? Sungguh sesuatu yang menyedihkan dan memalukan. Karena itu saya menganggap bahwa anda hanyalah korban dari kebodohan dan ketidakmengertian pemerintah Malaysia atau kelompok Islam tertentu di Malaysia yang memiliki fanatisme yang buta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sdr. Agnes yang saya kasihi, mungkin anda bertanya mengapa saya mau repot-repot menjelaskan ini pada anda? Anda tidak kenal saya, saya juga tidak kenal anda. Biar saya jelaskan. Pertama, sebagaimana yang sudah saya sebutkan di atas adalah karena anda adalah korban. Saya berpendapat bahwa anda perlu tahu dengan jelas mengapa anda jadi korban. Menyedihkan kalau kita menjadi korban tanpa mengetahui dengan jelas mengapa kita menjadi korban. Kedua, supaya anda dapat memberikan komentar dan jawaban yang falid apabila ada pihak-pihak tertentu yang meminta komentar anda tentang masalah ini. Ketiga, sekaligus menjadi bahan pengetahuan dan argumentasi dari pihak orang Kristen mengingat bahwa masalah pencekalan lagu anda itu tersebar sampai ke mana-mana dan tidak mustahil terjadi juga pada pihak yang lain. Dalam acara tanya jawab di radio yang saya pimpin, ada juga pendengar yang meminta tanggapan saya atas masalah yang anda hadapi. Karena itu saya merasa bahwa masalah ini sudah diketahui secara umum dan argumentasi terhadap hal ini pun harus diketahui umum. Itulah alasan saya mengapa saya menulis surat ini untuk anda tetapi juga mempublikasikannya secara umum lewat koran Timex ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; By the way, saya harap anda dapat mengambil nilai positif dari semua yang telah terjadi. Satu hal yang perlu anda ketahui adalah bahwa sekalipun pihak pemerintah Malaysia melarang publikasi lagu anda itu, tapi lagu anda itu telah menjadi berkat bagi banyak orang, menguatkan yang lemah, menghibur yang susah, membangunkan yang terjatuh, memberi rasa tenang kepada yang merasa terasing. Karena itu jangan pernah putus asa dan berkarya bagi Tuhan. Saya sering memberitakan Injil pada orang lain dan banyak kali mengalami penolakan. Saya tidak peduli dengan itu. Rasul Paulus berkata : “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa”. (2 Kor 4:3). Maju terus! Ciptakan, nyanyikan dan terbitkan lebih banyak lagu lagi yang membuktikan dan mengumumkan pada segala makhluk bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang tiada bandingnya, tiada taranya, Allah yang menjelma menjadi manusia, jalan keselamatan satu-satunya (Yoh 14:6; Kis 4:12) sambil berpegang pada Firman Tuhan : “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (1 Kor 15:58). Selamat berjuang! Doaku selalu untukmu! Kalau ada kesempatan, berkunjunglah ke Kupang. Aku menunggumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Esra Alfred Soru&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-3448105377211329009?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/3448105377211329009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=3448105377211329009&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/3448105377211329009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/3448105377211329009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/04/surat-terbuka-untuk-agnes-monica.html' title='SURAT TERBUKA UNTUK AGNES MONICA'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-4232579528622788439</id><published>2009-03-31T07:44:00.000-07:00</published><updated>2009-04-03T08:52:07.806-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><title type='text'>TANGGAPAN PDT. BUDI ASALI, M.DIV ATAS TULISAN YAKUB TRI HANDOKO TENTANG "ANAK-ANAK ALLAH"</title><content type='html'>Dalam webseite GKRI Exodus (www.gkri-exodus.org), Pdt. Yakub Tri Handoko, MTh menulis sebuah artikel dengan tema &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"DUNIA ROH MENURUT PERSPEKTIF REFORMED"&lt;/span&gt;. Pada bagian ke 4, beliau menulis tentang "Anak-anak Allah dalam Kej 6:1-8" dan kelihatannya beliau berkesimpulan bahwa anak-anak Allah dalam Kej 6:1-8 itu adalah malaikat-malaikat yang jatuh. Silahkan lihat tulisannya di sini : &lt;a href="http://www.gkri-exodus.org/page.php?BIB-Dunia_Roh-04"&gt;www.gkri-exodus.org/page.php?BIB-Dunia_Roh-04&lt;/a&gt;.Nah, tulisan tersebut akhirnya ditanggapi oleh Pdt. Budi Asali, M. Div. Berikut ini tulisan Pdt. Yakub Tri Handoko, MTh dan tanggapan Pdt. Budi Asali, M.Div di sela-selanya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dunia Roh Menurut Perspektif Reformed&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagian-4 : Anak-anak Allah di Kejadian 6:1-8&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pendalaman Alkitab GKRI Exodus, Surabaya 13 November 2007&lt;br /&gt;Yakub Tri Handoko, Th. M.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu teks Perjanjian Lama yang paling sering menimbulkan perdebatan adalah Kejadian 6:2. Lebih khusus lagi, fokus perdebatan terletak pada identitas “anak-anak Allah” (bene ‘elohim) dalam ayat ini. Ada tiga pandangan utama berkaitan dengan identitas “anak-anak Allah”: keturunan Set, kaum bangsawan dan malaikat. Setiap pandangan memiliki argumen dan kelemahan sendiri-sendiri sehingga pilihan yang pasti diantara tiga alternatif ini sulit untuk dicapai. Sebagian penafsir bahkan memilih menghindari perdebatan ini dan lebih memfokuskan pembahasan pada inti dari Kejadian 6:1-8 secara keseluruhan. Dalam makalah ini masing-masing pandangan di atas akan diselidiki secara mendetil untuk menemukan alternatif mana yang paling memungkinkan. Pembahasan pertama akan diarahkan pada kecenderungan sebagian sarjana yang menghindari persoalan ini. Setelah itu, kita akan membahas argumen dan kelemahan masing-masing alternatif yang ada.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Identitas “anak-anak Allah” tidak terlalu penting dalam Kejadian 6:1-8&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah disinggung di atas, sebagian sarjana mencoba menghindari perdebatan tersebut dengan berpendapat bahwa identifikasi seperti itu tidak terlalu relevan dengan isi perikop secara keseluruhan. Mereka yang termasuk ke dalam kategori ini tidak mau memilih salah satu alternatif. Sebaliknya, mereka memilih untuk memfokuskan pada inti perikop, yaitu keberdosaan manusia yang sedemikian parah dalam bentuk pelecehan dan kekerasan (Richard Pratt, Dirancang Bagi Kemuliaan, 77). Yang lain melihat perikop ini sebagai sesuatu yang sangat wajar dan tidak berkaitan dengan identifikasi di atas (John Sailhamer, Genesis, EBC Vol. II; The Pentateuch As Narrative, 120-121). Menurut Sailhamer, Kejadian 6:1-8 merupakan penutup bagi bagian sebelumnya (silsilah Adam di pasal 5) dan bukan sebagai pendahuluan atau penyebab dari kisah penghukuman air bah. Jika ini diterima, maka Kejadian 6:1-8 hanya merupakan penjelasan bagaimana keturunan Adam telah bertambah banyak di bumi, yaitu melalui perkawinan. Dia menganggap bahwa peletakan perikop ini (tentang perkawinan) sebelum penghukuman merupakan strategi penulisan semata-mata, sama seperti perkawinan Adam dan Hawa di Kejadian 2:21-25 diletakkan sebelum penghukuman mereka di Kejadian 3. Singkatnya, identifikasi “anak-anak Allah” merupakan upaya yang tidak relevan dan didasarkan pada asumsi yang keliru bahwa Kejadian 6:1-8 merupakan pendahuluan (penyebab) penghukuman ilahi melalui air bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apakah Yakub Tri setuju dengan pandangan Sailhamer ini atau hanya sekedar menuliskannya? Saya justru setuju dengan pandangan yang diserang oleh Sailhamer ini, dan pandangan ini sesuai dengan kontext. Kalau tidak, mengapa bagian ini diceritakan persis sebelum air bah? Kalau dikatakan ‘tidak relevan’, saya tanya: bagaimana tidak relevannya? Apanya yang tidak relevan? Lalu dikatakan itu hanya ‘strategi penulisan’. Strategi apa? Kalau itu strategi pasti punya tujuan. Lalu apa tujuan dari strategi itu? Kalau itu ‘hanya merupakan penjelasan bagaimana keturunan Adam telah bertambah banyak, yaitu melalui perkawinan’, lalu mengapa kok dijelaskan pernikahan anak-anak Allah dan anak-anak perempuan manusia? Mengapa tidak dikatakan ‘pernikahan’ begitu saja? Yang menunjukkan pertambahan jumlah keturunan Adam dan Hawa adalah Kej 5. Tetapi Kej 6 mulai menekankan dosa / kejahatan mereka yang menyebabkan Tuhan menghukum dengan air bah. Seluruh kontext menunjukkan pernikahan itu sebagai suatu dosa, dan itu menyebabkan hukuman Tuhan yang dibicarakan dalam ay 3,5-7. Ini sama sekali tidak bisa disamakan dengan pernikahan Adam dan Hawa dalam Kej 2, yang diceritakan persis sebelum penghukuman mereka dalam Kej 3. Mengapa? Karena dalam kasus Adam dan Hawa, jelas-jelas di antara kedua cerita / peristiwa itu ada penceritaan kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memaparkan kelemahan dari pandangan ini, kita pertama-tama harus mengakui bahwa apa yang diusulkan di atas tidak sepenuhnya salah. Identitas “anak-anak Allah” memang bukan inti dari Kejadian 6:1-8. Inti perikop ini terletak pada kondisi manusia yang sedemikian jahat sehingga Allah perlu menghukum mereka, entah hukuman tersebut dipahami dalam kaitan dengan pasal 6:3 saja atau pasal 6-7 secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya justru berpendapat bahwa identitas ‘anak-anak Allah’ dalam Kej 6:2 ditekankan sebagai penyebab dari rusaknya manusia, dan rusaknya manusia menyebabkan penghukuman dari Allah. Juga saya berpendapat bahwa kita tidak bisa memisahkan Kej 6:3 dengan Kej 6:4-7:24, karena 120 tahun yang dibicarakan dalam Kej 6:3 merupakan jangka waktu untuk bertobat bagi orang2 jahat itu, sebelum dunia dihancurkan oleh air bah itu. Jadi, hubungannya justru sangat dekat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Kejadian 6:1-8 dengan pasal 5 juga tidak terbantahkan (lihat Gordon Wenham, Genesis 1-15, WBC Vol. I). Ungkapan “ketika manusia mulai bertambah banyak jumlahnya di bumi” (Kej 6:1) jelas merujuk pada silsilah di pasal 5. Penyebutan “anak-anak perempuan” sudah ada di pasal 5. Kalau di pasal 5 “anak-anak perempuan” hanya disebut secara sambil lalu saja, di pasal 6:1-8 mereka menjadi fokus perhatian. Beberapa kosa kata muncul baik di pasal 5 maupun 6:1-8, misalnya “Tuhan”, “manusia”, “anak-anak laki-laki”, “anak-anak perempuan”, “membuat”, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan ‘hubungan yang tidak terbantahkan’ antara Kej 6 dan Kej 5??? Ada hubungannya, tak perlu diragukan, tetapi ada perkembangan cerita juga. Karena Kej 5 hanya membicarakan perkembang-biakan, sedangkan Kej 6 menekankan dosa / kejahatan dari manusia yang telah bertambah banyak itu. Kosa kata yang sama antara Kej 5 dan Kej 6 merupakan sesuatu yang biasa, yang tidak bisa dijadikan dasar argumentasi. Tetapi mengapa Yakub Tri tidak membahas kosa kata / thema yang berbeda antara kedua text ini? Misalnya: dalam Kej 6 ada pernikahan anak-anak Allah dengan anak-anak perempuan manusia, dan ini tak ada dalam Kej 5. Juga dalam Kej 6:2 ada kata-kata ‘cantik-cantik’, ‘siapa saja yang disukai mereka’, yang jelas menunjukkan tindakan ‘semau gue’! Juga adanya kata ‘kejahatan manusia’ (Kej 6:5), ‘menyesallah Tuhan’ (Kej 6:6,7), ‘memilukan hatiNya’ (Kej 6:6), ‘Aku akan menghapuskan manusia’ (Kej 6:7). Juga penceritaan tentang Nuh dalam Kej 6:8 diawali dengan kata ‘tetapi’ yang jelas menunjukkan suatu kontras dengan orang2 jahat dalam ayat2 sebelumnya. Sekali lagi, mengapa semua perbedaan ini diabaikan oleh Yakub Tri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Walaupun dua cara menghindari problem identifikasi “anak-anak Allah” di atas dapat dibenarkan, tetapi persoalan tetap tidak terselesaikan. Para pembaca tetap mempertanyakan siapa yang dimaksud anak-anak Allah dalam perikop itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Betul-betul lucu! Yakub Tri berkata bahwa dua cara itu ‘dapat dibenarkan’, tetapi lalu ia melanjutkan dengan membantah kata2nya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan pandangan Sailhamer, kita perlu menandaskan bahwa Kejadian 6:1-8 jelas berhubungan dengan hukuman air bah (ayat 7a “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan dari muka bumi”). Mengapa Allah ingin memusnahkan manusia? Karena Dia melihat bahwa dosa manusia di bumi sudah sedemikian besar sehingga Dia menyesal telah menciptakan manusia (ayat 5-6). Kejahatan apa yang dilihat Allah di bumi? Jawabannya jelas terletak di ayat 1-4. Jadi, Kejadian 6:1-8 lebih cocok sebagai pendahuluan bagi bagian sesudahnya daripada kesimpulan dari bagian sebelumnya, walaupun pasal 6:1-8 memiliki kaitan dengan pasal 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anak-anak Allah adalah keturunan Set&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu usulan identifikasi “anak-anak Allah” adalah yang menganggap bahwa “anak-anak Allah” merujuk pada keturunan Set (orang benar), sedangkan “anak-anak perempuan manusia” adalah keturunan Kain (orang fasik). Pandangan ini dipegang oleh beberapa rabi Yahudi abad ke-2, beberapa bapa gereja ternama (Agustinus dan John Chrysostom) dan para reformator serta dipercaya oleh hampir semua orang Kristen awam. Di antara semua penganut pandangan ini, Agustinus mungkin adalah yang paling penting dan berpengaruh. Argumen yang dia berikan dijelaskan dalam bukunya The City of God. &lt;br /&gt;Jika ini benar, maka inti dosa dalam perikop ini bukanlah sekedar pelampisan hawa nafsu. Fokus yang dibahas adalah kawin campur dengan orang yang fasik. Akibat dari kawin campur ini adalah hilangnya kesaksian untuk Tuhan dan standar moral (Gleason L. Archer, Encyclopedia of Bible Difficulties, 70.Beragam argumen telah dimunculkan untuk mendukung dugaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pertentangan antara keturunan Kain dan Set memang sudah diajarkan di pasal 4 dan 5. Kedua keturunan ini mewakili dua macam keturunan yang saling berperang sejak Kejadian 3:15 (keturunan ular melawan keturunan perempuan). Perkawinan campur antara keturunan yang benar (“anak-anak Allah”) dengan yang tidak benar jelas merupakan dosa yang sangat serius di mata Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apakah perang antara keturunan (benih) ular / setan dan keturunan (benih) dr perempuan / Hawa, menunjuk pada perang antara org benar dan org jahat, atau antara org benar dengan setan, atau menunjuk pada perang antara setan dan Yesus?&lt;br /&gt;Kej 3:15 - “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.’”. Catatan: yang saya persoalkan adalah bagian pertama dr Kej 3:15. Yang bagian akhir tidak bisa tidak menunjuk kepada Yesus vs setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedua, larangan kawin campur antara orang percaya dan orang yang tidak percaya diajarkan secara konsisten dan jelas dalam Alkitab. Allah memberikan larangan ini kepada bangsa Israel sebelum mereka menduduki tanah Kanaan (Ul 7:1-6). Larangan ini dipertegas lagi oleh Yosua pada akhir hidupnya (Yos 23:12). Alkitab juga menyaksikan bahwa perkawinan campur memang mengakibatkan dekadensi moral, misalnya Salomo (1 Raj 11:1-4). Pada saat bangsa Yehuda kembali dari pembuangan di Babel, mereka sangat menentang perkawinan campur (Ezra 9:14). Dalam Perjanjian Baru pun Paulus memberi nasehat yang sama (2 Kor 6:14-18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, sebutan “anak-anak Allah” dalam Alkitab dapat merujuk pada umat perjanjian. Tuhan berkata bahwa “Israel adalah anak-Ku” (Kel 4:22). Ulangan 14:1 “kamulah anak-anak TUHAN, Allahmu”. Mereka yang memberontak terhadap Tuhan disebut sebagai “yang bukan anak-anak-Nya” (Ul 32:5). Di hadapan Tuhan Asaf menyebut para leluhurnya sebagai “angkatan anak-anak-Mu” (Mzm 73:15). Pada saat Tuhan memulihkan Israel, Dia akan menyebut mereka “anak-anak Allah yang hidup” (Hos 1:10). Penyebutan ini tetap dipertahankan oleh para penulis Perjanjian Baru. Orang-orang yang percaya adalah anak-anak Allah (Mat 5:9; Luk 6:35; 20:36; Yoh 1:12; 11:52; Rom 8:16, 19, 21). Paulus bahkan secara khusus menyebut keturunan perjanjian sebagai anak-anak Allah (Rom 9:8). Adam pun disebut sebagai anak Allah (Luk 3:38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, penafsiran ini lebih meminimalisasi masalah yang dapat muncul. Alkitab mengajarkan bahwa malaikat adalah roh (Ibr 1:14). Walaupun malaikat dapat menampakkan diri dalam bentuk manusia, namun mereka tidak memiliki tubuh fisik sehingga tidak mungkin mengadakan hubungan seksual dengan manusia. Penafsiran “anak-anak Allah” sebagai malaikat merupakan akibat dari pengaruh mitos-mitos kafir.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak Allah adalah keturunan bangsawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasi kedua adalah yang menganggap “anak-anak Allah” sebagai keturunan bangsawan/raja, sedangkan “anak-anak perempuan” adalah keturunan rakyat biasa. Pandangan ini mulai dipopulerkan oleh para penafsir Yahudi pada pertengahan abad ke-2 M dan dianut oleh beberapa penafsir Kristen. Beberapa targum Yahudi mulai abad ke-2 M tampak mendukung pandangan ini. Dalam Targum Neofiti istilah “anak-anak Allah” diterjemahkan dengan istilah Aram yang artinya “anak-anak para penguasa”. Targum Onkelos memilih terjemahan “anak-anak para pembesar”, sedangkan Symmachus memakai “anak-anak yang berkuasa” atau “anak-anak para penguasa”. &lt;br /&gt;Jika tafsiran ini yang benar, maka inti dosa di Kejadian 6:1-8 adalah poligami. Para pembesar mengambil banyak istri dari kalangan rakyat biasa “siapa saja yang disukai mereka” (6:2). Dosa ini sama seperti yang dilakukan oleh Lamekh (4:19-24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak melihat sedikitpun adanya petunjuk bahwa ini merupakan polygamy. Kata2 ‘siapa saja yang disukai mereka’ tetap bisa menunjuk pada satu istri. Tetapi pada waktu laki2 itu mengambil istri itu, ia hanya mempersoalkan kesukaan dirinya sendiri, bukan kesukaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Argumen yang diajukan sebagai dukungan bagi pandangan ini biasanya hanya berkaitan dengan studi kata “anak-anak Allah”. Dalam Alkitab para pembesar juga kadangkala disebut sebagai “anak Allah”. Dalam Mazmur 82:6 Allah menyebut para hakim sebagai “anak-anak Yang Mahatinggi”. Para raja dari keturunan Daud disebut sebagai anak Allah (2Sam 7:14; Mzm 2:7).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedua ayat yang digunakan di sini tidak masuk akal. 2Sam 7:14 menunjuk kepada Salomo, yang memang adalah org percaya. Ia disebut sebagai ‘anak Allah’ karena ia adalah org percaya, bukan karena ia adalah raja dari keturunan Daud.&lt;br /&gt;Sedangkan Maz 2:7 jelas menunjuk kepada Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bukti di luar Alkitab juga mengarah pada arti yang sama. Dalam sebuah tulisan, raja Sumer-Akkadia disebut sebagai ‘Sang Raja, anak dari dewa[nya]”. Raja Hittit disebut sebagai ‘anak dewa cuaca’. Dalam sebuah teks Ugarit, raja Keret disebut sebagai ‘Keret ben El’ yang artinya “raja Keret, anak allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini terlalu konyol utk ditanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anak-anak Allah adalah para malaikat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pandangan ini banyak dipegang oleh para penafsir modern. Salah satu teolog Reformed yang menganut pandangan ini adalah James M. Boice. Berikut ini adalah beberapa argumen penting yang biasa dikemukakan untuk mendukung pandangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dalam Alkitab sebutan “anak-anak Allah” dipakai sebagai rujukan untuk para malaikat (Ay 1:6; 2:1; 38:7). Penerjemah New International Version (NIV) bahkan secara eksplisit menerjemahkan sebutan itu di Ayub 1:6 dan 2:1 dengan “malaikat-malaikat”. Sebutan yang mirip dengan itu – yaitu bar ‘elohim – juga muncul di Daniel 3:25 (LAI:TB “anak dewa”). Dalam konteks ini, bar ‘elohim jelas merujuk pada malaikat (band. ayat 28). Pemakaian seperti ini juga dapat ditemukan dalam literatur Ugarit kuno yang menyebut para penghuni surga sebagai “anak-anak allah”.&lt;br /&gt;Penyebutan “anak-anak Allah” untuk malaikat dalam contoh-contoh di atas disebut sebagai pemakaian yang bersifat atributif. Artinya, “anak-anak Allah” memang nama lain dari para malaikat, sebagaimana mereka memiliki sebutan-sebutan yang lainnya, misalnya “yang kudus”, “utusan”, dsb. Hal ini jelas berbeda dengan argumen sebelumnya yang dipakai untuk menafsirkan “anak-anak Allah” sebagai “keturunan Set” atau “keturunan bangsawan”. Dalam dua pemakaian ini, sebutan “anak-anak Allah” digunakan secara predikatif. Artinya, sebutan itu dipakai untuk menerangkan keadaan atau status dari sesuatu. Untuk mempermudah pemahaman, perhatikan perbedaan dari dua contoh berikut ini:&lt;br /&gt;            Atributif              Si ganteng itu sedang pergi&lt;br /&gt;            Predikatif            Dia adalah laki-laki yang ganteng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya berpendapat bahwa bagian tentang atributif dan predikatif ini adalah omong kosong yang sengaja dibuat mbulet dan sukar, padahal sama sekali tak punya nilai dalam argumentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedua, berdasarkan pertimbangan konteks, kata “manusia” (ha ‘adam) dan “anak-anak perempuan” (banot) dalam ungkapan “anak-anak perempuan manusia” harus dipahami secara umum sebagai rujukan pada semua manusia tanpa terkecuali. Dari pasal 1-5, kata Ibrani ‘adam (24x) selalu merujuk pada Adam atau manusia secara umum. Tidak ada alasan untuk membatasi “manusia” di sini hanya pada keturunan Kain atau rakyat biasa, apalagi kata ini malah muncul sebagai pendahuluan bagi silsilah Set (5:1-2). Begitu pula dengan kata Ibrani banot. Kata ini muncul 9 kali di pasal 5 (ayat 4, 7, 10, 13, 16, 19, 22, 26, 30) dan semuanya merujuk pada keturunan Set. Tidak ada bukti apapun untuk menunjukkan bahwa banot terbatas pada keturunan Kain saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1)Pertama2 jelas bahwa dalam kontext yang sama / berdekatanpun, suatu kata bisa diartikan secara berbeda. Misalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)Mat 3:10-12 - “(10) Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (11) Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. (12) Alat penampi sudah ditanganNya. Ia akan membersihkan tempat pengirikanNya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakarNya dalam api yang tidak terpadamkan.’”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘api’ dalam ay 10,12 menunjuk pada hukuman, tetapi kata ‘api’ dalam ay 11 menunjuk pada penyucian / pengudusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)Ro 5:12,18-19 - “(12) Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. … (18) Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. (19) Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kata2 ‘satu orang’ yang muncul 3x, dan kata2 ‘semua orang’ yang muncul 6x, dan pikirkan sendiri apakah artinya sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c)Yoh 1:10 - “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘dunia’ yang pertama dan kedua menunjuk pd ‘bumi’, tetapi kata ‘dunia’ yang ketiga menunjuk pada orang2 yang tidak percaya / orang2 Yahudi yang tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)Juga dalam Kej 6:1-2 itu ada semacam kontras antara kata2 ‘anak-anak Allah’ dan ‘anak-anak perempuan manusia’. Menurut saya merupakan kemustahilan kalau menafsirkan bahwa ini adalah kontras antara malaikat dan manusia. Jadi, ini harus diartikan sebagai kontras antara orang2 yang percaya dan orang2 yang tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)Kej 6:1-2 itu disusul oleh Kej 6:3 yang berbunyi: “Berfirmanlah TUHAN: ‘RohKu tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.’”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Roh Kudus itu bekerja / memberi waktu bertobat selama 120 tahun. Kalau mrk bukan orang yang tidak percaya lalu bagaimana bisa ada kalimat ini? Juga dikatakan ‘manusia itu adalah daging’. Apakah kata ‘manusia’ ini tidak menunjuk kepada orang2 yang tidak percaya??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, kita perlu menambahkan bahwa tidak ada ide tentang perkawinan campur di Kejadian 6:1-8 yang dilarang oleh Tuhan. Mengapa? Kalau memang perkawinan campur dilarang dalam teks ini, maka Set juga bersalah. Bukankah dia pasti menikah dengan salah satu dari saudara perempuannya (Kej 5:4)? Apakah saudara perempuan ini (istri Set) termasuk orang kafir atau orang benar? Bagaimana dengan saudara-saudara Set lain yang laki-laki? Apakah mereka termasuk orang kafir atau orang benar? Dari penjelasan ini terlihat bahwa pembagian manusia ke dalam “keturunan Kain” dan “keturunan Set” adalah kategorisasi yang terlalu sempit dan tidak memperhatikan data lain dalam kitab Kejadian.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1)Yakub Tri sendiri tak yakin Set kawin dengan orang beriman atau tidak, tetapi bisa menjadikan hal ini sebagai argumentasi. Berargumentasi dari ketidak-yakinan?? Lucu sekali!&lt;br /&gt;2)Saya sendiri tak menganggap secara mutlak bahwa ‘anak-anak Allah’ sebagai keturunan Set, tetapi sebagai orang2 percaya. Sedangkan ‘anak-anak perempuan manusia’ tidak secara mutlak ssebagai keturunan Kain tetapi sebagai orang2 yang tidak percaya. Paling2 bisa dikatakan bahwa pada umumnya keturunan Set adalah orang beriman dan keturunan Kain adalah orang tak beriman.&lt;br /&gt;3)Sekalipun tak ada larangan secara explicit, bisa saja ada larangan secara implicit. Sejak Kej 4 ada peristiwa Kain (orang tak beriman) membunuh Habel (orang beriman), dan lalu disusul oleh silsilah Kain (yang ditandai dengan adanya orang brengsek bernama Lamekh), dan lalu disusul dalam Kej 5 dengan menceritakan keturunan Set (yang ditandai dengan adanya orang saleh yang bernama Henokh, yang lalu diangkat oleh Tuhan). Semua ini menunjukkan pengkontrasan. Juga jangan lupa bahwa sekalipun belum ada hukum Taurat atau Firman apapun, hukum hati nurani sudah ada. Bdk. Ro 2:14-16 - “(14) Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. (15) Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. (16) Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang pikirkan, kalau seseorang betul2 beriman dan mengasihi Tuhan, bisakah ia tidak bersalah dengan menikahi orang kafir yang sama sekali tidak mencintai Tuhan, dan bahkan selalu menyakiti hati Tuhan? Sebagai tambahan, Kitab Suci mengatakan bahwa Lot menderita (tersiksa jiwanya yang benar) pd saat tinggal di Sodom, karena tingkah laku yang jahat dari orang2 Sodom (2Pet 2:7-8). Ini menunjukkan bahwa secara rohani pasti akan ada ketidak-cocokan antara orang beriman dan tidak beriman. Kalau tetap terjadi pernikahan, itu hanya karena orang beriman itu menuruti dagingnya. Dan pada saat seperti itu tidak mungkin hati nuraninya tidak merasakan hal itu sebagai suatu dosa / kesalahan!&lt;br /&gt;4)Kalau benih perempuan ditafsirkan sebagai orang2 benar, sedangkan benih ular / setan sebagai orang2 jahat / tak beriman, seperti ditafsirkan oleh beberapa penafsir (misalnya JFB), maka jelas sudah ada suatu pengumuman akan adanya permusuhan antara kedua kelompok ini. Dan tetap adanya pernikahan antar kedua kelompok ini sudah pasti bertentangan dengan pengumuman ini.&lt;br /&gt;5)Dan seandainya kawin campur itu memang bukan dosa, fakta bahwa mrk memilih istri yang cantik2 (hanya demi kedagingan mrk), dan mengambil istri yang manapun yang mrk sukai (tak peduli itu memperkenan Allah atau tidak), jelas merupakan dosa. Bdk. Kej 6:2 - “maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka”.&lt;br /&gt;6)Dan hal lain, yang menurut saya paling penting adalah: sekalipun / seandainya pernikahan itu tidak bisa dianggap sebagai dosa, itu tetap memberi hasil yang jelek, yaitu munculnya keturunan yang jahat. Kalau org beriman menikah dengan org yang tidak beriman, biasanya yang baik ketularan menjadi buruk, dan bukan sebaliknya. Setelah muncul generasi baru yang jahat itu, maka Tuhan akhirnya menghukum dengan air bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pandangan ini dapat menjelaskan keberadaan para nephilim (para raksasa di dunia purba) di Kejadian 6:4. Walaupun tidak semua orang yang bertubuh besar adalah hasil persetubuhan malaikat dan manusia (misalnya Bilangan 13:33; 1Sam 17; 2Sam 21:16-22), namun pemunculan nephilim sebagai hasil persetubuhan akan lebih masuk akal jika dipahami bahwa ini adalah persetubuhan yang tidak wajar. James Boice bahkan meyakini bahwa mitos kuno tentang para pahlawan yang separuh dewa-separuh manusia yang ada di hampir semua kisah rakyat (suku) dapat memberi dukungan ke arah sana (Genesis Vol I, 310).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1)Apa alasan dari Kitab Suci bahwa kalau malaikat bersetubuh dengan manusia, akan muncul keturunan yang bertubuh besar / raksasa? Jangan menggunakan Kej 6:4, karena ayat ini yang saat ini sedang dipersoalkan. Apakah dasarnya hanya mitos kuno, seperti yang dikatakan oleh James Boice? Alangkah alkitabiahnya!&lt;br /&gt;2)Lebih-lebih lagi, apa dasarnya dari Kitab Suci bahwa malaikat bisa bersetubuh dengan manusia. Dan perlu ditambahkan bahwa Kej 6:2 tidak sekedar mengatakan huhungan sex, tetapi ‘mengambil istri’! Bagaimana malaikat bisa menganbil istri manusia? Lalu bagaimana cara mereka berumah tangga? Malaikat memberi belanja kpd istrinya? Dan mengantar anaknya ke sekolah? Lucu sekali!&lt;br /&gt;3)Apakah kata ‘nephilim’ memang menunjuk kpd raksasa? Ini sedikitnya perlu diragukan.&lt;br /&gt;KJV: ‘giants’ (= raksasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RSV/NIV/NASB: ‘the Nephilim’ [ini bukan terjemahan tetapi transliteration (menuliskan kata Ibraninya dengan huruf Latin)].&lt;br /&gt;Terjemahan ‘giants / raksasa’ ini timbul karena:&lt;br /&gt;a)Diambil dari Septuaginta / LXX (Perjanjian Lama yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani) yang menterjemahkan GIGANTES.&lt;br /&gt;b)Dihubungkan dengan Bil 13:33 yang dalam versi NIV menterjemahkan sebagai berikut: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“We saw the Nephilim there (the descendants of Anak come from the Nephilim). We seemed like grasshoppers in our own eyes, and we looked the same to them”&lt;/span&gt; [= Kami melihat orang-orang Nephilim di sana (keturunan Anak datang / muncul dari orang Nephilim). Kami kelihatan seperti belalang dalam mata kami sendiri, dan kami kelihatan sama bagi mereka].Terjemahan ini memang menunjukkan bahwa orang Nephilim itu pasti sangat besar / raksasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada kemungkinan penafsiran yang lain: Kata bahasa Ibrani NEPHILIM berasal dari akar kata NAPHAL yang bisa berarti:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1.‘to fall’ (= jatuh).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mungkin semua orang yang bertemu mereka jatuh tersungkur karena takut kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.‘to fall upon / to attack’ (= menyerang).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jadi, NEPHILIM berarti penyerang, bandit, perampok.&lt;br /&gt;Kedua arti ini bisa digabungkan. Jadi, kata NEPHILIM menunjuk kepada perampok-perampok yang ditakuti orang. Penafsiran ini lebih cocok dengan kontext dibandingkan dengan penafsiran di atas yang mengatakan bahwa NEPHILIM adalah raksasa. Kontext Kej 6 ini berbicara soal dosa manusia secara moral. Kalau tahu-tahu ay 4 ini berbicara tentang ukuran tubuh, itu tidak sesuai dengan kontext atau tidak berhubungan dengan kontext. Tetapi kalau NEPHILIM diartikan perampok, itu sesuai dengan kontext.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keempat, konteks kitab Kejadian secara keseluruhan mendukung adanya intervensi iblis secara langsung dalam sejarah keselamatan. Dimulai dengan hukuman dan janji Allah di pasal 3:15. iblis terus berusaha menggagalkan munculnya keturunan perempuan yang akan meremukkan kepalanya. Dia berhasil memakai ular, Kain, para pembangun menara Babel dan orang-orang lainnya untuk menggagalkan janji Allah tersebut. Hal ini akan semakin jelas apabila kita memperhatikan kesejajaran pola yang dipakai iblis di Kejadian 3:6 dan 6:2 yaitu “melihat...baik...mengambil” (catatan: terjemahan LAI:TB “cantik-cantik” di 6:2 seharusnya “baik” karena kata Ibrani yang dipakai sama dengan yang di 3:6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lucu, ini omongan / argumentasi apa? Bagaimana Iblis memakai ular setelah Kej 3:15? Ular dipakai sebelum Kej 3:15!!!! Dan itu jelas bukan utk menggagalkan rencana keselamatan dr Allah, tetapi hanya utk menjatuhkan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Lalu Iblis menggunakan Kain? Dengan cara bagaimana? Dengan membunuh Habel? Siapa bilang Allah mau menggunakan Habel utk rencana keselamatan bagi umat manusia? Dan menara Babel? Apa hubungannya dengan rencana keselamatan Allah? Kesejajaran antara Kej 3:6 dan Kej 6:2 tentang ‘melihat … baik … mengambil’ juga ada dalam tempat2 lain, spt pd waktu Akhan jatuh ke dalam dosa (Yos 7:21), dan waktu Daud jatuh ke dalam dosa dengan Batsyeba (2Sam 11:2-4). Itu hanya menunjukkan bahwa setan / iblis sering bekerja menjatuhkan manusia ke dalam dosa dengan cara spt itu. Apa hubungannya dengan penggagalan rencana keselamatan Allah? Iblis tak pernah bisa menggagalkan rencana itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kelima, para penerjemah Septuaginta (LXX) dan semua penulis Yahudi sebelum jaman Perjanjian Baru memahami “anak-anak Allah” sebagai sebutan lain untuk para malaikat (Ay 1:6; 2:1; 38:7, LXX). Fakta ini tentu saja tidak secara otomatis membuktikan bahwa apa yang mereka percayai adalah benar. Mereka bisa saja melakukan kesalahan yang sama secara bersama-sama. Bagaimanapun, fakta tersebut akan tampak sangat meyakinkan apabila kita melihat salah satu tulisan Yahudi tersebut yang dipakai oleh beberapa penulis Perjanjian Baru, yaitu kitab 1Henokh (dipakai dalam surat 1Petrus, 2Petrus dan Yudas). Dalam pasal 6-8 dari kitab ini disebutkan bahwa yang menghampiri anak-anak perempuan manusia adalah para malaikat atau anak-anak surga. Akibat dari persetubuhan ini lahirlah para raksasa di jaman purbakala.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wah, wah, wah, makin lama makin tidak alkitabiah. Sekarang mengunakan penterjemah LXX dan penulis2 Yahudi, dan bahkan kitab Apokripa! Dimana kekuatan argumentasi spt itu?&lt;br /&gt;Lalu yang dikutip adalah ayat2 dr Ayub dimana memang di sana kata2 ‘anak-anak Allah’ memang menunjuk kpd malaikat2. Mengapa tak memakai ayat2 lain? Bagaimana pemahaman penterjemah LXX dan penulis2 Yahudi itu ttg kata2 ‘anak-anak Allah’ dalam ayat2 spt Kel 4:22,23  2Sam 7:14 dsb?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kel 4:22-23 - Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2Sa 7:14 - Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga siapa bilang Petrus dan Yudas mengutip dr kitab Henokh? Apa buktinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan mengutip pembahasan saya sendiri ttg Yudas 14-15 di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)Apakah Yudas mengutip dari kitab Henokh, yang termasuk dalam Apocrypha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)Dalam kitab Henokh, ada satu ayat yaitu Henokh 1:9, yang berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Versi William Barclay:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“And behold! He cometh with ten thousands of his holy ones to execute judgment upon all, and to destroy all the ungodly; and to convict all flesh of all the works of their ungodliness which they have ungodly committed, and of all the hard things which ungodly sinners have spoken against him” &lt;/span&gt;(= Dan lihatlah! Ia datang dengan sepuluh ribu orang-orang kudusNya untuk melakukan penghakiman terhadap semua orang, dan untuk menghancurkan orang jahat; dan untuk meyakinkan semua daging / orang tentang semua kejahatan yang mereka lakukan secara jahat, dan tentang semua kata-kata keras yang diucapkan oleh orang-orang berdosa yang jahat menentang Dia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henokh 1:9 Versi William Barclay ini boleh dikatakan identik dengan Yudas 14-15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Versi Pulpit Commentary: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“And behold, he comes with myriads of the holy, to pass judgment upon them, and will destroy the impious, and will call to account all flesh for everything the sinners and the impious have done and committed against him”&lt;/span&gt; (= Dan lihatlah, Ia datang dengan puluhan ribu orang kudus, untuk memberikan penghakiman terhadap mereka, dan akan menghancurkan orang jahat, dan akan meminta pertanggungjawaban semua orang untuk setiap hal yang orang berdosa dan jahat lakukan menentang Dia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henokh 1:9 versi Pulpit Commentary ini sedikit berbeda dengan Yudas 14-15, karena dalam Henokh 1:9 ini tidak ada tentang ‘kata-kata keras’ dari orang-orang jahat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi Barnes’ Notes sama dengan Pulpit Commentary.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)Kutipan dalam Yudas 14-15 ini menyebabkan banyak pertanyaan dan problem.&lt;br /&gt;Haruskah kita menganggap Kitab Henokh itu sebagai Kitab Suci? Atau, haruskah kita membuang surat Yudas dari Kitab Suci, seperti yang dilakukan oleh Jerome? Saya berpendapat bahwa kita tidak boleh menganggap bahwa Kitab Henokh harus dimasukkan ke dalam Kitab Suci (Catatan: tidak adanya kata-kata ‘ada tertulis’ dalam Yudas 14 ini menunjukkan bahwa ia tidak sedang mengutip Kitab Suci), dan kita juga tidak boleh mengeluarkan surat Yudas dari Kitab Suci. Mengapa? Karena adanya kemiripan atau kesamaan antara Yudas 14-15 dan Henokh 1:9 memberikan beberapa kemungkinan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1.Yudas mengutip dari Kitab Henokh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa ada banyak penafsir, yang termasuk golongan injili dan alkitabiah sekalipun, yang mempunyai anggapan seperti ini! Tetapi perlu diingat bahwa ini bukan satu-satunya kemungkinan. Orang yang menganggap bahwa Yudas mengutip dari kitab Henokh pada umumnya sampai pada kesimpulan ini karena mereka menyimpulkan terlalu cepat. Mereka tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.Penulis kitab Henokh mengutip dari Yudas, sedangkan Yudas mengutip dari tradisi.&lt;br /&gt;3.Yudas maupun penulis kitab Henokh mengutip dari tradisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kemungkinan untuk membuktikan bahwa kemungkinan pertamalah yang benar, sehingga adanya kemiripan / kesamaan antara Yudas 14-15 dengan Henokh 1:9 ini tidak membuktikan bahwa Yudas mengutip dari Kitab Henokh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Barnes’ Notes:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“There in no clear evidence that he quoted it from any book extant in his time. There is, indeed, now an apocryphal writing called ‘the Book of Enoch,’ containing a prediction strongly resembling this, but there is no certain proof that it existed so early as the time of Jude, nor, if it did, is it absolutely certain that he quoted from it. Both Jude and the author of that book may have quoted a common tradition of their time, for there can be no doubt that the passage referred to was handed down by tradition” &lt;/span&gt;(= Tidak ada bukti yang jelas bahwa ia mengutipnya dari buku apapun yang ada pada jamannya. Memang sekarang ada tulisan apokripa yang disebut ‘Kitab Henokh’, yang berisi ramalan yang sangat mirip dengan ini, tetapi tidak ada bukti tertentu bahwa kitab itu sudah ada pada jaman Yudas, atau, jika kitab itu sudah ada pada jaman Yudas, tidak ada kepastian yang mutlak bahwa Yudas mengutip dari kitab itu. Keduanya, Yudas dan penulis kitab itu, bisa telah mengutip dari suatu tradisi yang umum pada jaman mereka, karena tidak ada keraguan bahwa bagian itu diturunkan oleh tradisi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c)Pandangan yang meninggikan kitab Henokh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pulpit Commentary:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Though never formally recognized as canonical, it was in great esteem, largely accepted as a record of revelations, and regarded as the work of Enoch” &lt;/span&gt;(= Sekalipun tidak pernah diakui secara resmi sebagai kanon, itu dihargai / dihormati, sebagian besar diterima sebagai catatan wahyu, dan dianggap sebagai pekerjaan Henokh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pulpit Commentary: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“An attempt has been made by some to bring the composition of the book down to Christian times, so that Enoch should quote Jude, not Jude Enoch. But there is every reason to believe that it belongs to the second century B.C.  Certain portions of the book, however, are of later date. For it is scarcely possible to deny that it is the work of more than one hand. The original seems to have been written in Hebrew or Aramaic. We cannot be far astray, therefore, in accepting it as the composition of a Jew of Palestine dating between B.C. 166 and 110”&lt;/span&gt; (= Suatu usaha telah dilakukan oleh beberapa orang untuk membawa penyusunan kitab itu ke jaman kristen, sehingga Kitab Henokhlah yang mengutip Yudas, bukan Yudas mengutip Kitab Henokh. Tetapi ada banyak alasan untuk percaya bahwa buku itu berasal dari abad kedua S.M. Tetapi, beberapa bagian dari kitab itu ditulis belakangan. Karena adalah sesuatu yang hampir mustahil untuk menyangkal bahwa kitab itu merupakan pekerjaan dari lebih dari satu tangan. Kitab aslinya kelihatannya ditulis dalam Ibrani atau Aramaic. Karena itu, kita tidak bisa terlalu tersesat dalam menerima bahwa kitab itu disusun oleh seorang Yahudi di Palestina antara 166 S.M. - 110 S.M.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan&lt;/span&gt;: Ia berkata bahwa kelihatannya kitab itu ditulis dalam bahasa Ibrani atau Aramaic. Ia jelas tidak tahu kitab Henokh yang asli; yang ia tahu paling banter adalah terjemahannya. Menurut dia dari terjemahan itu kelihatannya kitab Henokh yang asli ada dalam bahasa Ibrani atau Aramaic. Ini sudah merupakan kesimpulan yang sangat tidak pasti. Lalu dari sini ia mengambil kesimpulan lagi, yaitu bahwa penulisnya pasti seorang Yahudi di Palestina pada abad 2 S.M. Ini lagi-lagi merupakan kesimpulan yang sangat tidak pasti. Mengingat bahwa pada jaman Yesus hidup di dunia, yaitu pada abad 1 Masehi, bahasa Ibrani dan Aramaic banyak digunakan, maka bisa saja penulisnya hidup pada jaman itu atau bahkan sesudahnya. Dari semua ini saya berpendapat bahwa penafsir Pulpit Commentary ini menyimpulkan tanpa dasar yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d)Pandangan yang merendahkan terhadap kitab Henokh, diikuti dengan pandangan bahwa Yudas mengutip dari tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Calvin’s editor:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“There is no evidence of such a book being known for some time after this epistle was written; and the book so called was probably a forgery, occasioned by this reference to Enoch’s prophecy. ... Until of late, it was supposed to be lost; but in 1821, the late Archbishop Laurence, having found an Ethiopic version of it, published it with a translation” &lt;/span&gt;(= Tidak ada bukti tentang diketahuinya kitab seperti itu untuk beberapa waktu setelah surat ini ditulis; dan kitab itu mungkin merupakan suatu pemalsuan, disebabkan oleh hubungannya dengan nubuat Henokh ini. ... Sampai waktu belakangan, kitab itu dianggap / diduga hilang; tetapi pada tahun 1821, Uskup Laurence, setelah menemukan versi Ethiopia kitab ini, menerbitkannya dengan terjemahannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt; kelihatannya ia berpendapat bahwa pada jaman Yudas kitab Henokh itu belum ada. Tetapi karena Yudas berbicara tentang nubuat Henokh, lalu muncul orang yang membuat sebuah kitab yang lalu di-namakan kitab Henokh, supaya kelihatannya Yudas mengutip dari kitab itu. Kitab itu disebut palsu karena sekalipun memakai nama Henokh tetapi penulisnya bukan Henokh. Si pemalsu mungkin mempunyai kesengajaan untuk menimbulkan kebimbangan dan keraguan dalam diri orang kristen terhadap surat Yudas / Kitab Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Thomas Manton:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“The Jews have some relics of this prophecy in their writings, and some talk of a volume, extant in the primitive time, consisting of 4802 lines, called the Prophecy of Enoch; but that was condemned for spurious and apocryphal. Tertullian saith there was a prophecy of Enoch kept by Noah in the ark, which book is now lost. Be it so; many good books may be lost, but no scripture. But most probably it was a prophecy that went from hand to hand, from father to son. Jude saith, ‘Enoch prophesied;’ he doth not say it is written, as quoting a passage of scripture”&lt;/span&gt; (= Orang-orang Yahudi mempunyai peninggalan tentang nubuat ini dalam tulisan-tulisan mereka, dan beberapa orang berbicara tentang sebuah buku, ada dalam jaman primitif, terdiri dari 4802 baris, disebut Nubuat Henokh; tetapi itu dikecam sebagai palsu dan bersifat apokripa. Tertullian berkata bahwa ada nubuat Henokh yang dijaga oleh Nuh di dalam bahtera, yang sekarang sudah hilang. Biarlah itu demikian; banyak buku yang baik / bagus hilang, tetapi tidak ada kitab suci yang hilang. Tetapi kemungkinan besar itu adalah nubuat yang pindah dari tangan ke tangan, dari bapa kepada anak. Yudas berkata: ‘Henokh bernubuat’; ia tidak berkata ‘ada tertulis’, seperti mengutip suatu bagian Kitab Suci).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;S. Maxwell Coder:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“The Book of Enoch is a patchwork of writings by various unknown persons at various unknown times. It contains fanciful and legendary material, some of it quite ridiculous. Those who love the Word of God and trust it implicitly need not fear that any attack upon Jude will succeed in showing that he took any part of his epistle from such a volume”&lt;/span&gt; (= Kitab Henokh merupakan suatu tulisan campur aduk oleh bermacam-macam orang yang tidak dikenal pada berbagai waktu yang tidak diketahui. Kitab itu mengandung bahan yang aneh / khayal dan bersifat dongeng, beberapa di antaranya cukup menggelikan. Mereka yang mencintai Firman Allah dan mempercayainya secara implicit tidak perlu takut bahwa serangan terhadap Yudas akan berhasil dalam menunjukkan bahwa ia mengambil sebagian dari suratnya dari kitab seperti itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)Mengapa Yudas mengutip nubuat Henokh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kitab Suci ada banyak ayat tentang kedatangan Kristus untuk menghakimi, seperti Ul 33:5  Daniel 7:10  Zakh 14:5b. Mengapa Ia mesti mengutip dari nubuat Henokh dan bukannya dari ayat-ayat Kitab Suci?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)Karena biasanya makin kuno suatu kutipan, makin ia dihormati. Karena itu Yudas memilih yang sekuno mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)Karena Tuhan menghendaki nubuat Henokh itu, yang tadinya hanya ada dalam tradisi, masuk ke dalam Kitab Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Thomas Manton:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“if he receives it by tradition, it is here made authentic and put into the canon”&lt;/span&gt; (= jika ia menerimanya melalui tradisi, di sini itu dijadikan otentik / berotoritas dan dimasukkan ke dalam kanon).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keenam, beberapa teks Perjanjian Baru memberi indikasi yang cukup jelas bahwa anak-anak Allah di Kejadian 6:1-8 memang para malaikat. Dalam hal ini ada tiga teks yang perlu kita perhatikan secara seksama. Yang paling penting adalah Yudas 1:6-7. Surat ini adalah salah satu yang secara eksplisit memakai kitab 1Henokh (lihat Yud 1:14-15 band. 1Henokh 1:9 dan 60:8). Setelah Yudas menjelaskan bentuk kesalahan malaikat (tidak taat pada batas-batas kekuasaan, meninggalkan tempat kediaman mereka, ayat 6), ia lalu menjelaskan bahwa penduduk Sodom dan Gomora melakukan dosa dengan cara yang sama (ayat 7). Ayat ini secara eksplisit menghubungkannya dengan dosa seksual. Lebih jelas lagi, ungkapan Yunani yang dalam beberapa versi modern diterjemahkan “perbuatan yang tak wajar” (NIV) atau “nafsu yang tidak alamiah” (RSV) adalah sarkos heteras. Walaupun ungkapan ini secara hurufiah berarti “daging yang lain”, tetapi beberapa versi secara tepat menerjemahkannya dengan “daging yang aneh” (ASV/KJV/NKJV/NASB). Jika kita melihat kisah penduduk Sodom dan Gomora di Kejadian 19 maka kita akan menemukan bahwa mereka memang menginginkan daging yang aneh atau yang lain, yaitu tubuh para malaikat (ayat 1-5, NIV ayat 5 “supaya kami dapat berhubungan seks”, LAI:TB “memakai mereka”). Jika mereka dengan cara yang sama dengan malaikat mengingini daging lain, maka jelas para malaikat pernah terlibat dalam dosa seksual yang melibatkan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)Ttg kata2 ‘dengan cara yang sama’ dalam Yudas 7, saya merasa Yakub Tri sengaja menyembunyikan arti2 lain yang memungkinkan. Ia banyak belajar, dan karena itu pasti tahu adanya arti2 lain yang memungkinkan. Mengapa disembunyikan? Saya berikan di sini beberapa kemungkinan arti dr Yudas 6-7 - “(6) Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar, (7) sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang”.&lt;br /&gt;a)Orang Sodom dan Gomora berbuat dosa dengan cara yang sama seperti malaikat-malaikat dalam ay 6. Hanya ini arti yang diberikan oleh Yakub Tri.&lt;br /&gt;b)Orang Sodom dan Gomora berbuat dosa dengan cara yang sama seperti guru-guru palsu dalam ay 4.&lt;br /&gt;c)‘Kota-kota sekitarnya’ itu (Adma dan Zeboim) melakukan dosa dengan cara yang sama seperti Sodom dan Gomora, dan dihukum dengan cara yang sama pula.&lt;br /&gt;Saya berpendapat bahwa yang benar adalah arti ke 3 ini, dan dengan demikian, tak ada hubungan antara dosa org2 Sodom dan Gomora dengan dosa malaikat / setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)Ttg kata2 ‘daging yang aneh’ lagi2 saya yakin Yakub Tri sengaja menyembunyikan arti2 lain yang memungkinkan. Mengapa ia menyembunyikan? Ini cara menjelaskan yang tidak jujur! Saya berikan arti2 lain di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudas 7: ‘mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar’.&lt;br /&gt;NASB: went after strange flesh (= mengikuti daging / kedagingan yang aneh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Yunaninya: SARKOS HETERAS yang sebetulnya berarti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;’other flesh’&lt;/span&gt; (= daging yang lain), artinya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘other than what nature hath appointed’ &lt;/span&gt;(= lain dari yang telah ditetapkan oleh alam), dan ini menunjuk pada homosex, karena ‘yang ditetapkan oleh alam’ adalah heterosex. Karena itu NIV menterjemahkan ‘sexual perversion’ (= penyimpangan sexual).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini terlihat dari Kej 19:4-5 dimana orang laki-laki dari Sodom, dari yang muda sampai yang tua, seluruh kota tanpa terkecuali, mengepung rumah Lot, dan menghendaki hubungan sex dengan malaikat-malaikat, padahal mereka menyangka malaikat-malaikat itu adalah orang laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kej 19:4-5 - “(4) Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. (5) Mereka berseru kepada Lot: "Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka.’”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt; Kata ‘orang-orang’ dalam Kej 19:5 menggunakan kata Ibrani yang sama dengan kata ‘orang-orang lelaki’ dalam Kej 19:4, yaitu ENOSH. Yang jelas mrk tidak berkata ‘malaikat2’!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan orang-orang Sodom dan Gomora ini menyebabkan sampai sekarang ada istilah yang merupakan peringatan tentang tindakan mereka yang memalukan, yaitu Sodomy, yang menunjuk pada semua hubungan sex yang tidak normal, seperti homosex atau hubungan sex antara manusia dengan binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teks lain yang penting adalah 1Petrus 3:19-20. Menurut terjemahan LAI:TB, “roh-roh yang di dalam penjara” (ayat 19) adalah “roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah” (ayat 20). Dari terjemahan ini tersirat bahwa yang dikunjungi Yesus di penjara dunia roh adalah roh-roh orang yang mati pada jaman Nuh. Kesan ini akan langsung sirna jika kita mengetahui bahwa terjemahan “mereka” sebenarnya tidak ada dalam teks aslinya. Ayat 20 hanya menyebutkan “roh-roh” yang tidak taat pada jaman Nuh. Dari penyebutan ini (“roh-roh”) terlihat bahwa yang dikunjungi Yesus adalah makhluk roh yang tidak taat pada jaman Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya kira tak ada org Reformed yang percaya bahwa Yesus turun ke manapun pd saat Ia mati. Ternyata Yakub Tri percaya!! Dan hebatnya, ia memberi judul tulisannya ini ‘Dunia roh menurut perspektif Reformed’! Pandangan ‘Reformed’ liar dr mana ini? Lalu bagaimana ini bisa diharmoniskan dengan kata2 Yesus kpd penjahat bahwa hari itu juga Ia akan ada bersama penjahat itu di Firdaus / surga? Juga bagaimana bisa diharmoniskan dengan kata2 terakhirNya kpd Bapa dimana Ia menyerahkan rohNya ke tangan Bapa, yang pasti harus diartikan bahwa Ia pergi ke surga? Bdk. Luk 23:43,46.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Yakub Tri mengatakan bahwa ‘Dari penyebutan ini (“roh-roh”) terlihat bahwa yang dikunjungi Yesus adalah makhluk roh yang tidak taat pada jaman Nuh’! Ini kesimpulan dr mana? Apakah tak bisa diartikan lain? Tak bisakah roh2 itu diartikan sebagai roh manusia, dan bukan sebagai roh setan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi Yakub Tri mengatakan ‘anak-anak Allah’ itu adalah malaikat2. Saya sdh bertanya2, yang dimaksud malaikat yang jatuh / setan, atau malaikat yang tidak jatuh? Kalau malaikat yang tidak jatuh, bagaimana mungkin ia berhubungan sex / mengambil istri manusia? Kalau malaikat yang jatuh (dan Yakub Tri kelihatannya mengambil pandangan ini karena ia mengatakan ‘yang tidak taat pada jaman Nuh’), bagaimana mungkin disebut sebagai ‘anak Allah’?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat sudah jatuh ke dalam dosa sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, karena kalau tidak, siapa yang menggoda mrk? Tetapi anehnya, dalam Kej 6 itu Yakub Tri menganggap malaikat jatuh lagi. Jadi, mrk bisa jatuh terus menerus, satu per satu, dan akhirnya habis? Semua jadi setan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utk apa Yesus mengunjungi makhluk roh / setan yang jatuh pd jaman Nuh itu? Ingat, Yesus tak pernah menebus malaikat yang jatuh (Ibr 2:16). Apa mrk bersahabat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menyadari bahwa gaya bahasa di ayat 19-20 bersumber dari kitab 1Henokh, kita akan semakin yakin bahwa roh-roh di sini adalah para malaikat di Kejadian 6:1-8. Dalam surat 1Henokh para malaikat disebut dengan “roh-roh” (15:4, 6, 8). Para malaikat ini berada di dalam penjara (18:12-19:2; 21:1-10). Pemenjaraan ini juga dikaitkan dengan air bah pada jaman Nuh. Hal yang menarik adalah bahwa di pasal 12 dari kitab 1Henokh diceritakan bahwa Henokh diutus untuk memberitakan hukuman kepada para malaikat yang ada di penjara (di 1Petrus 3:19-20 yang memberitakan hukuman adalah Kristus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi Yakub Tri, ‘hal yang menarik’ ternyata adalah kitab apokripa!! Wah, wah, wah! Saya sendiri percaya pd SOLA SCRIPTURA! Dr penjelasan Yakub Tri sendiri terlihat ada pertentangan antara kitab Henokh itu (pemberita hukuman adalah Henokh) dengan 1Pet 3:19-20 (pemberita hukuman adalah Yesus). Lalu bagaimana mungkin ia mempercayai kitab Henokh itu, dan bahkan ‘semakin yakin’ karena adanya apa yang tertulis dalam kitab Henokh itu? Saya sendiri tak percaya Kristus turun kemanapun pd saat mati. Ia naik ke surga sesuai dengan Luk 23:43,46. Jadi adalah omong kosong kalau 1Pet 3:19-20 dianggap mengajarkan bahwa ia turun dunia roh utk memberitakan hukuman setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teks terakhir yang perlu diselidiki adalah 2Petrus 2:4-6. Dalam bagian ini Petrus merujuk balik pada tiga peristiwa penghukuman yang semuanya terjadi pada masa Perjanjian Lama: para malaikat, orang-orang pada jaman Nuh dan penduduk Sodom dan Gomora. Tiga peristiwa ini tampaknya ditulis secara kronologis sesuai dengan alur cerita kitab Kejadian. Tiga peristiwa ini juga dikaitkan dengan pemuasan hawa nafsu (2Pet 2:2, 7, 10). Jika ini benar, maka para malaikat di 2Petrus 2:4 sangat mungkin menunjuk pada anak-anak Allah di Kejadian 6:1-8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2Pet 2:4-6 - “(4) Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; (5) dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik; (7) dan jikalau Allah membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2Pet 2:2,7-10 - “(2) Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. … (7) tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, - (8) sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa - (9) maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman, (10) terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga peristiwa yang diceritakan dalam 2Pet 2:4-6 itu hanyalah contoh2, dan kalaupun itu memang sifatnya khronologis, itu tidak berarti apa-apa. Juga kalau dikatakan bahwa ketiganya berhubungan dengan pemuasan nafsu, perlu dipertanyakan: nafsu apa yang ada pada malaikat? Apakah mrk mempunyai nafsu sex? Nafsu makan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan saya ttg bagian ini: Penafsiran yang diberikan Yakub Tri ttg ayat2 di atas ini hanya bersifat spekulasi. Ini terbukti dr kata2 Yakub Tri sendiri yang mengatakan ‘jika ini benar’, dan ‘sangat mungkin’. Dan menurut saya semua ini sama sekali tidak mempunyai kekuatan argumentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesulitan dan jawaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pandangan yang dianut dalam makalah ini bukan tanpa kesulitan. Seandainya kita dapat menafsirkan Alkitab sesuai kehendak kita sendiri, maka kita pasti akan menghindari pandangan ini dan cenderung pada pandangan pertama (anak-anak Allah adalah keturunan Set). Bagaimanapun, kita harus membiarkan Alkitab menafsirkan dirinya sendiri, walaupun hasil dari penafsiran tersebut mengandung beberapa hal yang sulit kita jelaskan. Apa saja kesulitan atau keberatan yang sering diajukan oleh mereka yang menentang pandangan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka umumnya menyanggah berdasarkan ucapan Yesus di Matius 22:30 (para malaikat di surga tidak kawin maupun mengawinkan). Jika dibaca secara lebih teliti, teks ini sebenarnya tidak berkontradiksi dengan pandangan kita di atas. Ayat ini berlaku bagi para malaikat-malaikat di surga. Bagaimana dengan mereka yang “meninggalkan tempat kediaman mereka” (Yud 1:6)? Bukankah selama di dunia para malaikat dapat menampakkan diri dalam bentuk manusia? Bukankah dosa-dosa malaikat yang dicatat di Yudas 1:6-7 dihubungkan dengan dosa seksual?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1)Apa yang diberikan oleh Yakub Tri sama sekali bukan alkitab yang menafsirkan dirinya sendiri, tetapi Yakub Trilah yang memilih ayat2nya, mengarahkan dan bahkan membengkokkannya, menyensor penafsiran2 yang tak sesuai pandangannya, lalu menyimpulkan. Belum lagi penggunaan apokripa oleh Yakub Tri! Inikah ‘alkitab yang menafsirkan dirinya sendiri’?&lt;br /&gt;2)Ttg Mat 22:30 - &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga”.&lt;/span&gt; Apakah kata2 ‘di sorga’ dihubungkan dengan org2 yang telah mengalami kebangkitan, atau kpd malaikat2? Lagi2 Yakub Tri membuang kemungkinan penafsiran yang rasanya bisa bertentangan dengan pandangannya. Inikah ‘alkitab yang menafsirkan dirinya sendiri’?&lt;br /&gt;3)Yakub Tri membedakan ‘malaikat yang di surga’ (tak bisa berhubungan sex) dengan ‘malaikat yang meninggalkan tempat kediaman mrk’ (bisa berhubungan sex). Apa dasarnya? Yudas 6-7 sdh saya jelaskan di atas dan sama sekali tidak harus diartikan spt penafsiran Yakub Tri.&lt;br /&gt;4)Malaikat, apakah ia di surga atau telah meninggalkan tempat kediamannya, sama saja dalam hal sex. Mrk bisa atau tidak bisa melakukan hubungan sex, tak tergantung tempat dimana mrk berada, tetapi tergantung keberadaan mrk. Mrk adalah makhluk roh yang tidak mempunyai tubuh, dan karena itu tidak mempunyai nafsu maupun kemampuan utk melakukan hubungan sex, apalagi dengan manusia. Kalau mrk mau dan memang bisa berhubungan sex, mengapa tidak dengan sesama malaikat, tetapi dengan manusia? Apakah mrk menderita semacam penyakit jiwa yang mirip dengan Zoophilia / bestiality (manusia yang melakukan hubungan sex dengan binatang)??&lt;br /&gt;5)Bahwa mrk bisa menampakkan diri dalam bentuk manusia, itu memang benar. Tetapi itu sama sekali tak berarti bahwa mrk juga bisa berhubungan sex dengan manusia. Allah juga menampakkan diri dalam bentuk manusia. Apakah Allah juga bisa berhubungan sex dengan manusia? Kalau memang demikian, mengapa Yakub Tri tidak menganggap Maria mengandung karena Roh Kudus berhubungan sex dengan dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sanggahan lain yang diajukan biasanya adalah masalah ketidakadilan dalam hukuman Allah. Jika “anak-anak Allah” adalah malaikat, maka yang melakukan dosa di Kejadian 6:1-8 adalah para malaikat dan manusia. Mengapa Allah hanya menghukum manusia saja? (Bruce K. Waltke, Genesis, 116). Terhadap sanggahan di atas, beberapa jawaban dapat diberikan. Pertama, jenis hukuman yang diberikan Allah di Kejadian 6-8 merupakan hukuman yang luar biasa. Hukuman yang luar biasa ini akan masuk akal jika dilatarbelakangi tindakan dosa yang luar biasa pula. Kedua, surat 1Petrus, 2Petrus dan Yudas menjelaskan tentang hukuman yang dialami oleh para malaikat yang jatuh. Ketiga, Musa tidak selalu mencatat hukuman apa yang diterima iblis pada saat mereka terlibat dalam suatu dosa. Dalam kasus keberdosaan Kain, tidak ada hukuman yang disebutkan untuk iblis, walaupun dia sangat jelas tersirat dalam kejatuhan Kain (4:7). Faktanya, Musa hanya mencatat hukuman untuk iblis secara eksplisit di Kejadian 3:15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1)Seandainya manusia memang bisa berhubungan sex dengan malaikat, apa alasannya utk mengatakan bahwa itu adalah dosa yang luar biasa. Apa dasar Kitab Sucinya?&lt;br /&gt;2)Ini salah! Kalau tafsiran Yakub Tri di atas memang benar, maka yang berbuat dosa adalah malaikat dan org2 perempuan!!! Lalu mengapa hukumannya (air bah jaman Nuh) menimpa semua manusia, termasuk org laki2??&lt;br /&gt;3)Seandainya dalam 1Pet, 2Pet, dan Yudas memang membicarakan hukuman setan, tak ada dasar utk mengangap bahwa dosa mrk adalah melakukan hubungan sex dengan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yakub Tri Handoko menulis : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sanggahan terakhir yang dikemukakan berkaitan dengan hasil persetubuhan. Mereka menganggap bahwa persetubuhan yang dilakukan oleh para malaikat yang adalah makhluk roh tidak mungkin menghasilkan apapun. Di samping itu mereka juga mempertanyakan apakah kejatuhan seperti ini masih dapat terjadi.Sanggahan di atas merupakan yang paling sulit untuk dijawab. Kemungkinan besar kejatuhan para malaikat di Kejadian 6:1-8 merupakan kejatuhan yang terakhir yang diijinkan Allah, walaupun tidak ada teks yang mendukung hal ini secara eksplisit. Bagaimanapun, dugaan ini bukannya tidak mungkin. Penghukuman air bah harus dilihat sebagai sebuah akhir dan awal: akhir dari suatu tatanan dunia lama dan awal bagi yang baru. Hal ini tampak jelas dalam tulisan Petrus yang membagi dunia ini menjadi sebelum dan sesudah air bah (2Pet 3:5-7 “dunia yang dahulu dan dunia yang sekarang”). # &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Budi Asali:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 keberatan / sanggahan yang diberikan oleh Yakub Tri sendiri di sini. Mengapa hanya yang kedua yang ia jawab? Bagaimana dengan yang pertama? Yang pertama justru yang merupakan argumentasi yang kuat yang menentang penafsiran / pandangan Yakub Tri ini. Malaikat adalah makhluk roh, dan karena tidak mungkin bisa mempunyai nafsu / kemampuan utk berhubungan sex dengan manusia. Dan seandainya bisa, bagaimana mungkin bisa mempunyai keturunan / anak? Apakah malaikat itu juga bisa mengalami orgasme, mengeluarkan sperma, yang lalu membuahi sel telur perempuan, dengan siapa ia melakukan hubungan sex? Kalau Yakub Tri bilang bisa, apa dasar Kitab Sucinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ttg keberatan yang kedua, dan jawabannya dr Yakub Tri, saya bertanya: dengan dasar apa Yakub Tri mengatakan bahwa ini adalah dosa / kejatuhan terakhir dr malaikat? Kalau ia mengatakan bahwa tak ada dukungan text yang explicit, maka saya tambahkan bahwa yang implicitpun juga tidak ada. 2Pet 3:5-7 sama sekali tidak mengarah pada penafsiran itu, bahkan secara implicitpun tidak. Saya berpendapat Yakub Tri melakukan eisegesis, dan itu memang satu-satunya kemungkinan sehingga ayat spt itu bisa menjadi dasar dr ajarannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-4232579528622788439?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/4232579528622788439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=4232579528622788439&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/4232579528622788439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/4232579528622788439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/tanggapan-pdt-budi-asali-mdiv-atas.html' title='TANGGAPAN PDT. BUDI ASALI, M.DIV ATAS TULISAN YAKUB TRI HANDOKO TENTANG &quot;ANAK-ANAK ALLAH&quot;'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-620074068254619265</id><published>2009-03-18T08:45:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T08:48:24.532-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><title type='text'>YESUS BISA KELIRU MENILAI ORANG?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Terhadap Tulisan Dr. Eben Nuban Timo Ketua Sinode GMIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh :Mezakh Wake&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 2 Agustus 2008, ada tulisan Dr. Eben Nuban Timo (Ketua Sinode GMIT) dengan judul “Yesus dan Orang Lain”. Tulisan ini sebenarnya adalah materi yang disampaikan beliau dalam acara Lokakarya Paradigma Inklusif yang entah dilaksanakan di mana saya juga tidak tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian awal tulisannya, nampak bahwa Dr. Eben Nuban Timo juga mempercayai rumusan Kristologi ortodoks yang percaya bahwa Yesus Kristus memiliki dua tabiat, Allah dan manusia. Dr. Eben menulis : “Dogma klasik dalam gereja yang biasa dipakai sebagai acuan dalam refleksi Kristen tentang Yesus menegaskan tentang dua tabiat Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah Allah sejati (vere deus) dan manusia sejati (vere homo). Keallahan dan kemanusiaan merupakan dua sisi dari kehidupan Yesus yang tidak terbagi dan juga tidak tercampur. Dua-duanya menyatu secara unik dalam Yesus sehingga yang satu tidak bisa dipahami terlepas dari yang lain”. Dr. Eben juga mengatakan : “Sebagai Allah sejati, Yesus adalah pribadi yang unik. Keunikannya terlihat dalam fakta bahwa Ia ada sejak semula bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah (Yoh. 1:1). Semua atribut yang biasa dikenakan kepada Allah berlaku juga untuk Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak dapat kita persamakan dengan pribadi mana pun di dalam sejarah (Barth, 1949:53). Yesus adalah pribadi yang unik, sebuah novum, realitas yang baru di dalam dunia yang lama. Kolose 1:15 menggambarkan keutamaan Yesus itu sebagai berikut :"Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia". Selanjutnya : ‘Tetapi pada saat yang sama, dogmatik klasik menegaskan bahwa Yesus adalah manusia sejati. Ia yang adalah novum itu justru menjadi sama dengan semua manusia (Fil 2:7). KeserupaanNya dengan manusia bukan sebuah tindakan pro forma belaka, seperti yang dikisahkan dalam mitos-mitos kuno tentang ilah yang menyamar dalam wujud makhluk. Kemanusiaan Yesus itu adalah sebuah peristiwa yang bersifat utuh dan definitif. Ia ikut merasakan kelemahan-kelemahan kita, bahkan dicoba, dan mati seperti kita (Ibr 4:15). Konsili ekumenis kedua dari Gereja Kristen di Konstantinopel (381) menegaskan bahwa kesediaanNya untuk menjadi serupa dengan manusia adalah for us and our salvation”. Membaca apa yang ditulis Dr. Eben di atas ini nampak tidak ada yang aneh. Memang demikianlah rumusan Kristologi ortodoks kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya berdasarkan fakta kemanusiaan Kristus, Dr. Eben pun mulai membahas tema yang diberikan panitia Lokakarya Paradigma Inklusif “Yesus dan Orang Lain” dengan berkata : “Jadi kalau mau berbicara tentang Yesus sesungguhnya kita sedang berbicara juga tentang orang lain. Persoalan yang kita hadapi sekarang ialah siapakah orang lain itu? Bagaimana pandangan Yesus terhadap mereka? Serta bagaimana tanggapan mereka terhadap Yesus? Orang lain adalah rakyat”. Dr. Eben pun mulai menguraikan hubungan Yesus dan orang lain di sepanjang tulisannya dan saya pun menikmati tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiba-tiba saya kaget membaca sebuah paragraf yang bagi saya sangat aneh. Paragfraf itu berbunyi demikian : “Yesus tidak hanya ada di antara okhlos untuk mengajar mereka. Yesus tidak datang kepada rakyat sebagai orang yang serba tahu. Ia bersifat terbuka kepada mereka, bahkan ia belajar juga dari mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan dengan rakyat, Yesus siap membaharui, bahkan juga mengubah pendapat dan pandangannya yang semula keliru terhadap orang lain. Suatu kali Yesus bertemu dengan seorang perempuan yang agak berani. Yesus menyamakan perempuan itu dengan anjing yang tidak pantas diperhatikan sama dengan anak kandung. Setelah perempuan itu mengajukan dasar-dasar yang valid dari tuntutannya itu, Yesus segera mengubah pendapatNya (Ringe, 1998:63). Ia membenarkan perempuan itu (Mk. 7:24-30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus belajar sesuatu dari orang lain, dari rakyat. Dari kalimat di atas jelas bahwa menurut Dr. Eben, Yesus tidak serba tahu/maha tahu ! Lebih aneh lagi adalah bahwa Dr. Eben percaya bahwa Yesus bisa mempunyai pendapat atau pandangan yang keliru terhadap orang lain (perhatikan kalimat-kalimatnya yang saya garisbawahi di atas) dan Yesus belajar dari orang lain serta siap membaharui/mengubah pendapat atau pandangan-Nya yang keliru itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini saya langsung sadar bahwa ini bukanlah berita Alkitab. Ini hanyalah teori karangan Dr. Eben Nuban Timo saja. Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa Yesus bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran dan hati orang. Dalam Mat 9:4 dikatakan : “Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Demikian juga dengan Mat 12:25 : “Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan”. Luk 6:8 : “Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu dan berdiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau Yesus bisa mengetahui pikiran dan hati orang, lalu bagaimana Ia bisa salah/keliru menilai orang? Injil Matius ini ditulis oleh Matius yang adalah seorang murid Yesus. Lukas, yang walaupun bukan murid Yesus tapi mempunyai hubungan yang dekat dengan rasul-rasul. Maka lebih mungkin untuk percaya kata-kata mereka daripada kata-kata Pak Ketua Sinode. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin Dr. Eben menafsirkan 3 ayat di atas sebagai hal yang wajar yang bisa juga dimiliki setiap orang? Bukankah dalam hidup sehari-hari kita juga bisa mengetahui pikiran dan hati orang lain tanpa menjadikan kita pribadi yang tidak bisa keliru? Bukankah setelah mengamati data-data, pengalaman-pengalaman, gejala-gejala, dll membuat kita bisa berkesimpulan tentang pikiran dan hati orang lain? Itu mungkin saja tapi ingat masih ada ayat lain. Yoh 2:24-25 : “Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konteks ayat ini jelas terlihat melalui ayat 23 nya : “Sementara Yesus berada di Yerusalem pada waktu Perayaan Paskah, banyak orang percaya kepada-Nya karena keajaiban-keajaiban yang dibuat-Nya. Jadi ini masalah kepercayaan. Banyak orang percaya kepada Yesus tapi Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka. Ia mengenal mereka semua. Mengenal apanya? Iman atau kepercayaan mereka. Ia tahu bahwa mereka tidak sungguh-sungguh percaya/beriman kepada Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi soal iman/kepercayaan dalam hati saja Yesus bisa tahu kok, lalu bagaimana hanya dalam soal menilai orang, Yesus bisa keliru? Injil Yohanes ditulis oleh Yohanes yang adalah murid Yesus sendiri. Silahkan anda pilih, mau percaya kepada Yohanes atau kepada Pak Ketua Sinode. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh dari itu, dalam hal pengetahuan Yesus, Yoh 6:64 mencatat : “Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia”. Bayangkan, sebelum Yudas menjual Yesus saja, Yesus sudah tahu terlebih dahulu bahwa Yudas akan menjual Dia. Di dalam Injil Mat 16:21 dikatakan : “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga”. Waktu Yesus mengatakan kalimat di atas, Ia belum mengalaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana Ia bisa tahu semuanya secara detail seperti itu bahkan kebangkitanNya? Berarti pengetahuan Yesus ini bukan hanya pengetahuan biasa tapi pengetahuan yang melampaui waktu. Kalau dalam kasus-kasus yang besar seperti itu Yesus bisa mengetahuinya dengan pasti dan benar lalu bagaimana hanya soal menilai orang Ia bisa keliru? Dalam Injil Yohanes pasal 4, Yesus berjumpa dengan seorang perempuan Samaria yang hidup dalam perzinahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus belum pernah bertemu dengan perempuan itu sebelumnya tapi anehnya Yesus bisa mengatakan semua yang dilakukan perempuan itu secara tepat. Hingga akhirnya perempuan itu berseru kepada orang-orang sekampungnya : "Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?" (Yoh 4:29). Jadi Yesus mengetahui setiap detail dari jalan hidup orang. Lalu bagaimana hanya dalam soal menilai orang Ia bisa keliru? Mustahil!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan contoh yang diberikan Dr. Eben di atas bahwa Yesus salah menilai perempuan Kanaan itu dengan menyamakan ia dengan anjing? Perhatikan kembali kata-kata Dr. Eben : “Suatu kali Yesus bertemu dengan seorang perempuan yang agak berani. Yesus menyamakan perempuan itu dengan anjing yang tidak pantas diperhatikan sama dengan anak kandung. Setelah perempuan itu mengajukan dasar-dasar yang valid dari tuntutannya itu, Yesus segera mengubah pendapatNya (Ringe, 1998:63). Ia membenarkan perempuan itu (Mk. 7:24-30)”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya heran mengapa Dr. Eben bisa menafsirkan ayat ini dan berkesimpulan bahwa Yesus keliru menilai perempuan itu? Saya kira orang awam seperti saya pun bisa mengerti bahwa Yesus mengatakan kalimat itu dalam rangka menguji perempuan itu, seberapa kuat ia dalam permohonannya kepada Yesus. Penafsiran semacam ini harus diambil dengan memperhatikan sejumlah ayat Alkitab yang sudah dikutip di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tafsiran yang diambil seperti yang disimpulkan Dr. Eben maka itu jelas menabrak semua ayat di atas. Yang mengherankan saya adalah bagaimana mungkin seorang doktor dalam bidang teologia bisa menafsirkan Alkitab secara bertentangan semacam itu? Saya kira yang menjadi masalahnya adalah Dr. Eben terjebak dalam apa yang oleh para pakar ilmu tafsir Alkitab disebut “eisegese” yakni memasukkan konsep pribadi ke dalam teks dan memaksa teks Alkitab untuk cocok dengan ide/asumsi awal. Ini sangat mungkin untuk memenuhi permintaan panitia Lokakarya Paradigma Inklusif yang memberikan judul “Yesus dan Orang Lain” kepada Dr. Eben yang menurut Dr. Eben sendiri : “Saya merasa agak aneh membaca judul ini”. Dan jelas itu adalah suatu cara penafsiran Alkitab yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua data yang saya ungkapkan ini jelas bahwa Injil memberikan kesaksian yang sangat lain daripada apa yang dipahami Dr. Eben Nuban Timo. Atau dengan kata lain apa yang diajarkan Dr. Eben Nuban Timo bukanlah ajaran Alkitab melainkan teori yang sama sekali bertentangan dengan kesaksian Alkitab atau para murid Yesus. Bagi saya, lebih baik percaya kata-kata Petrus yang adalah murid Yesus : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, …” (Yoh 21:17) daripada kata-kata Pak Ketua Sinode yang mengatakan Yesus bisa keliru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saya merenungkan kata-kata Dr. Eben ini pikiran saya menerawang jauh. Jika Yesus memang bisa keliru menilai orang lain, tidak mungkinkah Ia juga salah menilai saya dan anda? Tidak mungkinkah Ia salah menilai Dr. Eben? Alkitab berkata bahwa pada akhir zaman nanti Ia yang akan menghakimi semua manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jelas penghakiman pada akhir zaman itu jauh lebih sulit daripada menilai orang. Mengapa? Karena yang dihakimi adalah manusia yang sangat banyak sejak dari awal dunia hingga akhir dunia ini di samping adanya begitu banyak faktor yang harus dipertim¬bangkan dalam menjatuhkan hukuman kepada orang-orang berdosa seperti banyaknya dosa, tingkatan dosa, dilakukan sengaja atau tidak, pengaruh yang ditimbulkan, dll. Begitu juga pada saat Ia mau memberikan pahala kepada manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu Ia harus mempertimbangkan banyaknya perbuatan baik yang dilakukan, jenis perbuatan baiknya, besarnya pengorbanan pada waktu melakukan perbuatan baik, motivasinya, dll. Nah, jika Yesus bisa keliru dalam menilai orang tentu sangat mungkin baginya untuk keliru dalam penghakiman terakhir. Dan kalau demikian maka bahaya besar bisa terjadi. Jangan-jangan yang harus masuk neraka Ia masukkan ke surga dan yang harusnya masuk surga Ia masukkan ke neraka. Bahkan tidak ada jaminan Ia akan memasukkan Dr. Eben ke tempat yang seharusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mungkinkah semua itu terjadi? Jelas tidak mungkin ! Dari semua yang saya ungkapkan dan ayat-ayat Kitab Suci yang mendukungnya (kesaksian para rasul/murid Yesus) jelas bahwa YESUS TIDAK MUNGKIN KELIRU MENILAI ORANG LAIN. Kalau Yesus tidak mungkin keliru menilai orang lalu bagaimana ? Siapa yang keliru ? DR. EBEN NUBAN TIMO LAH YANG KELIRU MENILAI YESUS !!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-620074068254619265?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/620074068254619265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=620074068254619265&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/620074068254619265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/620074068254619265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/yesus-bisa-keliru-menilai-orang.html' title='YESUS BISA KELIRU MENILAI ORANG?'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-4890711853880056693</id><published>2009-03-18T08:37:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T08:39:49.566-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (6)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Untuk Julius Sangguwali (JS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:Esra Alfred Soru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : Ya, EAS terlalu jauh panggang dari api ketika menafsirkan Yoh. 14:14. Padahal konteks ayat-ayat di Yohanes pasal 14, menunjuk kepada kedudukan unik Yesus--bukan hubungan yang “tidak terpisahkan” pribadi dalam tritunggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : Rupanya anda tidak pernah membaca Yoh 14 dengan baik tapi omong besar saja. Lalu Yoh 14:7-11 artinya apa? Baca ayat 7, 9-10, 11. Bagaimana mungkin ayat-ayat itu tidak menunjukkan kesatuan Yesus dengan Bapa? Tentang ayat 10b : “Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya” harus diperhatikan penafsirannya. Calvin berpendapat bahwa ayat 10b diucapkan oleh Yesus sebagai manusia. Setiap kata dari Yesus merupakan pekerjaan Bapa! Ini tidak berarti bahwa Bapa bertindak seperti seorang pembicara dengan “suara perut” yang berbicara melalui bonekanya. Sebaliknya, Anak mengucapkan pikiran Bapa karena ini juga merupakan pikiranNya sendiri” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : Tentang hal ini Encyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature (oleh John McClintock dan James Strong, 1981, Jil II, Grand Rapids, Michigan) menulis, “Tujuan doa adalah Allah sendiri, melalui Kristus Yesus sebagai Perantara. Oleh karena itu, semua permohonan, kepada orang-orang kudus atau kepada para malaikat tidak saja sia-sia, tetapi menghujat. Semua ibadah kepada makhluk ciptaan, tidak soal seberapa ditinggikan makhluk itu, adalah penyembahan berhala, dan dengan keras dilarang hukum kudus Allah” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : Saya setuju kata-kata buku ini. Tetapi ingat, yang dianggap penghujatan / penyembahan berhala adalah penyembahan terhadap orang-orang kudus, malaikat-malaikat dan makhluk ciptaan apapun / manapun. Masalahnya, Yesus tak termasuk yang manapun dari orang-orang itu. Dia adalah Allah, pencipta, bukan makhluk ciptaan (kecuali kalau kita bicara tentang Yesus sebagai manusia). Dan karena Dia adalah Allah, Dia juga merupakan obyek doa / penyembahan yang sah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : Jumlah orang-orang yang seperti Romo Tom Jacob, Frans Donald, dan lain-lain semakin hari bertambah banyak. Hanya EAS yang masih berkokoh dengan gagasan: Jauh panggang dari api; sehingga tidak matang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : Apa maksud anda dengan ‘jauh panggang dari api’? Tadi anda katakan pengabaian konteks, sekarang anda katakan tidak matang! Saya kira untuk orang seperti anda ini cocok kalau dibuatkan ungkapan ‘jauh punguk dari sekolah’! (He…he…he…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Doa Stefanus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga membuktikan bahwa doa boleh ditujukan pada Yesus dari doa Stefanus dalam Kis 7:59-60. Tetapi JS membantahnya : “…masalahnya, apakah Stefanus sedang berdoa? ….Namun kata “berdoa” di beberapa terjemahan, tidak ada”. JS lalu mengutip Alkitab Terjemahan Lama (1958 yang dicetak ulang 2003) dan Good News Bible lalu mengatakan : “Dua terjemahan Alkitab ini menerjemahkan kata “berdoa” di ayat 59 ini sebagai “berseru”. Jadi, mana yang benar? Stefanus sedang berdoa atau berseru? Js lalu membandingkannya dengan Alkitab The Kingdom Interlinear Translation of the Greek Scriptures (1969) lalu memberikan komentar : “Perhatikan terjemahan bebas kata “permohonan”/”appeal” dari terjemahan bahasa Yunani έлιкαλούμενον, yang jika diterjemahkan kata demi kata, calling upon/berseru kepada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi peristiwa Stefanus (ayat 59) tidak menyangkut doa, karena di ayat sebelumnya (ayat 56) Stefanus melihat Yesus dalam penglihatan dan berbicara kepadanya secara langsung. … Ingatlah bahwa semata-mata berbicara bahkan kepada Allah tidak dengan sendirinya merupakan doa. … Oleh karena itu, tidaklah benar untuk menyebutkan percakapan Stefanus dengan Yesus sebagai bukti bahwa sebenarnya dapat (harus) berdoa kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari argumentasi JS di atas ini terlihat bahwa JS hanya membahas kata kerja ‘berseru / call on’ saja? Mengapa tidak membahas kata-kata yang diucapkan oleh Stefanus pada saat itu, yang jelas menunjukkan bahwa itu adalah suatu doa? Dalam hal ini anda mengabaikan konteks kan? Jadi kata-kata “Jauh panggang dari api” itu lebih cocok untuk anda sendiri. Sekarang lihat kembali Kis 7:59-60 - “(59) Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." (60) Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia”. Bukankah kata-kata dalam ayat 59 jelas merupakan doa? Lebih-lebih kata-kata dalam ayat 60 jelas meniru kalimat pertama Yesus di kayu salib yang merupakan doa Yesus sendiri! Selain itu kata ‘berseru’ / ‘memanggil’ di dalam Kitab Suci sering menjadi sinonim dari kata ‘berdoa’! Misalnya Kej 4:26 : “…Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN”, Kej 12:8 : “…lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN”, Kej 13:4 : “…di situlah Abram memanggil nama TUHAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa dalam ayat-ayat ini tidak ditulis bahwa mereka berdoa melainkan memanggil nama Tuhan. Tapi tidak bisa tidak “memanggil nama TUHAN” di sini artinya adalah berdoa. Sekarang lihat Kel 14:10 : Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN..”, Kel 14:15 : “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? …”, 1 Sam 12:8 : “Ketika Yakub datang ke Mesir dan nenek moyangmu berseru-seru kepada TUHAN, maka TUHAN mengutus Musa dan Harun, yang membawa nenek moyangmu keluar dari Mesir, …”. Lihat juga 1 Sa 15:11; Maz 22:3; Maz 34:18 dan masih banyak ayat lainnya yang mencapai ratusan ayat. Kata “berseru-seru” dalam ayat ini tidak bisa tidak berarti berdoa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian sesuai dengan kalimat yang keluar dari mulut Stefanus dihubungkan dengan ayat-ayat di atas ini maka tidak bisa tidak ditafsirkan bahwa Stefanus memang berdoa kepada Yesus. Rupanya JS ini buta terhadap ayat-ayat Kitab Suci yang saya kutip di atas. Jadi, orang yang namanya JS ini lagi-lagi bisa diberi ungkapan lain “Jauh serigala dari Kitab Suci”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berseru kepada Yesus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat lain yang saya pakai untuk mengatakan bahwa kita boleh berdoa kepada Yesus adalah 1 Kor 1:2b : ‘dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.’ Tetapi JS menanggapinya : “EAS mirip orang gendut yang kepleset kulit pisang. Ia hendaknya memperhatikan bahwa dalam bahasa aslinya, pernyataan “έпικαλαυμέοις” (to call upon/berseru/menyerukan) dapat mengartikan hal-hal lain selain doa. Bagaimana nama Kristus ‘called upon’ (diserukan) di mana-mana (di segala tempat)? Satu cara adalah bahwa para pengikut Yesus dari Nazaret secara terang-terangan mengakui dia sebagai Mesias dan Juruselamat dunia, melakukan banyak perbuatan menakjubkan dalam namanya (bandingkan 1 Yoh. 4:14; Kis. 3:6; 19:5). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, The Interpreter’s Bible (1990) menulis bahwa ungkapan “menyerukan nama Tu[h]an kita…berarti mengakui wewenangnya sebagai Tuan sebaliknya daripada berdoa kepadanya”. He..he…Saya mirip orang gendut yang kepleset kulit pisang? Kalau begitu anda seperti orang pendek yang ingin menjangkau pengertian yang lebih tinggi, tetapi tidak dapat mencapainya. Kasihan sekali??! Dan rupanya karena pendeknya, anda berusaha menggapai dengan meloncat-loncat, sampai punggungnya bongkok! Seandainya saja anda sama pendeknya, dan sama bertobatnya seperti Zakheus! Sayang, hanya pendeknya yang sama, bertobatnya tidak! Sekarang perhatikan kembali kata-kata anda di atas “…dapat mengartikan hal-hal lain selain doa”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba pakai logika anda! Berarti bisa diartikan doa kan? Tetapi anda memaksakan arti yang lain, yang sebetulnya sama sekali bukan artinya. Kata-kata ‘call upon’ diartikan seperti ini oleh Bible Works 7: (1) to put a name upon, to surname 1a) to permit one's self to be surnamed (2) to be named after someone (3) to call something to one 3a) to cry out upon or against one 3b) to charge something to one as a crime or reproach 3c) to summon one on any charge, prosecute one for a crime 3d) to blame one for, accuse one of (4) to invoke 4a) to call upon for one's self, in one's behalf 4a1) any one as a helper 4a2) as my witness 4a3) as my judge 4a4) to appeal unto (5) to call upon by pronouncing the name of Jehovah 5a) an expression finding its explanation in the fact that prayers addressed to God ordinarily began with an invocation of the divine name” Perhatikan bahwa tidak ada arti ‘confess’ (mengakui) seperti yang diberikan anda dari buku tafsiran ngawur itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi, anda kan guru bahasa Inggris. Lalu bagaimana mungkin anda menerjemahkan ‘called upon’ sebagai ‘diserukan’? Kecuali ada to be yang mendahuluinya, itu tidak bisa merupakan bentuk pasif! Dan dalam kalimatnya memang tidak didahului oleh to be. Jadi, itu bentuk aktif, tetapi dalam past tense! Lalu dari mana anda dapatkan -ed yang menjadikannya menjadi bentuk lampau itu? Kata itu dalam bahasa Yunani ada dalam bentuk present. Itu juga terlihat dari semua terjemahan bahasa Inggris. Aneh juga biasanya anda beri terjemahan bahasa Inggris tertentu, tetapi di sini tidak ada sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya saja yang berikan dari terjemahan KJV : “Unto the church of God which is at Corinth, to them that are sanctified in Christ Jesus, called to be saints, with all that in every place call upon the name of Jesus Christ our Lord, both theirs and ours”. Tidakkah terlihat bahwa terjemahan ini memakai bentuk aktif? Bentuk yang sama dipakai juga dalam terjemahan RSV maupun NIV. Lalu bagaimana anda yang adalah guru bahasa Inggris bisa menerjemahkannya menjadi bentuk pasif? Haruskah saya buat ungkapan lain lagi buat anda? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu saya tambahkan tentang ayat ini adalah bahwa kata ‘nama’ di sini harus diartikan menunjuk kepada pemilik nama tersebut, yaitu Yesusnya sendiri. Ini sesuatu yang umum dalam Kitab Suci. Contohnya Yes 56:6 : “Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan untuk menjadi hamba-hambaNya,…” Mengasihi nama TUHAN artinya mengasihi TUHAN. Yer 23:27 : “….sama seperti nenek moyang mereka melupakan namaKu oleh karena Baal?”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melupakan nama TUHAN artinya adalah melupakan TUHAN. Jadi nama harus diartikan sebagai diri/pemilik nama itu. Dengan demikian “berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus” dalam 1 Kor 1:2b itu artinya adalah berseru/berdoa kepada Tuhan kita Yesus Kristus. He…he… sekarang apa argumentasi anda JS? Ternyata saya tidak mirip orang gendut yang kepleset kulit pisang tapi anda yang mirip orang pendek/bongkok yang mencoba menggapai kebenaran yang tinggi tapi tak bisa mencapainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan-Tanggapan Lepas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : “Menerima Kristus dan mempraktekkan iman dalam darahnya yang dicurahkan, yang memungkinkan pengampunan dosa, juga berarti menyerukan nama Tu[h]an kita, Yesus Kristus (bandingkan Kis. 10:43 dengan 22:16). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : He..he... JS, saya harap anda tidak asal-asalan dalam memberi ayat. Apa urusannya Kis 10:43 dengan menyerukan nama Yesus? Demikian juga apa urusannya Kis 22:16? Bagi saya kata “berseru kepada nama Tuhan” di sini pun bisa diartikan ‘berdoa’, dengan iman kepada Yesus! Kalau tidak diartikan demikian, maka akan menjurus pada ajaran sesat ‘keselamatan karena perbuatan baik’. Tapi sayangnya, saya yakin anda justru percaya ajaran sesat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : “Jadi secara harfiah menyebut nama Yesus, kapan saja seseorang berdoa kepada Allah melalui dia. Maka, meskipun memperlihatkan bahwa seseorang dapat menyerukan nama Yesus, Alkitab tidak menyatakan harus berdoa kepadanya (Ef. 5:20; Kol. 3:17). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : Saya setuju kita boleh berdoa / bersyukur kepada Bapa. Tetapi ayat-ayat itu TIDAK mengatakan bahwa kita tidak boleh berdoa kepada Yesus. Dan dari ayat-ayat yang sudah saya gunakan, jelas juga merupakan hal yang sah untuk berdoa kepada Yesus! Anda tidak bisa menggugurkannya! Itu hanya mimpi anda saja!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : Setiap doa adalah suatu bentuk ibadat. The World Book Encyclopedia (1987, Vol. 2) menegaskan hal ini, “Doa adalah suatu bentuk ibadat yang melaluinya seseorang dapat menyatakan pembaktian, syukur, pengakuan, atau permohonan kepada Allah. Pada suatu kesempatan Yesus mengatakan, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan [Yahweh], Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Yesus berpaut kepada pokok kebenaran bahwa ibadat--karena itu doa juga--harus ditujukan hanya kepada Bapanya, Allah Yahweh (Luk 4:8; 6:12). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : Lalu mengapa Yesus kok mau disembah berulangkali, dan Ia tak menyalahkan Stefanus yang berdoa kepada-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bertekuk Lutut Dalam Nama Yesus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti lain lagi yang saya pakai untuk mengatakan bahwa kita boleh berdoa kepada Yesus adalah Fil 2:9-11. Tapi JS membantahnya : “Apakah kata-kata “dalam nama Yesus bertekuk lutut” mengartikan bahwa kita harus berdoa kepada? Tidak. Ungkapan bahasa Yunani di sini mencakup “menunjukkan nama yang atasnya semua orang yang bertekuk lutut bersatu, yang atasnya semua [παν γόνυ] ibadat dipersatukan. Nama yang Yesus telah terima mendorong semua orang untuk bersatu dalam menyembah” (G.B. Winner, 1997:158, A Grammar of the Idiom of the New Testament, seventh ed., Andover). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, agar suatu doa dapat diterima, doa harus disampaikan “dalam nama Yesus”, namun meskipun demikian, ditujukan kepada Allah Yahweh dan berperan untuk memuliakan-Nya. ….” He…he… Ini bertentangan dengan Mat 4:10 atau Luk 4:8 yang baru anda bicarakan. Kalau sembah hanya boleh kepada Allah, lalu mengapa Fil 2 mengatakan semua akan menyembah Yesus? Bagaimana penjelasan anda ini bisa diharmoniskan dengan ayat-ayat seperti Yes 42:8 : “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung”?, (Lihat juga Yes 48:11) Coba anda jawab!!! Kalau Yesus bukan Allah, dan Ia adalah pribadi yang berbeda secara total dari Bapa, maka penyembahan terhadap Yesus jelas bertentangan dengan kedua ayat di atas ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan-Tanggapan Lepas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : “Sama seperti sebuah jalan menuju ke satu tujuan, demikian pula Yesus adalah “jalan” yang membimbing kepada Allah Yang Mahakuasa… (Yoh. 14:6). Maka, hendaknya menyampaikan doa-doa kepada Allah melalui Yesus dan tidak langsung kepada Yesus sendiri. Yesus bukan Allah Yang Mahakuasa, namun Yesus adalah Putra Allah, dan ia sendiri beribadat kepada Yahweh, Bapanya (Yoh. 20:17). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : Saya tidak menentang doa melalui Yesus. Itu memang benar! Tetapi itu kalau Yesus ditinjau sebagai Allah yang menjadi manusia / pengantara. Kalau Ia disoroti sebagai Allah, maka Ia adalah obyek doa! Dan itu ayat-ayat yang saya bahas di atas. Saya memperhatikan kedua kelompok ayat, anda hanya memperhatikan salah satu, yang sesuai dengan teologia anda yang menyedihkan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : Yesus adalah orang yang suka berdoa…..Ya, doa adalah bagian yang penting dalam kehidupan Yesus.….Maka, mengakhiri rangkaian artikel ini, bisakah “triotunggal”, EAS, Nelson M. Liem dan James Lola, menjawab pertanyaan sederhana: Mengapa Yesus berdoa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : Pertanyaan klasik dari Unitarian / Saksi-Saksi Yehuwa. Nelson dan James tak usah jawab. Saya yang jawab! Jawabnya mudah sekali, karena Ia bukan hanya sungguh-sungguh Allah, tetapi juga sungguh-sungguh manusia. Sebagai Allah, Ia adalah obyek doa; sebagai manusia, Ia berdoa. Gitu aja kok repot??? Gitu aja kok tidak ngerti!!!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tantangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sdr. JS, mengakhiri tanggapan saya ini, saya ingin ingatkan anda tentang tantangan saya yakni debat dari Kitab Suci untuk membuktikan doktrin Tritunggal/keallahan Yesus diajarkan Kitab Suci atau tidak. Saya mengajukan dasar kepercayaan saya dari Yoh 20:28 : “Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Jadi Tomas yang adalah murid Yesus mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah. Silahkan anda bantah ini. Jangan lari ke mana-mana dulu. Cukup bahas ayat ini saja sampai tuntas, sampai salah satu menyerah!!! Tantangan ini juga berlaku bagi semua Unitarian dan Saksi-Saksi Yehuwa di kolong langit ini. Saya tunggu !!! Sampai jumpa !!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Habis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* Penulis adalah Gembala Jemaat “REVIVAL MINISTRY” (Jl. Pipit Kel. LLBK; Belakang Terminal Kota Kupang)&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-4890711853880056693?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/4890711853880056693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=4890711853880056693&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/4890711853880056693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/4890711853880056693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/apologetika-tentang-doktrin-tritunggal_6047.html' title='APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (6)'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-7798076692340173458</id><published>2009-03-18T08:34:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T08:37:35.666-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (5)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Untuk Julius Sangguwali (JS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esra Alfred Soru &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan Justin Martyr sebagaimana yang dikutip JS? Sebagai bahan perbandingan, saya juga akan kutipkan beberapa pandangan tentang kepercayaan Justin Martyr. (Note : Saya tidak mengutip bahasa Inggrisnya demi menghemat tempat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philip Schaff menulis tentang kepercayaan Justin Martyr sebagai berikut : “Kristus adalah Akal dari akal, inkarnasi dari akal yang mutlak dan kekal. Ia adalah suatu obyek penyembahan yang benar. Dalam usahanya untuk mendamaikan pandangan ini dengan monoteisme, ia kadang-kadang menegaskan kesatuan moral dari kedua pribadi ilahi, dan kadang-kadang dengan jelas menundukkan Anak kepada Bapa / meletakkan Anak lebih rendah dari pada Bapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara itu Justin mengkombinasikan hypostasianisme, atau teori tentang keilahian Kristus yang bersifat pribadi dan tak tergantung, dengan subordinationisme (pandangan yang mengatakan bahwa Anak lebih rendah dari Bapa); karena itu, ia bukanlah Arian ataupun Athanasian; tetapi seluruh kecenderungan teologianya, bertentangan dengan bidat-bidat, jelas mengarah pada sistim ortodoks, dan seandainya ia hidup belakangan, ia akan menganut Pengakuan Iman Nicea. Hal yang sama bisa dikatakan tentang Tertullian dan tentang Origen” (History of the Christian Church, vol II, hal 549-550). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schaff juga menulis : “Begitulah dalam Justin, pelopor dari penemuan ilmiah dalam Pneumatologi maupun dalam Kristologi. Ia menolak / membantah tuduhan orang kafir tentang ateisme dengan penjelasan, bahwa orang-orang Kristen menyembah Pencipta dari alam semesta, di tempat yang kedua sang Anak, di ranking ketiga Roh nubuatan; menempatkan ketiga pribadi ilahi dalam tingkatan penyembahan yang menurun. ... ia meninggikan Roh jauh di atas semua makhluk ciptaan, dan menuntut untuk anggota-anggota dari Tritunggal ilahi suatu penyembahan yang dilarang untuk malaikat-malaikat” (History of the Christian Church, vol II, hal 561,562). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya : “Justin Martyr berulang-ulang menempatkan Bapa, Anak, dan Roh bersama-sama sebagai obyek dari penyembahan ilahi di antara orang-orang kristen (sekalipun tidak setara secara keseluruhan dalam kewibawaan)” (History of the Christian Church’, vol II, hal 569). Kutipan-kutipan di atas menunjukkan bahwa sekalipun Justin Martyr tidak menganggap bahwa ketiga pribadi (Bapa, Anak, Roh Kudus) itu betul-betul setara, dan dengan demikian doktrin Allah Tritunggalnya cacat, tetapi ia menganggap ketiga pribadi dalam Tritunggal itu sebagai obyek penyembahan ilahi, dan ia mengatakan bahwa penyembahan seperti ini dilarang untuk ditujukan kepada malaikat-malaikat! Berdasarkan hal ini, sukar dipercaya, bahkan mustahil untuk dipercaya, bahwa ia menganggap pra manusia Yesus sebagai malaikat, seperti yang dikatakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa! Data-data ini juga memperlihatkan bahwa doktrin Tritunggal memang tidak selalu dipahami dalam arti yang sama oleh para pemikir Kristen awal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya bidat dan pertikaian antara Gereja Timur dan Barat seputar kesamaan antara hakekat keilahian Bapa dan Kristus menunjukkan bahwa doktrin ini tidak selalu mudah untuk diterima. Bahkan setelah doktrin ini dirumuskan secara resmi dan cukup universal pun (setelah Konsili Nicea), berbagai bidat Tritunggal tetap bermunculan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, hal ini cukup untuk meruntuhkan tuduhan pihak non-Trinitarian bahwa doktrin Tritunggal baru dirumuskan pada abad ke-4 dan perumusan ini dipengarahui oleh filsafat Yunani seperti nyata dari kata-kata Frans Donald. Kutipan kata-kata bapa-bapa gereja membuktikan bahwa dari semula para bapa gereja telah menerima doktrin Tritunggal.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber sekuler &amp; data arkheologis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sumber sekuler dapat saya tambahkan di sini untuk membuktikan bahwa kepercayaan bahwa Yesus adalah Allah sudah ada sangat jauh sebelum konsili Nicea. Bukti ini datang dari surat Pliny the Younger. Pliny the Younger adalah gubernur di daerah Pontus/Bythinia pada tahun 111-113. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menulis surat kepada kaisar Trayanus mengenai orang-orang Kristen di propinsinya yang di dalam suratnya tersebut terdapat kalimat demikian : “...mereka (orang Kristen) sudah terbiasa berkumpul sebelum fajar pada hari yang telah ditetapkan, ketika secara bergantian mereka menyanyikan bait-bait dari sebuah himne kepada Kristus seperti kepada Allah” (Epistles 10.96). Bunyi surat lengkapnya dapat dilihat dalam buku “Documents of the Christian Church” (Ed. Henry Bettenson, Oxford University Press, 1975; hal.3-4) atau dalam buku karangan Josh McDowell yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Gandum Mas berjudul“Apologetika” (Vol. 3) hal. 60-62. Jika catatan ini diakui keasliannya, maka ini menjadi bukti objektif bahwa orang Kristen memang sejak awal sudah menganggap Yesus sebagai Allah. (Catatan : Untuk pembuktian bahwa kutipan Pliny the Younger adalah otentik, lihat F. F. Bruce, “Jesus &amp; Christian Origin outside the New Testament”, Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1974; Buku yang lebih baru tentang ini ditulis oleh Robert E. Van Voorst, “Jesus Outside the New Testament”, Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 2000). Terhadap data ini Yakub Tri Handoko mengatakan : “Jika kita mempertimbangkan bahwa praktik ini merupakan kebiasaan orang Kristen, maka tindakan memuji Kristus sebagai Allah kemungkinan besar sudah ada sejak lama sebelum Pliny the Younger menjadi gubernur. Hal ini sesuai dengan berbagai kutipan ayat Perjanjian Baru yang mengajarkan penyembahan dan penghormatan kepada Yesus”. (Bahan PA GKRI Exodus tanggal 4 Maret 2008; “Doktrin Tritunggal : Perkembangan Konsep Tentang Tritunggal”, hal. 14). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber sekuler lain yang juga dapat dilihat dalam “Apologetika” Josh McDowell seperti disebutkan di atas (hal. 71-72) adalah tulisan dari Lucianus dari Samosata, seorang pengarang syair sindiran yang hidup tahun 170. Ia menulis tentang orang-orang Kristen sebagai berikut : “Ketahuilah, orang-orang Kristen memuja seorang pria sampai pada hari ini – tokoh tersohor yang memperkenalkan tata ibadah baru, dan disalibkan karena hal tersebut. Orang-orang tersesat ini mulai dengan keyakinan yang umum bahwa mereka itu hidup kekal selamanya....dari saat mereka bertobat, dan menyangkal dewa-dewa Yunani, dan menyembah orang bijakasana yang disalibkan itu, serta hidup mereka menurut hukum-hukum-Nya...”. (The Death of Peregrine, 11-13). Perlu diketahui bahwa Lucianus ini adalah seorang yang memusuhi orang Kristen dan karenanya justru kesaksiannya menjadi sangat berharga untuk mengetahui iman orang-orang Kristen awal. Jelas bahwa orang-orang Kristen awal sudah memuja dan menyembah Kristus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakub Tri Handoko dalam sumber yang sama yang sudah disebutkan di atas juga memberikan data arkeologis kuno berkenaan dengan topik ini. Ia menulis : “Pada tanggal 30 Oktober 2005 para napi di penjara Megiddo (Israel) yang sedang terlibat untuk renovasi penjara itu secara tidak sengaja menemukan sebuah peninggalan kuno yang sangat penting. (Catatan : Para ahli menyebut ini sebagai “tempat pertemuan orang Kristen yang tertua yang pernah ditemukan di Israel dan mungkin merupakan salah satu yang tertua di antara penemuan-penemuan seperti ini” atau “salah satu penemuan terpenting untuk sejarah kekristenan awal". Scott Wilson, “Site May Be 3-rd Century Place of Christian Worship”, Washington Post, November 7, 2005, A14). Agen yang mengawasi penggalian ini terdiri dari para arkheolog yang ingin memastikan bahwa renovasi ini tidak akan merusakkan peninggalan kuno yang mungkin ditemukan. Berdasarkan barang keramik yang ditemukan, model mozaik dan ciri khas bangunan, para arkheolog yakin bahwa peninggalan ini sangat mungkin berasal dari abad ke-3. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa peninggalan arkheologis penting yang ditemukan, namun yang berkaitan dengan pembahasan kita kali ini adalah suatu keramik yang bertuliskan “Akeptous, orang yang mengasihi Allah, mempersembahkan meja ini untuk Allah Yesus Kristus sebagai sebuah peringatan”. (Catatan : Untuk bukti ini saya dapatkan dari artikel Rich Deem, “Jesus Christ as God and the Trinity Was Not Invented Until the Fourth Century?”. http://www.godandscience.org/apologetics/trinity.html). Penemuan ini memberi bukti tambahan yang cukup objektif bahwa Yesus Kristus sejak lama sudah diakui dan diberi penghormatan sebagai Allah. Fakta bahwa tulisan ini ditemukan di sebuah gereja semakin mempertegas bahwa keyakinan seperti ini bukan hanya sekedar keyakinan individu. Keyakinan ini adalah milik orang-orang Kristen”. (Yakub Tri Handoko, hal.14-15). Semua data ini membuktikan bahwa sejak awal sekali orang-orang Kristen telah percaya dan menyembah Kristus sebagai Allah. Jadi tuduhan Frans Donald sama sekali tidak benar dan pembelaan JS terhadap Frans juga sama tidak benarnya. Karena itu kata-kata JS : “Untuk menanggapi sekitar hal ini, terasa sudah cukup, untuk membuktikan EAS telah memanipulasi ajaran bapa-bapa pra-Nicea ini, menjadi: Lebih ‘indah kabar dari rupa” dapat saya anggap sebagai pernyataan/kesimpulan yang tergopoh-gopoh dan boleh dikatakan juga sebagai “indah kabar dari rupa”. Ha…ha… Payah benar!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beralih ke sumber primer -- tantangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk membuktikan doktrin Tritunggal atau keallahan Yesus dari segi sejarah. Mengapa? Karena sejarah hanyalah data/sumber tambahan/sekunder sebagaimana diakui juga oleh JS. Dan sejarah bisa salah. Dasar obyektif/primernya adalah Kitab Suci karena itu adalah Firman Allah. Karena itu sekarang saya mengajukan tantangan lagi kepada JS untuk debat dari Kitab Suci. Apakah Kitab Suci mengajarkan doktrin Tritunggal dan keallahan Yesus atau tidak? Tidak peduli apa kata sejarah, apa kata bapa-bapa gereja, dll tapi kalau Kitab Suci mengajarkan doktrin Tritunggal atau tidak, itu harus diterima. Kalau Kitab Suci mengajarkan Yesus sebagai Allah atau bukan, itu harus diterima. Bagaimana? Debatnya juga harus per topik sampai tuntas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lari kesana-kemari pakai jurus kutu loncat seperti Frans Donald, dkk. Biar jelas siapa menang dan siapa kalah, siapa benar siapa salah. Kalau anda tidak terima tantangan ini berikan alasan mengapa anda tidak mau berdebat dari Kitab Suci yang menurut anda sendiri adalah sumber terilham? Kalau anda terima, maka saya yang akan mulai lebih dahulu. Saya akan ajukan 1 ayat Kitab Suci yang membuktikan bahwa Yesus adalah Allah. Ayat ini adalah Yoh 20:28 : “Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Menurut saya ayat ini menunjukkan bahwa Tomas yang adalah murid Yesus sendiri memberikan pengakuan iman bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah. Yesus tidak membantahnya sama sekali dan itu menunjukkan bahwa Yesus menerima pernyataan Tomas itu. Jadi Dia adalah Tuhan dan Allah. Nah, silahkan anda membantahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, hanya poin ini saja yang dibahas. Jangan lari kemana-mana. Nanti kalau tuntas baru kita pindah ke ayat lainnya. Tantangan ini juga saya ajukan kepada semua orang yang membaca tulisan ini terutama pihak Unitarian dan Saksi-Saksi Yehuwa. Siapa saja boleh menanggapinya dan saya akan ladeni semuanya tapi ingat, hanya poin ini dulu. Saya tunggu!!!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Berdoa Kepada Yesus (Yoh 14:14)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan tanggapan saya kepada Frans Donald kali lalu, saya sempat mengajukan sejumlah ayat Kitab Suci yang menunjukan bahwa doa boleh ditujukan kepada Yesus untuk menanggapi kata-kata Rm. Tom Jacobs yang dikutip oleh Frans Donald. Tapi rupa argumentasi saya berdasarkan ayat-ayat itu dibantah oleh JS. Misalnya tentang Yoh 14:14 : “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." Saya mengatakan : “Bukankah kata ‘kepadaKu’ ini menunjukkan bahwa doa bukan hanya boleh ditujukan kepada Bapa, tetapi juga kepada Yesus?” Tapi JS mengatakan : “...mengapa EAS hanya memperhatikan ayat 14 saja, dan mengabaikan ayat-ayat lain? Dengan berbuat begitu, jelas EAS melakukan penafsiran: Jauh panggang dari api; mengabaikan konteks ayat”. He..he… saya hanya bisa tertawa membaca kata-kata JS ini. JS rupanya mau menjadi seorang penyair tanpa mengerti apa yang dia ucapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungan ‘mengabaikan konteks’ dengan ‘jauh panggang dari api’? Betul-betul suatu perumpamaan yang tak ada hubungannya! Setelah memberikan sejumlah penjelasan tentang ayat ini, JS akhirnya menulis : ‘Tafsir yang dipaksa oleh EAS ini akan runtuh jika diadakan studi perbandingan ayat dari Alkitab lain. Kata ‘kepadaKu’ di ayat 14 ini yang menjadi tumpuan EAS, ternyata tidak ada di sejumlah Alkitab. Good News Bible (Alkitab Kabar Baik) (2004) menerjemahkan ayat ini menjadi, “If you ask me for anything in my name, I will do it” (“Apa saja yang kalian minta atas nama-Ku, akan Kulakukan”). Kitab Suci Komunitas Kristiani (2002) menerjemahkan, “Dan segala sesuatu yang kamu minta sambil menyerukan nama-Ku, akan Kubuat.” The Kingdom Interlinear Translation of the Greek Scriptures (1969) menerjemahkan, “έάν τι αίτήαητέ με έν τώ όνόματί μου τοûτο ηοιήσω/if ever anything YOU should ask me in the name of me this I shall do (If YOU ask anything in my name, I will do it/Jika kamu meminta apa pun dengan namaku, aku akan melakukannya). Dari perbandingan demikian, maka kata ‘kepada-Ku’, di tiga terjemahan tersebut, sekali lagi tidak ada”. He..he… lucu sekali saya membaca kata-kata JS :‘Tafsir yang dipaksa oleh EAS ini akan runtuh jika diadakan studi perbandingan ayat dari Alkitab lain”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mau meruntuhkan tafsiran saya dengan argumentasi murahan di atas? Tunggu dulu ! Anda mau mengadakan studi perbandingan ayat dari Alkitab lain ? Anda mengutip 3 terjemahan yang Alkitab yang tidak ada kata “kepadaKu”. Itu memang benar tapi anda juga harus ingat bahwa ada banyak juga terjemahan Alkitab yang ada kata “kepadaKu”. Misalnya New International Version (NIV) : ‘You may ask me for anything in my name, and I will do it’ (Kamu boleh meminta kepadaKu apa pun dalam namaKu, dan Aku akan melakukannya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New American Standard Bible (NASB) : ‘If you ask Me anything in My name, I will do it’ (Jika kamu meminta apapun kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya). Contemporary English Version (CEV) : “I will do whatever you ask me to do” (Aku akan melakukan apapun yang kamu minta kepadaKu untuk melakukannya). Todays English Version (TEV) : “If you ask me for anything in my name, I will do it. (Jika kamu meminta kepadaKu segala sesuatu dalam namaKu, Aku akan melakukannya). Saya masih bisa menunjukkan banyak terjemahan lagi yang mempunyai kata-kata “kepadaKu” itu untuk mengimbangi 3 terjemahanmu yang tidak mempunyai kata “kepadaKu” itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jangan terlalu percaya diri dulu bahwa anda bisa begitu gampangnya meruntuhkan tafsiran saya. Jelas terlihat bahwa ada terjemahan yang tidak mempunyai kata “kepadaKu” itu seperti yang sudah anda kutip dan ada terjemahan yang mempunyai kata itu seperti yang saya kutip. Mengapa bisa begitu? Biar saya jelaskan kepada anda. Kata ‘kepadaKu’ dalam ayat ini memang diperdebatkan keasliannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada manuscript yang mempunyainya dan ada manuscript yang tidak mempunyainya. Sekarang pertanyaannya adalah apakah manuscript yang tidak mempunyai kata itu yang menghapusnya, atau manuscript yang mempunyai kata itu yang menambahinya? Pdt. Budi Asali berkata : “Saya setuju dengan Bruce M. Metzger, yang berpendapat bahwa beberapa manuscript menghapus bagian yang sebetulnya asli ini karena salah satu dari 2 alasan di bawah ini: (1) Kata-kata ‘meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu’ kelihatannya aneh. Seperti yang dikatakan oleh F. F. Bruce: “If something is asked for in Jesus’ name, the request is probably viewed as addressed to the Father” (= Jika sesuatu diminta dalam nama Yesus, permintaan itu mungkin dipandang sebagai ditujukan kepada Bapa) - hal 301. (2) Keinginan membuang kontradiksi antara ayat ini dengan Yoh 16:23, di mana doa dalam nama Yesus itu ditujukan kepada Bapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metzger mengatakan bahwa kata ‘kepadaKu’ ini didukung oleh cukup banyak manuscript, dan kata ini kelihatannya didukung oleh / sesuai dengan kata-kata ‘Aku akan melakukannya’ pada akhir dari ay 14. (Bagaimana Menaklukan dan Membongkar Fitnah/Dusta/Kepalsuan Saksi-Saksi Yehuwa; Jilid II : 22). Jadi sebenarnya kata “kepadaKu” itu ada dalam teks aslinya dan dengan demikian terjemahan-terjemahan yang ada kata “kepadaKu” itulah yang benar dan terjemahan-terjemahan yang tidak ada kata “kepadaKu” yang anda kutip itu yang salah. Sekarang bagaimana? Apakah anda telah meruntuhkan pendapat saya? Hanya karena ada dua pembacaan (berarti ada 2 kelompok manuscripts), anda langsung menyatakan tanpa bukti/dasar apapun bahwa yang benar adalah yang tidak menggunakan kata ‘kepada-Ku’?!! Bagus sekali, tidak bisa lebih tidak ilmiah dari itu bung??? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan-Tanggapan Lepas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya akan memberikan tanggapan atas pernyataan-pernyataan JS yang masih ada kaitan dengan topik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : “EAS keliru berpendapat, “…bahwa doa bukan hanya boleh ditujukan kepada Bapa, tetapi juga kepada Yesus”, yang sangat mengekor pada penafsiran/pendapat Leon Morris”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan Saya : He…he… terus bagaimana tanggapan anda atas argumentasi saya di atas. Anda mengatakan saya mengekor tafsiran Leon Morris? Sekarang saya tanya balik pada anda. Apakah anda sendiri tidak mengekor pada penerjemah-penerjemah dari Kitab Suci-Kitab Suci yang membuang kata ‘kepadaKu’ itu??? Sebaiknya anda berkaca dulu sebelum menyerang biar itu tidak menjadi bumerang bagi diri anda sendiri! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersambung….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* Penulis adalah Gembala Jemaat “REVIVAL MINISTRY” (Jl. Pipit Kel. LLBK; Belakang Terminal Kota Kupang)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-7798076692340173458?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/7798076692340173458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=7798076692340173458&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/7798076692340173458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/7798076692340173458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/apologetika-tentang-doktrin-tritunggal_4562.html' title='APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (5)'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-2924427511463576774</id><published>2009-03-18T08:32:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T08:34:20.255-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (4)</title><content type='html'>Tanggapan Untuk Julius Sangguwali (JS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:Esra Alfred Soru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : “….saya ingin mengutip pandangan Will Durant, yang adalah sejarawan mengakui dengan jujur tentang asal-usul doktrin Tritunggal dalam bukunya, The Story of Civilization: Part III, (1978:595), ‘Kekristenan tidak membuang kekafiran; melainkan menerimanya….Dari Mesirlah gagasan mengenai suatu tritunggal ilahi muncul (kursif, pen.). Jelas, doktrin Tritunggal tidak berdasarkan Alkitab, tetapi dengan resmi barulah ratusan tahun kemudian diterima pada Konsili Nicea tahun 325. Doktrin tersebut memasukkan gagasan kafir yang mempunyai asal-usul lama berselang di Babel dan Mesir zaman purba dan digunakan di negeri-negeri lain juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : Anda katakan sejarawan tersebut ‘mengakui dengan jujur’. Apa dasarnya anda mengatakan ‘dengan jujur’? Apakah hanya karena kata-kata dia sesuai pandangan anda? Alangkah subyektifnya! Buktikan bahwa doktrin Allah Tritunggal berasal dari agama kafir! Tunjukkan apa agamanya, dan bagaimana ajarannya, baru bicara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kepercayaan Pra Nicea&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tanggapan saya terhadap Frans Donald, saya mengutipkan banyak pandangan dari bapa-bapa gereja untuk membuktikan bahwa kepercayaan terhadap doktrin Tritunggal sudah ada sebelum konsili Nicea. Namun beberapa data yang saya ungkapkan ini dibantah oleh JS misalnya tentang Aristidas, Justin Martyr dan Polycarp dan JS membuat kesimpulan : “Untuk menanggapi sekitar hal ini, terasa sudah cukup, untuk membuktikan EAS telah memanipulasi ajaran bapa-bapa pra-Nicea ini, menjadi: Lebih ‘indah kabar dari rupa’. He…he… lucu sekali kata-kata JS ini. Dalam tulisan saya, saya memberikan begitu banyak kutipan pandangan bapa-bapa gereja seperti Aristides, Justin Martyr, Mathetes, Tatian, Melito, Irenaeus, Theophilus, Clement, Tertullian, Hippolatus, Origenes, Novatian, Ignatius, Cyprian, Gregory the Wonder-worker, Methodius, Arnobius, dan Lactantius. Jadi ada 18 nama yang saya kutipkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya memang Aristides, Justin Martyr dan Polycarp memang tidak mengajarkan Tritunggal, berarti baru 3 pendapat yang digugurkan oleh JS. Lalu bagaimana dengan 15 pendapat yang lain? Karenanya kalau hanya menggugurkan 3 dan berkesimpulan semacam di atas, jelas sangat lucu. Katakanlah bahwa memang Aristides, Justin Martyr dan Polycarp tidak mengajarkan Tritunggal atau tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah, lalu bagaimana dengan kata-kata Mathetes : “Ini adalah Ia yang berada dari kekal, yang sekarang disebut Sang Putera”. Bagaimana dengan kata-kata Tatian the Syrian : “…Allah telah lahir dalam bentuk seorang manusia”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kata-kata Melito dari Sardis : “Aktivitas dari Kristus….memberikan indikasi dan jaminan pada dunia tentang keilahian-Nya yang tersembunyi di dalam daging. … Ia menyembunyikan tanda-tanda keilahianNya walaupun Ia adalah Allah yang sejati sebelum segala zaman”. Bagaimana dengan kata-kata Irenaeus : “Selanjutnya Ia (Allah) menciptakan segala sesuatu, bersama Firman-Nya yang dengan tepat disebut Allah dan Tuhan, …”, “…Kristus Yesus adalah Tuhan kami, dan Allah, …”. ““Yesus Kristus adalah satu dan sama, satu-satunya Anak Allah, Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kata-kata Clement : “Anak-Nya Yesus, Firman Allah adalah instruktur kita…Ia adalah Allah dan pencipta”, “Aku mengerti bahwa tidak ada hal lain lagi yang lebih daripada Tritunggal Yang Kudus…Yang ketiga adalah Roh Kudus, dan Anak yang kedua, yang olehNya segala sesuatu diciptakan menurut kehendak Sang Bapa”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kata-kata Origen : “Tidak ada dalam Tritunggal yang dapat disebut yang terbesar atau lebih kecil, …”, “…Yesus Kristus sendiri berasal dari Allah Bapa sebelum segala ciptaan ada… Walaupun Dia Allah, Dia menjadi daging dan mengambil rupa manusia, namun DIA TETAP DIA ADANYA, yaitu ALLAH”. Bagaimana dengan kata-kata Novatian : “…Dia sebagai Anak Allah yang adalah Allah…. karena itu, biarlah mereka yang membaca bahwa Yesus Kristus Anak Manusia itu adalah manusia juga membaca bahwa Yesus yang sama juga adalah Allah dan Anak Allah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kata-kata Ignatius : “Kita juga punya seorang tabib yaitu Tuhan Allah kita, Yesus Kristus,…”, “Bagi Allah kita Yesus Kristus, ada di dalam Bapa adalah penyataan yang lebih jelas” Bagaimana dengan kata-kata Cyprian : Siapa yang menyangkal Yesus sebagai Allah tidak dapat menjadi bait Roh Kudus”. Bagaimana dengan kata-kata Gregory the Wonder-worker : “…kita percaya bahwa 3 pribadi yang disebut Bapa, Anak dan Roh Kudus menyatakan memiliki satu ketuhanan”. Bagaimana dengan kata-kata : “Karena kerajaan Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu, bahkan substansi mereka adalah satu dan kedaulatanNya satu. Yang mana, dengan pemujaan yang satu dan sama, kita menyembah satu Allah dalam 3 pribadi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kata-kata Arnobius : “Apakah Kristus Tuhanmu? Memang Dia Tuhan, dan Allah dari kuasa yang tersembunyi”. Bagaimana dengan kata-kata Lactantius : “…Jadi Dia Allah dan manusia..”. Silahkan gugurkan semua ini dulu baru bilang bahwa saya memanipulasi ajaran bapa-bapa gereja. Kalau anda hanya bisa gugurkan 3, paling-paling yang bisa anda buktikan adalah bahwa saya salah dalam memahami ajaran 3 tokoh ini tapi tidak pernah bisa meruntuhkan kesimpulan bahwa bapa-bapa gereja memang mengajarkan Tritunggal dan keallahan Yesus. Karena itu kesimpulan yang anda buat di atas terlalu tergesa-gesa. Peribahasa/ungkapan yang cocok untuk hal ini selain ‘Jauh Panggang Dari Api’ adalah ‘Jauh Julius Dari Pintar’.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Hanya Dua Subjek&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mengutipkan kata-kata Justin Martyr, JS mengomentarinya dengan berkata : “…Kutipan ini, hanya menunjukkan dua subjek. Di mana subjek ketiganya?....Kutipan EAS pada kalimat terakhir, ‘Justin Martyr yang hidup pada tahun 150 M sudah percaya bahwa Yesus adalah Allah”, tentu tidak sama secara tersurat, ia percaya doktrin Tritunggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini namanya: Indah kabar dari rupa (kabar biasanya melebihi keadaan sebenarnya). Memang kalau diperhatikan kutipan-kutipan yang saya berikan, kebanyakan hanya menyatakan 2 subyek (Bapa dan Anak). Tetapi tidak semua kan? Ada juga kutipan yang membicarakan 3 subyek (Bapa, Anak dan Roh Kudus). Silahkan lihat kembali kutipan-kutipan tersebut! Apa jawabmu tentang yang 3 subyek itu? Lalu tentang kutipan yang hanya 2 subyek saja, he…he… kata-kata anda itu kata-kata yang ngawur. Sepertinya anda perlu latihan membaca dengan baik. Harusnya anda memahami dalam konteks apa bapa-bapa gereja itu berbicara. Kalau yang diperdebatkan adalah keilahian Kristus, maka tentu Roh Kudus tak dibicarakan di sana. Sama seperti dalam Sidang Gereja Nicea yang dibicarakan hanya keilahian Yesus, bukan Roh Kudus. Tetapi itu tak berarti mereka tak percaya bahwa Roh Kudus adalah Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti cara berpikir anda maka saya juga bisa mengatakan hal yang sama. Dalam buku tipis kalian berjudul ‘Saksi-Saksi Yehuwa, Siapakah Mereka? Apakah yang Mereka Percayai?’, hal 13, dituliskan ‘Inti Kepercayaan Saksi-Saksi Yehuwa’ sebanyak 42 point / hal, tetapi anehnya di sini sedikitpun tak disinggung apa pun berkenaan dengan ‘Roh Kudus’. Bolehkah karena itu saya berkata bahwa Saksi-Saksi Yehuwa tidak mempunyai ajaran apa pun tentang Roh Kudus? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He..he.. kalian memang mempunyai kebiasaan membuat aturan/rumus yang diterapkan kepada pihak lain tetapi tidak menerapkannya kepada diri sendiri atau melanggar aturan/rumus buatan sendiri itu. Karena itu wajar kalau yang disebutkan di sana hanya 2 subyek karena konteks yang dibicarakan bapa-bapa gereja itu adalah tentang Yesus. Yang jelas kalau bapa-bapa gereja itu mempercayai Yesus sebagai Allah, maka mereka pasti bukan Unitarian! Betuuullll tidak???? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masalah Kutipan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai masalah kutipan, JS menulis : “Akan tetapi, sebelumnya terus terang saya ragu terhadap kutipan yang dipakai? EAS mencantumkan dengan metode (cara) yang tidak lazim, sebagaimana sudah dikutip di atas seperti ini: Justin Martyr, First Apology, ch 63; Dialogue with Trypho, ch 56, dan 63; Justin Martyr in Chap. LXVI; Dialogue of Justin with Trypho, …. Memang benar Justin Martyr menulis beberapa buku seperti Dialogue With Trypo dan First Apology dalam bahasa Yunani. Tetapi apakah EAS memiliki buku-buku ini. Saya yakin tidak. Jadi secara metode, EAS harus mencantumkan sumber bahan yang menulis buku-buku Justin Martyr. Jika sumber itu berupa buku, apa nama judul bukunya. Kalau dalam bahasa asing, kutip pula bahasa aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode semrawut ini, apa memang disengaja untuk menutupi sesuatu sehingga pembaca bingung? Dengan demikian, pernyataan EAS pada tulisan terakhirnya (Timex, Jumat, 12/12/2008:4), “Saya sudah membuktikan bahwa hampir sebagian besar kutipan yang dilakukan oleh Frans Donald adalah hasil penipuan dan manipulasi…siapa bisa jamin bahwa dalam buku-buku…Frans mengutip dengan jujur kalau sebagian besar dengan cara tidak jujur?”, pantas dikembalikan pada EAS?” Sebelum saya menanggapi masalah kutipan ini, satu hal yang perlu saya katakan adalah bahwa kelihatannya logika JS ini sedikit payah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengatakan kalimat di atas setelah membuktikan bahwa Frans Donald melakukan pengutipan sebagian yang sifatnya menipu. Tetapi JS belum membuktikan bahwa saya melakukan hal seperti itu. Ini adalah 2 hal yang berbeda, jadi jangan menyamakan keduanya. Penyamaan keduanya hanya memperlihatkan lemahnya logika anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yakin bahwa saya tidak punya buku-buku itu? He..he..emangnya anda dukun? Biar saya beritahu pada anda bahwa saya memiliki semua buku itu walaupun tidak di dalam bahasa Yunaninya melainkan yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam bentuk e-book atau electronic book. Jadi saya tidak mengutip dari buku lain yang mengutip kata-kata bapa-bapa gereja itu melainkan mengutipnya dari buku bapa-bapa gereja itu sendiri yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahkah itu? Anehkah itu? Saya mempunyai sebuah CD yang namanya “New Advent CD-ROM” (Second Edition). Di sana diberikan keterangan sebagai berikut : Translated by Marcus Dods and George Reith. From Ante-Nicene Fathers, Vol. 1. Edited by Alexander Roberts, James Donaldson, and A. Cleveland Coxe. (Buffalo, NY: Christian Literature Publishing Co., 1885.) Revised and edited for New Advent by Kevin Knight. Saya juga mempunyai sebuah program Alkitab yang namanya PC. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Study Bible 5 yang di dalamnya memuat tulisan bapa-bapa gereja itu dalam bahasa Inggris. Saya juga mempunyai buku dengan judul “The Early Christian Fathers” yang ditulis oleh Henry Bettenson (Oxford University Press, 1969) yang berisi ajaran dari bapa-bapa gereja. Silahkan anda periksa di sana dan buktikan bahwa saya telah memanipulasi ajaran/iman bapa-bapa gereja seperti tuduhan anda. Anda menuntut saya memberikan kutipan dalam bahasa aslinya (Yunani)? Saya anggap anda terlalu mengada-ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalau kutipan dalam bahasa Inggris itu masih bisa diterima, dan bisa dilakukan, lalu disertai terjemahan. Tetapi masalahnya, tulisan jadi terlalu panjang, padahal menulis dalam koran Timex ini bukannya tak terbatas. Jadi, begini saja, yang mana yang anda tidak percayai, silahkan ditanyakan, dan saya akan buktikan. JS menulis : “Apakah ini juga bukan maling teriak maling? Tentu pembaca yang lebih tahu. Saya hanya ingin lagi menyatakan: Indah kabar dari rupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kutip mengutip itu adalah masalah teknis yang bisa diperbaiki kemudian. Janganlah mengabaikan peribahasa yang sudah terbukti: Tiada gading yang tak retak. Silakan EAS memperbaiki sumber kutipan pada tanggapan berikut, pasti FD akan melakukan hal yang sama, maka selesailah masalah teknis ini. Itu namanya, etika dalam berargumen. He…he… anda belum membuktikan kesalahan saya tetapi sudah bilang “maling teriak maling”? Anda payah sekali dalam berargumentasi. Tepat sekali ungkapan yang saya buat sendiri “Jauh Julius Dari Pintar”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak ada gading yang tak retak tapi masalahnya dengan Frans Donald adalah ia telah dengan sengaja memanipulasi data-data untuk mendukung pandangannya. Apa itu tak layak disebut sebagai licik? Jadi peribahasa “tak ada gading yang tak retak” itu cocok untuk saya kalau memang saya salah karena tidak memberikan/melakukan kutipan seperti yang anda mau. Tapi jelas itu tidak cocok diterapkan pada Frans yang jelas secara sengaja memanipulasi data. Anda berkata : “Terasa kanak-kanak ungkapan EAS ini, “Salahkah jika Sdr. Anton Bele berkata ‘Anathema Sit!?’ Silahkan pembaca menilai sendiri!!! Saya hanya menghadirkan Frans Donald yang sudah ‘telanjang’ di hadapan para pembaca sekalian dan silahkan masing-masing orang memberikan penilaian kepada si Unitarian ini!!”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weleh-weleh ini namanya: Lain gatal lain digaruk (lain sakit lain obatnya). JS, ingatlah bahwa dalam tulisan saya kali lalu, saya membahas 2 hal yakni kepercayaan bapa-bapa gereja pra Nicea dan kutipan-kutipan palsu Frans Donald. Lalu bagaimana anda mempersoalkan masalah kutipan saya dari bagian pertama tulisan saya demi membela Frans yang memanipulasi kutipan dalam tulisan saya yang kedua? Tak nyambung bung!!! Weleh-weleh ini namanya lain gatal lain digaruk (lain sakit lain obatnya). He..he… Memang sudah terbukti Frans Donald ditelanjangi kok masih dibela. Lumrah, nabi palsu membela nabi palsu. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan-Perbandingan&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS dalam melengkapi argumentasinya juga mengungkapkan beberapa data sebagai perbandingan dengan mengutip Dr. H.R. Boer (A Short History of the Early Church, 1976:110) yang mengomentari hakikat utama pengajaran Para Apoligis seperti Justin Martyr yang mengajarkan bahwa Anak (Yesus) sebenarnya adalah ciptaan dari Bapa di mana Ia lebih rendah dan bergantung kepada Bapa. Juga kutipan dari Didache dan beberapa sumber lain seperti termasuk tentang Polycarp. Sdr. JS, kalau anda meneliti tulisan saya kali lalu, saya mengatakan bahwa bapa-bapa gereja pra Nicea sudah mempercayai doktrin Tritunggal tetapi saya tidak mengatakan bahwa doktrin Tritunggal yang mereka pahami itu sudah sempurna. Bahkan saya mengatakan bahwa di akhir semua kutipan itu : “Demikianlah iman bapa-bapa gereja pada masa pra konsili Nicea. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas terlihat bahwa mereka percaya akan doktrin Tritunggal dan keallahan Yesus. Walaupun ada beberapa di antara mereka yang mempunyai konsep Tritunggal yang tidak sempurna namun jelas bahwa iman kepada Allah Tritunggal itu sudah hidup dalam hati dan pikiran mereka jauh sebelum diselenggarakannya konsili Nicea. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya mengakui bahwa pandangan bapa-bapa gereja itu belum sempurna. Louis Berkhof menggambarkan ajaran dari bapa-bapa gereja ini sebagai berikut : “…Di sana tidak ada kesegaran dan keorisinilan, kedalaman dan kejelasan yang sama. Dan ini tidak mengherankan, karena itu berarti perpindahan dari kebenaran yang diberikan oleh pengilhaman yang tak bisa salah kepada kebenaran yang direproduksi oleh pelopor-pelopor yang bisa salah” (The History of Christian Doctrines, hal 38). Berkhof melanjutkan : “Ajaran mereka bercirikan kemiskinan tertentu. Mereka pada umumnya sesuai sepenuhnya dengan ajaran Kitab Suci, sering dituliskan dalam kata-kata Kitab Suci sendiri, tetapi menambahkan sangat sedikit sebagai penjelasan dan sama sekali tidak sistematis” (Ibid, 38-39). Itulah gambaran tentang ajaran bapa-bapa gereja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apakah itu berarti bahwa mereka tidak mempercayai doktrin Tritunggal? Simak pendapat Pdt. Budi Asali tentang hal ini : “Adanya ajaran / kepercayaan sesat dalam kalangan bapa-bapa gereja pra-Nicea tidak berarti bahwa mereka tidak mempunyai ajaran / kepercayaan yang benar / baik. Sebetulnya ajaran yang benar tentang Kristologi dan tentang Allah Tritunggal, sudah ada dalam bapa-bapa gereja ini, tetapi mungkin tidak ada yang mempunyainya secara keseluruhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi seandainya ajaran-ajaran tersebut dikelompokkan dalam 10 kelompok, maka mungkin bapa gereja A mempercayai pandangan kelompok 1,5,9,10; bapa gereja B mempercayai pandangan kelompok 2,4,7,8; bapa gereja C mempercayai pandangan kelompok 3,5,6,10, dst. Jadi seluruh pandangan yang benar tentang Kristologi dan Allah Tritunggal, sudah ada, tetapi terpencar-pencar dalam diri dari banyak bapa-bapa gereja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru pada saat Sidang Gereja Nicea, yang melahirkan Pengakuan Iman Nicea dan selanjutnya, maka ajaran / kepercayaan tentang Kristologi dan Allah Tritunggal yang benar betul-betul menjadi solid dalam seluruh gereja yang benar”. (Bagaimana Menaklukan dan Membongkar Fitnah/Dusta/Kepalsuan Saksi-Saksi Yehuwa; Jilid IV : 65). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apakah aneh kalau untuk mempelajari Allah yang tidak terbatas gereja membutuhkan berabad-abad untuk mendapatkan kesimpulan yang betul-betul lengkap? Karena itu sekalipun Aristides maupun Polycarp tidak menyinggung kesatuan di antara ketiga pribadi (Bapa, Anak dan Roh Kudus), sekalipun doktrin Justin Martyr cacat, tidak bisa disimpulkan bahwa mereka atau lebih daripada itu bapa-bapa gereja/apologist pra Nicea tidak percaya akan doktrin Tritunggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polycarp sendiri dalam doa terakhirnya pada waktu api membakar dirinya mengatakan : “Tuhan Allah yang maha kuasa, Bapa dari AnakMu yang kekasih dan terpuji / diberkati, Yesus Kristus, ...Aku memuji Engkau karena menganggap aku layak untuk hari dan saat ini sehingga aku bisa ada di antara martir-martir-Mu dan meminum cawan dari Tuhanku Yesus Kristus, kepada kebangkitan hidup kekal dari jiwa dan tubuh dalam ketidakbusukan dari Roh Kudus. ... Untuk mana aku memuji Engkau untuk semua belas kasihan-Mu; Aku memuji Engkau, aku memuliakan Engkau, melalui Imam Besar yang kekal, Yesus Kristus, AnakMu yang kekasih, dengan siapa bagi diriMu sendiri dan Roh Kudus, kemuliaan sekarang dan selama-lamanya. Amin” (Philip Schaff; History of the Christian Church, vol II, hal 670). Perhatikan kata-kata ini kelihatannya menunjukkan kepercayaan kepada Allah Tritunggal, dan kekekalan Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersambung…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* Penulis adalah Gembala Jemaat “REVIVAL MINISTRY” (Jl. Pipit Kel. LLBK; Belakang Terminal Kota Kupang) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-2924427511463576774?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/2924427511463576774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=2924427511463576774&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2924427511463576774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2924427511463576774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/apologetika-tentang-doktrin-tritunggal_329.html' title='APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (4)'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-6098653658804433118</id><published>2009-03-18T08:29:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T08:31:53.458-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Untuk Julius Sangguwali (JS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:Esra Alfred Soru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan sebelumnya saya sudah membahas maksud dari kata-kata Dr. Eben Nuban Timo yang saya kira salah dipahami oleh JS. Yang dimaksudkan Dr. Eben sama sekali lain daripada yang dipahami JS. Karena ketidakpahaman inilah makanya JS mengeluarkan kalimat ngawur : ‘Jadi ‘karena tuntutan zaman’, berarti penyebabnya bukan dari dalam (tuntutan Alkitab), sebaliknya tuntutan (faktor) dari luar Alkitab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bukan tuntutan Alkitab? Karena Alkitab tidak pernah menulis tentang jati diri Allah Tritunggal/Trinitas’ dan juga kalimat ngawur lainnya : ‘Secara tidak langsung menunjukkan ajaran Trinitas telah mengalami desakan supaya sejalan dengan kecenderungan zaman (trend) memiliki sejarah yang panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya orang yang tidak mengerti Kitab Suci yang menganggap bahwa dasar dari doktrin Tritunggal bukanlah Alkitab melainkan tuntutan zaman. Kalau memang karena tuntutan zaman seperti yang dipahami JS, saya ingin bertanya, sekarang zaman sudah berubah, lalu mengapa doktrin itu tetap? Sedikit catatan untuk Dr. Eben Nuban Timo : Dr. Eben, saya rasa JS telah salah memahami apa yang pak Doktor katakan. Tapi yang tahu persis adalah pak Doktor sendiri sebagai penulisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau apa yang saya katakan ini benar, tolong pak Doktor mengklarifikasi dan meluruskan jalan pikiran si Saksi Yehuwa yang sok tahu ini. Tapi seandainya yang pak Doktor maksudkan memang seperti kesimpulan JS, maka saya menganggap bahwa pak doktor dan JS sama parahnya, sama kacaunya. Kembali ke persoalan tentang progressive revelation, saya sudah buktikan itu dari Kitab Suci. Dengan kata lain apa yang saya katakan ini ada dasar Kitab Sucinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mana dasar Kitab Suci dari keberatan JS? Tidak ada? Jadi anda hanya memakai logika saja tanpa Kitab Suci? Masih ingat teori anda di awal tulisan anda agar kita membandingkan ayat-ayat dan mempertimbangkan artinya? Teori anda itu bagus sekali tapi pelaksanaannya nol besar (nol kaboak). Ungkapan yang cocok bagi kesenjangan antara teori anda dan pelaksanannya adalah : “Bagaikan Bumi dan Langit” atau boleh juga “Indah Kabar Dari Rupa” atau boleh juga “Jauh Panggang Dari Api”. Ha…ha…ha… Karena itu kata-kata Frans Donald sebagaimana yang anda kutip : “Bagi saya cukup jelas, sejarah tidak bisa disangkal lagi, Trinitas yang menyatakan Yesus sebagai Allah sejati adalah berasal dari alam pikir filsafat Yunani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat Yunani memang sangat sesuai untuk kebudayaan debat (Apologet) dan adu filosofi karena memiliki multi tafsir dalam pemaknaannya. Dengan filsafat Yunani, hitam bisa dibilang putih, putih bisa dibilang hitam. Tiga bisa dibilang satu, satu dibilang tiga. Sangat berbeda dengan konsep Yahudi, tiga ya tiga, satu ya satu….” adalah kata-kata yang ngawur. Frans Donald sok mengerti Yunani dan Ibrani. Coba suruh dia beri contoh dari kata-katanya di atas. Jangan asal bicara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap kata-kata Frans Donald itu JS menulis di bawah judul kecil “Fundamentalis-buta” : Pendapat FD yang bernuansa sejarah ini, senada dengan ENT yang adalah penganut Trinitas/Tritunggal, tetapi mengapa EAS bersikap tidak jujur dan membantah? Dalam tanggapan baliknya (Timex, Jumat, 25/1/2007:4), EAS menulis, “Apa yang dituduhkan oleh FD ini mirip sekali dengan tuduhan murahan aliran Saksi Yehovah....FD berkata ‘sejarah telah membuktikan?’ Mana sejarahnya? Coba buktikan! Jangan cuma ngomong dong!” Aneh pendapat EAS ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah ada bukti sejarah yang menumpuk bahwa adanya ajaran Tritunggal ‘karena tuntutan zaman’ (pendapat Dr ENT) sebagai faktor luar (bukan Alkitab), tapi meminta bukti yang bagaimana lagi? Jelas ini mengada-ada. Hanya orang-orang fundamentalis-buta yang memang sering bersikap tidak masuk akal. He…he… maaf saya hanya bisa tertawa untuk hal ini karena sudah saya jawab di atas maupun dalam tulisan sebelumnya terutama tentang pandangan Dr. Eben Nuban Timo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya memang yang dimaksudkan Dr. Eben Nuban Timo seperti yang anda maksudkan, itu hanya menunjukkan bahwa pandangan semacam itu adalah pandangan yang sangat konyol dan tak layak disebut sebagai bukti sejarah. Seandainya memang yang dimaksud Dr. Eben Nuban Timo seperti yang anda maksudkan sehingga anda pegang kata-katanya sebagai dasar, saya justru hendak bertanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layakkah anda percaya pada kata-kata orang yang tidak percaya Alkitab sepenuhnya adalah Firman Allah? (Saya bisa buktikan bahwa Dr. Eben memang tidak percaya Alkitab sepenuhnya adalah Firman Allah). Layakkah anda percaya pada kata-kata orang yang menganggap bahwa Yesus bisa keliru? (Beberapa waktu lalu Dr. Eben menulis bahwa Yesus bisa keliru menilai orang). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layakkah kata-kata dari orang seperti itu anda jadikan sebagai dasar pijakan dan menganggapnya sebagai bukti sejarah? Betapa menyedihkannya! Masih pada bagian yang sama JS berkata : “Pencetus doktrin Tritunggal/Trinitas adalah agama Katolik Roma, melalui New Catholic Encyclopedia, 1967:299, Volume 14, mengakui dengan terus terang, ‘Perumusan ‘satu Allah dalam tiga Pribadi’ tidak ditetapkan dengan tegas, dan pasti tidak dilebur sepenuhnya dalam kehidupan Kristen dan pengakuan imannya, sebelum akhir abad ke-4. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tepatnya rumus inilah yang pertama-tama mendapat nama dogma Tritunggal. Di antara Bapa-Bapa Rasuli, tidak ada bahkan sedikit pun yang mendekati sikap atau pandangan seperti itu” (Catatan : Kutipan dari bahasa Inggrisnya saya hilangkan demi menghemat tempat). Sdr. JS, kalau saya mengaku sebagai presiden haruskah orang percaya bahwa saya adalah presiden? Hai JS, anda percaya karena anda mau percaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda percaya karena itu mendukung pandangan anda. Sekarang pikirkan, pada abad ke 4 itu belum ada Gereja Roma Katolik! Lalu bagaimana Gereja Roma Katolik bisa merupakan pencetusnya? Istilah PAUS saja baru mulai ada pada awal abad ke 7, sekalipun lalu digunakan secara surut, sehingga bishop Roma pada abad-abad sebelumnya lalu juga disebut Paus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mengatakan : “Jadi, pencetusnya sendiri (pemegang hak cipta) mengakui dengan jujur berdasarkan sejarah tentang asal-usul doktrin Tritunggal”. He…he…dari mana anda menyimpulkan mereka mengakui dengan jujur? Yang mana yang anda setujui dan tidak setujui, semua tergantung presupposition (pra anggapan) anda! Itu menunjukkan anda orang subyektif dan tidak jujur! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jelas ada!&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan saya (Timex, 12 Des 2008) yang lalu saya katakan bahwa : “Kaum Trinitarian sendiri bukannya tidak tahu bahwa kata ‘Tritunggal’ tidak terdapat di dalam Alkitab. Walaupun kata tersebut tidak ada di dalam Alkitab, itu tidak berarti bahwa konsepnya juga tidak ada? Konsepnya jelas ada!” Nah, rupanya JS mempersoalkan kata “jelas” yang saya pakai ini dan berkomentar sebagai berikut : “Jika demikian, batasan dari kata-kata begitu jelas atau konsepnya jelas ada, sampai seberapa jauh? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 2001:465 mencatat kata jelas (dalam definisi pertama) sebagai, “terang; nyata; gamblang”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kata nyata yang diapit dengan dua kata terang dan gamblang. Dari definisi ini, doktrin Tritunggal/Trinitas sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai hal yang terang, nyata dan gamblang, karena memang istilah itu tidak ada secara tersurat di antara ayat-ayat Alkitab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sedang mewacanakan jati diri Allah, maka dalam perspektif ini, Allah sejati dari Alkitab dapat dipastikan bukan Allah Tritunggal/Trinitas. Komentar saya untuk kata-kata JS ini sebagai berikut : Pertama, Untuk mencari tahu arti kata “jelas”, JS menggunakan KBBI. Di bagian yang lain JS mengatakan bahwa : ‘Memang EAS sendiri menjawabnya (Timex, Sabtu, 27/1/2007:4, kolom pertama dan kedua) dengan mengutip panjang-lebar dari buku Westminster Confession of Faith dan juga dari buku Allah Tritunggal karya junjungan EAS, Stephen Tong. Dengan mengacu pada dua buku karangan manusia (jangan lupa ini hanya sumber data tambahan)”. Sekarang saya tanya pada JS, pada saat anda pakai KBBI, kok anda tidak bilang buku itu ditulis / dikarang manusia? Waktu anda mengutip Will Durant, kok anda tak bilang buku itu ditulis/dikarang manusia ? Mengikuti cara berpikir anda, saya juga bisa katakan “jangan lupa ini hanya sumber data tambahan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, konsep tentang Tritunggal jelas atau tidak, terang atau tidak, tergantung siapa yang melihat. Bagi kami (kaum Trinitarian), doktrin Allah Tritunggal sungguh-sungguh jelas dinyatakan dalam Kitab Suci, tetapi bagi orang yang buta / membutakan diri, itu pasti lain lagi. Saya tentu tidak memaksudkan ‘jelas/terang bagi orang yang buta / membutakan diri! Kalimat anda di atas : Karena sedang mewacanakan jati diri Allah, maka dalam perspektif ini, Allah sejati dari Alkitab dapat dipastikan bukan Allah Tritunggal/Trinitas” menunjukkan kesimpulan yang muncul dari pikiran yang begitu dangkal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi rumus dari mana? Kalau anda cukup punya nyali, saya tantang anda untuk debat tentang doktrin Tritunggal dari Kitab Suci. Apakah Alkitab memang mengajarkan doktrin Tritunggal atau tidak? Bukankah anda sendiri berkata bahwa : “Harus diingat, semua data sebagai dasar argumen, jika itu hanya samar-samar “atau indikasi yang mengarah”, bukanlah sumber primer (terilham), melainkan data tambahan (subsider). Jika sumber data tambahan dibalik atau dijadikan sebagai data primer, akan terjadi reduksi pemaknaan terhadap apa yang ditafsirkan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu berarti sejarah termasuk di dalamnya pandangan bapa-bapa gereja bukanlah sumber primer. Selain itu para penulis sejarah seringkali memberikan data sejarah yang berbeda bahkan bertentangan satu sama lainnya tergantung presuposisinya. Karenanya anda bisa mengungkapkan data sejarah yang menolak doktrin Tritunggal dan saya bisa mengungkapkan data sejarah yang mendukung doktrin Tritunggal. Jadi bagaimana kalau debatnya dari sumber primer saja yakni Kitab Suci dan kita akan lihat doktrin Trinitarian saya atau Unitarian anda yang akan tumbang. Bagaimana? Terima tantangan saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan-Tanggapan Lepas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat banyaknya komentar JS yang agak sukar disistematiskan dalam tulisan saya ini, baiklah saya akan kutipkan kata-kata JS dan memberikan komentar saya atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : Pasti tumbang! Jika dipermasalahkan lagi, konsep “berakar kuat” itu yang seperti apa? Lha istilah Tritunggal/Trinitas saja tidak ada, lalu bagaimana bisa disebut berakar kuat? Apa bedanya dengan pengakuan sebelumnya yang telah diuraikan pada bagian pertama bahwa konsep ajaran Tritunggal adalah “sangat jelas” ada dalam Alkitab? Tetapi kenyataan (bukti), bangunan itu dibangun di atas pasir yang tidak stabil. Boleh saja EAS dkk secara bombastis menyatakan sebagai berakar kuat, tetapi jika akarnya tumbuh di atas pasir yang rapuh, lambat atau cepat, pasti tumbang! Semua ini menunjukkan doktrin Tritunggal, “berakar” pada gagasan khayalan, bagaikan mimpi di siang hari bolong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : He..he…orang ini lagi mimpi kali ye???? Dalam sejarah justru yang tumbang adalah Unitarian bukan Trinitarian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : “Dengan demikian, saya ingin tertawa membaca ungkapan selanjut EAS, ‘…supaya manusia tidak jatuh pada politeis.’ Artinya di luar dari doktrin Tritunggal, menurut EAS, ‘orang pasti jatuh pada politeis!’ Nah, pertanyaannya, apakah Patriakh Abraham yang sama sekali tidak mengenal doktrin Tritunggal/Trinitas, dan bahkan Allah Tritunggal/Trinitas, adalah termasuk politeis? Biarlah EAS menjawabnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : Ya iyalah masa iya dong!!! (ha..ha..) Saya akan jawab sendiri! Bahwa Abraham tidak jadi politeis, tak berarti kecenderungan seperti itu tak ada. Dia dipilih, sehingga otomatis dicerahi secara khusus. Mayoritas, bahkan hampir semua orang zaman Perjanjian Lama adalah politeis! Cara argumentasi anda ini sama dengan kalau ada orang mengatakan bahwa semua orang condong pada dosa, dan anda lalu tidak setuju dengan menunjukkan Yesus sebagai contoh orang yang tidak condong pada dosa. Di samping itu penekanan saya adalah bahwa dalam Perjanjian Lama yang ditekankan monoteismenya, dan ‘kejamakan’nya hanya samar-samar. Sedang dalam Perjanjian Baru, ‘kejamakan’nya menjadi jelas. Lagi-lagi, ‘jelas’ itu hanya bagi yang tidak buta / membutakan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : “…EAS berangkat dari “bawah”, kondisi riil yang mengikuti arus trend duniawi. Tidak usah heran jika banyak orang yang berhati tulus seperti Prof JB Banawiratma, Romo Tom Jacobs, dan Hortensius F. Mandaru serta Frans Donald, yang belakangan berbalik pendapat bahwa Yesus bukan Allah Anak, tetapi Putra/Anak Allah. Ya, ternyata Yesus memiliki iman kepada Allah Yahweh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : Anda mengatakan tulus??? Setelah Frans Donald memberikan kutipan-kutipan yang dimanipulasi sebagaimana sudah saya buktikan dalam tanggapan saya kepadanya anda masih mengatakan dia tulus? He…he…he. Kelihatannya anda tak bisa bedakan antara tulus dan licik. Benar-benar “jauh panggang dari api” bahkan jauh sekali panggangnya dari apinya. (Ha…ha...ha…). Sdr. JS, bahkan seandainya mereka tulus, anda harus ingat bahwa orang bisa sesat dengan hati yang tulus! Mau bukti? Saya berikan dari Alkitab! Amsal 14:12 : ‘Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut’. Bandingkan juga dengan Yoh 16:1-3 : "Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tidakkah “menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah” menunjukkan adanya ketulusan hati? Roma 9:30-10:3 : Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, seperti ada tertulis: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. Perhatikan ayat ini dengan baik. Israel jelas tersesat. Dikatakan bahwa mereka “mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu”, “mereka tersandung pada batu sandungan” dan karenanya Paulus berdoa kepada Tuhan agar mereka diselamatkan. Tetapi bukankah hati mereka tulus sebagaimana dikatakan “mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah”? Lalu mengapa bisa demikian? Jawabnya adalah karena ketulusan mereka itu tak diimbangi dengan “pengertian yang benar”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ayat ini menunjukkan bahwa orang bisa tersesat dengan hati yang tulus. Karena itu sekalipun Prof JB Banawiratma, Romo Tom Jacobs, dan Hortensius F. Mandaru serta Frans Donald adalah orang yang tulus, itu tak bisa menjamin bahwa mereka tidak tersesat. Kalau kondisi itu bisa dialami oleh Israel, tidakkah itu terjadi pada mereka yang tulus? Apalagi saya sama sekali tidak percaya bahwa Frans Donald tulus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia telah bertindak licik dengan memberikan kutipan-kutipan yang telah dimanipulasi. Yang tulus saja bisa sesat apalagi yang licik? (He..he…). Sdr. JS, apa yang saya katakan ini ada dasar Kitab Sucinya. Lalu mana dasar Kitab Suci dari teori-teori anda? Atau teori-teori itu anda karang sendiri sewaktu tidur? Ah… “Jauh Panggang Dari Api”!!! Bahkan jauh sekali panggangnya dari apinya”!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : Sejarah menunjukkan, tidak lama setelah kematian rasul-rasul Kristus, wajah “Kekristenan” yang sesungguhnya mulai berubah, tepat seperti yang Alkitab nubuatkan (Mat. 13:24-30, 37-43; Kis. 20:30). Seperti yang Yesus singkapkan melalui perumpamaan tentang lalang dan gandum, dan melalui ilustrasi tentang jalan yang lebar dan jalan yang sempit (Mat. 7:13, 14). Kekristenan asli akan terus dipraktekkan oleh sedikit orang saja dari zaman ke zaman. Akan tetapi, mereka seolah-olah tertelan oleh mayoritas orang yang seperti lalang, yang memperkenalkan diri dan ajaran sebagai wajah asli Kekristenan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : Saya setuju bahwa mayoritas adalah lalang, tetapi perlu diingat bahwa ada banyak gereja dan golongan / aliran, baik yang besar maupun yang kecil. Baik yang besar maupun yang kecil bisa saja termasuk lalang. Jadi, Unitarian / Saksi Yehuwa jangan mentang-mentang kecil, lalu merasa dirinya pasti adalah gandum!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : ‘Tetapi justru itulah kenyataannya yang terjadi pada sekitar abad ketiga dan keempat, pemimpin-pemimpin agama tertentu yang cukup berpengaruh, yang begitu gandrung pada ajaran trinitas dari filsuf kafir asal Yunani, Plato, mulai memodifikasi paham tentang Allah agar sesuai dengan rumus Trinitas. Catatan sejarah yang ternoda ini tidak dapat dipungkiri karena tersebar di berbagai literatur. Bagi orang yang berhati jujur yang ingin mencari kebenaran, tidak pantaskah ia bertanya, “Mungkinkah mereka telah melampaui perkara-perkara yang tertulis?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan saya : He…he… lalu mengapa dalam soal tuntutan zaman dan filsafat Yunani, anda tidak minta bukti tapi langsung percaya dan anggap sebagai kebenaran? Sungguh tidak konsisten ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersambung….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* Penulis adalah Gembala Jemaat “REVIVAL MINISTRY” (Jl. Pipit Kel. LLBK; Belakang Terminal Kota Kupang)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-6098653658804433118?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/6098653658804433118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=6098653658804433118&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/6098653658804433118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/6098653658804433118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/apologetika-tentang-doktrin-tritunggal_5396.html' title='APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (3)'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-7603566984261536127</id><published>2009-03-18T08:25:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T08:28:54.094-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Untuk Julius Sangguwali (JS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh:Esra Alfred Soru&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan Tertulis&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian pertama tulisan ini saya menuntut JS untuk menunjukkan dasar Kitab Suci mana yang ia pakai yang melandasi pemahamannya bahwa jikalau sebuah kata/istilah tidak ditemukan dalam Kitab Suci maka itu berarti bahwa konsep/ajarannya/dasarnya juga tidak ada. Kelihatannya JS mempunyai argumentasi Kitab Suci tentang hal ini di bagian yang lain dari tulisannya. Ia menulis : ‘Tuntutan tertulis ini apakah tidak terlalu berlebihan? Tidak! Mari dilihat contoh-contohnya di Alkitab. Pertama, di Mat. 4:3-10, maka di ayat 4, 7, dan 10 Yesus mengatakan ‘Ada tertulis’. Jadi ada tiga kali Yesus mengungkapkan “ada tertulis”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, di Mat. 12:1-8, ada dua kali (ayat 3 dan 5) Yesus berkata, ‘Tidakkah kamu baca”. Ketiga, Luk. 10:25-29, ada dua kali Yesus berkata (ayat 26), “Jawab Yesus kepadanya: ‘Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kau baca di sana?’” Keempat, Luk. 17:32, Yesus berkata, “Ingatlah akan isteri Lot!” (tentu Yesus sedang merujuk pada Kejadian 19:26 yang berbunyi, “...isteri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang semua contoh-contoh ayat ini tidak sedang membicarakan tentang jati diri Allah dari Alkitab, tetapi bisa dijadikan pelajaran (aplikasi) yang menunjukkan bagaimana Tu(h)an Yesus sering kali mengutip, menyadur, atau menyinggung ayat-ayat Alkitab untuk menjawab pertanyaan dan menangani situasi yang dihadapinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ayat-ayat ini juga, Yesus balik bertanya, mempersilakan si penanya untuk menjelaskan pemahamannya tentang sebuah ayat, dan Yesus mengutip, menyadur, atau menyinggung ayat-ayat itu. Pada abad pertama, gulungan Tulisan-Tulisan Kudus biasanya disimpan di sinagoga. Tidak ada bukti bahwa Yesus mempunyai koleksi pribadi gulungan-gulungan itu, tetapi ia mengenal baik Alkitab yang sering dirujuknya secara leluasa sewaktu mengajar orang lain (Luk. 24:27, 44-47).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di Yoh 8:26, Yesus dapat mengatakan bahwa apa yang diajarkannya tidak berasal dari dirinya sendiri, melainkan ia mendengar dari Bapa-Nya sewaktu ia masih di surga. Lalu bagaimana dengan wacana tentang ajaran Tritunggal yang katanya “Alkitabiah” itu, tidakkah seharusnya ingin meniru teladan Yesus? He…he…Sdr. JS, kalau memang tuntutan tertulis itu tidak berlebihan, mengapa kalian juga memakai istilah-istilah yang juga tidak tertulis dalam Alkitab seperti yang sudah saya contohkan pada bagian pertama tulisan ini ? Artinya kalian juga melanggar prinsip ini kan ? Berarti saya juga bisa berkata bahwa apa yang kalian (Saksi-Saksi Yehuwa) buat jelas juga di luar pola dari ajaran Yesus. Saya kembalikan kata-kata anda ‘tidakkah seharusnya kalian juga ingin meniru teladan Yesus?’ Kasihan sekali, kalian sebenarnya membuat peraturan yang menghantam kepala kalian sendiri. Ah, senjata makan tuan ! Senjata makan Julius !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mengutip ayat-ayat di mana Yesus memberikan pengajaran-pengajaran yang eksplisit dan secara tergesa-gesa membuat kesimpulan bahwa semua ajaran harus ada secara eksplisit (ada kata/istilahnya). Anda lupa (atau mungkin tidak tahu ?) bahwa Yesus juga pernah membangun ajaran-Nya dari dasar Kitab Suci yang bersifat implisit. Kaget? Sekarang saya tanya, apakah doktrin tentang kebangkitan orang mati merupakan ajaran yang jelas dalam Kitab Suci atau tidak? Saya yakin orang yang waras akan menjawab ‘Ya !’ Tetapi coba perhatikan dari ayat yang bagaimana Yesus membuktikan hal itu kepada orang-orang Saduki? Coba perhatikan Mat 22:23-32 : “Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya. Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia." Yesus menjawab mereka: "Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah! Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup."”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa dari Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama yang berbunyi ‘Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub’, di mana dalam kalimat itu tak ada kata / istilah ‘kebangkitan’, ‘orang mati’ dan sebagainya tetapi ternyata Yesus sendiri menarik doktrin kebangkitan orang mati. Anda berani menyalahkan Yesus? Kalau Yesus bisa dan boleh menarik ajaran secara sangat implisit dari teks seperti itu, lalu apa dasarnya untuk mengatakan bahwa karena doktrin Allah Tritunggal tidak mempunyai ayat dasar yang eksplisit, maka doktrin itu salah atau tidak ada? Apa jawabmu JS? Kelihatan bahwa anda hanya memperhatikan sebagian data Kitab Suci lalu tergesa-gesa membuat kesimpulan tanpa memperhatikan bagian Kitab Suci yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di mana teori anda yang anda kemukakan di awal tulisan anda : “demi memahami apa yang dikatakan Pengarang Alkitab….perlu mengumpulkan semua ayat yang berhubungan erat dengan topik yang sedang dibahas. Inilah yang harus dilakukan, dalam upaya mencari kebenaran terhadap pokok ini, ingin mendapat kejelasan, dengan membandingkan ayat-ayat dan mempertimbangkan artinya dalam bahasa yang digunakan untuk menulis Alkitab, akan sampai kepada penafsiran yang sesuai dengan Alkitab”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori anda kelihatan bagus, sayangnya anda tidak melakukannya. Jadi boleh dikatakan bahwa tuntutan anda itu adalah penafsiran yang tidak sesuai dengan Alkitab. Apa kira-kira ungkapan yang tepat untuk menggambarkan inkonsistensi kalian ini ? Hmmm…Ya! Ungkapan yang tepat adalah : “Indah Kabar Dari Rupa” atau “Jauh panggang dari api”. Ha..ha..ha… (Maaf, saya tak bisa menahan tawa pada bagian ini). Sdr. JS, tuntutan-tuntutan anda itu ternyata tak ada dasar sama sekali atau membangun di atas dasar yang salah sehingga kata-kata anda layak saya kembalikan : “Sekalipun membuat “sejuta perkataan” atau “sejuta teori”, alangkah hambarnya pada tataran aplikasi, tidak ada pembuktiannya secara tertulis di dalam Alkitab. Ibarat sebuah rumah, “tukangnya” meyakinkan dengan mengatakan bangunan itu “sangat kuat” karena bertumpu pada struktur penyangga, atau fondasinya berdiri di atas batu karang. Tetapi kenyataan (bukti), bangunan itu dibangun di atas pasir yang tidak stabil”. Karena itu semua pernyataan anda di sekitar doktrin Tritunggal yang katanya tak ada dasar ternyata tak ada dasar juga. Merenunglah Julius!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Progressive Revelation&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisannya JS juga mempersoalkan masalah Progressive Revelation yang saya ajarkan. Saya mengatakan bahwa : “Memang PL tidak berisikan suatu rumusan yang lengkap tentang tritunggal namun PL berisikan rujukan-rujukan atau indikasi yang mengarah pada doktrin tritunggal. Mengapa demikian? Karena hal ini berkaitan dengan wahyu Allah. Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia lewat Alkitab yang adalah wahyu khusus-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian pewahyuan diri Allah ini terjadi secara bertahap. Inilah yang dalam teologi Kristen dikenal dengan istilah ‘Progressive Revelation’ (Wahyu progresif) artinya wahyu yang bersifat semakin maju, makin lama makin jelas, semakin lama muncul penjelasan-penjelasan yang semakin kompleks dan semakin sempurna.” Dan JS setelah mensistematiskan kata-kata saya itu menjadi 3 gagasan lalu berkomentar demikian pada gagasan kedua : “Pertanyaan yang dapat diajukan, mengapa hanya “berisi rujukan-rujukan atau indikasi yang mengarah pada doktrin tritunggal? Apakah sulit bagi pengarang Alkitab, Allah Yang Mahakuasa untuk membuat jelas jati diri-Nya walau itu pada zaman Perjanjian Lama? Pernyataan JS ini menunjukkan bahwa JS sama sekali tak memahami konsep “Progressive Revelation” ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama biarlah saya katakan bahwa benar sekali kalau PL berisi rujukan-rujukan atau indikasi-indikasi ke arah doktrin Tritunggal. Salah satu contohnya adalah Kej 1 :26 yang berbunyi demikian : ‘Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Kalau memang Allah itu tunggal secara mutlak, mengapa digunakan kata ‘Kita’ dalam ayat ini ? Hal yang sama ada dalam Kej 3 :22 dan Kej 11 :7. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu apakah ayat itu bisa diartikan bahwa ada lebih dari 1 Allah? Tentu tidak bisa karena ada bagian Alkitab yang lain yang menekankan dengan tegas bahwa Allah itu esa. Menafsirkan seperti itu akan jatuh pada politeisme. Jadi tidakkah ini adalah indikasi ke arah doktrin Tritunggal? Dalam ayat hanya dipakai bentuk jamak (KITA) tetapi tidak diketahui jumlah dari KITA itu. Bisa 2, bisa 7, bisa 17, bisa 1000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi doktrin Tritunggal mengajarkan bahwa ada 3 pribadi Allah seperti kesaksian PB. Jadi Kej 1:26 hanya bisa dianggap sebagai indikasi ke arah doktrin Tritunggal. Minimal lewat ayat itu kita bisa mengetahui adanya ‘kejamakan tertentu’ dalam diri Allah. Nah, indikasi-indikasi semacam ini muncul dalam PL. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa PL hanya berisi rujukan-rujukan atau indikasi saja ? Apakah sulit bagi pengarang Alkitab, Allah yang Mahakuasa untuk membuat jati diri-Nya jelas sebagaimana yang dipertanyakan JS? Jawabannya adalah tidak sulit bagi Allah untuk melakukan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sulit adalah manusianya yang adalah penerima wahyu Allah. Allah adalah Allah yang berada di atas rasio dan pengertian manusia (Ayub 11:7-9) dan karenanya manusia dalam kapasitasnya yang terbatas tak mungkin memahami keseluruhan hakikat Allah. Itulah sebabnya Ia menyatakan diri-Nya secara bertahap di mana Ia menyatakan diri-Nya secara jelas di dalam PL sebagai Allah yang esa sambil memberikan sedikit indikasi tentang adanya kejamakan tertentu di dalam pribadi-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi persoalan utama bukan pada Allah tetapi pada keterbatasan manusia. Bahwa Allah memang menyatakan diri-Nya secara progresif dapat dilihat dalam Ibr 1:1-2 : (1) Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, (2) maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti cara berpikir JS maka pastilah JS akan bertanya apakah sulit bagi Allah yang Mahakuasa untuk berbicara sekali saja kepada nenek moyang kita sehingga harus melakukannya berulang kali ? Apakah sulit bagi Allah yang Mahakuasa untuk berbicara dalam satu zaman saja sehingga Ia perlu melakukannya lagi pada zaman akhir ini ? Apakah sulit bagi Allah yang Mahakuasa untuk berbicara dengan satu cara saja sehingga harus melakukannya dengan pelbagai cara ? Apakah sulit bagi Allah yang Mahakuasa untuk berbicara dengan perantaraan para nabi saja sehingga pada zaman akhir harus berbicara dengan perantaraan Anak-Nya ? He..he... So pasti jawabannya adalah tidak sulit. Kalau tidak sulit, lalu mengapa Allah harus melakukan seperti Ibr 1 :1-2 ? Lepas dari mengapa Allah melakukan itu, jelas bahwa Ia memang melakukan itu. Mau protes ? Silahkan protes pada Allah ! Ajukan pertanyaan-pertanyaan di atas kepada Dia ! Tapi ingat, menolak itu sama dengan mengabaikan Kitab Suci. Ibr 1 :1-2 jelas memperlihatkan kepada kita bahwa Allah tidak langsung memberitahukan kepada manusia di suatu zaman semua hal yang Ia ingin nyatakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan para malaikat pun mengenal Allah dan karya-Nya secara progresif, sebagaimana dikatakan dalam 1 Pet 1:12 : “...berita injil kepadamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh para malaikat”. Yakub Tri Handoko dalam materi Pemahaman Alkitab (PA) di GKRI Exodus tanggal 19 Februari 2008 dengan judul “Doktrin Tritunggal : Perkembangan Konsep Tentang Tritunggal”, hal. 6) memberikan contoh tentang hal ini sebagai berikut : “Salah satu contoh adalah tindakan Allah yang membuatkan pakaian dari kulit binatang untuk Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa (Kej 3:21). Tindakan ini menyiratkan bahwa akibat dosa harus ditutupi melalui sebuah korban. Pada zaman Musa konsep ini semakin jelas dalam bentuk korban pendamaian (Ul 30:10). Puncak dari konsep ini adalah Yesus Kristus yang menjadi “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29, 36; 1Kor 5:7; 1Pet 1:19). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melanjutkan : “Ternyata yang progresif bukan hanya wahyu yang diberikan Allah, tetapi juga pemahaman (konsep) manusia terhadap wahyu tersebut. Titik tolak yang penting bagi perkembangan konsep ini adalah kehidupan dan karya Yesus Kristus di dunia. Apa yang dilakukan dan diajarkan oleh Yesus Kristus telah mengubah cara pandang orang-orang Yahudi Kristen abad ke-1 terhadap wahyu Allah sebelumnya. Dalam hal ini kita memiliki dua contoh yang konkrit, yaitu Apolos dan Paulus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apolos adalah orang Yahudi yang bersimpati terhadap Jalan Tuhan dan mahir dalam kitab suci, tetapi dia belum memahami ajaran kekristenan secara benar. Setelah mendapat penjelasan dari Priskila dan Akwila, ia semakin yakin dan berani berdebat dengan orang-orang Yahudi lain untuk membuktikan dari kitab suci bahwa Yesus adalah Mesias (Kis 18:24-28). Pengalaman Paulus bahkan lebih dramatis daripada Apolos. Paulus sebelumnya berpikir bahwa tindakannya menganiaya orang-orang Kristen adalah tindakan yang benar, karena mereka adalah orang-orang yang disesatkan oleh Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjumpa sendiri dengan Yesus (Kis 9), dia mengalami pertobatan dan mengakui bahwa semua tindakannya yang dulu telah dia lakukan “tanpa pengetahuan” (1Tim 1:13). Sebagai gantinya, Paulus malah membuktikan bahwa berita injil berakar dari konsep kitab suci Perjanjian Lama (Rom 1:2; 3:21). (Ibid, hal. 7). Dan akhirnya berkesimpulan : “Pemaparan di atas menunjukkan bahwa wahyu (apa yang dinyatakan Allah) dan teologi (apa yang dipahami manusia terhadap wahyu Allah) mengalami perkembangan. Begitu pula dengan doktrin tentang Tritunggal. Allah telah menyatakan hal ini secara tersirat dalam Perjanjian Lama dan wahyu ini semakin jelas pada masa Perjanjian Baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman orang-orang Kristen pun mengalami perkembangan. Ketika murid-murid bersama dengan Yesus, mereka tidak langsung memahami bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (band. Mat 16:16). Ketika Yesus bangkit dari kematian, murid-murid semakin mengerti bahwa Yesus adalah benar-benar Allah/Anak Allah (Yoh 20:28; Rom 1:4). (Ibid). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tuntutan Zaman?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kata-kata Yakub Tri Handoko dalam kutipan di atas : “Ternyata yang progresif bukan hanya wahyu yang diberikan Allah, tetapi juga pemahaman (konsep) manusia terhadap wahyu tersebut.....“Pemaparan di atas menunjukkan bahwa wahyu (apa yang dinyatakan Allah) dan teologi (apa yang dipahami manusia terhadap wahyu Allah) mengalami perkembangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan doktrin tentang Tritunggal. Kelihatannya apa yang dikatakan Yakub Tri Handoko ini mirip dengan yang dikatakan Dr. Eben Nuban Timo seperti yang dikutip JS : “Kita lihat bahwa doktrin Trinitas itu berkembang. Ingat ajaran trinitasnya yang berkembang, bukan Tritunggalnya yang berkembang. Dia berkembang karena tuntutan zaman. Ada orang yang mempersoalkan keilahian Yesus Kristus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja memberikan jawaban melalui pengakuan iman Nicea. Setelah Nicea orang mempersoalkan lagi keallahan Roh Kudus. Para Patriakh datang lagi ke Konstantinopel. Mereka memberi jawaban dengan membuat pengakuan bahwa Roh itu adalah Allah yang keluar dari sang Bapa melalui Anak. Pengakuan iman Nicea (325) dikembangkan dan mencapai bentuknya di Konstantinopel (381)…”. Kata-kata Dr. Eben ini lalu dikomentari oleh JS : “Perhatikan kalimat ‘karena tuntutan zaman’, mengandung arti, ajaran Tritunggal/Trinitas berkembang ‘karena tuntutan zaman’ karena ada ‘yang mempersoalkan keilahian Yesus Kristus. Jadi ‘karena tuntutan zaman’, berarti penyebabnya bukan dari dalam (tuntutan Alkitab), sebaliknya tuntutan (faktor) dari luar Alkitab. Mengapa bukan tuntutan Alkitab? Karena Alkitab tidak pernah menulis tentang jati diri Allah Tritunggal/Trinitas. Saya kira kata-kata JS ini menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak becus di dalam memahami maksud suatu tulisan. Saya tidak tahu mengapa Dr. Eben Nuban Timo membedakan istilah “Trinitas” dan “Tritunggal” tetapi saya sendiri rasanya tidak melihat ada kesan dari kata-kata Dr. Eben bahwa dasar dari ajaran doktrin Trinitas bukanlah Alkitab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya mengatakan bahwa ajaran Trinitas berkembang dari tuntutan zaman. Tuntutan zaman yang bagaimana? Dr. Eben telah menjelaskannya : “Ada orang yang mempersoalkan keilahian Yesus Kristus. Gereja memberikan jawaban melalui pengakuan iman Nicea. Setelah Nicea orang mempersoalkan lagi keallahan Roh Kudus. Para Patriakh datang lagi ke Konstantinopel. Mereka memberi jawaban dengan membuat pengakuan bahwa Roh itu adalah Allah yang keluar dari sang Bapa melalui Anak…”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang benar! Memang demikian sejarahnya. Tetapi atas dasar apa gereja dan para Patriakh itu membuktikan keallahan Yesus dan Roh Kudus ? Dr. Eben tidak mengatakannya tetapi biarlah saya katakan bahwa mereka membuktikan hal-hal itu dari ayat-ayat Kitab Suci PL dan PB. Kalau anda belajar sejarah anda akan tahu bahwa pergumulan tentang kedua doktrin ini selalu menggunakan ayat-ayat Kitab Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sesungguhnya Kitab Suci telah mengajarkan tentang keallahan Yesus dan Roh Kudus tetapi perumusannya menjadi suatu konsep yang sistematis terjadi lewat perkembangan zaman ketika ada tantangan-tantangan yang bersifat doktrinal kepada gereja. Kalau begitu bagaimana seandainya tidak ada tantangan-tantangan doktrinal itu ? Apakah berarti doktrin Tritunggal tidak akan pernah ada ? Jangan salah, Allahlah yang bekerja dalam sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru Ia bekerja dengan cara sedemikian rupa sehingga muncullah tantangan-tantangan doktrinal terhadap gereja dan Ia juga bekerja sehingga para Patriakh dapat menemukan dasar-dasar kepercayaan Tritunggal itu dalam Kitab Suci (PL dan PB) yang sudah diwahyukan-Nya lalu selanjutnya menyusunnya secara sistematis lewat konsili-konsili. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersambung….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* Penulis adalah Gembala Jemaat “REVIVAL MINISTRY” (Jl. Pipit Kel. LLBK; Belakang Terminal Kota Kupang) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-7603566984261536127?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/7603566984261536127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=7603566984261536127&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/7603566984261536127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/7603566984261536127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/apologetika-tentang-doktrin-tritunggal_18.html' title='APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (2)'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-4272181298289455602</id><published>2009-03-18T08:15:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T08:25:45.387-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Untuk Julius Sangguwali (JS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Esra Alfred Soru&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 12-15 Januari 2009 lalu, harian Timex memuat tulisan Julius Sangguwali (selanjutnya disebut JS) di bawah judul “Ikut “Wacana” Doktrin Tritunggal”. JS dalam tulisannya hanya menyebut dirinya sebagai “Pemikir bebas, guru bahasa Inggris, tinggal di Kupang”. Tapi data yang saya temukan dari hasil pelacakan saya, JS sebenarnya adalah seorang anggota grup Saksi-Saksi Yehuwa atau yang lebih dikenal sebagai Saksi Yehovah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu (tahun 2004) pernah ada seorang Saksi Yehuwa bernama David Yohanes Meyners yang sempat berpolemik dengan saya di koran ini (tentu JS mengenalnya) tetapi entah mengapa sampai hari ini tidak nongol-nongol lagi. Dalam tulisannya JS menentang doktrin Tritunggal yang saya ajarkan atau jabarkan lewat koran Timex ini bahkan menuduhnya sebagai ajaran kafir sambil membela rekannya Frans Donald yang sampai hari ini masih tiarap, belum nongol-nongol juga. Untuk itu maka lewat tulisan ini saya akan memberikan tanggapan saya kepada JS di sekitar persoalan doktrin Tritunggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembukaan tulisannya, JS menyinggung tentang pertentangan antara pihak Trinitarian dan Unitarian. JS merasa heran mengapa kedua pihak yang sama-sama menggunakan Kitab Suci yang sama kok bisa mempunyai pengertian yang berbeda bahkan bertentangan seperti langit dan bumi? JS mengajukan pertanyaan : “Lalu, siapa yang benar, pihak Trinitarian atau Unitarian? Ia melanjutkan : “Mengenai hal ini, catatan di 2 Ptr 1:20 dan 21, menyatakan bahwa yang menulis Alkitab adalah nabi Allah, maka tidak mungkin kesalahan ada pada pihak mereka”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, para pembaca Alkitab-lah yang telah gagal mengikuti petunjuk roh Allah dalam membiarkan Allah menafsirkan Firman-Nya sendiri. Gagasan-gagasan pribadi telah menutupi pandangan mereka atas apa yang dikatakan Pengarang Alkitab sendiri. Ibarat domba yang terlihat di mata, tetapi sesungguhnya adalah serigala”. Dalam hal ini saya setuju dengan apa yang dikatakan JS. Alkitab memang adalah Firman Allah dan tak mungkin salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jadi persoalan adalah para penafsir Alkitab itu yang seringkali menafsirkan secara sembarangan sehingga memunculkan ajaran-ajaran yang tidak Alkitabiah. Pihak Trinitarian menafsirkan Kitab Suci. Unitarian juga. Lalu yang mana yang sebenarnya memasukkan gagasan pribadi sehingga layak disebut “Ibarat domba yang terlihat di mata, tetapi sesungguhnya adalah serigala”? Kita lihat saja nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa dalam 4 tulisannya JS juga terlibat dalam menafsirkan isi Kitab Suci (terutama bagian keempat tulisannya) maka JS juga harus dimasukkan ke dalam daftar yang mungkin saja memasukkan gagasan-gagasan pribadinya ke dalam Kitab Suci sehingga layak juga disebut “Ibarat domba yang terlihat di mata, tetapi sesungguhnya adalah serigala”. Meskipun demikian, ada hal yang menarik perhatian saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS menulis : “Jika demikian, para pembaca Alkitab-lah yang telah gagal mengikuti petunjuk roh Allah dalam membiarkan Allah menafsirkan Firman-Nya sendiri”. JS jelas berbicara tentang petunjuk roh Allah. Sdr. JS, jadi anda percaya bahwa roh Allah bisa memberikan petunjuk? Kalau begitu anda percaya tidak bahwa Roh Allah adalah suatu pribadi? Bukankah Saksi-Saksi Yehuwa dan Unitarian tidak percaya bahwa Roh Allah adalah suatu pribadi. Mereka percaya bahwa Roh Allah hanyalah suatu kuasa/tenaga aktif dari Allah. Nah, bisakah suatu tenaga aktif memberikan petunjuk? Jadi sebenarnya anda percaya Roh Allah berpribadi atau tidak? Anda kan seorang anggota Saksi Yehuwa berarti anda percaya bahwa Roh Allah hanyalah sebuah tenaga aktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jelaskan bagaimana suatu tenaga dapat memberikan petunjuk ? Atau anda percaya Roh Allah adalah suatu pribadi ? Jika ya, maka anda bukan Saksi Yehuwa tapi Saksi Yehuwa palsu/imitasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Persoalan istilah “Tritunggal” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal pertama yang dipersoalkan oleh JS adalah masalah istilah atau kata “Tritunggal”. Dalam tulisan saya sebelumnya sebagaimana yang dikutip JS, saya katakan bahwa “Walaupun kata tersebut tidak ada di dalam Alkitab, itu tidak berarti bahwa konsepnya juga tidak ada? Konsepnya jelas ada!” Tapi ini ditolak oleh JS. Ia berkata : “Dari asumsi ini, maka mau tidak mau, langkah pertama yang perlu dipertanyakan, apakah kata Tritunggal/Trinitas ada dalam Alkitab?” Sdr. JS, saya ingin tanya pada anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda berkata ‘mau tidak mau’? He…he… kemauan siapa? (Maaf saya terpaksa tertawa cukup keras untuk bisa mengimbangi tertawa anda). Anda mengatakan : ‘apakah kata Tritunggal/Trinitas ada dalam Alkitab? Semua pihak setuju menyatakan: tidak ada! Kalau begitu, jika dasarnya tidak ada, mengapa doktrin ini: dari tiada menjadi ada?’. Bagian akhir itu yang saya garis bawahi muncul dari mana? Pandangan teologia anda bukan? Jadi, siapa yang subyektif? Coba anda renungkan! Tentu tidak salah kalau kita ingin membahas sebuah topik dengan terlebih dahulu mencari tahu apakah kata yang hendak dibahas itu ada di dalam Alkitab atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apakah kalau katanya tidak ada berarti konsep tentang itu juga tidak ada seperti pendapat anda? Sekarang saya tanya, dari mana peraturan semacam itu? Dari mana peraturan yang mengatakan bahwa kalau katanya tidak ada berarti konsep/dasarnya juga tidak ada? Dari mana rumus semacam itu? Apa dasarnya? Dari Kitab Suci sebelah mana? Anda membuat sendiri? Lalu mengapa saya harus peduli dengan rumus buatan manusia! Satu hal lagi, kelihatannya anda tidak bisa membedakan antara “KATA” dan “DASAR”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang anda tanyakan “…apakah KATA Tritunggal/Trinitas ada dalam Alkitab? Tetapi dalam kalimat selanjutnya anda berkata “jika DASARNYA tidak ada,…” Kelihatannya anda beranggapan bahwa KATA adalah satu-satunya DASAR. Jadi tidak ada KATA berarti tidak juga ada DASARNYA. Saya tanya lagi, dari mana rumus ini? Anda ciptakan sendiri? Mengikuti cara berpikir anda maka kita tidak mungkin membahas pandangan Kristen (sesuai Alkitab) tentang “Keluarga Berencana” (KB) soalnya kata “Keluarga Berencana” tidak ada dalam Alkitab. Kita juga tidak bisa membahas pandangan Kristen (sesuai Alkitab) tentang “Pornografi” dan “Pornoaksi” soalnya dalam Alkitab tidak ada kata “Pornografi” dan “Pornoaksi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga tidak bisa membahas pandangan Kristen (sesuai Alkitab) tentang “Aborsi” soalnya kata “Aborsi” tidak ada dalam Alkitab sih. Kita juga tidak akan bisa membahas pandangan Kristen (sesuai Alkitab) tentang “Narkoba” soalnya tidak ada kata “Narkoba” dalam Alkitab sih. Kita juga tidak bisa membahas pandangan Kristen (sesuai Alkitab) tentang merokok soalnya dalam Alkitab tidak ada kata “rokok”. Begitukah? Kalau anda menjawab ya, betapa naif dan sempitnya pikiran anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, bukankah Frans Donald sahabat anda itu juga dalam tulisannya kali lalu menyinggung-nyinggung kata “Sola Scriptura” dan itu sudah saya tanggapi dengan mengatakan bahwa Frans tidak konsisten karena menggunakan istilah yang juga tidak ada dalam Alkitab. Atau anda bisa bantu tunjukkan pada saya istilah “Sola Scriptura” dalam Alkitab? Kalau tidak, mengapa anda juga tidak memprotes Frans Donald dan menganggap bahwa ajaran “Sola Scriptura”nya tidak ada dasarnya? He…he… (maaf terpaksa saya tertawa lebih keras lagi hanya untuk mengimbangi tawa anda) tentu anda tak akan lakukan itu bukan karena dia adalah sahabat anda, sesama Unitarian bukan? Anda kan seorang Saksi Yehuwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu anda tahu tempat ibadahnya Saksi Yehuwa disebut “Kingdom Hall” atau “Balai Kerajaan”. Coba tunjukkan pada saya 1 ayat yang ada kata “Balai Kerajaan”nya. Kalau tidak ada berarti pemberian nama tempat ibadah itu sama sekali tidak ada dasarnya. Kata/istilahnya saja tidak ada kok? Lalu diambil dari mana? Karang sendiri? Atau dapat dalam mimpi? Kalian kelihatannya berbakat sekali dalam hal mencipta. Lalu bagaimana dengan persoalan nama “Jehovah” dan “Yehuwa”? Bukanlah dalam Kitab Suci Ibrani hanya tertulis 4 huruf mati YHWH dan pada zaman ini tidak ada orang yang tahu dengan persis, bagaimana sebetulnya pengucapan (pronunciation) dari kata / nama itu? Bukankah kalian sendiri mengakui bahwa pada zaman ini tidak ada orang yang tahu bagaimana seharusnya mengucapkan nama ‘YHWH’ tersebut? Dalam buku “Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab” (hal. 420) kalian berkata : Orang-orang modern menyusun nama Yehuwa, yang tidak dikenal oleh semua orang pada jaman dulu, orang Yahudi ataupun orang Kristen; karena ucapan yang benar dari nama itu, yang ada dalam naskah Ibrani, karena sudah lama tidak digunakan, kini tidak diketahui lagi”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman 423, 424 kalian katakan : “Bentuk manakah dari nama ilahi yang benar - Yehuwa atau Yahweh? Tidak seorang pun dewasa ini dapat merasa pasti bagaimana nama itu mula-mula diucapkan dalam bahasa Ibrani. Mengapa tidak? Bahasa Ibrani dari Alkitab pada mulanya ditulis dengan huruf mati saja, tanpa huruf hidup. Ketika bahasa itu digunakan sehari-hari, para pembaca dengan mudah menyisipkan huruf-huruf hidup yang tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, lambat laun, orang Yahudi mempunyai gagasan takhyul bahwa adalah salah untuk mengucapkan nama pribadi Allah dengan keras, jadi mereka menggunakan ungkapan-ungkapan pengganti. ... Jadi ucapan yang semula dari nama ilahi sama sekali tidak diketahui lagi”. Kalau demikian, sekarang saya tanya pada anda, mengapa kalian mau menggunakan, dan bahkan menekankan keharusan untuk menggunakan, nama ‘Jehovah’ atau ‘Yehuwa’, padahal istilah itu tidak ada dalam Kitab Suci? Lebih parah lagi penyebutan/penggunaan nama ‘Yehuwa’ dalam kalangan Saksi-Saksi Yehuwa di Indonesia. Itu jelas salah, karena kalian membuang huruf ‘H’ (Ibrani: h) yang terakhir dari nama YHWH! Bukankah sesuai teori ciptaan anda sendiri artinya itu sama sekali tidak ada dasarnya? Ha…ha.. (maaf saya harus tertawa lagi) kelihatannya teori anda sementara memakan diri anda sendiri. Masih kurang? Baik, saya tambahkan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah grup kalian Saksi-Saksi Yehuwa memakai dan menerima istilah “Theokrasi” dalam organisasi dan publikasi-publikasi kalian? Coba tunjukkan pada saya kata tersebut dalam Alkitab. Ada? Kalau tidak ada lalu dari mana kalian mendapatkan kata tersebut? Mimpi atau bertapa? Bukankah anda berkata kalau katanya tidak ada berarti juga dasarnya tidak ada? Masih kurang lagi? Saya tambahkan lagi! Dalam kalangan kalian juga ada istilah-istilah dalam bahasa Inggris seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"paradise earth", "governing body", "full-time service", "Worldwide Work", "body of elders", "regular pioneer", "auxililary pioneer", "special pioneer", "God's Channel", "the Society", "organization", "Bethelite", "Building Fund", "Presiding Overseer", "Theocratic Ministry School Overseer", "Congregation Book Study Overseer", "Circuit Overseer", "Service Overseer", "District Overseer", "Zone Overseer", "Branch Overseer", Chairman", dll.&lt;/span&gt; Bisakah anda tunjukkan kata-kata itu dalam Kitab Suci? Kalau tidak ada maka mengikuti logika anda semua ini tidak ada dasar sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda menolak doktrin Tritunggal dengan alasan kata “Tritunggal” tidak ada dalam Alkitab, lalu apakah ada kata “Unitarian” dalam Alkitab? Berarti doktrinnya Unitarian juga tidak ada dasar. “Kata”-nya tidak ada artinya dasarnya juga tidak ada. Begitukan teori konyol anda kan? Saya heran kok kalian bisa memakai begitu banyak istilah yang tak ada di dalam Alkitab tanpa peduli katanya sendiri ada dalam Alkitab atau tidak tetapi begitu kata Tritunggal/Trinitas tidak ada dalam Alkitab kalian menolaknya dengan menganggapnya sebagai tanpa dasar, kafir dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah peraturan semacam itu hanya berlaku bagi kami (kaum Trinitarian) dan tidak berlaku bagi kalian? Sungguh tidak konsisten!!! JS berkata : “Konsekwensi dari tidak adanya satu kata atau istilah Trinitas/Tritunggal, pasti berimbas pada penafsiran Alkitab yang bisa jadi, sangat dipaksakan dan mengada-ada. Dan saya pun ingin berkata : Konsekuensinya juga, sahabat anda Frans Donald ketika berkoar-koar tentang “Sola Scriptura” sebenarnya sementara menafsirkan Alkitab secara paksa dan mengada-ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensinya juga, penggunaan nama “Jehovah” dan “Yehuwa” dalam kalangan Saksi-Saksi Yehuwa adalah penafsiran Alkitab yang dipaksakan dan mengada-ada. Konsekuensinya juga, penyebutan tempat ibadah “Balai Kerajaan” untuk grup kalian adalah mengada-ada. Konsekuensinya juga, semua istilah yang dipakai kelompok Saksi-Saksi Yehuwa seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"paradise earth", "governing body", "full-time service", "Worldwide Work", "body of elders", "regular pioneer", "auxililary pioneer", "special pioneer", "God's Channel", "the Society", "organization", "Bethelite", "Building Fund", "Presiding Overseer", "Theocratic Ministry School Overseer", "Congregation Book Study Overseer", "Circuit Overseer", "Service Overseer", "District Overseer", "Zone Overseer", "Branch Overseer", Chairman", dll&lt;/span&gt; adalah mengada-ada. Setujukah anda? Kalau tidak setuju berarti ada yang tidak beres dengan pikiran anda. Yang dipaksakan dan mengada-ada itu adalah rumus/aturan yang anda buat bahwa kalau satu kata tidak ada dalam Alkitab berarti dasarnya/konsepnya juga tidak ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya bahwa suatu konsep bisa saja ada secara jelas dalam Kitab Suci walaupun kata tersebut tidak muncul sama sekali dalam Kitab Suci. Pandangan ini justru lebih logis, masuk akal dan sesuai kenyataan daripada teori JS yang amburadul dan tak masuk akal itu. Contohnya kata “Ateisme” yang berarti ketidakpercayaan akan adanya Allah. Di bagian mana dalam Kitab Suci kata “Ateisme” ini muncul? Tidak ada kan? Tetapi ajaran/konsep tentang “Ateisme” jelas ada seperti yang dikatakan dalam Maz 14:1 : “…Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik”. Kata “Inkarnasi” yang berarti Firman (Allah) menjadi daging (manusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian mana dari Kitab Suci yang mencantumkan kata “Inkarnasi” ini? Tidak ada kan? Tetapi ini jelas diajarkan dalam Alkitab yakni Yoh 1:1, 14 : (1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Kata “Rapture” atau “Pengangkatan” juga tidak ada dalam Kitab Suci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Alkitab jelas mengajarkan bahwa orang percaya akan diangkat ke angkasa seperti dalam 1 Tes 4:16-18 : (16) Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; (17) sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan”. Kata “Sakramen” sendiri tidak ada dalam Alkitab tetapi jelas Alkitab mengajarkan adanya sakramen-sakramen yakni Perjamuan Kudus dan Baptisan Kudus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi kata yang tak ada dalam Alkitab tetapi ajarannya ada seperti “Free Will”, pribadi dan hakekat dari Allah atau/dan Kristus, trikotomi dan dikotomi, infra dan supralapsarianisme, dll. Saya ingin tanya pada JS : Percayakah anda bahwa di dalam Alkitab ada ajaran tentang Monoteisme (Allah itu esa)? Kalau percaya, coba tunjukkan pada saya 1 kata “Monoteisme” saja dalam Alkitab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak percaya mengapa ketika Frans Donald menggunakan kata itu : “Nah, masalahnya apakah kita harus berkiblat ke tradisi pikir Yunani yang melahirkan ajaran Trinitas dan menjadikan Yesus sebagai Allah sejati hasil rumusan konsili-konsili tahun 325 dan 381 M yang sangat sarat kepentingan politik, atau, berkiblat kepada Monoteisme Yahudi sebagai bangsa keturunan Yakub yang beriman kepada Allah yang Esa yaitu Yahweh?....” anda tidak protes dan menganggapnya sebagai gagasan yang dipaksakan saja? Kalau saya, saya percaya ajaran monoteisme ada di dalam Alkitab sebagaimana kata Ul 6:4 : “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! dan 1 Raj 8:60 : “supaya segala bangsa di bumi tahu, bahwa TUHANlah Allah, dan tidak ada yang lain” (dan masih banyak ayat lainnya) sekalipun kata “Monoteisme” sendiri tidak ditemukan 1 kali pun dalam Alkitab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi masuk akal dan Alkitabiah kalau dikatakan bahwa istilah/kata Tritunggal tidak ada dalam Alkitab tetapi konsepnya atau ajaran jelas ada. Kalimat ini jauh lebih masuk akal dari teori anda yang mengatakan bahwa kalau katanya tidak ada berarti konsep/ajarannya tidak ada. Apa ini hanya permainan kata-kata seperti tuduhan anda? Kalau begitu anda sama sekali tidak tahu apa artinya “bermain kata-kata”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kata-kata saya di atas mirip orang yang berkepribadian ganda yang menggunakan topeng seperti klaim anda? Ha…ha… andalah orang yang berkepribadian ganda. Di satu sisi menganggap doktrin Tritunggal tidak ada dasar hanya karena istilahnya tidak ada di Alkitab tetapi pada saat yang sama anda dan grup Saksi-Saksi Yehuwa juga melakukan hal yang sama. Anda anggap ini argumen yang ambigu, tidak matang dan ngambang? Lalu yang kalian lakukan juga tidak demikian ? Aneh sekali, pandangan saya ada dasar Kitab Sucinya anda anggap ambigu, tidak matang dan ngambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan pendapat anda yang tak punya dasar Kitab Sucinya ? Bolehkah dikatakan itu pandangan yang bodoh, ngawur, tak pakai logika dan akal sehat? (Biar pembaca menjawabnya sendiri). Ingat, pendapat saya ini sudah saya buktikan dari Kitab Suci sebagaimana ayat-ayat yang saya berikan di atas lalu mana dasar Alkitabiah dari pendapat anda? Tolong jawab ini! (Jangan pura-pura lupa!!!) Anda menyebut diri anda “pemikir bebas”? Saya beritahu pada anda, dalam masalah kebenaran Alkitabiah, anda tidak layak ‘bebas sekali’ dalam artian tak pakai Kitab Suci sama sekali! Kalau anda tidak bisa membuktikan teori anda itu dari Kitab Suci maka sebaiknya anda tidak usah bicara masalah-masalah teologia. Tapi kalau anda bisa membuktikannya maka itu mencekik leher kalian sendiri karena kalian juga melakukan hal yang sama. Mana yang anda pilih? &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bersambung….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;* Penulis adalah Gembala Jemaat “REVIVAL MINISTRY” (Jl. Pipit Kel. LLBK; Belakang Terminal Kota Kupang)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-4272181298289455602?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/4272181298289455602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=4272181298289455602&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/4272181298289455602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/4272181298289455602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/apologetika-tentang-doktrin-tritunggal.html' title='APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (1)'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-235682033992568473</id><published>2009-03-18T08:09:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T08:15:08.809-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>TRITUNGGAL DOKTRIN YANG BERAKAR DAN BERDASAR PADA ALKITAB</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menanggapi Tulisan Julius Sangguwali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Pdt. Ady W. F. Ndiy, S.Th&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang doktrin tentang Allah, berarti kita berbicara tentang suatu realitas yang tidak terbatas, serba Maha, Pencipta segala sesuatu termasuk manusia, yang melampaui akal dan pikiran manusia yang terbatas. Artinya tidak mungkin manusia dapat memahami Allah secara tuntas serta mengurung Allah yang tidak terbatas didalam akalnya yang tidak terbatas. Tetapi itu tidak berarti bahwa kita tidak dapat mengenal Dia atau menjelaskan tentang siapa Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat mengenal Allah sebatas Ia menyatakan diri-Nya kepada manusia didalam dan melalui FirmanNya. Satu hal yang harus di ingat bahwa berbicara tentang Allah, berarti kita berbicara tentang Allah yang pada hakekatnya Roh adanya dan bukan materi, sehingga Allah tidak dapat kita batasi pada ruang dan waktu seperti halnya manusia yang bersifat materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti polemik berkepanjangan antara Unitarian dan Trinitarian tentang doktrin Trinitas/Tritunggal, maka penulis merasa terpanggil untuk turut serta menyampaikan atau memaparkan kebenaran Alkitab tentang realitas Allah Tritunggal. Mengapa, sebab Julius Sangguwali (JS) dkk (Unitarian) mengklaim bahwa ajaran tentang Tritunggal adalah sesat dan tidak berakar atau berdasar pada Alkitab, padahal secara jelas dan gamblang Ev. Esra Soru sudah memaparkan dan mengupas beberapa bukti Alkitabiah yang menjadi dasar ajaran tentang Trinitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang menyebabkan sdr JS dkk belum juga memahaminya, tetapi satu hal yang membuat penulis dapat memahami ketidakpahaman dan penolakan mereka akan doktrin Trinitas adalah karena Alkitab sendiri menyatakan bahwa selama Roh Kudus belum menjamah dan membuka hati seseorang, maka orang itu tidak akan mungkin bertobat dan mengakui realitas Allah Tritunggal sebagai satu-satunya Allah yang benar - yang Esa, sekalipun orang tersebut berpendidikan tinggi- misalkan Saulus yang kemudian menjadi Paulus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian hal ini tidak menyurutkan niat dan semangat penulis untuk menulis dan memaparkan beberapa bukti Alkitabiah tentang ajaran atau doktrin Trinitas. Untuk itu, maka berikut ini penulis akan memaparkan beberapa bukti dan dasar alkitabiah dari ajaran Trinitas baik dalam perjanjian lama, maupaun perjanjian baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;1. Penyataan Allah Tritunggal dalam PL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang harus di ingat bahwa kekristenan pada dasarnya mengakui bahwa Allah itu Esa, tetapi Allah yang Esa itu adalah Tritunggal. Jadi bukan tiga Allah, melainkan satu esensi (Allah), tiga pribadi (Bapa, Anak dan Roh Kudus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam perjanjian lama, ayat yang pertama kali menyiratkan mengenai ketritunggalan adalah Kejadian 1:26 “berfirmanlah Allah: “baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka ………… ”. Selain itu terdapat juga dalam Kejadian 3:22 dan 11:7. Kata “Kita” merupakan bentuk jamak, hal ini menyatakan bahwa sejak awal penciptaan, ketiga pribadi Allah telah bekerja sama untuk menciptakan alam semesta ini. Bahkan Kejadian 1:2 menegaskan peran Roh Allah dalam penciptaan bumi. Demikian juga, dalam Kejadian 1:1, kata yang digunakan untuk Allah ditranslasikan dari bahasa Ibrani “Elohim” yang adalah bentuk jamak, sedangkan bentuk tunggalnya adalah “El”. Perlu diketahui bahwa dalam bahsa Ibrani, ada tiga macam bentuk kata yaitu, tunggal, dual dan jamak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk dual digunakan untuk hal-hal yang berpasangan, seperti mata, telinga tangan dan kaki. Sedangkan kata “Elohim” dan kata ganti “kita” adalah bentuk jamak- jelas lebih dari dua. Artinya bahwa orang Ibrani memahami dengan tepat bahwa YHWH yang Esa itu adalah Elohim yang jamak, mereka tau persis bahwa Elohim yang mereka sembah terdiri lebih dari satu pribadi, itulah sebabnya ketika mereka membaca Kejadian 1:26, 3:22 dan 11:7, mereka tidak heran dengan penggunaan kata “kita” oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kitab Ulangan 6:4, yang merupakan doa dan pengakuan Iman bagsa Israel, berbunyi : “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah Kita Tuhan itu Esa!” atau dalam bahasa Ibraninya “SYEMA (dengarlah) YISRAEL (wahai Israel) YHWH (TUHAN) ELOHEYNU (Allah kita )YHWH (TUHAN) EKHAD (Satu, Esa)”. Kata Esa dalam bahasa Ibrani yang digunakan disini adalah Echad yang artinya satu, maksudnya adalah “Unified One”- kesatuan, bukan numerik, hal ini sama dengan yang digunakan dalam Kejadian 2:24 ; “keduanya (yaitu Adam dan Hawa/suami dan istri) menjadi satu (ekhad) daging”, Kejadian 11:6; “mereka itu satu (ekhad) bangsa”. Kata “esa” berasal dari bahasa Sansekerta dan dipakai untuk menterjemahkan kata Ibrani “ekhad” – satu dan juga kata Yunani “heis” = satu. Bahasa Ibrani mempunyai dua istilah untuk “satu” yaitu “ekhad” dan ”yakhid”. Kata “yakhid” mengandung arti tunggal (bd. Kej. 22:2 + 16 ; Hak. 11:34.) dan tidak pernah dipakai bagi keesaan Allah. Kitab suci selalu menggunakan kata “ekhad” berhubungan dengan keesaan Allah; “ekhad” mengandung arti “kesatuan”, yaitu kesatuan kelompok, kesatuan dalam arti kolektif (compound unity). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh penggunaan “heis”-satu yang bermakna kesatuan persekutuan dalam arti kolektif dalam kitab perjanjian baru I Kor, 12:13 ; “kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani telah dibabtis menjasi satu (heis)tubuh”. Dari arti kata ekhad sebagai kesatuan maka dapat disimpulkan bahwa keesaan Allah itu bersifat kesatuan.&lt;br /&gt;Namun demikian, pada masa perjanjian lama Allah belum menyingkapkan ketiga pribadi Tritunggal (Bapa, Putra dan Roh Kudus) kepada bangsa Israel. Hal itu terjadi pada masa Perjanjian Baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan buat saudara JS dkk:&lt;br /&gt;• Jikalau TUHAN adalah Esa – Tunggal, bukan Esa - Kesatuan (jamak) maka mengapa dalam penyataan diri-Nya didalam Alkitab, tidak menggunakan kata “yakhid” melainkan “Ekhad” ???&lt;br /&gt;• Dalam Kejadian 1:1 dikatakan: “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Allah dalam bahasa Ibrani “Elohim”-bentuk jamak, namun mengapa kata menciptakan yang bahasa Ibraninya digunakan kata kerja bentuk tunggal (Singular) ”Bara”???bukankah ini menggambarkan keesaan Allah yang serba kompleks???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Penyataan Allah Tritunggal dalam PB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang belum disingkapkan Allah pada masa perjanjian lama, akhirnya disingkapkan pada masa perjanjian baru oleh Yesus. Hal ini tampak dengan jelas ketika Yesus mengatakan dalam Matius 28:19; “…….babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,”. Bapa, Anak dan Roh Kudus oleh kalangan non Kristen dipandang seolah-olah 3 allah, tetapi dalam Alkitab bahasa asliya (Yunani) kata nama yang saya garis bawahi ditulis dengan “ONOMA” yang adalah bentuk tunggal dan bukan dengan “ONOMATA” yang adalah bentuk jamak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Text bahasa aslinya berbunyi : “poreuthentes oun mathêteusate panta ta ethnê baptizontes autous eis to onoma tou patros kai tou huiou kai tou hagiou pneumatos”&lt;br /&gt;Disini jelas bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus bukanlah “nama-nama” dengan kata lain Alkitab menyatakan bahwa kita dibabtis didalam satu nama yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sudah menyiratkan keesaan Allah yang serba kompleks (Tritunggal). Disini jelas sekali Yesus mengajarkan tentang keesaan Allah – Monotheisme. Bapak gereja yaitu Tertulianus, oleh tuntunan Roh Kudus menemukan kebenaran realitas Tritunggal lewat firman Tuhan ini dan ialah yang pertama mencetuskan ide, menjabarkannya dalam satu doktrin yang berbunyi “una substantia tres personae”, satu substansi/hakekat tiga pribadi. Jadi mengakui dan mengimani Allah Tritunggal tidak berarti mengimani adanya tiga Allah seperti yang dibanyangkan secara salah oleh beberapa kalangan, termasuk beberapa kelompok “Kristen” (saksi yehova dan Unitarian). Allah itu Esa, dan Allah yang Esa itu terdiri dari tiga pribadi, bukan tiga Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi yang disebut Tritunggal adalah suatu Istilah dan penjelasan teologis mengenai keberadaan yang ada didalam diri Allah yang Esa itu. Memang istilah Trinitas/Tritunggal itu sendiri tidak terdapat didalam Alkitab, namun konsep ajaran dan realitas dari Tritunggal itu sendiri nampak dengan jelas didalam Alkitab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga sangat keliru ketika saudara JS mengklaim bahwa karena istilah Trinitas/Tritunggal tidak ada berarti tidak Alkitabiah, saya sarankan saudara JS untuk membaca dan meneliti Alkitab secara cermat, sambil berdoa agar Roh Kudus menuntun saudara menemukan kebenaran tentang realitas Tritunggal,&lt;br /&gt;Pertanyaan buat sdr. JS dkk : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“bila ayat ini tidak menggambarkan tentang Tritunggal, maka mengapa dalam perintahNya Yesus tidak menggunakan bentuk plural - “ANOMATA” melainkan single - “ANOMA”??? Selain itu, penyataan Allah Tritunggal ini nampak dengan jelas dalam peristiwa pembabtisan Yesus (Matius 3:16-17) dimana ketiganya menyatakan diri, dan juga tercermin dalam peristiwa pengurapan Yesus yang berinkarnasi (Lukas 4:18-19; Yesaya 61:1,2), demikian juga salam Paulus mengungkapkan keesaan ketiganya (II Korintus 13:13), dan Petrus dalam suratnya yang pertama (I Pet. 1:2 ) menyebut Allah Bapa sebagai perencana, Yesus sebagai Penebus dan Roh Kudus sebagai Pengudus, bnd. dengan Yesaya 48: 16-17, yang mengungkapkan ketiga oknum Allah bersama-sama dalam karya keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menolak doktrin Tritunggal berarti menolak bahwa Yesus adalah Allah, dan juga Menolak Roh Kudus adalah Allah, padahal dalam banyak bagian Alkitab dinyatakan dengan jelas bahwa Yesus adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah. Yohanis 1:1 memaparkan dengan jelas tentang Yesus Pra Inkarnasi; “pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” atau dalam bahasa Yunaninya : “en erkhê ên ho logos ên pros ton theon kai theos ên ho logos” yang kemudian dilanjutkan dalam Yohanis 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Dalam kedua bagian ayat ini, dengan jelas dikatakan bahwa Yesus adalah Allah yang kemudian berinkarnasi menjadi manusia. Dalam Yohanes 5:18, jelas Yesus dibenci karena Ia menyamakan diriNya dengan Allah, Demikian juga dalam Kisah 5:3-4 ,9 dan ! Kor 3:16, menyatakan dengan jelas Keilahian Roh Kudus. Perhatikan bahwa dalam Kisah.5:3 Petrus berkata bahwa Ananias mendustai Roh Kudus, dilanjutkan dalam Kisah 5:4 Petrus berkata Bahwa Ananias mendustai Allah, lalu dalam Kis. 5:9 Petrus berkata bahwa mereka mencobai Roh Tuhan. Hal ini menunjukan dengan jelas bahwa Roh Kudus adalah Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga dengan I Kor 3:16, Paulus berkata bahwa tubuh kita bait Allah, kemudian ia melanjutkan dengan berkata Roh Allah diam didalam kamu. Bahkan dalam I Kor. 6:19 Paulus katakan bahwa “tubuh kita adalah bait Roh Kudus” . Hal ini menunjukan dengan jelas bahwa Roh Kudus adalah Allah. Pertanyaan buat JS; Kalau tubuh ini bait Allah, bukankah seharusnya Allahlah yang tinggal didalam tubuh kita, tapi mengapa Paulus katakan Roh Allah berdiam didalam kamu ??? bukankah ini berarti Roh Kudus adalah Allah ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Kesimpulan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa ayat tersebut, baik dalam perjanjian lama maupun perjanjian baru, sudah cukup membuktikan bahwa Doktrin Trinitas/Tritunggal adalah doktrin yang berakar dan berdasar kuat pada Alkitab, dan bukan hasil ciptaan manusia. Diakui, memang istilah Trinitas/Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab, tetapi ajaran dan realitas Tritunggal ada didalam Alkitab. Trinitas (bhs. Latin) adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan kepenuhan dari Allah baik dalam hal keesaan-Nya maupun dalam hal keragaman-Nya. Allah itu Esa namun Allah yang Esa itu menyatakan diri-Nya dalam tiga pribadi yang sehakikat, sederajat, setingkat, tidak terbagi, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus (satu Allah tiga Pribadi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah melampaui Akal dan pikiran manusia, sehingga Allah tidak dapat dipahami dengan tuntas, terlebih lagi misteri Tritunggal, dibutuhkan Iman untuk menerima realitas Allah Tritunggal. Untuk itu, pada akhir dari tulisan ini, penulis menganjurkan bagi sdr. JS dan Frans Donald dkk untuk selalu terlebih dahulu berdoa meminta tuntunan Roh Kudus sebelum mempelajari kitab Suci, serta menundukan segala akal/ rasio dan pikiran dibawah Alkitab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya bahwa penyelidikan kitab suci yang dilakukan dengan jujur dan dibawah tuntunan Roh Kudus, akan membaw saudara JS dan Frans Donald kepada pengakuan akan Allah Tritunggal yang Esa, yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus. Pertanyaan penutup dari saya buat sdr, JS : kalau Yesus bukan Allah, mengapa Ia mengampuni dosa, bukankah hanya TUHAN yang berhak mengampuni dosa??? Kalau Yesus bukan Alah, mengapa ia menerima penyembahan??? Mengapa banyak orang Yahudi membenci Yesus (Yohanis 5 &amp; 8), bukankah hal itu karena Ia menyamakan diri-Nya dengan Allah ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya Allah Tritunggal Yang Kudus, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus yaitu satu-satunya Allah yang kepadanya kami percaya memberkati kita sekalian. Syalom! Soli Deo Gloria (SDG)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-235682033992568473?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/235682033992568473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=235682033992568473&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/235682033992568473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/235682033992568473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/tritunggal-doktrin-yang-berakar-dan.html' title='TRITUNGGAL DOKTRIN YANG BERAKAR DAN BERDASAR PADA ALKITAB'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-2621841009143940654</id><published>2009-03-18T08:00:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T08:09:06.831-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>KEBENARAN YANG SESUNGGUHNYA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sebuah Tanggapan terhadap Julius Sangguwali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:James Lola&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca tulisan saudara Julius Sangguwali (JS) yang terbit 4 hari berturut-turut di harian Timor Express (Senin 12 Januari 2009 – Kamis 15 Januari 2009) saya seperti membaca sebuah tulisan dari seorang anak kecil yang mencoba berandai-andai menjadi orang yang menulis? hal ini terlihat dari keseluruhan tulisan dari saudara JS yang memperlihatkan betapa sempit, dangkal dan kurangnya pemahaman JS secara menyeluruh terhadap Alkitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JS dalam bagian pertama tulisannya mengajukan pertanyaan bahwa kalau memang istilah atau kata Tritunggal tidak ada dalam Alkitab kenapa doktrin ini dari tiada menjadi ada? dan juga JS menyatakan bahwa gagasan ini (gagasan tentang tritunggal) adalah gagasan yang dipaksakan oleh kaun Trinitarian. buat saudara JS jika sebuah kata tidak ada di dalam Alkitab apakah berarti Alkitab tidak mengajarkan hal tersebut? sama sekali tidak!!! di dalam Alkitab di kenal dengan istilah maksud yang tersurat dan juga maksud yang tersirat. sebagai contoh : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak ada satu ayatpun di dalam Alkitab yang berbicara bahwa Alkitab melarang orang percaya untuk melakukan poligami, jika saudara JS mencari di dalam Alkitab dari PL sampai PB maka tidak akan menemukan istilah ini. Tetapi apakah ini berarti bahwa Alkitab tidak melarang poligami? sama sekali tidak!!! Alkitab dengan keras menentang orang percaya untuk melakukan poligami dan ini terlihat dari pernyataan Yesus dalam Matius Pasal 19 : 5 “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki (Tunggal) akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya (Tunggal), sehingga keduanya itu menjadi satu daging”. ini yang disebut dengan maksud yang tersirat dari Alkitab bahwa memang istilah itu tidak ada dalam Alkitab namun konsepnya jelas ada di dalam Alkitab, jadi doktrin tritunggal tidak di bangun diatas dasar yang rapuh karena di dalam Alkitab kita menemukan begitu banyak ayat yang secara tersirat menjelaskan tentang Allah tritunggal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Hanya ada satu Tuhan&lt;/span&gt;: Ulangan 6:4, 1 Korintus 8:4, Galatia 3:20, 1 Timotius 2:5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Allah Tritunggal terdiri dari 3 Pribadi&lt;/span&gt;: Kejadian 1:1, Kejadian 1:26, Kejadian 3:22, Kejadian 11:7; Yesaya 6:8, Yesaya 48:16, Yesaya 61:1; Matius 3:16-17, Matius28:19;2Korintus13:14. Dalam mempelajari perikop2 perjanjian Lama, kita perlu mengerti sedikit mengenai bahasa Ibrani. Kejadian 1:1 menggunakan kata benda jamak "Elohim". Kejadian 1:26, Kejadian 3:22, Kejadian 11:7 dan Yesaya 6:8 menggunakan kata ganti jamak "kita". Bahwa "Elohim" dan "kita" menunjuk pada lebih dari dua orang adalah hal yang tidak bisa diragukan. Bahasa Indonesia hanya mengenal dua bentuk: tunggal dan jamak. Tetapi bahasa Ibrani mengenal 3 bentuk: tunggal, bentuk jamak untuk 2 dan bentuk jamak untuk lebih dari 2. Bentuk jamak untuk 2 benar-benar HANYA digunakan untuk menunjuk kepada 2 hal. Dalam bahasa Ibrani bentuk ini dipakai contohnya untuk sepasang mata, sepasang telinga dan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "Elohim" dan kita adalah bentuk jamak untuk lebih dari 2, jadi yang dimaksud pastilah sedikitnya 3 atau lebih (Bapa, Anak, Roh Kudus). Di Yesaya 48:16 dan Yesaya 61:1, Anak berbicara dengan menyebut Bapa dan Roh Kudus. Bandingkan dengan Yesaya 61:1 dengan Lukas 4:14-19 untuk melihat bahwa Allah, Anak-lah yang sedang berbicara. Matius 3:16-17 menceritakan pembabtisan Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita melihat bagaimana Allah Roh Kudus turun ke atas Allah Anak sementara Allah Bapa menyatakan sukacitaNya bagi sang Anak. Contoh-contoh lain dari 3 pribadi yang berbeda dalam Allah Tritunggal dapat dilihat di Matius 28:19 dan 2 Korintus 13:14.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Alkitab membedakan oknum-oknum dari Allah Tritunggal.&lt;/span&gt; Di PL kata "TUHAN" berbeda dengan "Tuhan" (Kejadian 19:24). "TUHAN" memiliki "Anak" (Mazmur 2:7, 12; Amsal 30:2-4). Alkitab juga membedakan antara Roh dan "TUHAN" (Bilangan 27:18) dan "Tuhan" (Mazmur 51:10-12). Allah Anak tidak sama dengan Allah Bapa (Mazmur 45:6-7, Ibrani 1:8-9). Di Yohanes 14:16-17 Yesus berbicara kepada Bapa untuk mengirim seorang Penolong, yaitu Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak melihat diriNya sebagai Bapa atau Roh Kudus. Renungkan juga banyak kesempatan di mana kitab-kitab Injil mencatat bahwa Yesus berbicara kepada Bapa. Apakah Ia berbicara kepada diriNya sendiri? Tidak, Ia berbicara kepada oknum yang lain dari Allah Tritunggal, yaitu Allah Bapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Setiap oknum dari Allah Tritunggal adalah Allah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Bapa adalah Allah: Yohanes 6:27, Roma 1:7, 1 Petrus 1:2&lt;br /&gt;• Anak adalah Allah: Yohanes 1:1, 14; Roma 9:5, Kolose 2:9, Ibrani 1:8, 1 Yohanes 5:20.&lt;br /&gt;• Roh Kudus adalah Allah: Kisah 5:3-4, 1 Korintus 3:16 (Roh Kudus berdiam di dalam manusia—Roma 8:9, Yohanes 14:16-17, Kisah 2:1-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Tugas dari oknum-oknum Allah Tritunggal secara individu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Bapa adalah sumber atau pencipta dari• Alam semesta (1 Korintus8:6, Wahyu 4:11)&lt;br /&gt;• Pernyataan ilahi (Wahyu1:1)&lt;br /&gt;• Penebusan (Yohanes 3:16-17)&lt;br /&gt;• Perbuatan-perbuatan Yesus (Yohanes 5:17, Yohanes 14:10)&lt;br /&gt;Bapa memulai hal-hal di atas.&lt;br /&gt;• Melalui Anak, Bapa untuk melakukan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;• Penciptaan dan pemeliharaan alam semesta (1 Korintus 8:6, Yohanes 1:3, Kolose 1:16-17)&lt;br /&gt;• Pernyataan ilahi (Yohanes 1:1, Matius 11:27, Yohanes 16:12-15, Wahyu 1:1)&lt;br /&gt;• Penebusan (2 Korintus 5:19, Matius 1:21, Yohanes 4:42)&lt;br /&gt;Bapa melakukan hal-hal di atas melalui Anak yang bertindak sebagai wakil dari Bapa.&lt;br /&gt;• Melalui Roh Kudus, Bapa melakukan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;• Penciptaan dan pemeliharaan alam semesta (Kejadian 1:2, Ayub 26:13, Mazmur 104:30)&lt;br /&gt;• Pernyataan ilahi (Yohanes 16:12-15, Efesus 3:5, 2 Petrus 1:21)&lt;br /&gt;• Penebusan (Yohanes 3:6, Titus 3:5, 1 Petrus 1:2)&lt;br /&gt;• Perbuatan-perbuatan Yesus (Yesaya 61:1, Kisah 10:38).&lt;br /&gt;Bapa melakukan hal-hal di atas melalui kuasa Roh Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga JS menulis pada bagian kedua tulisannya “Salah satu faktor untuk dipertimbangkan dalam wacana ini adalah, andai kata doktrin Tritunggal ada dalam Alkitab (karena Yesus dan murid-muridnya dahulu mengajarkan), maka tentu para pemimpin gereja yang hidup segera setelah zaman itu juga akan mengajarkan doktrin Tritunggal. satu hal yang dilupakan oleh saudara JS adalah bahwa para bapak Gereja yang hidup setelah Yesus juga mengajarkan tentang Allah Tritunggal walaupun pembicaran mereka masih merupakan suatu pembicaraan yang memiliki cacat dan sepertinya memperlihatkan hirarki antara ketiga pribadi tersebut (karena sampai pada permulaan abad ke-IV, Gereja masih berkutat dengan persoalan penganiayaan yang di lakukan oleh imperium Romawi pada saat itu, dan juga tulisan-tulisan tersebut tidak menawarkan teologi sistematis, melainkan lebih pada upaya-upaya menjawab kecenderungan-kecenderungan yang ada dalam jemaat berdasarkan pada pemahaman Alkitab yang menyeluruh (inipun dialami oleh para penulis surat-surat am dalam PB bahkan umumnya surat-surat Paulus), sehingga formulasinya masih terdapat kecacatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad kedua berkembang kaum Apologis, di antaranya Aristides, Yustinus Martir, Athenagoras, Tatian, dan Teofilus dari Antiokhia. Kehadiran mereka bukan bermaksud menghadapi serangan-serangan dari kelompok monoteisme, misalnya Yahudi tentang Trinitas. Pergulatan kaum Apologis lebih pada upaya menangkal serangan-serangan dari kelompok-kelompok filsuf ateis. Dan terlebih lagi ini mau menunjukkan betapa sukarnya manusia dapat memahami misteri trinitas) namun tetap saja dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa setidaknya bapak-bapak Gereja mula-mula telah membicarakan tentang Allah tritunggal hingga tiba pada Tertulianus yang menjadi orang yang pertama kali menggunakan istilah Tritunggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal abad ke-2, menyusul terkumpulnya tulisan2 para Rasul tentang Yesus, Guru dan Allah mereka, para Bapa Gereja mulai mencoba membawa pelbagai pandangan yang muncul dalam Perjanjian Baru kedalam suatu kesatuan konseptual. Diawali dengan karya Ignatius dari Antiokhia (tahun 110-117), Gembala dari Hermas (taon 115-140), dan Yustinus Martir (taon 150). Pandangan mereka kurang lebih sama yaitu: Sang Bapa menghasilkan Logos-Nya yang kreatif. Logos ini hadir di dalam Yesus Kristus yang historis. Roh Kudus, Pemberi Ilham dan Ide, telah hadir sebelum Kristus di antara para nabi dan setelah Kristus di dalam komunitas Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita lihat bahwa sejak awal konsep Kristen berbicara tentang Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Matius 28:19), walaupun belum ada terminologi Tritunggal yang dipakai, namun konsep yang nyata terlihat dari tulisan bapak-bapah Gereja pada waktu itu. (baca: J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrine hlm 102 dst).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irenaeus seorang bapak Gereja mula-mula juga menulis tentang ketiga pribadi tersebut sebagai berikut “Jadi inilah urutan ketetapan iman kita …. …. Allah Bapa, tidak dijadikan, tidak bersifat material, tidak kelihatan; satu Allah, penciptan segala sesuatu: ini adalah pokok pertama dari iman kita. Pokok kedua adalah ini: Firman Allah, Anak Allah, Kristus Yesus Tuhan kita, Dia yang dimanifestasikan kepada nabi-nabi seturut bentuk nubuat mereka dan sesuai dengan cara penyataan Bapa; melalui Dia (yaitu Firman itu) segala sesuatu telah diciptakan; Dia juga yang pada akhir jaman, menyempurnakan dan mengumpulkan segala sesuatu, dijadikan manusia di antara umat manusia, kelihatan dan dapat disentuh, supaya menghapuskan kematian dan melahirkan kehidupan dan menghasilkan pendamaian yang sempurna antara Allah dan manusia, karena Dia adalah Allah sendiri. Pokok ketiga adalah: Roh Kudus, melalui Dia nabi-nabi bernubuat, dan para leluhur belajar tentang segala sesuatu yang berasal dari Allah, dan orang benar dituntun ke jalan kebenaran; Dia yang pada akhir zaman dicurahkan dalam suatu cara yang baru ke atas umat manusia di seluruh bumi, yang membaharui manusia bagi Allah” (Irenaeus, Proof of the Apocaliptic Preaching psl 6 dikutip dari: J.N.D Kelly, Early Christian Doctrine).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pembicaraan tentang paham ke-tunggalan Allah. Penggunaan terminologi “Esa” dalam syahadat yahudi, “Allah yang Esa”, merujuk pada pengertian eksistensi suatu Allah yang “jamak”. Meski sudah jelas para pemikir Yahudi seperti Philo yang diikuti oleh para Bapa Gereja, mencoba mengembangkan pemikiran tentang Allah yang “jamak” ini, namun kaum unitarian tidak peduli dan mengembangkan konsep Allah yang berbeda yaitu: Allah yang bersifat “tunggal” dan bukan “jamak ini justru baru muncul pada abad ke-2 dan mendapat istilah dari Tertulianus dengan istilah Monarkian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dimulai oleh Theodotus dari Byzantium (taon 190, Pendiri monarkian dinamis) dan juga oleh Praxeas (taon 210, pendiri Monarkian Midalistis). Inti ajarannya Monarkian dinamis adalah Kuasa yang membuat Yesus dapat melakukan berbagai mujizat adalah Kuasa Roh Allah dalam diri-Nya. Ia melihat bahwa terdapat energi (Yunani: dynamis) ilahi dalam diri Yesus yang bersumber dari Roh Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memandang Yesus adalah seorang guru kebenaran rohani yang merupakan manusia teladan dan bukan Allah, sehingga tidak ada alasan untuk menegaskan kehadiran Allah di dalam Yesus, yang kalau di telaah secara seksama sebenarnya bertentangan dengan Alkitab. Pandangan kaum monarkian dinamis ini, jelas bertentangan dengan klaim Yohanes bahwa Logos adalah Allah itu sendiri (bukan makhluk ciptaan) dan Logos itu telah menjelma menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus (baca: Yoh 1:1-3 dan Yoh 1:14). Karena itu, dalam tradisi gereja, mereka dengan sendirinya tertolak dan menurut catatan Berkhoff &amp; Enklaar, belakangan menyingkir ke arab. Rupanya pandangan mereka inilah yg menjadi referensi utama Muhammad ketika membunyikan ayat quran yang mencela tauhid nasrani monofisit yang waktu itu juga berada di arab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, begitu nekatnya Muhammad membunyikan pandangan sesat kaum monarkian dinamis ini sbg “Firman Allah” sekedar utk propaganda umatnya sendiri agar menolak dan memusuhi nasrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pandangan Monarkian modalistis yang berusaha menyampaikan bahwa Allah itu tunggal dengan menyatakan bahwa Allah secara keseluruhan hadir dalam Yesus Kristus. Ia percaya bahwa Bapa (totalitas ke-Allah-an) sendirilah yang masuk ke dalam rahim perawan Maria, menjadi manusia, lalu mati di kayu salib. Pandangan ini jelas lemah karena tidak mampu menjawab pertanyaan, terkait transendensi Allah surgawi, “bagaimana mungkin sifat transendensi Allah yang diakui kekal itu dihilangkan?” Pemikiran pra-Nicea memberikan pandangannya bhw ada bagian dari Allah yang tidak berinkarnasi, dan menurut Yohanes (Yoh 1:1-3 dan ayat 14), Bapa tidak berinkarnasi dalam Yesus melainkan Anak (Logos). Dengan demikian, Allah memang bersifat jamak, tidak tunggal sebagaimana pandangan kaum Monarkian yang diadopsi oleh Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian tanpa mengurangi rasa hormat terhadap saudara JS saya harus berkata bahwa justru pemahaman tentang Allah Tritunggal adalah suatu pemahaman yang Alkitabiah dan telah berakar kuat di dalam Alkitab, dari kitab Kejadian sampai pada kitab Wahyu, dan semua peneliti Alkitab yang berusaha dengan sungguh-sungguh mencari kebenaran seperti bapak-bapak Gereja mula-mula bahkan sampai sekarang telah menemukan dan membicarakan tentang Trinitas bahwa Doktrin Tritunggal meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga pribadi. Doktrin Tritunggal bukan merupakan suatu kontradiksi; Allah memiliki satu esensi dan tiga pribadi. Alkitab meneguhkan baik keesaan Allah dan keilahian dari Bapa, Anak dan Roh Kudus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga pribadi di dalam Tritunggal dibedakan melalui karya yang dilakukan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. Doktrin Tritunggal memberikan batasan kepada spekulasi manusia tentang natur Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika saudara JS, Frans Donald, dan orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai Unitarian harus jujur maka sebenarnya pemahaman ajaran Unitarian ini kalau mau dianalogikan seperti kapal selam yang muncul sebentar kemudian hilang untuk waktu yang lama karena tidak memiliki dasar yang kuat, dan kemudian di rekonseptualisasikan kembali dengan pencampuran semua ajaran (modalistik, monarkian saksi Yehova, islam) agar kelihatan seperti memiliki dasar pemahaman yang kuat untuk dimunculkan kembali lagi. Dan untuk saudara JS dan semua kaum Unitarian perlu ketahui adalah kalau ajaran Unitarian itu benar dan Alkitabiah kenapa ajaran ini seperti “kapal selam”? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau alasannya adalah karena kaum Unitarian dipaksa untuk diam oleh Gereja pada konsili Nikea, maka bagi saya ini adalah alasan yang tidak logis karena kebenaran (jika seandainya Unitarian benar) itu tidak dapat di tutupi, atau didiamkan kebenaran akan terus bersuara (istilah pepatah semakin dihambat, semakin merambat), seperti kepercayaan terhadap Tritunggal dan KeAllahan Yesus yang sudah terbukti di dalam sejarah, bahwa semakin dilawan, semakin di serang, bahkan dianiaya sekalipun justru semakin memperlihatkan bahwa tidak sedikitpun pemahaman ini bergeser dari sifat aslinya, justru semakin memperlihatkan bahwa pemahaman ini adalah pemahaman yang Alkitabiah, bahkan kebenaran ini membawa orang-orang yang menolaknya akhirnya mengakui bahwa inilah kebenaran yang sesungguhnya. Terpujilah ketiga Allah Tritunggal, Bapa, Putra dan Roh Kudus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-2621841009143940654?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/2621841009143940654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=2621841009143940654&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2621841009143940654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2621841009143940654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/kebenaran-yang-sesungguhnya.html' title='KEBENARAN YANG SESUNGGUHNYA'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-2055503337682545595</id><published>2009-03-18T07:53:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T07:57:54.742-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>MERABA-RABA KONSEKUENSI PEMBUTAAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Untuk Julius Sangguwali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Nelson M. Liem, S.Th&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan tentang keilahian Yesus sepertinya tak kunjung-kunjung habis. Namun mengapa selalu ada persolaan? dimana ada iblis, pasti selalu ada kekacauaan. Kredo Yesus adalah Allah bertentangan dengan iblis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi tahukah iblis bahwa Yesus adalah Allah? jawabannya: iblis tahu. iblis itu egois (mempertahankan kebodohannya) iblis itu gengsi (menjaga kehormatannya sebagai iblis). Sehingga jika saya bertanya kepada iblis; benarkah Yesus adalah Allah? iblis akan berkata ‘BENAR’ apabila iblis itu jujur, tapi kenyataannya iblis itu pendusta. Berdusta adalah bukti tindakan pembutaan atau dengan sendirinya membuat buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis selalu bekerja sesuai dengan profesinya (profesional), sehingga dengan demikian akan menjunjung tinggi kebodohannya. Jadi bukan hal yang sangat baru iblis mengganggu Yesus. Namun perlu diketahui bahwa ketika iblis mengganggu Yesus, itu merupakan tindakan yang membuktikan bahwa dia adalah iblis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat heran dengan kaum Unitarian yang selalu ngotot menolok ke Ilahian dari Yesus, pada hal penjelasan demi penjelasan sudah diberikan kepada mereka tidak terkecuali. Yoh. 8:43&amp;44 berbunyi: “Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala pendusta.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka berkali-kali berteriak bahwa di dalam Alkitab, Yesus tidak pernah menyebut diriNya sebagai Allah. Saudara pembaca, kita akan sama-sama melihat apakah teriakan Frans Donald dan Julius Sangguwali itu merupakan kejujuran atau dusta belaka? dari tulisan ini saya akan mengembalikan seluruh judul tulisannya Julius Sangguwali, yakni: (1). Bagaikan Bumi dan Langit, (2). Air Keruh di Hulu Sampai Jua ke Muara, (3). Indah Kabar dari Rupa, (4). Jauh Panggang dari Api, judul-judul ini merupakan keberanian mengejek cermin (ketika mengeluarkan lidah terhadap cermin tak sadar lidah itu ditujukan pula padanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timex 12 Januari 2009, Julius Sangguwali mengatakan: “sama-sama mengaku Kristen, maka jangan-jangan justru ada kesalahan dari Pengarang Alkitab, yang juga berarti kesalahan dari penulis Alkitab? pengarang Alkitab hanya satu, yakni Allah Yang Mahakuasa, Yahwe, tetapi penulisnya banyak.” Saudara pembaca, kata mengaku Kristen oleh Sangguwali yang digaris bawahi di atas, secara langsung melaporkan bahwa Sangguwali juga mengaku sebagai pengikut Kristus (Kristen), tapi anehnya menolak ke Ilahian Kristus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pingikut Kristus adalah orang yang mengaku bahwa Yesus [juga] adalah Allah 100 % dan Dia adalah Pribadi kedua dari Tritunggal. Saya tidak mungkin menjadi pengikut Kristus apabila Dia hanya sebatas manusia atau nabi atau malaikat bahkan penghulu malaikat sebab hanya orang bodoh sajalah yang mau diperhamba oleh “manusia” atau “malaikat”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi siapakah yang pantas dikatakan domba yang terlihat di mata, tetapi sesungguhnya adalah serigala ? kita harus berhati-hati terhadap orang yang memakai topeng Kristen. Sangguwali adalah orang yang sangat berani mengejek cermin (ketika mengeluarkan lidah terhadap cermin tak sadar lidah itu ditujukan pula padanya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Sangguwali mengatakan: “sejarah-sejarah telah membuktikan bahwa Yesus baru dijadikan sebagai Allah sejati oleh Doktirn Tritunggal/Trinitas hasil konsili-konsili yang penuh muatan politik jauh ratusan tahun setelah Yesus terangkat ke sorga.” Lalu bagaimana dengan kesaksian Alkitab ? benarkah di dalam Alkitab Yesus tidak pernah menyebut diriNya Allah ? Timex 13 Januari 2009, Julius Sangguwali mengutip Matius 4:3-10 tapi anehnya tidak berani mencantumkan isinya. Pastilah kita bertanya-tanya mengapa ? karena kalau dia mencamtukan isinya maka akan meruntuhkan seluruh tulisannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa’sih bunyi isinya, sehingga akan menggugurkan tulisannya sendiri ? dari ayat 3 s/d 10, kita hanya akan mengambil ayat ke 7 yang telah dan akan membuat si’iblis mati kutu. Terlebih dahulu marilah kita merunut bahasa Yunaninya : “εφη αυτω ο ιησους παλιν γεγραπται ουκ εκπειρασεις κυριον τον θεον σου/EPHE AUTO HO IESOUS PALIN GEGRAPTAI OUK EKPEIRASEIS KURION TON THEON SOU/Berkatalah kepada dia Yesus di pihak lain (itu) tertulis: janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dari terjemahan NKJV : Jesus said to him, "It is written again, `You shall not tempt the LORD your God.'" Sehingga dalam Terjemahan Lama berbunyi : “Maka kata Yesus kepadanya, "Telah tersurat pula: Janganlah engkau mencobai Allah Tuhanmu." Sedangkan Alkitab terjemahan LAI berbunyi : Yesus berkata kepadanya: “ Ada pula tertulis: janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” sebutan engkau pada ayat 7 adalah iblis, sedangkan sebutan Tuhan, Allah = Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Julius Sangguwali masih bersifat skeptis, saya akan mengutip juga terjemahan New International Version : Jesus answered him, “it is also written: Do not put the Lord your God to the test (Yesus menjawab/berkata, ada pula tertulis: jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu).” NIV dengan jelas menunjukan ke Ilahian Yesus. Dan lebih jelas lagi The Indonesian Bible Society for The Gideons International, menerjemahkan : Jesus said to him, “It is written again, you shall not tempt the LORD your God. Mereka sangat mengerti ayat 7 ini sehingga seluruh huruf pada sebutan LORD memakai huruf besar yang maksudnya menekankan ke Ilahian Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Julius Sangguwali menulis bahwa Mat.4:7 Yesus sedang mengutip Ulangan 6:16, akan tetapi Sanggauwali bermain curang yakni tidak menjelaskan secara mendetail maksud ayat 7 itu, yang sebenarnya ayat ke 7 menunjukan jawaban Yesus terhadap iblis; janganlah engkau (iblis) mencobai Aku (Yesus) TUHAN, Allahmu. Pertanyaan buat Sangguwali siapakah yang dicobai, Yesus atau siapa ? pastilah anda akan mengatakan “Yesus”. Lalu mengapa anda membuat diri seakan-akan buta ? atau memang seluruh esensi anda buta (Yoh.8:43)! bukankah sangat jelas yang memberi jawaban adalah Yesus tentang dirinya bahwa Dia juga adalah Allah..! sebab tidak mungkin kalau saya sedang bertanya kepada Julius Sangguwali: berapakah usiamu ? maka Sangguwali akan menjawab Ayah saya berusia 23 tahun. Suatu lelucon bukan..! Yesuslah yang dicobai, jadi jawaban Yesus berasal dari diriNya dan sedang membuktikan diri-Nya sendiri. Sejauh ini pastilah kita sudah dapat mengetahui bahwa Sangguwali bersama kawan-kawannya hanyalah berdusta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timex 14 Januari 2009, Sangguwali membahas The Didache pasal ke ketujuh mengenai babtisan, demikian bunyi kutipannya “in the name of the Father and of the son and of the Holy Spirit” (dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus). Dan ia melanjutkan dengan pernyataan bahwa “Namun buku itu (The Didache) tidak mengatakan apa-apa tentang ketiganya sederajat dalam kekekalan, kuasa, kedudukan, dan hikmat.” Sangguwali, bukankah dalam tanggapan saya terhadap Frans Donald Timex, 29 November 2008, telah menjelaskan baptisan sebagai bukti esensinya Allah Tritunggal..! Apakah masih kurang jelas ? Saudara pembaca, memang buku itu tidak secara detail menjelaskan bahwa ketiganya sederajat, tetapi telah menunjukan/menggambarkan bukti ketiganya sederajat. Mengapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mari kita cermati : kata ‘and’ pada kalimat in the name of the Father [and] of the son [and] of the Holy Spirit. Dalam Webster’s New Dictionary (America: Longmeadow Press, 1994) hlm.15, kata ‘and’ mempunyai arti: “in addition, used to join words and sentences, to introduce a consequence .” ‘in addition’ = di dalam penjumlahan = ruang kemajemukan. Sedangkan, ‘used to join words and sentences’, arti sentral: menghubungkan; dari kata dasar hubung. Dan yang dimaksud dengan ‘to introduce a consequence’ adalah memperkenalkan sesuatu kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi arti kata ‘and’ cukup luas, namun semuanya mempuyai hubungan dengan apa yang dimaksudkan oleh Yesus; pertama: pemakaian kata ‘and’ membuktikan kejamakan Allah, kedua: membuktikan adanya hubungan dalam kejamakan, ketiga: membuktikan bahwa dalam baptisan, nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, semua itu penting, karena mereka sama-sama Allah. Kata ‘and’ [ indonesia ] = ’dan’ yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, mempunyai arti: “penghubung suatu bahasa (kata, frasa, klausa, dan kalimat) yang setara, yang termasuk tipe yang sama serta memiliki fungsi yang tidak berbeda.” Jadi jelaslah bahwa Yesus memakai kata ‘dan’ pada kalimat; ‘dalam nama Bapa [dan] Anak [dan] Roh Kudus’ untuk membuktikan kesamaan, serta kejamakan Allah, sehingga ini merupakan legitimasi dari Yesus kalau Dia juga Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara pembaca, karena Yesus Allah maka babtisan juga atas nama Yesus. Baptisan adalah perjanjian (kovenan). Baptisan sebagai suatu kesinambungan dari Perjanjian Lama yakni adanya perjanjian (kovenan) antara Allah dengan manusia, sehingga dalam Perjanjian Lama (PL), kovenan ditandai dengan sunat, sedangkan dalam Perjanjian Baru (PB), kovenan ditandai dengan baptisan. Jadi tidak mungkin kalau manusia berjanji dengan manusia, lalu dibilang janji itu adalah sakramen kudus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Yesus adalah Allah maka Dia pun turut berada sebagai subyek pada perjanjian antara Allah dan manusia. Ataukah Sangguwali mau melakukan sakramen baptisan hanya dengan nama Bapa dan Roh Kudus saja ? ataukah hanya dengan nama Bapa saja ? atau sama sekali tidak melakukan sakramen baptisan ? Sangguwali adalah seorang ahli bahasa pastilah lebih ngerti. Silahkan diuji. Sangguwali, anda jangan melakukan tindakan pembutaan terhadap diri sendiri, nanti jadi buta benaran – binasalah anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh saja anda mengutip pernyataan Dr. Eben Nuban Timo (Ketua Sinode GMIT) sebagai kekuatanmu untuk menyangkali Allah Tritunggal – [kalau] Dr. Eben benar mengatakan demikian, itu berati saya dengan dia bukan saudara dalam Tuhan dan perlu diketahui bahwa saya tidak terpengaruh dengan pernyataannya, akan tetapi tertarik untuk berteriak: Dr. Eben Nuban Timo, anda harus bertobat, kalau tidak pada akhirnya anda hanya menjadi salah satu calo ke surga. Jadi perlu ditekankan bahwa sebagaimana Alkitab bersaksi bahwa Allah Tritunggal bukan berkembang karena tuntutan zaman, melainkan sudah ada sejak kekal dan untuk kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timex 15 Januari 2009, Julius Sangguwali memberikan pertanyaan buat saya dan teman-teman untuk menjawab dan katanya pertanyaan itu sederhana, demikian bunyinya: “Mengapa Yesus berdoa ?” Saudara pembaca, kita selalu akan berbicara seperti apa yang dilaporkan Alkitab – kenyataannya Alkitab bersaksi bahwa Yesus adalah Allah 100 % dan Manusia 100 %. Salah satu bukti bahwa Yesus Allah 100 % telah kita bicarakan tadi tentang pencobaan dipadang gurun dan di situlah Yesus bersaksi bahwa Dia adalah ALLAH 100 %. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Yesus juga Manusia 100 % merupakan inti jawaban dari pertanyaan Sangguwali. Namun perlu ditekankan bahwa Manusia Yesus sempurna (pikiran, perkataan, perbuatan) tidak berdosa. Sehingga untuk menjadi teladan bagi manusia membutuhkan orang yang sedikit pun tidak dicemari oleh dosa. Dan orang itu hanyalah Yesus. Jadi ketika Yesus berdoa sesungguhnya sedang membuktikan bahwa Dia juga adalah Manusia 100 %, dan sekaligus menjadi contoh untuk kita teladani dalam kehidupan sehari-hari dalam suka dan duka tidak terkecuali – kita harus berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangguwali, anda jangan mencobai Tuhan, Allahmu. Sadarkah bahwa anda lagi diperalat oleh si’iblis ? tahukah anda bahwa iblis juga dapat mengutip ayat-ayat Alkitab ? tahukah anda iblis itu hanya mampu membawa anda pada kebinasaan kekal ? Saudara pembaca, akhirnya mari kita sama-sama berseru: di dalam nama Tuhan Yesus Kristus; enyahlah engkau iblis, dari seluruh esensi Julius Sangguwali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penulis : Alumni Institut Agama Kristen Jakarta tinggal di SoE (TTS)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-2055503337682545595?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/2055503337682545595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=2055503337682545595&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2055503337682545595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2055503337682545595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/meraba-raba-konsekuensi-pembutaan.html' title='MERABA-RABA KONSEKUENSI PEMBUTAAN'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-2855836427971802528</id><published>2009-03-18T07:22:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T07:52:46.012-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>TRINITAS, MENGAPA DIPERSOALKAN?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengkritisi Tulisan Julius Sangguwali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Maks Fioh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca tulisan Sdr. Julius Sangguwali (JS) dengan judul Bagaikan Bumi dan Langit, Air Keruh di Hulu Sampai Jua ke Muara, Indah Kabar Dari Rupa, Jauh Panggang dari Api, Sub Judul: Ikut Wacana Doktrin Tritunggal, bagi saya bukan sesuatu yang baru, maksud saya inti tulisan JS sudah sering dibahas oleh penulis yang lain seperti sdr Esra Alfred Soru, Nelson Liem, James Lola, Frans Donald, David Meyners, Dr. Eben Nuban Timo, dll dan karenanya jika para pembaca selalu mengikuti opini–opini Timex seringkali kita disuguhkan dengan polemik–polemik doktrinal yang dilakukan oleh sdr. Esra Alfred Soru cs (kaum Trinitarian) melawan sdr. Frans Donald cs (kaum Unitarian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tak terhitung lagi berapa banyak tulisan yang sudah diturunkan Timex. Di satu sisi saya berpikir bahwa mengapa kita begitu sibuk beradu argumen dan bersilang pendapat soal Tuhan Allah yang adalah pencipta kita semua, kita sama – sama diciptakan oleh satu Allah, lalu mengapa hal itu diributkan? Apakah Tuhan Allah membutuhkan pembelaan kita ? Apakah kita semua yang adalah debu tanah liat ini layak jadi pahlawan untuk membela kebenaran Allah ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah manusia yang mengatur Allah dan bahkan menghakimi Allah ? mungkin saja sejumlah pertanyaan ini timbul dalam benak saudara tapi di sisi lain saya juga bertanya – tanya dalam hati, salahkah jika kita berbicara dan menulis tentang Tuhan Allah, salahkah jika perbedaan dan pertentangan ajaran itu diperdebatkan ? Setelah saya renungkan saya berkesimpulan bahwa perdebatan itu tidak salah. Ya, debat itu tidak salah sepanjang debat itu dilakukan dengan motivasi yang benar dan dimaksudkan untuk mencapai satu dasar kebenaran yang valid dan bertanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kadangkala saya merasa sedikit risih dengan penggunaan kata dan kalimat yang keras bahkan terkesan kasar, namun anggaplah itu bumbu–bumbu penyedap rasa dalam perdebatan / diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keyakinan seperti di atas maka saya juga memberanikan diri untuk turut meramaikan wacana berteologi lewat media ini. Seperti yang sudah disinggung di awal tulisan ini, bahwa saya sudah membaca tulisan di sekitar doktrin Tritunggal, namun ada satu tulisan yang membuat saya merasa tertarik untuk menanggapinya yakni tulisan saudara Julius Sangguwali (Opini Timex 12 – 15 Januari 2009). Dalam rangkaian tulisannya JS ikut berwacana tentang doktrin Tritunggal dan menurutnya doktrin Tritunggal itu tidak Alkitabiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penjelasannya yang panjang lebar itu JS sangat menekankan bahwa Tritunggal bukanlah ajaran Alkitab melainkan hasil rekayasa dan olah pikir manusia saja. Membaca tulisan JS ini, saya langsung menduga bahwa JS adalah anggota aliran sesat Saksi Yehuwa ataupun anggota kaum Unitarian (anti Trinitarian) meskipun demikian dalam keterangan penulis dicantumkan, penulis : Pemikir Bebas, Guru Bahasa Inggris, tinggal di Kupang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tidak sekaligus memproklamirkan diri sebagai penganut bidat Saksi Yehuwa atau penganut Unitarian / Kristen Tauhid (grupnya Frans Donald) ? Masih malu – malu memperkenalkan identitas diri ya? Kalau kita selalu dan rajin membaca tulisan – tulisan sejenis (tulisan anggota Saksi Yehuwa / Unitarian) maka salah satu argumentasi dasar yang selalu dibangun dan dipakai untuk menyerang kaum Trinitarian adalah soal istilah Tritunggal / Trinitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut JS cs alasan penolakan mereka terhadap doktrin Tritunggal adalah fakta bahwa tidak ditemukannya satupun kata Tritunggal dalam Alkitab. Menurut mereka karena istilahnya tidak ada maka jelas ajarannya tidak ada. Perhatikan kata – kata JS berikut “ Dari asumsi ini maka mau tidak mau langkah pertama yang perlu dipertanyakan, apakah kata Tritunggal / Trinitas ada dalam Alkitab ? semua pihak setuju menyatakan : tidak ada ! Kalau begitu, jika dasarnya tidak ada, mengapa doktrin ini : dari tiada menjadi ada ? Konsekwensi dari tidak adanya satu kata/istilah Trinitas atau Tritunggal, pasti berimbas pada penafsiran Alkitab yang bisa jadi sangat dipaksakan dan mengada – ada” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara JS jujur saja yah, anda ini seorang anggota bidat Saksi Yehuwa ataukah seorang anggota Unitarian (grupnya Frans Donald)? Saya yakin salah satu di antaranya atau bisa jadi kedua – duanya. Membaca sepenggal kalimat anda yang saya kutip di atas membuat saya tertawa terpingkal – pingkal melihat kenaifan anda kalau tidak mau dikatakan kecerobohan anda yang adalah seorang Guru Bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sdr JS saya melihat bahwa anda, para Saksi Yehuwa, kaum Unitarian dan kaum anti Trinitarian lainnya selalu saja memakai argumentasi yang sama padahal entah sadar atau tidak argumentasi kalian semua jadi bumerang dan membunuh kalian sendiri. Yah senjata makan tuan – tuannya. he he... sudah mampu berpikir ? Di mana letak bumerangnya, butuh pembuktian ? Baik saya tunjukkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda adalah seorang anggota saksi Yehuwa jawab pertanyaan saya : (1) Adakah kata/istilah Yehuwa dalam Alkitab ? (2) Adakah kata/istilah Balai Kerajaan dalam Alkitab (kecuali Alkitab Saksi Yehuwa, New World Translation (Terjemahan Dunia Baru). Cukup dua pertanyaan saja. Untuk mencari tahu jawabannya silahkan anda cari literatur – literatur terbaik untuk mendapatkan jawabannya dan jangan lupa konsultasikan dulu dengan para senior anda biar lebih komplit jawabannya. Saya beri sedikit bocoran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah bertanya hal yang sama kepada seorang Saksi Yehuwa. Apa jawabannya? Rekanmu itu menjawab kalau soal kata atau istilah Balai Kerajaan itu hanya nama tempat ibadah kaum Saksi Yehuwa. Sedangkan istilah Tritunggal/Trinitas itu kan berhubungan dengan doktrin. Mendengar jawaban itu spontan saya berkata, “goblok sekali”. Saya bertanya lagi pada dia, apa sih doktrin itu lalu dia menjawab, doktrin sama dengan ajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya berkata pada orang itu, kalau istilah Tritunggal dihubungkan dengan doktrin, sedangkan istilah Balai Kerajaan tidak ada hubungan dengan doktrin ? Bukankah istilah Balai Kerajaan adalah doktrin/ajaran Saksi Yehuwa tentang tempat ibadah mereka ? Berhubungan dengan doktrin/ajaran kan ? Balai Kerajaan kan bagian dari Eklessiologi / doktrin gerejanya Saksi Yehuwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut saya bertanya dari mana anda tahu penyebutan nama Yehuwa, padahal dalam Alkitab bahasa asli Ibrani nama diri Allah hanya disebut dengan empat huruf mati/tetragramaton YHWH. Apalagi dalam penyebutan secara bahasa Indonesia kaum Saksi Yehuwa membuang huruf H dari YHWH itu dan menyebutnya dengan nama Yehuwa. Saudaramu itu bungkam seketika bagai orang bisu. Bocoran soal dan jawaban di atas boleh anda pakai sebagai jawaban anda atau kalau punya jawaban yang lain silahkan diberikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda seorang Unitarian jawab pertanyaan saya : (1) Adakah kata/istilah Unitarian dalam Alkitab ? (2) Adakah kata/istilah Kristen Tauhid dalam Alkitab ? Cukup dua pertanyaan saja. Pertanyaan di atas untuk anda dan juga Frans Donald (pentolan Unitarian/Kristen Tauhid). Silahkan diskusikan dengan Frans Donald dan semua kaum Unitarian lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengingatkan kembali anda pada apa yang anda tulis, saya kutipkan kembali yah, dengan sedikit perubahan : “Dari asumsi ini maka mau tidak mau langkah pertama yang perlu dipertanyakan, apakah kata Unitaris atau Unitarian ada dalam Alkitab ? Semua pihak setuju menyatakan : Tidak ada ! Kalau begitu, jika dasarnya tidak ada, mengapa doktrin ini : dari tiada menjadi ada ? Konsekwensi dari tidak adanya satu kata atau istilah Unitaris atau Unitarian, pasti berimbas pada penafsiran Alkitab yang bisa jadi sangat dipaksakan dan mengada – ada”, sudah jelas Pak? Sudah cukup diingat kan Pak Julius. Kaum Unitarian dan Saksi Yehuwa selalu menolak Doktrin Tritunggal dengan salah satu alasan dasar yakni ketiadaan istilah Tritunggal dalam Alkitab. Sekarang coba lihat, kita tunggu pembuktian JS dan rekan – rekannya atas sejumlah pertanyaan di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya sebelum saya lupa, JS juga mengutip kalimat dari Dr. Eben Nuban Timo kan ? Berikut bunyi kutipan dari tulisan Dr. Eben Nuban Timo (Timex, Kamis, 23 September 2004) di bawah judul : “Sisi Lain Dari Sejarah Doktrin Trinitas”, “kita lihat bahwa doktrin Trinitas itu berkembang. Ingat ajaran Trinitasnya yang berkembang bukan Tritunggalnya yang berkembang. Dia berkembang karena tuntutan zaman, ...”. Sdr. JS, terlepas dari benar tidaknya argumentasi yang dibangun oleh Dr. Eben Nuban Timo namun saya secara pribadi menduga bahwa Dr. Eben Nuban Timo juga tidak percaya Trinitas / Tritunggal seperti anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya bisa menduga seperti itu? Karena Dr Eben Nuban Timo pernah menulis pada opini Pos Kupang di bawah judul : “Yesus dan Orang Lain” (2 Agustus 2008). Dalam tulisannya secara eksplisit Dr. Eben menulis bahwa Yesus bisa keliru menilai orang lain. Berikut pernyataan Dr. Eben yang saya kutipkan di sini : “ Yesus tidak hanya ada di antara okhlos untuk mengajar mereka. Yesus tidak datang kepada rakyat sebagai orang yang serba tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bersifat terbuka kepada mereka, bahkan ia belajar juga dari mereka. Dalam pertemuan dengan rakyat, Yesus siap membaharui, bahkan juga mengubah pendapat dan pandangannya yang semula keliru terhadap orang lain. Suatu kali Yesus bertemu dengan seorang perempuan yang agak berani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus menyamakan perempuan itu dengan anjing yang tidak pantas diperhatikan sama dengan anak kandung. Setelah perempuan itu mengajukan dasar – dasar yang valid dari tuntutanya itu, Yesus segera mengubah pendapatNya (Ringe, 1998:63). Ia membenarkan perempuan itu (Mk. 7 : 24 – 30). Itulah statemen Dr. Eben Nuban Timo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang membuat saya menduga bahwa Dr. Eben Nuban Timo juga tidak percaya Tritunggal. Mengapa ? Karena doktrin Allah Tritunggal hanya bisa kokoh berdiri jika kita mengakui keilahian Yesus Kristus yang adalah Pribadi kedua dalam ke-Tritunggalan Allah. Dan kepercayaan terhadap keilahian Yesus Kristus hanya bisa kokoh berdiri jika kita yakin bahwa Yesus adalah Allah yang Maha Suci, bebas dari dosa dan kekeliruan sekecil apapun. Tetapi faktanya ? Dr. Eben menulis bahwa Yesus bisa keliru / salah / khilaf. Jadi menurut pemahaman Dr. Eben Yesus bukan Allah, masa’ Allah koq bisa keliru ?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian saya punya keyakinan bahwa Dr. Eben Nuban Timo juga tidak percaya pada Allah Tritunggal. Sebenarnya saya juga heran, mengapa Dr. Eben bisa menulis bahwa Yesus bisa keliru ? Padahal saya pernah membaca tulisan Daud Tari (bekas mahasiswanya Dr. Eben). Daud Tari ketika masih duduk di bangku Sekolah Teologia di Fakultas Teologia UKAW Kupang, menulis dalam opini Timex di bawah judul : “Salahkah Pluralisme Agama”, sub judul “Agama dan Doktrin bukan untuk Allah tapi untuk Manusia” menulis bahwa “ Yesus tidak keliru, tetapi pemahaman kita tentang Yesus bisa keliru” (Timex, Senin 20 Februari 2006). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ini? Dr. Eben bilang Yesus bisa keliru dan Daud Tari bilang Yesus tidak keliru. Jadi sesungguhnya siapa yang keliru ? Dr. Eben yang keliru mengajar atau Daud Tari yang keliru mendengar ? Entahlah, Pak Eben dan Pak Daud, tolong jawab pertanyaan itu dulu ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke pak Julius lagi . Pak sebenarnya saya tertarik juga untuk menanggapi argumentasi anda yang lain, tetapi dengan melihat ketidakkonsistenan anda di awal tulisan anda saja sudah cukup membuat saya malas untuk menanggapi lebih lanjut. Akhir kata saya ingin mengutipkan sedikit ayat Alkitab untuk anda : “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di matamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudara mu (Mat 7 : 3 -5). Juga sebuah pepatah “Kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak kelihatan.” Yah, hanya orang – orang yang buta mata hatinya dan yang membutakan matanya yang tidak mampu melihat kebenaran Allah Tritunggal yang diwahyukan di dalam Alkitab. “Tidak ada orang yang lebih buta dari orang yang tidak mau melihat”. Soli Deo Gloria (SDG)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;*) Penulis, Pemuda Kristen, warga GMIT, tinggal di Rote&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-2855836427971802528?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/2855836427971802528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=2855836427971802528&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2855836427971802528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2855836427971802528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/trinitas-mengapa-dipersoalkan.html' title='TRINITAS, MENGAPA DIPERSOALKAN?'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-8847226959343420807</id><published>2009-03-17T07:50:00.000-07:00</published><updated>2009-03-17T07:55:38.486-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>JAUH PANGGANG DARI API</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagian Terakhir Dari 4 Tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Julius Sangguwali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOKTRIN Tritunggal begitu mempengaruhi cara berpikir para penganutnya sehingga memiliki pandangan “nyeleneh” untuk mempertahankan bahwa doa orang Kristen dapat ditujukan kepada Tu(h)an Yesus, selain kepada Bapa, Allah Yahweh. Alasan pertama, EAS (Esra Alfred Soru) menulis, “Jika Romo Tom Jacobs tidak lagi berdoa kepada Yesus, lalu bagaimana si Guru Besar Tafsir Kitab Suci ini memahami kata-kata Yesus dalam Yoh 14:14: ‘Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya’. Bukankah kata ‘kepadaKu’ ini menunjukkan bahwa doa bukan hanya boleh ditujukan kepada Bapa, tetapi juga kepada Yesus? Leon Moris (NICNT) berkata: ‘Keduanya (Bapa dan Anak) tidak terpisahkan, seperti dalam sepanjang paragraf ini. Itu sebab doa bisa ditujukan kepada yang mana pun dari mereka’ (New International Commentary of the NT, hal 646).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan EAS menganggap patut untuk berdoa kepada Yesus, salah satu alasannya karena Yoh. 14:14 ini. Tetapi mengapa EAS hanya memperhatikan ayat 14 saja, dan mengabaikan ayat-ayat lain? Dengan berbuat begitu, jelas EAS melakukan penafsiran: Jauh panggang dari api; mengabaikan konteks ayat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memiliki Peranan Vital&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang Yohanes 14 dibuka dengan ungkapan di ayat 1, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Kata-kata ini diucapkan Yesus kepada para pengikut sebelum kematiannya sebagai korban tebusan. Sebagai orang Kristen, harus beriman kepada Allah dan kepada Putra-Nya. Maka, orang-orang Kristen yang berhasrat menghampiri Allah dalam doa, hendaknya melakukan itu dalam nama Yesus. Di ayat 6 Yesus memberi tahu murid-muridnya, “…’Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.’” Yesus memiliki peranan vital sehubungan dengan maksud-tujuan Bapa-nya, Allah Yahweh. Mustahil untuk memiliki hubungan yang diperkenan dengan Allah tanpa beriman kepada korban tebusan Yesus Kristus. Sebab itu Yesus di ayat 13 menyatakan, ‘dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Perhatikan kata-kata terakhir, ‘Bapa akan dipermuliakan di dalam Anak’, jika doa itu dipanjatkan kepada Bapa (Yahweh) melalui Yesus (silakan EAS bandingkan dengan ayat paralel, yaitu ayat 23 dan 24 dari pasal ini). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan ayat 14? Dari uraian di atas, ayat ini tidak berdiri sendiri. Walau ayat 14 diterjemahkan oleh Alkitab TB (Terjemahan Baru) sebagai, ‘Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya’, yang mengakibatkan EAS berpendapat, “Bukankah kata ‘kepadaKu’ ini menunjukkan bahwa doa bukan hanya boleh ditujukan kepada Bapa, tetapi juga kepada Yesus?” Tafsir yang dipaksa oleh EAS ini akan runtuh jika diadakan studi perbandingan ayat dari Alkitab lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘kepadaKu’ di ayat 14 ini yang menjadi tumpuan EAS, ternyata tidak ada di sejumlah Alkitab. Good News Bible (Alkitab Kabar Baik) (2004) menerjemahkan ayat ini menjadi, “If you ask me for anything in my name, I will do it” (“Apa saja yang kalian minta atas nama-Ku, akan Kulakukan”). Kitab Suci Komunitas Kristiani (2002) menerjemahkan, “Dan segala sesuatu yang kamu minta sambil menyerukan nama-Ku, akan Kubuat.” The Kingdom Interlinear Translation of the Greek Scriptures (1969) menerjemahkan, “έάν τι αίτήαητέ με έν τώ όνόματί μου τοûτο ηοιήσω/if ever anything YOU should ask me in the name of me this I shall do (If YOU ask anything in my name, I will do it/Jika kamu meminta apa pun dengan namaku, aku akan melakukannya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perbandingan demikian, maka kata ‘kepada-Ku’, di tiga terjemahan tersebut, sekali lagi tidak ada. EAS keliru berpendapat, “…bahwa doa bukan hanya boleh ditujukan kepada Bapa, tetapi juga kepada Yesus”, yang sangat mengekor pada penafsiran/pendapat Leon Morris. Ya, EAS terlalu  jauh panggang dari api ketika menafsirkan Yoh. 14:14. Padahal konteks ayat-ayat di Yohanes pasal 14, menunjuk kepada kedudukan unik Yesus--bukan hubungan yang “tidak terpisahkan” pribadi dalam tritunggal. Tentang hal ini Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature (oleh John McClintock dan James Strong, 1981, Jil II, Grand Rapids, Michigan) menulis, “The object of prayer is God alone, through Jesus Christ as the Mediator. All supplications, therefore, to saints or angels are not only useless, but blasphemous. All worship of the creature, however exalted that creature is, is idolatry, and is strictly prohibited in the sacred law of God” (Tujuan doa adalah Allah sendiri, melalui Kristus Yesus sebagai Perantara. Oleh karena itu, semua permohonan, kepada orang-orang kudus atau kepada para malaikat tidak saja sia-sia, tetapi menghujah. Semua ibadah kepada makhluk ciptaan, tidak soal seberapa ditinggikan makhluk itu, adalah penyembahan berhala, dan dengan keras dilarang hukum kudus Allah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menyadari Kekeliruan Besarnya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada perubahan sewaktu Yesus, Putra Allah, datang ke bumi untuk membebaskan umat manusia dari dosa dan kematian? Bagi Romo Tom Jacobs adalah, tidak! Ya, sama sekali tidak ada perubahan! Sebelumnya, pasti Romo Tom juga pernah berdoa kepada Yesus selain kepada Bapa, dan belakangan menyadari kekeliruan besarnya. Jumlah orang-orang yang seperti Romo Tom Jacob, Frans Donald, dan lain-lain semakin hari bertambah banyak. Hanya EAS yang masih berkokoh dengan gagasan: Jauh panggang dari api; sehingga tidak matang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih berhubungan dengan wacana di atas, EAS menulis, “Lalu bagaimana…menafsirkan Kis 7:59-60 di mana Stefanus menjelang kematiannya, berdoa kepada Yesus? Kis 7:59-60: ‘Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.”’ Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.’” EAS pun mengomentari, “Ingatlah bahwa saat itu ia dipenuhi oleh Roh Kudus (Kis 7:55). Masakan ia salah dalam menujukan doanya pada saat ia dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, Stefanus dipenuhi Roh Kudus, tidak ada yang membantah. Tetapi masalahnya, apakah Stefanus sedang berdoa? Nampaknya Kis. 7:59 (Terjemahan Baru) menjawab, “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa…” Namun kata “berdoa” di beberapa terjemahan, tidak ada. Alkitab Terjemahan Lama (1958 yang dicetak ulang 2003) menulis, “Lalu mereka itu merajam Stepanus tatkala ia tengah berseru dengan kata-katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’” Good News Bible/Alkitab Kabar Baik mencatat, “The kept on stoning Stephen as he called out to the Lord, ‘Lord Jesus, receive my spirit!’” (Sementara mereka melempari Stefanus, Stefanus berseru, ‘Tuhan Yesus, terimalah rohku!”. Dua terjemahan Alkitab ini menerjemahkan kata “berdoa” di ayat 59 ini sebagai “berseru”. Jadi, mana yang benar? Stefanus sedang berdoa  atau berseru? Mari dibandingkan lagi dengan Alkitab The Kingdom Interlinear Translation og the Greek Scriptures (1969) yang menulis Kis. 7:59, “Кαί έλιθοβόλουν τόν ΣτέФανον έлιкαλούμενον καί λέуοντα Кύрιε Ίηαού, δέξαι τό пνεύμά μου·/And they were throwing stones at the Stephen calling upon and saying Lord Jesus, receive the spirit of me” (And they went on casting stones at Stephen as he made appeal and said: “Lord Jesus, receive my spirit”/Mereka terus melempari Stefanus dengan batu sementara ia membuat permohonan dan mengatakan, Tu[h]an Yesus, terimalah rohku). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan terjemahan bebas kata “permohonan”/”appeal” dari terjemahan bahasa Yunani έлιкαλούμενον, yang jika diterjemahkan kata demi kata, calling upon/berseru kepada. Jadi peristiwa Stefanus (ayat 59) tidak menyangkut doa, karena di ayat sebelumnya (ayat 56) Stefanus melihat Yesus dalam penglihatan dan berbicara kepadanya secara langsung. Perhatikan kutipan ayat 56, “Lalu katanya: ‘Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Ingatlah bahwa semata-mata berbicara bahkan kepada Allah tidak dengan sendirinya merupakan doa. Adam dan Hawa berbicara kepada Allah, mengajukan dalih atas dosa mereka yang besar, sewaktu Ia menghakimi setelah dosa mereka di Eden. Percakapan mereka kepada-Nya dengan cara itu bukanlah suatu doa (Kej. 3:8-19). Oleh karena itu, tidaklah benar untuk menyebutkan percakapan Stefanus dengan Yesus sebagai bukti bahwa sebenarnya dapat (harus) berdoa kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pernyataan Berseru &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EAS masih melanjukan wacana dengan menulis, “Lalu bagaimana lagi dengan 1 Kor 1:2b di mana semua orang percaya di segala tempat berdoa kepada yesus? 1 Kor 1:2b: ‘dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.’ Kata-kata ini jelas menunjukkan bahwa orang Kristen boleh berdoa kepada Yesus!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EAS mirip orang gendut yang kepleset kulit pisang. Ia hendaknya memperhatikan bahwa dalam bahasa aslinya, pernyataan “έпικαλαυμέοις” (to call upon/berseru/menyerukan) dapat mengartikan hal-hal lain selain doa. Bagaimana nama Kristus ‘called upon’ (diserukan) di mana-mana (di segala tempat)? Satu cara adalah bahwa para pengikut Yesus dari Nazaret secara terang-terangan mengakui dia sebagai Mesias dan Juruselamat dunia, melakukan banyak perbuatan menakjubkan dalam namanya (bandingkan 1 Yoh. 4:14; Kis. 3:6; 19:5). Karena itu, The Interpreter’s Bible (1990) menulis bahwa ungkapan “to call on the name of our Lord...means to confess his lordship rather than to pray to him” (menyerukan nama Tu[h]an kita…berarti mengakui wewenangnya sebagai Tuan sebaliknya daripada berdoa kepadanya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima Kristus dan mempraktekkan iman dalam darahnya yang dicurahkan, yang memungkinkan pengampunan dosa, juga berarti menyerukan nama Tu[h]an kita, Yesus Kristus (bandingkan Kis. 10:43 dengan 22:16). Jadi secara harfiah menyebut nama Yesus, kapan saja seseorang berdoa kepada Allah melalui dia. Maka, meskipun memperlihatkan bahwa seseorang dapat menyerukan nama Yesus, Alkitab tidak menyatakan harus berdoa kepadanya (Ef. 5:20; Kol. 3:17). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap doa adalah suatu bentuk ibadat. The World Book Encyclopedia (1987, Vol. 2) menegaskan hal ini, “Prayer is a form of worship in which a person may offer devotion, thanks, confession, or supplication to God” (Doa adalah suatu bentuk ibadat yang melaluinya seseorang dapat menyatakan pembaktian, syukur, pengakuan, atau permohonan kepada Allah). Pada suatu kesempatan Yesus mengatakan, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan [Yahweh], Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Yesus berpaut kepada pokok kebenaran bahwa ibadat--karena itu doa juga--harus ditujukan hanya kepada Bapanya, Allah Yahweh (Luk 4:8; 6:12). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus mati sebagai korban tebusan bagi umat manusia, dibangkitkan oleh Allah, dan ditinggikan kepada kedudukan yang dimuliakan. Seperti yang mungkin dibayangkan, semua hal ini pasti menghasilkan perubahan sehubungan dengan doa-doa yang diperkenan. Dengan cara bagaimana? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul Paulus melukiskan pengaruh besar yang dimiliki oleh kedudukan Yesus atas doa sebagai berikut, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!’” (Flp 2:9-11). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kata-kata “dalam nama Yesus bertekuk lutut” mengartikan bahwa kita harusd berdoa kepada? Tidak. Ungkapan bahasa Yunani di sini mencakup “denotes the name upon which those that bow the knee unite, on which united all [παν γόνυ] worship. The name which Jesus has received moves all to united adoration” (menunjukkan nama yang atasnya semua orang yang bertekuk lutut bersattu, yang atasnya semua [παν γόνυ] ibadat dipersatukan. Nama yang Yesus telah terima mendorong semua orang untuk bersatu dalam menyembah) (G.B. Winner, 1997:158, A Grammar of the Idiom of the New Testament, seventh ed., Andover). Memang, agar suatu doa dapat diterima, doa harus disampaikan “dalam nama Yesus”, namun meskipun demikian, ditujukan kepada Allah Yahweh dan berperan untuk memuliakan-Nya. Karena alasan ini, Paulus mengatakan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Flp 4:6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yesus Adalah “Jalan” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti sebuah jalan menuju ke satu tujuan, demikian pula Yesus adalah “jalan” yang membimbing kepada Allah Yang Mahakuasa. “…’Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”, demikian yang diajarkan Yesus kepada murid-muridnya (Yoh. 14:6). Maka, hendaknya menyampaikan doa-doa kepada Allah melalui Yesus dan tidak langsung kepada Yesus sendiri. Yesus bukan Allah Yang Mahakuasa, namun Yesus adalah Putra Allah, dan ia sendiri beribadat kepada Yahweh, Bapanya (Yoh. 20:17). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus adalah orang yang suka berdoa. Ia berdoa pada setiap kesempatan--sewaktu ia dibaptis (Lukas 3:21); sepanjang malam sebelum memilih 12 rasulnya (Lukas 6:12, 13); dan sebelum transfigurasinya yang menakjubkan di atas gunung, ketika sedang bersama rasul Petrus, rasul Yohanes, dan rasul Yakobus (Luk. 9:28, 29). Ia sedang berdoa ketika salah seorang dari murid-muridnya mengajukan permintaan kepadanya, “…ajarlah kami berdoa”, maka ia mengajarkan mereka “Doa Bapa Kami” (Luk. 11:1-4; Mat. 6:9-13). Ia berdoa sendirian dan lama pada waktu pagi-pagi sekali (Mrk. 1:35-39); menjelang petang, di atas gunung, setelah menyuruh murid-muridnya pergi (Mrk. 6:45, 46); bersama murid-muridnya dan demi kepentingan murid-muridnya (Luk. 22:32; Yoh. 17:1-26). Ya, doa adalah bagian yang penting dalam kehidupan Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berdoa sebelum melakukan mukjizat, misalnya sebelum membangkitkan Lazarus, temannya, “...’Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku’” (Yoh. 11:41, 42). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa pasti, Bapaknya akan menjawab doa itu menunjukkan kekuatan imannya. Hubungan antara doa dan iman kepada Allah ini, jelas dari apa yang dikatakan Kristus kepada murid-muridnya, “...apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Mrk 11:24). Maka, mengakhiri rangkaian artikel ini, bisakah “triotunggal”, EAS, Nelson M. Liem dan James Lola, menjawab pertanyaan sederhana: Mengapa Yesus berdoa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;*) Pemikir bebas, guru bahasa Inggris. Tinggal di Kupang. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-8847226959343420807?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/8847226959343420807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=8847226959343420807&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/8847226959343420807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/8847226959343420807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/jauh-panggang-dari-api.html' title='JAUH PANGGANG DARI API'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-5099632370528228353</id><published>2009-03-17T07:45:00.000-07:00</published><updated>2009-03-17T07:50:15.996-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>INDAH KABAR DARI RUPA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagian Ketiga Dari 4 Tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Julius Sangguwali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI awal rangkaian wacana EAS (Esra Alfred Soru) terhadap FD (Frans Donald), mengemukakan bantahan bahwa doktrin Tritunggal bukan produk Konsili Nicea tahun 325 M (Timex, Selasa, 9/12/2008:4). Oleh sebab itu, EAS menyodorkan bukti-bukti sejarah bahwa ajaran Trinitas sudah ada jauh sebagai ajaran dari Bapa-Bapa Gereja sebelum Konsili Nicea. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti sejarah pertama yang diajukan (tentang Aristides telah diuraikan pada bagian pertama rangkaian tulisan ini). Jadi, tidak perlu diulangi lagi. Sebab itu EAS menulis untuk bukti selanjutnya, “Pada tahun 150 M Justin Martyr menulis: ‘Allah dari alam semesta memiliki seorang Putera, yang juga menjadi yang pertama dilahirkan dari Firman Allah, bahkan Allah’. (Justin Martyr, First Apology, ch 63). Ia mengutip Ibrani 1:8 untuk membuktikan keilahian Kristus, ‘Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya’ (Dialogue with Trypo, ch 56) dan mengatakan: Oleh karena itu kata-kata ini (Ibr 1:8) menyatakan dengan tegas bahwa Ia (Kristus) disaksikan oleh Dia yang menetapkan/mengadakan segala sesuatu, sebagai yang layak untuk disembah, sebagai Allah dan sebagai Kristus (Dialog with Trypo, ch, 63). Di dalam Justin Martyr in Chap. LXVI para muridnya mengatakan bahwa Ia (Justin) membuktikan dari Kitab Yesaya bahwa Allah telah dilahirkan dari seorang perawan. Justin Martyr dalam dialognya dengan Trypo mengatakan kepada trypo bahwa: ‘Ia yang dipanggil sebagai seorang manusia oleh Yehezkiel, Anak Manusia oleh Daniel, seorang anak oleh Yesaya, dan Kristus dan Allah yang disembah oleh Daud….Untuk itu engkau harus mengerti bahwa ia yang dicatat oleh para nabi, tidak bisa kamu tolak bahwa Ia adalah Allah….Trypo juga mengatakan kepada Justin Martyr bahwa, ‘Kamu berkata bahwa Kristus sebagai Allah sebelum segala zaman dan bahwa Ia merendahkan diri dan dilahirkan menjadi manusia’….Kutipan-kutipan di atas membuktikan bahwa Justin Martyr yang hidup pada tahun 150 M sudah percaya bahwa Yesus adalah Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hanya Dua Subjek &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kutipan ini sama seperti sebelumnya--ketika EAS menggaris bawahi sehubungan dengan Aristides--hal yang sama juga digarisbawahi sebagai penekanan pada beberapa subjek dari ajaran Justin Martyr (1. bahkan [sebagai] Allah; 2. Kristus adalah Allah; 3. Ia adalah Allah). Tapi di mana konsep dari Justin Martyr tentang Allah dari Alkitab adalah Allah Tritunggal? Kutipan ini, hanya menunjukkan dua subjek. Di mana subjek ketiganya? Bukankah--tulis EAS--Justin Martyr sebagai “bapa-bapa gereja pra Nicea percaya...kepada doktrin Tritunggal”? Bukan Justin Martyr yang percaya kepada doktrin Tritunggal, melainkan EAS-lah yang terlebih dulu sudah terobsesi bahwa Justin Martyr penganut doktrin Tritunggal. Kutipan EAS pada kalimat terakhir, ‘Justin Martyr yang hidup pada tahun 150 M sudah percaya bahwa Yesus adalah Allah”, tentu tidak sama secara tersurat, ia percaya doktrin Tritunggal. Ini namanya: Indah kabar dari rupa (kabar biasanya melebihi keadaan sebenarnya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, sebelumnya terus terang saya ragu terhadap kutipan yang dipakai? EAS mencantumkan dengan metode (cara) yang tidak lazim, sebagaimana sudah dikutip di atas seperti ini: Justin Martyr, First Apology, ch 63; Dialogue with Trypho, ch 56, dan 63; Justin Martyr in Chap. LXVI; Dialogue of Justin with Trypho, A Jew, Chap. CXXVI [lihat juga The First Apology of Justin, Chap. XIII; XXII; LXIII; Dialogue of Justin with Trypo, A Jew, Chap. XXXVI; XLVIII; LVI; LIX; LXI; C; CV; CXXV; CXXVIII]; Dialogue with Trypho, ch 48. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar Justin Martyr menulis beberapa buku seperti Dialogue With Trypo dan First Apology dalam bahasa Yunani. Tetapi apakah EAS memiliki buku-buku ini. Saya yakin tidak. Jadi secara metode, EAS harus mencantumkan sumber bahan yang menulis buku-buku Justin Martyr. Jika sumber itu berupa buku, apa nama judul bukunya. Kalau dalam bahasa asing, kutip pula bahasa aslinya. Metode semrawut ini, apa memang disengaja untuk menutupi sesuatu sehingga pembaca binggung? Dengan demikian, pernyataan EAS pada tulisan terakhirnya (Timex, Jumat, 12/12/2008:4), “Saya sudah membuktikan bahwa hampir sebagian besar kutipan yang dilakukan oleh Frans Donald adalah hasil penipuan dan manipulasi…siapa bisa jamin bahwa dalam buku-buku…Frans mengutip dengan jujur kalau sebagian besar dengan cara tidak jujur?”, pantas dikembalikan pada EAS? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini juga bukan maling teriak maling? Tentu pembaca yang lebih tahu. Saya hanya ingin lagi menyatakan: Indah kabar dari rupa. Soal kutip mengutip itu adalah masalah teknis yang bisa diperbaiki kemudian. Janganlah mengabaikan peribahasa yang sudah terbukti: Tiada gading yang tak retak. Silakan EAS memperbaiki sumber kutipan pada tanggapan berikut, pasti FD akan melakukan hal yang sama, maka selesailah masalah teknis ini. Itu namanya, etika dalam berargumen. Terasa kanak-kanak ungkapan EAS ini, “Salahkah jika Sdr. Anton Bele berkata ‘Anathema Sit!?’ Silahkan pembaca menilai sendiri!!! Saya hanya menghadirkan Frans Donald yang sudah ‘telanjang’ di hadapan para pembaca sekalian dan silahkan masing-masing orang memberikan penilaian kepada si Unitarian ini!!”. Weleh-weleh ini namanya: Lain gatal lain digaruk (lain sakit lain obatnya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sebagai Perbandingan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari teknik mengambil sumber kutipan, maka secara substansi, benarkah Justin Martyr yang menulis surat-suratnya dalam bahasa Yunani, mengajarkan bahwa: Sang Putra sama kedudukannya dengan Sang Bapa, Yahweh? Terkesan dari sumber kutipan yang asal-asalan dari EAS, jawabannya: Benar! Namun dalam tulisan ini saya tidak ingin menghakimi, EAS salah atau tidak. Sebagai perbandingan, saya kutip buku Dr. H.R. Boer (A Short History of the Early Church, 1976:110) yang mengomentari hakikat utama pengajaran Para Apoligis, “Justin taught that before the creation of the world God was alone and that there was no Son....When God desired to create the world,...he begot another divine being to create the world for him. This divine being was called...Son because he was born; he was called Logos because he was taken from the Reason or Mind of God” (Justin [Martyr] mengajarkan bahwa sebelum penciptaan dunia, Allah seorang diri dan tidak ada Putra….Sewaktu Allah bermaksud menciptakan dunia,…Ia memperanakkan wujud ilahi lain untuk menciptakan dunia bagi-Nya. Wujud ilahi ini disebut….Putra karena ia dilahirkan; ia disebut Logos karena ia diambil dari Penalaran atau Pikiran Allah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boer masih menambahkan, “Justin and the other Apologists therefore taught that the Son is a creature. He is a high creature, a creature powerful enough to create the world but, nevertheless, a creature. In theology this relationship of the Son to the Father is called subordinationism. The Son is subordinate, that is, secondary to, dependent upon, and caused by the Father. The Apologists were subordinationists” (Justin dan Para Apologis lainnya dengan demikian mengajarkan bahwa Putra adalah suatu ciptaan. Ia merupakan ciptaan yang unggul, suatu ciptaan yang cukup berkuasa untuk menciptakan dunia namun, tetap suatu ciptaan. Dalam teologi, hubungan sedemikian antara Putra dan Bapa disebut subordinasionisme. Putra lebih rendah, yaitu, yang kedua sesudah, bergantung kepada, dan dijadikan oleh sang Bapa. Para Apologis adalah penganut subordinasionisme). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dua contoh catatan sejarah yang diajukan EAS (termasuk Aristides pada bagian awal tulisan ini) yang saya angkat, jelas menunjukkan Aristides dan Justin Martur tidak mengenal, apalagi percaya dan mengajarkan doktrin Tritunggal, baik secara tersurat maupun tersirat. Itu adalah tafsiran yang dipaksakan oleh EAS. Sebagai tambahan untuk perbandingan sejarah bagi EAS, terdapat  pernyataan yang lebih awal (dibandingkan contoh yang dikemukakan oleh EAS: Aristides 140 M; dan Justin Martyr 150 M) yang ditemukan dalam sebuah buku berisi 16 pasal yang disingkat dan dikenal sebagai The Didache, atau Teaching of the Twelve Apostles (Pengajaran Kedua belas Rasul). Beberapa sejarawan menganggapnya ditulis sebelum atau sekitar tahun 100 M. Penulisnya tidak diketahui (A Dictionary of Christian Theology, 1969:95, diedit oleh Alan Richardson, 1969, The New Encyclopædia Britannica, 15th Edition, 1985:79, Micropædia, Volume 4). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Didache membahas tentang hal-hal yang perlu diketahui orang-orang untuk menjadi kristiani. Dalam pasal ketujuh, buku ini menetapkan baptisan “in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit” (dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus), kata-kata yang sama yang digunakan Yesus di Matius 28:19 (Robert A. Kraft, 1965:163, The Apostolic). Namun buku itu tidak mengatakan apa-apa tentang ketiganya sederajat dalam kekekalan, kuasa, kedudukan, dan hikmat. Dalam pasal kesepuluh, The Didache memasukkan pernyataan iman berikut ini dalam bentuk sebuah doa, “We thank you, Holy Father, for your holy Name which you have made to dwell in our hearts; and for the knowledge and faith and immortality which you have made known to us through Jesus your Servant. Glory to you forever! You, Almighty Master, created everything for your Name’s sake...And to us you have graciously given spiritual food and drink, and life eternal through Jesus your Servant” (Kami bersyukur kepada-Mu, Bapa yang Suci, untuk nama-Mu yang suci yang telah Engkau taruh di dalam hati kami; dan untuk pengetahuan dan iman dan kekekalan yang telah Engkau beritahukan kepada kami melalui Yesus Hamba-Mu. Kemuliaan bagi-Mu selama-lamanya! Engkau, Tuhan Yang Maha Kuasa, menciptakan segala sesuatu demi nama-Mu...Dan Engkau telah memberi kami makanan dan minuman rohani, dan kehidupan kekal melalui Yesus Hamba-Mu) (Kraft, 1965:166-167). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ada Tritunggal?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan EAS resapi, apakah ada Tritunggal di sini? Tidak! Oleh sebab itu dalam The Influence of Greek Ideas on Christianity, Edwin Hatch (1987:252) mengutip kata-kata tersebut di atas kemudian menulis, “In the original sphere of Christianity there does not appear to have been any great advance upon these simple conceptions. The doctrine upon which stress was laid was, that God is, that He is one, that He is almighty and everlasting, that He made the world, that His mercy is over all His works. There was no taste for metaphysical discussion” (Dalam ruang lingkup pengaruh yang mula-mula dari kekristenan tidak terlihat kemajuan yang besar atas gagasan sederhana ini. Doktrin yang ditekankan adalah, bahwa Allah ada, bahwa Ia adalah satu, bahwa Ia Maha Kuasa dan Kekal, bahwa Ia menciptakan dunia, bahwa kemurahan hati-Nya ada di atas segala ciptaan-Nya. Tidak ada kecenderungan akan pembahasan filosofis yang abstrak). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pernyataan non-Alkitab yang demikian, rasanya aneh ketika rekan satu aliran EAS, James Lola menulis di awal tanggapannya (Timex, Kamis, 27/11/2008, “…kepercayaan terhadap ketidak percayaan kepada Ketritunggalan dalam Iman Kristen dan mengenai Ke Allahan Kristus adalah suatu kepercayaan yang tidak teruji di dalam sejarah atau dapat dikatakan adalah suatu kepercayaan yang telah hilang ditelan sejarah dan sesuatu yang telah dikalahkan sejarah”. Benarkah pendapat ini? Jika diikuti catatan di atas, jawabannya sudah diketahui, tidak benar. Apa pun bentuk wacana sehubungan dengan kepercayaan kepada Allah Yahweh dari kaum Unitarian, selalu ada sepanjang sejarah. Bahkan perlawanan kepada ajaran Allah Tritunggal berupa wacana (atau apa pun istilahnya) tetap saja ada, walau tidak ada penyelesaian yang tuntas dan dapat memuaskan semua pihak. Hal ini disebabkan karena wacana-wacana itu sejak abad ke-IV hingga sekarang, berangkat dari ketidak tulusan dan selalu disertai ancaman, penuh dengan intrik politis. Bukankah ini, setidaknya dibenarkan--sebagaimana tercermin dari pendapat James Lola, “…bahwa orang Kristen tidak perlu seperti ‘kebakaran jenggot’ [baca: mengutuk] ketika menerima atau mendapati pemikiran [baca: berbeda] yang seperti tulisan Frans Donald”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan sejarah kelam bagi yang berbeda pendapat terhadap doktrin Tritunggal diuraikan di buku A Short History of Cristian Doctrine (Bernhard Lohse, Edisi 1980:53), “But as for those who say, There was [a time] when [the Son] was not, and, Before being born He was not, and that He came into existence out of nothing, or who assert that the Son of God is of a different hypostasis or substance, or is created, or is subject to alteration or change--these the Catholic Church anathematizes” (Akan tetapi bagi mereka yang mengatakan, Ada [satu waktu] bilamana [Putra] tidak ada, dan bahwa Ia menjadi ada dari ketiadaan, atau siapa yang menyatakan bahwa Putra Allah terdiri dari wujud atau zat yang berbeda, atau diciptakan, atau bisa diubah atau berubah--mereka ini dikutuk oleh Gereja Katolik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sebagian konsili para uskup di Nicea di Asia Kecil pada tahun 325 M yang merumuskan suatu kredo yang menyatakan Putra Allah sebagai “Allah yang sejati” (true God), yang sekaligus berisi Anathemas on Opposers. Jadi, siapa saja yang percaya bahwa Putra Allah tidak sama kekalnya dengan Bapa atau bahwa Putra diciptakan, diserahkan kepada kutukan kekal. Dapat dibayangkan tekanan yang bersifat politis atas iman kaum awam untuk tidak boleh memilih sesuai hati nurani, selain menyetujui hal ini. Padahal, pilihan dan paksaan dua kutup berbeda, bukan? Ya, bagaikan mangga dengan jeruk, sangat berbeda bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Surat Rasuli Policarp&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada bukti sejarah ketiga dari EAS. Ia menulis, “Pada tahun 150 M juga Polycarpus dari Smirna mengatakan: Aku memuji-Mu untuk segala sesuatu, aku memberkati-Mu, aku memuliakan-Mu bersama dengan yang kekal dan Kristus surgawi. Putera-Mu yang terkasih, dengan siapa, kepada-Mu dan Roh Kudus, kemuliaan bagi kedua-Nya sekarang sampai selamanya. Amin! (Martyrdom of Polycarp 14). Jelas bahwa Polycarpus memuji dan menyembah dan memberi kemuliaan kepada Bapa, Kristus dan Roh Kudus.” Bukti ini selain bermasalah dengan kutipan yang tidak menyebut dari sumber mana, juga tidak ada petunjuk suatu Tritunggal/Trinitas yang diajarkan Polycarp. Kalau ada, mengapa Polycarp tidak menyebutnya, selain mengungkapkan Bapa, Kristus dan Roh Kudus. Apa yang ditulis Polycarp selaras dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dan para murid dan rasulnya. Misalnya dalam Surat Rasuli¬-nya, Polycarp menulis, “May the God and Father of our Lord Jesus Christ, and Jesus Christ Himself, who is the Son of God,...build you up in faith and truth” (Kiranya Allah dan Bapa dari Tuhan kita Kristus Yesus, dan Kristus Yesus Sendiri, yang adalah Putra Allah,…membangun kamu dalam iman dan kebenaran) (The Ante-Nicene Fathers, Volume I:35, diedit oleh Roberts dan James Donaldson, Americana Reprint of the Edinburgh Edition, 1985). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan, Polycarp tidak berbicara tentang suatu hubungan “Bapa” dan Putra” Tritunggal/Trinitas yang sama dalam suatu keilahian. Sebaliknya, ia berkata tentang “the God and Father” (Allah dan Bapa) dari Yesus, tidak hanya ‘Bapa dari Yesus’. Jadi Polycarp memisahkan Allah dari Yesus, sama seperti apa yang berulang kali dilakukan oleh para penulis Alkitab. Paulus berkata di 2 Kor. 1:3, “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus…” Polycarp tidak hanya mengatakan, “Blessed be the Father of Jesus” (Terpujilah Bapa [dari] Yesus) tetapi, “Blessed be the God and Father” (Terpujilah Allah dan Bapa) (dari) Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga Polycarp menulis (hlm. 33), “Peace from God Almighty, and from the Lord Jesus Christ, our Saviour” (Damai dari Allah Yang Mahakuasa, dan dari Tuhan Kristus Yesus, Juruselamat kita). Sekali lagi di sini, Yesus berbeda dari Allah Yang Mahakuasa, bukan satu pribadi yang sederajat dari suatu Keilahian tritunggal. Untuk menanggapi sekitar hal ini, terasa sudah cukup, untuk membuktikan EAS telah memanipulasi ajaran bapa-bapa pra-Nicea ini, menjadi: Lebih ‘indah kabar dari rupa’. Masih banyak kesempatan untuk menulis sekitar ajaran ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;*) Pemikir bebas, guru bahasa Inggris. Tinggal di Kupang.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-5099632370528228353?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/5099632370528228353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=5099632370528228353&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/5099632370528228353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/5099632370528228353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/indah-kabar-dari-rupa.html' title='INDAH KABAR DARI RUPA'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-4979095007042955825</id><published>2009-03-17T07:39:00.001-07:00</published><updated>2009-03-17T07:45:10.315-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>AIR KERUH DI HULU SAMPAI JUA KE MUARA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagian Kedua Dari 4 Tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Julius Sangguwali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA bagian kedua ini, masih merupakan kelanjutan pembahasan terhadap gagasan bahwa istilah Tritunggal/Trinitas, walau tidak ada dalam Alkitab tetapi menurut "Triotunggal”: EAS (Esra Alfred Soru), James Lola dan Nelson Liem, sangat jelas diajarkan dalam Alkitab. Bagi pembaca yang baru membaca bagian ini, harap membacanya juga bagian pertama tulisan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada gagasan ketiga EAS berpendapat: Karena hal ini [istilah dan rumusan Tritunggal/Trinitas, pen.] berkaitan dengan wahyu Allah. Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia lewat Alkitab yang adalah wahyu khusus-Nya. Meskipun demikian pewahyuan diri Allah ini terjadi secara bertahap. Inilah yang dalam teologi Kristen dikenal dengan istilah ‘Progresive Revelation’ (Wahyu progresif) artinya wahyu yang bersifat semakin maju, makin lama makin jelas, semakin lama muncul penjelasan-penjelasan yang semakin kompleks dan semakin sempurna.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat di atas sebenarnya ngambang sehingga menimbulkan multi tafsir. Yang disebut wahyu “khusus-Nya” itu bagaimana? Apa Alkitab? Kalau yang dimaksud adalah Alkitab, maka seperti sudah diuraikan pada bagian pertama, tidak terbukti bahwa istilah “Tritunggal/Trinitas”, ada di dalamnya, apalagi dianggap sebagai ‘wahyu-Nya’. Kalau yang dimaksudkan adalah ajaran doktrin Tritunggal/Trinitas adalah samar-samar atau berisi rujukan-rujukan, jelas bertentangan dengan argumen EAS sendiri sebelumnya bahwa, “Konsep tentang tritunggal sangat berakar kuat baik dalam PL [Perjanjian Lama] maupun PB [Perjanjian Baru].” Benar-benar sebuah konsep yang serba kusut. Benarlah kata orang bijak, “Air keruh di hulu sampai jua ke muara” (kalau permulaannya sudah dimulai dengan kekusutan, maka sampai akhirnya pun akan kusut juga). Doktrin Tritunggal memulai dari hulu (awal) yang “keruh”--hanya berisi rujukan-rujukan, hasilnya (hulu) muncul argumen yang ambigu (kabur, tidak jelas). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pasti Tumbang! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dipermasalahkan lagi, konsep “berakar kuat” itu yang seperti apa? Lha istilah Tritunggal/Trinitas saja tidak ada, lalu bagaimana bisa disebut berakar kuat? Apa bedanya dengan pengakuan sebelumnya yang telah diuraikan pada bagian pertama bahwa konsep ajaran Tritunggal adalah “sangat jelas” ada dalam Alkitab? Tetapi kenyataan (bukti), bangunan itu dibangun di atas pasir yang tidak stabil. Boleh saja EAS dkk secara bombaptis menyatakan sebagai berakar kuat, tetapi jika akarnya tumbuh di atas pasir yang rapuh, lambat atau cepat, pasti tumbang! Semua ini menunjukkan doktrin Tritunggal, “berakar” pada gagasan khayalan, bagaikan mimpi di siang hari bolong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih ambigu lagi kata-kata selanjutnya dari EAS: Pewahyuan diri Allah ini terjadi secara bertahap. Wahyu progresif yang bersifat semakin maju, makin lama makin jelas, semakin lama muncul penjelasan-penjelasan yang semakin kompleks dan semakin sempurna. Pertanyaannya, wahyu yang bertahap itu yang bagaimana? Apa yang dimaksud adalah Alkitab? Ataukah penjelasan/tafsiran terhadap Alkitab, lalu kemudian dianggap sebagai “wahyu”, begitukah maksudnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang EAS sendiri menjawabnya (Timex, Sabtu, 27/1/2007:4, kolom pertama dan kedua) dengan mengutip panjang-lebar dari buku Westminster Confession of Faith dan juga dari buku Allah Tritunggal karya junjungan EAS, Stephen Tong. Dengan mengacu pada dua buku karangan manusia (jangan lupa ini hanya sumber data tambahan), EAS sampai pada kesimpulan--yang juga terlihat ambigu, bahwa “…alasan mengapa kebenaran tritunggal dinyatakan/diwahyukan adalah agar manusia gampang memahaminya dan juga supaya manusia tidak jatuh kepada politeisme.´ Itu sebabnya kita tidak akan menemukan suatu rumusan yang lengkap tentang doktrin tritunggal dalam PL [Perjanjian Lama, pen.]. Nanti setelah wahyu Allah selesai dengan datangnya PB [Perjanjian Baru, pen.] barulah seluruh konsep tentang diri Allah dinyatakan sebagaimana dikatakan Westminster Confession of Faith (hal. 24): ‘Hanya ketika rencana penebusan Allah digenapi, barulah Allah diketahui seluruhnya’.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan ‘gampang memahami’ terhadap ajaran Tritunggal itu yang bagaimana? Anak kecil pun dapat menyatakan hal itu. Konsep ‘gampang memahami’ dari EAS, bisa jadi mengikuti kesimpulan beberapa orang bahwa yang diartikan oleh ajaran Tritunggal adalah sekadar menganggap Yesus memiliki keilahian dan keallahan. Mungkin pula, bahwa percaya kepada Tritunggal tidak lebih dari percaya kepada Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sebaliknya, pengamatan yang teliti atas kredo-kredo ajaran Tritunggal menunjukkan, betapa tidak memadai gagasan-gagasan sedemikian jika dihubungkan dengan doktrin yang formal tersebut. Dengan demikian, saya ingin tertawa membaca ungkapan selanjut EAS, ‘…supaya manusia tidak jatuh pada politeis.’ Artinya di luar dari doktrin Tritunggal, menurut EAS, ‘orang pasti jatuh pada politeis!’ Nah, pertanyaannya, apakah Patriak Abraham yang sama sekali tidak mengenal doktrin Tritunggal/Trinitas, dan bahkan Allah Tritunggal/Trinitas, adalah termasuk politeis? Biarlah EAS menjawabnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih mempunyai hubungan erat dengan pernyataan di atas, EAS masih membuat argumen ambigu, “Itu sebabnya kita tidak akan menemukan suatu rumusan yang lengkap tentang doktrin tritunggal dalam PL [Perjanjian Lama, pen.]. Nanti setelah wahyu Allah selesai dengan datangnya PB [Perjanjian Baru, pen.] barulah seluruh konsep tentang diri Allah dinyatakan sebagaimana dikatakan Westminster Confession of Faith (hal. 24): ‘Hanya ketika rencana penebusan Allah digenapi, barulah Allah diketahui seluruhnya’.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kata Kunci &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kata kunci yang perlu ditanggapi, yaitu “seluruh(nya)” yang ditulis EAS. Tentu yang dimaksud adalah Perjanjian Baru mengakomodasi ajaran Tritunggal secara ‘seluruh’[nya], lengkap, tuntas, jelas, nyata, gamblang, atau dengan istilah-istilah sejenisnya. Tetapi dengan gerakan satu jurus saja, EAS mati kutu! Di ayat mana, bukti atau bentuk yang lengkap, tuntas, jelas, nyata, gamblang sehubungan dengan (1) istilah Tritunggal/Trinitas; (2) Allah Tritunggal/Trinitas, ada dalam Alkitab? Jawabannya sangat tegas: Tidak ada! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertawa saya semakin berlanjut ketika membaca kalimat ngawur dari EAS ini, ‘semakin lama muncul penjelasan-penjelasan yang semakin kompleks dan semakin sempurna. ‘ Sangat lucu pendapat ini. Mengapa? Alkitab telah selesai ditulis pada akhir abad pertama dan secara doktrin adalah lengkap. Ini termasuk jati diri Allah--ajarannya yang paling penting--dalam Alkitab. Apa gunanya menahan ‘penjelasan’ atas jati dirinya, sementara ajaran-ajaran dasar lainnya adalah jelas? Pasti sebagai pencipta alam semesta, tidak akan sulit untuk menerangkan diri-Nya sebagai Allah Tritunggal/Trinitas--seandainya memang demikian? Ternyata Alkitab dengan konsisten tidak menulis dan mengajarkan doktrin Tritunggal, alasannya sederhana saja: Doktrin itu bukan ajaran Alkitab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan tertulis ini apakah tidak terlalu berlebihan? Tidak! Mari dilihat contoh-contohnya di Alkitab. Pertama, di Mat. 4:3-10, maka di ayat 4, 7, dan 10 Yesus mengatakan ‘Ada tertulis’. Jadi ada tiga kali Yesus mengungkapkan “ada tertulis”. Kedua, di Mat. 12:1-8, ada dua kali (ayat 3 dan 5) Yesus berkata, ‘Tidakkah kamu baca”. Ketiga, Luk. 10:25-29, ada dua kali Yesus berkata (ayat 26), “Jawab Yesus kepadanya: ‘Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?’” Keempat, Luk. 17:32, Yesus berkata, “Ingatlah akan isteri Lot!” (tentu Yesus sedang merujuk pada Kejadian 19:26 yang berbunyi, “...isteri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam). Memang semua contoh-contoh ayat ini tidak sedang membicarakan tentang jati diri Allah dari Alkitab, tetapi bisa dijadikan pelajaran (aplikasi) yang menunjukkan bagaimana Tu(h)an Yesus sering kali mengutip, menyadur, atau menyinggung ayat-ayat Alkitab untuk menjawab pertanyaan dan menangani situasi yang dihadapinya. Di ayat-ayat ini juga, Yesus balik bertanya, mempersilahkan si penanya untuk menjelaskan pemahamannya tentang sebuah ayat, dan Yesus mengutip, menyadur, atau menyinggung ayat-ayat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad pertama, gulungan Tulisan-Tulisan Kudus biasanya disimpan di sinagoga. Tidak ada bukti bahwa Yesus mempunyai koleksi pribadi gulungan-gulungan itu, tetapi ia mengenal baik Alkitab yang sering dirujuknya secara leluasa sewaktu mengajar orang lain (Luk. 24:27, 44-47). Bahkan di Yoh 8:26, Yesus dapat mengatakan bahwa apa yang diajarkannya tidak berasal dari dirinya sendiri, melainkan ia mendengar dari Bapa-Nya sewaktu ia masih di surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan wacana tentang ajaran Tritunggal yang katanya “Alkitabiah” itu, tidakkah seharusnya ingin meniru teladan Yesus? Apa yang dibuat oleh EAS dkk, jelas di luar pola dari ajaran Yesus. Memang EAS tidak mendengar Allah berbicara secara langsung. Tetapi, Alkitab adalah Firman Allah. Apabila menggunakannya sebagai dasar jawaban, EAS tidak menarik perhatian kepada diri sendiri, atau hal-hal di luar Alkitab. Justru EAS memperlihatkan, bukannya menyuarakan pendapat manusia yang tidak sempurna, melainkan bertekad teguh untuk membiarkan Allah menentukan standar kebenaran (Yoh. 7:18; Rm. 3:4). Disadari, konsep yang demikian akan bergantung pada sikap dalam mengantar gagasan-gagasan Alkitab, dengan mengatakan, (1) “Setujukah pembaca bahwa yang terpenting adalah apa yang Allah katakan tentang ajaran Trinitas/Tritunggal?” (2) “Tahukah pembaca bahwa Alkitab membahas pertanyaan-pertanyaan tentang ajaran Trinitas/Tritunggal?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja yang menerima Alkitab sebagai Firman Allah mengakui bahwa mereka mempunyai tanggung jawab khusus untuk mengajar orang-orang lain tentang Sang Pencipta. Mereka juga menyadari bahwa isi pokok yang dipergunakan untuk mengajar tentang Allah harus benar. Mengapa? Salah satu persyaratan untuk melayani sebagai hamba Tu(h)an adalah bahwa “...berpegang teguh kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya” (Tit. 1:9). Tentu prinsip ini berlaku pula ketika menjelaskan tentang ajaran dasar seperti Trinitas/Tritunggal, agar pandangan atau nasihat semacam itu berdasar kuat pada Alkitab! Sebaliknya, tidak spekulatif, tidak samar-samar, atau bahkan bersifat tersirat saja! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi saya ingin mengutip pendapat Eben Nuban Timo (ENT) bahwa, “Dia (baca: ajaran Trinitas/Tritunggal) berkembang karena tuntutan zaman…” (Timex, Kamis, 23/9/2004:4). Secara tidak langsung menunjukkan ajaran Trinitas telah mengalami desakan supaya sejalan dengan kecenderungan zaman (trend) memiliki sejarah yang panjang. Hal ini memunculkan pertanyaan, bagaimana perasaan Allah terhadap perubahan ini, apakah akan diterima? Apakah gereja-gereja yang mensponsori perubahan, pantas menyebut diri Kristen? Di sinilah perbedaan FD dan EAS. Yang disebut terakhir ini agaknya lebih menekan faktor kepentingan agama-teologi dengan tidak ada batas demarkasi. Perbedaan disebabkan karena perbedaan kerangka dasar pijak. Jika FD berangkat dari “atas” (tertulis), hal yang seharusnya dari Alkitab--nilai ideal dari yang tertulis--maka tentu catatan ini tidak perlu diperpanjang lagi, karena siapa saja tidak bisa melangkahi wewenang dari apa yang tersurat, terilham dari Allah. Sebaliknya EAS berangkat dari “bawah”, kondisi riil yang mengikuti arus trend duniawi. Tidak usah heran jika banyak orang yang berhati tulus seperti Prof JB Banawiratma, Romo Tom Jacobs, dan Hortensius F. Mandaru serta Frans Donald, yang belakangan berbalik pendapat bahwa Yesus bukan Allah Anak, tetapi Putra/Anak Allah. Ya, ternyata Yesus memiliki iman kepada Allah Yahweh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Melukis Potret Diri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti masih banyak orang yang berhati tulus setelah melihat bukti-bukti ajaran Tritunggal--yang diklaim sebagai Alkitabiah--sementara itu jelas-jelas tidak tertulis di dalam Alkitab, akhirnya “tersandungan”. Mengapa? Keadaan ini dapat diilustrasikan, misalkan EAS meminta seorang seniman melukis potret diri. Ketika sang seniman merampungkannya, EAS merasa senang; kemiripannya sempurna. EAS membayangkan bahwa anak-cucu-cicit akan melihat lukisan itu dengan bangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, pada beberapa generasi kemudian, salah seorang keturunan EAS merasa bahwa menipisnya rambut EAS pada lukisan itu kurang bagus, jadi ia menambahkan rambut di sana. Bentuk hidung juga kurang disukai, jadi diubahnya juga. “Perbaikan” lainnya dilakukan oleh generasi-generasi selanjutnya, sehingga akhirnya lukisan wajah EAS sudah jauh berbeda dengan aslinya. Jika EAS tahu bahwa ini akan terjadi, bagaimana perasaan EAS? Pasti, tidak senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kisah tentang potret diri ini mirip dengan kisah mereka yang mengaku diri Kristen. Sejarah menunjukkan, tidak lama setelah kematian rasul-rasul Kristus, wajah “Kekristenan” yang sesungguhnya mulai berubah, tepat seperti yang Alkitab nubuatkan (Mat. 13:24-30, 37-43; Kis. 20:30). Seperti yang Yesus singkapkan melalui perumpamaan tentang lalang dan gandum, dan melalui ilustrasi tentang jalan yang lebar dan jalan yang sempit (Mat. 7:13, 14). Kekristenan asli akan terus dipraktekkan oleh sedikit orang saja dari zaman ke zaman. Akan tetapi, mereka seolah-olah tertelan oleh mayoritas orang yang seperti lalang, yang memperkenalkan diri dan ajaran sebagai wajah asli Kekristenan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, sangatlah patut bila prinsip-prinsip Alkitab ini diterapkan dalam berbagai kebudayaan dan zaman. Namun di sisi lain EAS juga harus mengoreksi, patutkah bila ajaran Alkitab diubah agar selaras dengan pemikiran yang sedang populer/trend (tuntutan zaman--sekali lagi pinjam istilah Doktor ENT). Tetapi justru itulah kenyataannya yang terjadi pada sekitar abad ketiga dan keempat, pemimpin-pemimpin agama tertentu yang cukup berpengaruh, yang begitu gandrung pada ajaran trinitas dari filsuf kafir asal Yunani, Plato, mulai memodifikasi paham tentang Allah agar sesuai dengan rumus Trinitas. Catatan sejarah yang ternoda ini tidak dapat dipungkiri karena tersebar di berbagai literatur. Bagi orang yang berhati jujur yang ingin mencari kebenaran, tidak pantaskah ia bertanya, “Mungkinkah mereka telah melampaui perkara-perkara yang tertulis?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu faktor untuk dipertimbangkan dalam wacana ini adalah, andai kata doktrin Tritunggal ada dalam Alkitab (karena Yesus dan murid-muridnya dahulu mengajarkan), maka tentu para pemimpin gereja yang hidup segera setelah zaman itu juga akan mengajarkan doktrin Tritunggal. Maka silakan pembaca mengikuti topik ini pada bagian ketiga dari rangkaian tulisan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebelum bagian kedua ini diakhiri, saya ingin mengutip pandangan Will Durant, yang adalah sejarawan mengakui dengan jujur tentang asal-usul doktrin Tritunggal dalam bukunya, The Story of Civilization: Part III, (1978:595), “Christianity did not destroy paganism; it adopted it....From Egypt came the ideas of a divine trinity” (Kekristenan tidak membuang kekafiran; melainkan menerimanya….Dari Mesirlah gagasan mengenai suatu tritunggal ilahi muncul) (kursif, pen.). Jelas, doktrin Tritunggal tidak berdasarkan Alkitab, tetapi dengan resmi barulah ratusan tahun kemudian diterima pada Konsili Nicea tahun 325. Doktrin tersebut memasukkan gagasan kafir yang mempunyai asal-usul lama berselang di Babel dan Mesir zaman purba dan digunakan di negeri-negeri lain juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;*) Pemikir bebas, guru bahasa Inggris. Tinggal di Kupang.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-4979095007042955825?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/4979095007042955825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=4979095007042955825&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/4979095007042955825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/4979095007042955825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/air-keruh-di-hulu-sampai-jua-ke-muara.html' title='AIR KERUH DI HULU SAMPAI JUA KE MUARA'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-1572729501561192598</id><published>2009-03-17T07:24:00.000-07:00</published><updated>2009-03-17T07:38:24.767-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>BAGAIKAN BUMI DAN LANGIT</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagian Pertama Dari 4 Tulisan&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh : Julius Sangguwali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA bagian yang menjadi perhatian saya, ketika mengikuti “wacana” doktrin Tritunggal trinitas) di media massa, seperti Timor Express. Bagaimana masing-masing pihak--yang pro (pihak Trinitarian) dan kontra (pihak Unitarian)--beradu argumen dengan sumber yang sama, Alkitab, tetapi menghasilkan dua konsep yang sangat bertolak belakang. Dalam perbendaraan peribahasa disebut: Bagaikan bumi dan langit (sesuatu yang banyak sekali perbedaannya). Lalu, siapa yang benar, pihak Trinitarian atau Unitarian? Sama-sama mengaku Kristen, maka jangan-jangan justru ada kesalahan dari Pengarang Alkitab, yang juga berarti kesalahan dari para penulis Alkitab? Pengarang Alkitab hanya satu, yakni Allah Yang Mahakuasa, Yahweh, tetapi penulisnya banyak. Kurang lebih 40 penulis Alkitab ini, apakah pernah bertentangan satu sama lain, sehingga membuktikan bahwa bukan Allah-lah pengarangnya? Mengenai hal ini, catatan di 2 Ptr 1:20 dan 21, menyatakan bahwa yang menulis Alkitab adalah nabi Allah, maka tidak mungkin kesalahan ada pada pihak mereka. Jika demikian, para pembaca Alkitab-lah yang telah gagal mengikuti petunjuk roh Allah dalam membiarkan Allah menafsirkan Firman-Nya sendiri. Gagasan-gagasan pribadi telah menutupi pandangan mereka atas apa yang dikatakan Pengarang Alkitab sendiri. Ibarat domba yang terlihat di mata, tetapi sesungguhnya adalah serigala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengumpulkan Semua Ayat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya yang senang mengikuti perkembangan dalam wacana ini, demi memahami apa yang dikatakan Pengarang Alkitab mengenai ajaran Tritunggal/Trinitas, perlu mengumpulkan semua ayat yang berhubungan erat dengan topik yang sedang dibahas. Inilah yang harus dilakukan, dalam upaya mencari kebenaran terhadap pokok ini, ingin mendapat kejelasan, dengan membandingkan ayat-ayat dan mempertimbangkan artinya dalam bahasa yang digunakan untuk menulis Alkitab, akan sampai kepada penafsiran yang sesuai dengan Alkitab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari asumsi ini, maka mau tidak mau, langkah pertama yang perlu dipertanyakan, apakah kata Tritunggal/Trinitas ada dalam Alkitab? Semua pihak setuju menyatakan: tidak ada! Kalau begitu, jika dasarnya tidak ada, mengapa doktrin ini: dari tiada menjadi ada? Konsekwensi dari tidak adanya satu kata atau istilah Trinitas/Tritunggal, pasti berimbas pada penafsiran Alkitab yang bisa jadi, sangat dipaksakan dan mengada-ada. Sebagai contoh, perhatikan artikel Nelson M. Liem (Timex, Sabtu, 29 November 2008:4) menulis, “…Memang secara peristilahan, istilah Tritunggal tidak muncul dalam Alkitab. Namun tidak dapat disangkali bahwa Alkitab berbicara tentang Allah Tritunggal; baik Kitab Perjanjian Lama maupun Kitab Perjanjian Baru.” James Lola (Timex, Kamis, 27 November 2008:4) juga menulis, “…bahwa kita tidak menemukan istilah Allah Tritunggal di dalam Alkitab. Istilah itu memang tidak pernah ditemukan di dalam Alkitab...namun bukan berarti Alkitab tidak mengajarkan tentang hal ini karena sebenarnya ajaran tentang Allah Trinitas ini terdapat begitu jelas dalam Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.” Gagasan serupa juga dikemukakan Esra Alfred Soru (EAS) dalam Timex (12 Desember 2008:4) bahwa, “Kaum Trinitarian sendiri bukannya tidak tahu bahwa kata ‘Tritunggal’ tidak terdapat di dalam Alkitab. Walaupun kata tersebut tidak ada di dalam Alkitab, itu tidak berarti bahwa konsepnya juga tidak ada? Konsepnya jelas ada!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak beberapa kalimat yang dimiringkan, apakah ini bukan gagasan yang dipaksakan? Bagaimana mungkin, istilah Tritunggal, dan Allah Tritunggal tidak ada di dalam Alkitab tetapi pada saat yang bersamaan, mengklaim bahwa ‘tidak dapat disangkali bahwa Alkitab berbicara tentang Allah Tritunggal; atau ajaran ini ‘begitu jelas dalam Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru’, maupun ‘konsepnya jelas ada!’? Jika demikian, batasan dari kata-kata begitu jelas atau konsepnya jelas ada, sampai seberapa jauh? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 2001:465 mencatat kata jelas (dalam definisi pertama) sebagai, “terang; nyata; gamblang”. Perhatikan kata nyata yang diapit dengan dua kata terang dan gamblang. Dari definisi ini, doktrin Tritunggal/Trinitas sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai hal yang terang, nyata dan gamblang, karena memang istilah itu tidak ada secara tersurat di antara ayat-ayat Alkitab. Karena sedang mewacanakan jati diri Allah, maka dalam perspektif ini, Allah sejati dari Alkitab dapat dipastikan bukan Allah Tritunggal/Trinitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Diperlukan Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ikut serta “wacana” doktrin tritunggal, pada awal rangkaian tulisan ini, perlu diingatkan hal mendasar ini. Sebelum sampai pada analisis masalah yang baik dan menarik kesimpulannya bahwa Allah dari Alkitab adalah Allah Tritunggal, memang diperlukan penjelasan atau definisi kategori terhadap kata “jelas”. Sebaliknya akan terjadi simplikasi, bahkan reduksi yang sangat “longgar” jika itu tidak digunakan. Hasilnya, penjelasan itu bisa begitu sangat bebas menurut selera si penafsir. Coba perhatikan lebih jauh kutipan di atas dari EAS bahwa ‘Konsepnya jelas ada’ sekalipun ia mengakui bahwa istilah Tritunggal tidak ada dalam Alkitab. Argumen yang ambigu, tidak matang dan ngambang, semakin terbukti jika ditelusuri pada penjelasan sebelumnya sewaktu EAS menulis di Timex (Sabtu, 27 Januari 2007:4, bagian 5) sebagai tanggapan atas tulisan Frans Donald (FD). EAS menulis, “...kita harus ketahui bahwa istilah ‘tritunggal’ tidak muncul dalam Alkitab namun itu tidak berarti ini bukan ajaran Alkitab. Konsep tentang tritunggal sangat berakar kuat baik dalam PL [Perjanjian Lama] maupun PB [Perjanjian Baru]. Memang PL tidak berisikan suatu rumusan yang lengkap tentang tritunggal namun PL berisikan rujukan-rujukan atau indikasi yang mengarah pada doktrin tritunggal. Mengapa demikian? Karena hal ini berkaitan dengan wahyu Allah. Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia lewat Alkitab yang adalah wahyu khusus-Nya. Meskipun demikian pewahyuan diri Allah ini terjadi secara bertahap. Inilah yang dalam teologi Kristen dikenal dengan istilah ‘Progresive Revelation’ (Wahyu progresif) artinya wahyu yang bersifat semakin maju, makin lama makin jelas, semakin lama muncul penjelasan-penjelasan yang semakin kompleks dan semakin sempurna.” Perhatikan ungkapan “Progresive Revelation” yang dimiringkan adalah berasal dari Esra, sedangkan yang lainnya berasal dari saya, yang masing-masing akan diuji dalam rangkaian tanggapan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika disistematiskan, konsep ini mengandung beberapa gagasan yaitu (1) Istilah ‘tritunggal’ tidak muncul dalam Alkitab namun itu tidak berarti ini bukan ajaran Alkitab; (2) PL berisikan rujukan-rujukan atau indikasi yang mengarah pada doktrin tritunggal; (3) Karena hal ini berkaitan dengan wahyu Allah. Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia lewat Alkitab yang adalah wahyu khusus-Nya. Meskipun demikian pewahyuan diri Allah ini terjadi secara bertahap. Inilah yang dalam teologi Kristen dikenal dengan istilah ‘Progresive Revelation’ (Wahyu progresif) artinya wahyu yang bersifat semakin maju, makin lama makin jelas, semakin lama muncul penjelasan-penjelasan yang semakin kompleks dan semakin sempurna. Gagasan pertama, ‘istilah ‘tritunggal’ tidak muncul dalam Alkitab namun itu tidak berarti ini bukan ajaran Alkitab. Siapa saja tentu mengetahui argumen ini yang sering diulang-ulang oleh EAS dalam berbagai tulisannya, jelas terlihat sebagai suatu permainan kata-kata belaka. Mirip orang yang berkepribadian ganda yang menggunakan topeng, di satu pihak mengakui istilah “tritunggal” tidak ada dalam Alkitab, pada saat yang bersamaan, mengklaim sebagai ajaran Alkitab. Pertanyaan yang dapat diajukan, bagaimana mungkin doktrin utama ini justru dibangun dengan landasan (bukti) yang sangat rapuh (tiada), tapi diklaim sebagai begitu jelas ada. Bagaimana mungkin pula ajaran itu diklaim sebagai Alkitabiah? Bagi pencari kebenaran, tentu sulit menerima kenyataan ini. Sekalipun membuat “sejuta perkataan” atau “sejuta teori”, alangkah hambarnya pada tataran aplikasi, tidak ada pembuktiannya secara tertulis di dalam Alkitab. Ibarat sebuah rumah, “tukangnya” menyakinkan dengan mengatakan bangunan itu “sangat kuat” karena bertumpu pada struktur penyangga, atau fondasinya berdiri di atas batu karang. Tetapi kenyataan (bukti), bangunan itu dibangun di atas pasir yang tidak stabil. Seperti itulah fondasi doktrin Tritunggal/Trinitas dibangun. Gagasan kedua, PL berisikan rujukan-rujukan atau indikasi yang mengarah pada doktrin tritunggal. Sebenarnya argumen ini, perluasan dari argumen pertama, hanya EAS membatasi pada PL (Perjanjian Lama). Pertanyaan yang dapat diajukan, mengapa hanya “berisi rujukan-rujukan atau indikasi yang mengarah pada doktrin tritunggal? Apakah sulit bagi pengarang Alkitab, Allah Yang Mahkuasa untuk membuat jelas jati diri-Nya walau itu pada zaman Perjanjian Lama? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bukan Sumber Primer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diingat, semua data sebagai dasar argumen, jika itu hanya samar-samar “atau indikasi yang mengarah”, bukanlah sumber primer (terilham), melainkan data tambahan (subsider). Jika sumber data tambahan dibalik atau dijadikan sebagai data primer, akan terjadi reduksi pemaknaan terhadap apa yang ditafsirkan. Sumber tambahan ini juga digunakan oleh EAS (Timex, Selasa, 9/12/08) ketika membangun argumen dari Aristides yang hidup pada tahun 140 M. EAS menulis berdasarkan sumber data tambahan itu, “...Justru sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa bapa-bapa gereja pra Nicea percaya bahwa Yesus adalah Allah dan dengan demikian juga percaya kepada doktrin Tritunggal.” Benarkah? EAS menjawab sendiri, “Pada tahun 140 M seorang yang bernama Aristidas mengatakan bahwa: ‘Orang Kristen adalah mereka yang berada di atas setiap orang di bumi, yang telah menemukan kebenaran karena mereka mengakui adanya Allah pencipta dan penyebab segala sesuatu, di dalam Putera satu-satunya dan di dalam Roh Kudus. (Apology 16).” Walaupun EAS menggaris bawahi tiga subjek (Allah, Putera satu-satunya, dan Roh Kudus), tapi di mana gagasan Aristidas yang menegaskan bahwa ketiga subjek ini adalah satu sehingga membentukan Tritunggal? Tentu, tuntutan ini tidak mengada-ada karena konsekwensi dari perkataan EAS pada kutipan di atas, “...bapa-bapa gereja pra Nicea percaya...kepada doktrin Tritunggal.” Karena hanya data ‘indikasi’ (meminjam istilah EAS) doktrin Tritunggal yang bagaimanakah diajarkan oleh Aristidas? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam konteks gagasan kedua dari EAS, akan semakin menarik jika saya hubungkan wacana ini dengan pendapat Dr. Eben Nuban Timo (ENT) yang menulis di Timex (Kamis, 23 September 2004:4) di bawah judul “Sisi Lain dari Sejarah Doktrin Trinitas”. Ia menulis, “Kita lihat bahwa doktrin Trinitas itu berkembang. Ingat ajaran trinitasnya yang berkembang, bukan Tritunggalnya yang berkembang. Dia berkembang karena tuntutan zaman. Ada orang yang mempersoalkan keilahian Yesus Kristus. Gereja memberikan jawaban melalui pengakuan iman Nicea. Setelah Nicea orang mempersoalkan lagi kealahan Roh Kudus. Para Patriark datang lagi ke Konstantinopel. Mereka memberi jawaban dengan membuat pengakuan bahwa Roh itu adalah Allah yang keluar dari sang Bapa melalui Anak. Pengakuan iman Nicea (325) dikembangkan dan mencapai bentuknya di Konstantinopel (381)…” (tulisan miring, pen.). Perhatikan kalimat ‘karena tuntutan zaman’, mengandung arti, ajaran Tritunggal/Trinitas berkembang ‘karena tuntutan zaman’ karena ada ‘yang mempersoalkan keilahian Yesus Kristus. Jadi ‘karena tuntutan zaman’, berarti penyebabnya bukan dari dalam (tuntutan Alkitab), sebaliknya tuntutan (faktor) dari luar Alkitab. Mengapa bukan tuntutan Alkitab? Karena Alkitab tidak pernah menulis tentang jati diri Allah Tritunggal/Trinitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip yang sama juga pernah diuraikan oleh FD ketika menulis di Timex (Selasa, 16/1/2007:4), “Bagi saya cukup jelas, sejarah tidak bisa disangkal lagi, Trinitas yang menyatakan Yesus sebagai Allah sejati adalah berasal dari alam pikir filsafat Yunani. Filsafat Yunani memang sangat sesuai untuk kebudayaan debat (Apologet) dan adu filosofi karena memiliki multi tafsir dalam pemaknaannya. Dengan filsafat Yunani, hitam bisa dibilang putih, putih bisa dibilang hitam. Tiga bisa dibilang satu, satu dibilang tiga. Sangat berbeda dengan konsep Yahudi, tiga ya tiga, satu ya satu. Nah, masalahnya apakah kita harus berkiblat ke tradisi pikir Yunani yang melahirkan ajaran Trinitas dan menjadikan Yesus sebagai Allah sejati hasil rumusan konsili-konsili tahun 325 dan 381 M yang sangat sarat kepentingan politik, atau, berkiblat kepada Monoteisme Yahudi sebagai bangsa keturunan Yakub yang beriman kepada Allah yang Esa yaitu Yahweh?....Dalam tulisannya Esra mengatakan bahwa Yesus = Yahweh (ALLah sejati), padahal sejarah-sejarah telah membuktikan bahwa Yesus baru dijadikan sebagai Allah sejati oleh Doktrin Tritunggal/Trinitas hasil konsili-konsili yang penuh muatan politik jauh ratusan tahun setelah Yesus terangkat ke sorga.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Fundamentalis-Buta &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat FD yang bernuansa sejarah ini, senada dengan ENT yang adalah penganut Trinitas/Tritunggal, tetapi mengapa EAS bersikap tidak jujur dan membantah? Dalam tanggapan baliknya (Timex, Jumat, 25/1/2007:4), EAS menulis, “Apa yang dituduhkan oleh FD ini mirip sekali dengan tuduhan murahan aliran Saksi Yehovah....FD berkata ‘sejarah telah membuktikan?’ Mana sejarahnya? Coba buktikan! Jangan cuma ngomong dong!” Aneh pendapat EAS ini. Sudah ada bukti sejarah yang menumpuk bahwa adanya ajaran Tritunggal ‘karena tuntutan zaman’ (pendapat Dr ENT) sebagai faktor luar (bukan Alkitab), tapi meminta bukti yang bagaimana lagi? Jelas ini mengada-ada. Hanya orang-orang fundamentalis-buta yang memang sering bersikap tidak masuk akal. Pencetus doktrin Tritunggal/Trinitas adalah agama Katolik Roma, melalui New Catholic Encyclopedia, 1967:299, Volume 14, mengakui dengan terus terang, “The formulation ‘one God in three Persons’ was not solidly established, certainly not fully assimilated into Christian life and its profession of faith, prior to the end of the 4th century. But it is precisely this formulation that has first claim to the title the Trinitarian dogma. Among the Apostolic Fathers, there had been nothing even remotely approaching such a mentality or perspective” (Perumusan ‘satu Allah dalam tiga Pribadi’ tidak ditetapkan dengan tegas, dan pasti tidak dilebur sepenuhnya dalam kehidupan Kristen dan pengakuan imannya, sebelum akhir abad ke-4. Namun tepatnya rumus inilah yang pertama-tama mendapat nama dogma Tritunggal. Di antara Bapa-Bapa Rasuli, tidak ada bahkan sedikit pun yang mendekati sikap atau pandangan seperti itu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pencetusnya sendiri (pemegang hak cipta) mengakui dengan jujur berdasarkan sejarah tentang asal-usul doktrin Tritunggal. Anehnya, mengapa pihak kedua (peminjam), yang juga tidak memiliki kapasitas sebagai sejarawan--“Triotunggal”: EAS, James Lola, dan Nelson M. Liem--secara fundamentalis menyatakan sebaliknya, bahwa ajaran tentang Allah Trinitas ini terdapat begitu jelas dalam Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru? Pihak mana yang patut diberi “tanda penghargaan besar”, sebagai sangat tidak jujur? Memang benar kata peribahasa, antara orang yang jujur dengan yang tidak, bagaikan bumi dan langit.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;*) Pemikir bebas, guru bahasa Inggris. Tinggal di Kupang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-1572729501561192598?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/1572729501561192598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=1572729501561192598&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/1572729501561192598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/1572729501561192598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2009/03/bagaikan-bumi-dan-langit.html' title='BAGAIKAN BUMI DAN LANGIT'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-4304420914174742268</id><published>2008-12-27T08:23:00.000-08:00</published><updated>2008-12-27T08:44:11.670-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>Kabar Penting!!!</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu ada seorang yang tinggal di Kupang bernama A.G. Hadzarmawit Netti membuat sebuah tanggapan tertulis terhadap doktrin-doktrin yang diajarkan oleh saya maupun Pdt. Budi Asali. Dalam tanggapannya tersebut, Ia menolak hampir semua dasar yang kami pakai untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Allah bahkan tidak canggung-canggung ia mencap saya dan Pdt. Budi Asali sebagai sesat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisannya itu kami tanggapi sekedar saja dan menyerahkan kepadanya dan ternyata tanggapan kami itu ditanggapi balik oleh A.G.Hadzarmawit Netti ini. Sementara kami membuat/menyusun tanggapan balik untuknya, ternyata saya menemukan sebuah tulisan di dalam blognya Unitarian (Frans Donald) dengan judul "Kabar Penting!". Baiklah saya kutipkan di sini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KABAR PENTING!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang sudah tahu bahwa dalam berbagai kesempatan (seminar, dialog / debat, dan buku-buku / tulisan-tulisan) Pdt. Budi Asali M Div. (Pendeta Gereja Reformed yang bergelar M. Div., tinggal di Surabaya) sangat gemar (bangga, hobi, kebiasaan, sudah karakter) mulutnya mengeluarkan umpatan-umpatan emosional yang ditujukan kepada setiap orang yang berbeda paham dengannya, “kata-kata mutiara” a la seorang Budi Asali yang berpredikat sebagai Pendeta, Penulis, Pengajar, Pengkotbah itu di antaranya adalah selalu menganggap orang lain (yang berbeda pendapat dengannya) sebagai:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“orang bodoh”&lt;br /&gt;“goblok”&lt;br /&gt;“sok pintar”&lt;br /&gt;“omong kosong”&lt;br /&gt;“gila”&lt;br /&gt;“bodoh dan sesat”&lt;br /&gt;“tanpa otak”&lt;br /&gt;“ngawur”&lt;br /&gt;“tidak becus”&lt;br /&gt;“tolol”&lt;br /&gt;“tolol dan sesat”&lt;br /&gt;dsbnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang mana semua “kata-kata mutiara”-nya itu sesungguhnya adalah CERMIN DARI DIRI BUDI ASALI SENDIRI, yang oleh karenanya izinkanlah kami mengembalikan “kata-kata mutiara a la Budi Asali” tersebut kepada dirinya sendiri yang ternyata sesungguhnya adalah seorang Pdt. M. Div yang amat sangat “bodoh”, “goblok”, “sok pintar”, “omong kosong”, “gila”, “bodoh dan sesat”, “tanpa otak”, “ngawur”, “tidak becus”, “tolol”, “tolol dan sesat” dsbnya sesuai “kata-kata mutiara” a la Budi Asali tersebut.&lt;br /&gt;Ingatlah saudara-saudari bahwa ADA TERTULIS dalam kitab Pengkotbah pasal 10 ayat 2-3:&lt;br /&gt;Hati orang berhikmat menuju ke kanan, tetapi hati orang bodoh ke kiri. Juga kalau ia berjalan di lorong orang bodoh itu tumpul pikirannya, dan IA (si orang bodoh itu) BERKATA KEPADA SETIAP ORANG: “ORANG ITU BODOH!”&lt;br /&gt;Kesaksian Kitab Suci (yang menyingkap hal orang bodoh) tersebut sungguh tergenapi dalam diri seorang Budi Asali yang ternyata samasekali bukan seorang manusia yang berBUDI yang ASALI (melainkan tampaknya hanyalah seorang yang berBUDI ASAL-ASALAN , dan hanyalah orang yang sangat bodoh) yang terbukti dengan fakta di mana-mana ia selalu menganggap orang lain sebagai bodoh, menggenapi Pengkotbah 10:3 IA (si orang bodoh itu, yaitu BUDI ASALI) -SANGAT SUKA- BERKATA KEPADA SETIAP ORANG: “ORANG ITU BODOH!&lt;br /&gt;Saudara mau lebih tahu bukti akurat tak terbantahkan perihal kebodohan, kegoblokkan, kengawuran, kegilaan, keomong-kosongan, kesesatan, ketololan, dari Budi Asali dan muridnya (Esra Alfred Soru S. Th.) yang TELAH DISINGKAPKAN – DITELANJANGI HABIS-HABISAN – serta DIBUNGKAM DENGAN TELAK oleh seorang Kristen yang tinggal di Kupang NTT yang bernama A.G. Hadzarmawit Netti ? Silahkan segera simak buku luar biasa (sangat tajam, cerdas, berani, benar-benar tidak biasa!) berjudul:&lt;br /&gt;POLEMIK ANTARA A.G. HADZARMAWIT NETTI DENGAN Pdt. BUDI ASALI M. Div – ESRA ALFRED SORU&lt;br /&gt;Bisa didapatkan dalam bentuk photo copy-an setebal 81 halaman berjilid rapi ukuran A4 (seharga bea copy + jilid Rp. 13.000,-).&lt;br /&gt;Bagi yang berminat silahkan pesan ke 081 7971 9991 dan silahkan transfer penggantian bea copy + jilid (Rp 13.000) + bea kirim (wilayah Jawa bea kirim Rp. 15.000, luar Jawa bea kirim Rp. 25.000) ke Rek. BCA 4620415796 a.n Yulianti.&lt;br /&gt;Buku akan dikirim ke alamat pemesan via POS KILAT KHUSUS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan sampaikan KABAR PENTING ini pada seluruh rekan-rekan saudara. Trims.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah tulisan Frans Donald&lt;br /&gt;(Baca tulisan aslinya di sini : &lt;a href="http://www.fransdonald.blogspot.com/"&gt;www.fransdonald.blogspot.com&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca tulisan tersebut, saya jadi sadar rupanya A.G. Hadzarmawit Netti ini adalah seorang Unitarian yang telah berkomplot dengan Frans Donald. Tetapi yang membuat saya lucu adalah mengapa Frans Donald begitu yakin bahwa tulisan bodoh dan ngawur dari A.G. Hadzarmawit netti itu disebut sebagai tulisan yang tajam, cerdas, berani, benar-benar tidak biasa? Apalagi tulisan itu menelanjangi dan membungkam kami? Ha...ha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, karena Frans Donald telah mempublikasikan tulisan dari A.G. Netti itu maka berikut ini saya juga ingin sampaikan kepada semua pembaca bahwa tulisan ngawur dan bodoh dari A.G. Hadzarmawit netti itu telah kami tanggapi sebanyak 200 halaman dan tanggapan tersebut telah diserahkan kepada A.G. Netti yang hingga saat ini belum ada tanggapan balik darinya. Kita tunggu saja apakah ia sanggup menanggapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saudara-saudara yang ingin mendapatkan tanggapan tersebut, silahkan ajukan permintaan ke : esra_alfred@yahoo.com. Tidak dijual, tidak pake bayar seperti yang dilakukan oleh Frans Donald si nabi palsu itu dan rekannya A.G. Hadzarmawit Netti. Silahkan sampaikan kabar gembira ini ke semua rekan penjunjung doktrin Trinitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Esra Alfred Soru&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-4304420914174742268?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/4304420914174742268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=4304420914174742268&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/4304420914174742268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/4304420914174742268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2008/12/kabar-penting.html' title='Kabar Penting!!!'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-7516776299101993239</id><published>2008-12-21T10:14:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T10:16:24.528-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Natal'/><title type='text'>MENJAWAB PERTANYAAN- PERTANYAAN SEPUTAR NATAL (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Esra Alfred Soru &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama mengasuh Program Tanya Jawab Iman Kristen “KUTAHU YANG KUPERCAYA”, baik saat masih disiarkan di Radio Madika maupun juga saat ini di RRI (Programa 2), saya telah menerima begitu banyak pertanyaan seputar peristiwa Natal. Walaupun pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah saya jawab melalui siaran radio, namun demi penjangkauan yang lebih luas, saya memandang perlu untuk menjawabnya secara tertulis agar dapat menjadi pengetahuan bagi lebih banyak orang Kristen terutama berkaitan dengan momen Natal yang ada di depan kita sekalian. Lewat tulisan ini saya akan menjawab sejumlah pertanyaan seputar peristiwa Natal.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 1 : Darimana asal kata “Natal”? Dan apa arti kata tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Kata “Natal” berasal dari bahasa Portugis yang artinya adalah “hari kelahiran”. Itulah sebabnya hari ulang tahun sebuah organisasi/lembaga sering disebut sebagai “Dies Natalis”. Jadi setiap hari kelahiran dapat disebut sebagai hari Natal. Itu berarti bahwa semua orang mempunyai hari Natalnya sendiri-sendiri. Jika anda lahir pada tanggal 12 April maka Natal anda adalah 12 April. Jika anda lahir 8 Agustus maka Natal anda adalah 8 Agustus. Kata tersebut akhirnya mengalami penyempitan makna sehingga saat ini jika kita mendengar atau menyebut kata “Natal” biasanya dikaitkan dengan hari kelahiran dari Yesus Kristus.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 2 : Kapan sebenarnya Yesus dilahirkan? Benarkah Ia dilahirkan tanggal 25 Desember? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Kapan sebenarnya Yesus dilahirkan? Apakah Ia memang dilahirkan tanggal 25 Desember? Jawabannya adalah Tidak! Tidak ada satu sumber pun yang mengacu pada tanggal tersebut. Kalau kita membaca Alkitab dengan seksama maka kita mempunyai satu acuan yang baik yakni dalam Luk 2:8 : “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”. Jadi waktu Yesus dilahirkan bertepatan dengan saatnya para gembala tinggal di padang untuk menjaga kawanan ternak. Dari fakta ini rasanya sulit untuk mengatakan bahwa kelahiran Kristus terjadi pada bulan Desember. Mengapa? Karena bulan Desember adalah musim dingin di Israel. (Catatan : Israel terletak pada garis lintang yang sejajar dengan Jepang dan Korea Selatan). Herlianto dalam website Yayasan Bina Awam (www.yabina.org) berkata : “Kelihatannya bulan dan tanggal itu (25 Desember) tidak tepat, soalnya pada bulan Desember – Januari, di Palestina, iklimnya cukup dingin dengan beberapa tempat bersalju, sehingga agaknya tidak mungkin ada bintang terang di langit dan para gembala bisa berada di padang Efrata dalam keadaan musim demikian (Luk.2:8), demikian juga tentunya kaisar Agustus tidak akan mengeluarkan kebijakan sensus dan menyuruh penduduk Yudea melakukan perjalanan jauh dalam suasana dingin yang mencekam sehingga Maria yang hamil mesti melakukannya”. Dengan demikian Yesus tidak mungkin lahir pada bulan Desember. Klemens dari Alexandria juga pernah mengatakan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Pachon (20 Mei) namun ini juga bukan suatu kepastian. Lalu bulan apa? Kita memiliki data lain dari Alkitab yakni waktu ketika Zakharia masuk ke Bait Allah dan bertugas di sana. Waktu itu berkisar bulan Siwan (Mei – Juni) dan dengan memperhitungkan lama kandungan Elizabeth dan Maria, maka diperkirakan kelahiran Yesus terjadi pada sekitar Hari Raya Pondok Daun yakni di bulan Tishri (September – Oktober). Bulan ini sepertinya lebih dapat diterima daripada bulan Desember meskipun ini bukanlah suatu kepastian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang waktu kelahiran Yesus bukanlah di bulan Desember, lalu mengapa atau darimana munculnya tradisi Natal yang dirayakan tanggal 25 Desember ini? Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Christmas’mengatakan : “Alasan mengapa Natal sampai dirayakan pada tanggal 25 Desember tetap tidak pasti, tetapi paling mungkin alasannya adalah bahwa orang-orang Kristen mula-mula ingin tanggal itu bertepatan dengan hari raya kafir Romawi yang menandai ‘hari lahir dari matahari yang tak terkalahkan’ ...; hari raya ini merayakan titik balik matahari pada musim dingin, di mana siang hari kembali memanjang dan matahari mulai naik lebih tinggi di langit. Jadi, kebiasaan yang bersifat tradisionil yang berhubungan dengan Natal telah berkembang dari beberapa sumber sebagai suatu akibat dari bertepatannya perayaan kelahiran Kristus dengan perayaan kafir yang berhubungan dengan pertanian dan matahari pada pertengahan musim dingin. ... Tanggal 25 Desember juga dianggap sebagai hari kelahiran dari dewa misterius bangsa Iran, yang bernama Mithra, sang Surya Kebenaran”. Lalu kalau begitu apakah perayaan Natal ini berbau kekafiran seperti dituduhkan oleh beberapa golongan belakangan ini? (Catatan : Beberapa gereja menolak merayakan Natal karena beranggapan bahwa Natal bersumber dari tradisi kafir). Tentu saja tidak! Harus diingat bahwa perayaan Natal yang bertepatan dengan perayaan kafir itu bukan berarti bahwa umat Kristen waktu itu menyembah dewa-dewa kafir. Sebaliknya justru mereka ingin menjauhkan diri dari kekafiran. Perhatikan kata-kata Herlianto : “Pada tahun 274, di Roma dimulai perayaan hari kelahiran matahari pada tanggal 25 Desember sebagai penutup festival saturnalia (17-24 Desember) karena diakhir musim salju matahari mulai menampakkan sinarnya pada hari itu. Menghadapi perayaan kafir itu, umat Kristen umumnya meninggalkannya dan tidak lagi mengikuti upacara itu, namun dengan adanya kristenisasi masal di masa Konstantin, banyak orang Kristen Roma masih merayakannya sekalipun sudah mengikuti agama Kristen. Kenyataan ini mendorong pimpinan gereja di Roma mengganti hari perayaan ‘kelahiran matahari’ itu menjadi perayaan ‘kelahiran Matahari Kebenaran’ dengan maksud mengalihkan umat Kristen dari ibadat kafir pada tanggal itu dan kemudian menggantinya menjadi perayaan ‘Natal.’ Pada tahun 336, perayaan Natal mulai dirayakan tanggal 25 Desember sebagai pengganti tanggal 6 Januari. Ketentuan ini diresmikan kaisar Konstantin yang saat itu dijadikan lambang raja Kristen. Perayaan Natal kemudian dirayakan di Anthiokia (375), Konstantinopel (380), dan Alexandria (430), kemudian menyebar ke tempat-tempat lain”. (www.yabina.org). Herlianto melanjutkan : “Dari kenyataan sejarah tersebut kita mengetahui bahwa Natal bukanlah perayaan dewa matahari, namun usaha pimpinan gereja untuk mengalihkan umat Roma dari dewa matahari kepada Tuhan Yesus Kristus dengan cara menggeser tanggal 6 Januari menjadi 25 Desember, dengan maksud agar umat Kristen tidak lagi mengikuti upacara kekafiran Romawi. Masa kini umat Kristen tidak ada yang mengkaitkan hari Natal dengan hari dewa matahari, dan tanggal 25 Desember pun tidak lagi mengikat, sebab setidaknya umat Kristen secara umum merayakan hari Natal pada salah satu hari di bulan Desember sampai Januari demi keseragaman. Karenanya Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘from church year Christmas’ menulis : “...hari raya tentang kelahiran Kristus, hari lahir dari ‘surya kebenaran’ (Mal 4:2) ditetapkan di Roma, atau mungkin di Afrika Utara, sebagai suatu saingan Kristen terhadap hari raya kafir dari surya yang tak terkalahkan pada titik balik matahari. ...” Demikianlah asal usul perayaan Natal pada tanggal 25 Desember tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 3 : Tanggal kelahiran Yesus tidaklah pasti. Apa itu tidak berarti bahwa Allah memang tidak menghendaki kita merayakan Natal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Jika memang tanggal kelahiran Yesus tidak pasti, apakah itu sebagai bukti bahwa Allah tidak menghendaki kita merayakan Natal seperti ang dikatakan kaum anti Natal? Menurut saya tidak! Kita memang tidak tahu kapan persisnya Yesus dilahirkan. Tidak ada orang yang tahu dengan pasti tanggal dan bulan kelahiran Kristus, dan mungkin bahkan tahun kelahiran-Nya. Tetapi itu belum bisa dijadikan suatu bukti bahwa Ia tidak menghendaki kita merayakan/memperingati kelahiran Kristus tersebut. Memang kadang-kadang Allah mengatur sesuatu supaya tidak diketahui oleh manusia, dan Ia melakukan ini karena Ia tidak menghendaki manusia untuk berurusan dengan hal itu. Misalnya dalam persoalan kubur dari Musa. Ini sengaja disembunyikan, karena mungkin Allah tahu bahwa seandainya bangsa Israel tahu tempat itu, mereka mungkin akan melakukan penyembahan terhadapnya. Tetapi tidak selalu seperti itu. Dalam PL Allah memperkenalkan nama-Nya kepada Musa (Kel 3:14-15), dan ini jelas menunjukkan bahwa pada saat itu Allah menghendaki orang-orang Israel untuk menggunakan nama itu asal tidak dengan sembarangan. Tetapi Allah mengatur sehingga zaman sekarang tidak ada orang yang tahu bagaimana mengucapkan nama Allah tersebut. Akibatnya, zaman sekarang orang Kristen menyebut-Nya sebagai TUHAN, LORD, YEHOVAH, YAHWEH, dsb, yang merupakan sebutan-sebutan yang belum tentu benar. Sebenarnya, tanpa dijelaskanpun, ‘fakta sudah berbicara sendiri’ bahwa Natal memang tidak terjadi pada tanggal 25 Desember. Fakta zaman sekarang di mana banyak orang sudah merayakan Natal pada awal Desember, dan ada orang-orang yang masih merayakan Natal pada bulan Januari dan bahkan Februari, sudah menunjukkan kepada siapapun yang tidak membutakan dirinya, bahwa Kristus tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember, dan bahwa kita tidak mengetahui tanggal kelahiran-Nya. Tetapi kalau itu dirasa kurang cukup, maka dalam merayakannya, kita bisa menjelaskan hal itu kepada jemaat dan khususnya anak-anak Sekolah Minggu, bahwa itu sebetulnya bukan tanggal kelahiran yang sebenarnya, dan dengan demikian kita bukan mendustai orang sebagaimana tuduhan Brian Schwertley salah seorang yang anti Natal. Kita mungkin sering mendengar tentang orang kuno yang tidak mengetahui tanggal kelahirannya sendiri, dan karena itu keluarganya menciptakan tanggal kelahiran baginya, dan merayakannya setiap tahun pada tanggal tersebut. Apakah ini merupakan dusta? Mengapa keluarga tersebut tetap merayakan hari ulang tahun dari orang itu padahal mereka tidak mengetahui tanggal sebenarnya? Saya kira, karena kecintaan mereka terhadap orang itu, sehingga mereka ingin menunjukkan kasih yang khusus terhadap orang itu sedikitnya satu kali setahun. Hal ini tidak terlalu berbeda dengan Natal! Yang penting bukan saat kelahiran Kristus, tetapi fakta bahwa Ia sudah lahir untuk kita. Kita ingin membalas kasih-Nya sedikitnya sekali setahun, dengan merayakan hari kelahiran-Nya, pada hari yang kita sendiri tentukan. Luk 1:13-14 mengatakan : Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Jika banyak orang bisa bersukacita atas kelahiran Yohanes Pembaptis yang hanyalah seorang utusan, mengapa tidak kita bersukacita atas kelahiran Dia yang dibicarakan dan disaksikan Yohanes yang olehnya Yohanes berkata membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 4 : Pada tanggal 25 desember umat Kristen merayakan hari kelahiran Yesus. Waktu kelahiran Yesus Herodes membunuh anak-anak di bawah 2 tahun karena ia takut kedudukannya sebagai raja digantikan. Berarti 25 desember kita merayakan kelahiran Yesus dan merayakan kematian bayi-bayi yang dibunuh Herodes. Mohon tanggapan bapak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Tentang Yesus tidak dilahirkan 25 Desember (telah dijelaskan di atas). Satu ha;l yang perlu diingat adalah bahwa pembunuhan anak-anak oleh Herodes dan kelahiran Yesus tidak terjadi pada waktu yang sama. Dasarnya adalah : (1) Herodes menyuruh membunuh anak-anak di bawah 2 tahun. Artinya, dalam perhitungan Herodes, Yesus  sudah dilahirkan sekitar 2 tahun yang lalu. Jika waktunya bertepatan pasti Herodes akan menyuruh membunuh anak-anak yang berumur 1 atau 2 hari bukan 2 tahun. (2) Sebelum membunuh anak-anak itu, Herodes mendapat informasi kelahiran Yesus dari para Majus sedangkan para Majus sendiri bertemu dengan Yesus bukan pada hari Yesus dilahirkan tetapi sudah lewat mungkin beberapa bulan bahkan mungkin 1 tahun. Ini nampak dari Mat 2:11 yang berkata : Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mengapa di rumah dan bukan di kandang? Jika mereka menjumpai Yesus pada hari di mana Ia dilahirkan, tentunya mereka akan menemukan Dia dalam kandang seperti yang dialami para gembala. Mereka bertemu di Yesus di rumah sebagai bukti bahwa mereka tidak bertemu Yesus pada hari di mana Ia dilahirkan tetapi sudah lewat beberapa saat karena tentu Yusuf dan maria tidak tetap tinggal di kandang. Mereka harus pindah ke rumah. Selain itu dari segi bahasa, Mat 2:11 berkata : Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu..” Kata ”Anak” di sini memakai bahasa Yunani ”Paidion” yang berarti ”the young child” (KJV, ASV, BBE), ”the child” (DRB, ESV, CEV)  ata ”The little child” (Darby). Jadi sepertinya kata itu menunjuk pada anak yang sudah cukup besar (1-5 tahun). Ini jelas berbeda dengan yang dijumpai oleh para gembala. Luk 2:16 : ”Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi (bukan anak/child) itu, yang sedang berbaring di dalam palungan”. Kata ”bayi” di sini memakai bahasa Yunani ”brephos” (bukan paidion) yang oleh ALT, ESV,  ISV diterjemahkan sebagai ”baby”, oleh KJV, Bishops, LITV diterjemahkan sebagai ”Babe” dan oleh Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari diterjemahkan sebagai ”bayi” yang jelas menunjuk pada anak yang baru lahir. Jadi itu berarti bahwa para Majus tidak tidak menjumpai Yesus pada saat Yesus dilahirkan. Dan dengan demikian maka jelas Herodes yang membunuh anak-anak setelah mendengar informasi dari para Majus tidak membunuh mereka tepat pada hari kelahiran Yesus. Maka kita yang merayakan hari kelahiran Kristus tidak dapat dianggap juga merayakan kematian bayi-bayi itu karena harinya berbeda. Tetapi andaikata itu terjadi pada saat yang sama pun, bagi saya yang kita rayakan adalah hari kelahiran Kristusnya bukan merayakan kematian anak-anak itu. Saya berikan contoh untuk memperjelasnya. Tanggal 25 Desember beberapa tahun yang lalu, saat orang Kristen merayakan Natal, terjadilah tsunami di aceh. Apakah itu berarti bahwa kita merayakan hari kelahiran Kristus dan juga merayakan tsunami? Tentu tidak! Kita bersedih dan berduka karena tsunami tetapi sukacita dalam natal tidak boleh dianggap  bersukacita juga atas para korban tsunami. Jadi andaikata peristiwa kelahiran Kristus dan pembunuhan anak-anak terjadi pada hari yang sama, tetap tidak bisa dianggap kita merayakan kematian anak-anak itu. Apalagi kalau harinya memang beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 5 : Berapakah jumlah orang majus yang datang mencari Yesus? Banyak yang bilang 3 orang tetapi saya baca di Alkitab, tidak dijelaskan berapa jumlah mereka. Mohon penjelasan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Mat 2:1 mengatakan bahwa :  Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem”. Dari ayat ini jelas bahwa Alkitab tidak mengatakan jumlah dari orang majus itu. Tetapi dari penggunaan bentuk jamak “orang-orang majus” berarti jumlah mereka lebih dari satu. Banyak orang menafsirkan jumlah orang-orang majus ini 3 orang berdasarkan jumlah persembahan (mas, mur dan kemenyan) tetapi jelas jumlah persembahan tidak menentukan jumlah pemberi. Apakah jika di suatu tempat kedukaan terpampang 1 buah krans bunga saja dari sebuah instansi membuktikan bahwa instansi itu hanya terdiri dari 1 orang? Jelas tidak bukan? Apakah 10 orang tidak bisa bersama-sama memberikan 1 buah persembahan? Apakah 100 orang tidak bisa memberikan 10 buah persembahan secara bersama-sama? Jadi jumlah pemberian tidak membuktikan jumlah pemberi. Karena itu mas, mur dan kemenyan tidak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa jumlah orang majus yang mencari Yesus adalah 3 orang. Dari banyak sumber dapat diketahui bahwa orang majus ini berjalan berkelompok dengan jumlah anggota antara 3-12 orang. Karena Alkitab tidak memberitahu kita berapa jumlah mereka maka kita tidak tahu. Mungkinkah mereka berjumlah 3 orang? Mungkin saja tetapi tidak ada kepastian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 6 : Siapakah nama orang-orang majus itu? Mengapa Alkitab tidak memberitahu kita nama-nama mereka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Saya pun tidak tahu siapa nama mereka karena memang Alkitab tidak memberitahu hal itu. Lalu mengapa Alkitab tidak memberitahukan nama mereka, saya juga tidak tahu. Memang ada tradisi-tradisi tertentu yang menyebutkan nama-nama mereka. Tradisi abad 6 mengatakan bahwa ada 3 orang Majus dan nama mereka adalah Bithisarea, Melichior, dan Gathaspa. Tradisi Armenia abad 14 mengatakan bahwa ketiga orang Majus itu adalah 3 orang raja, masing-masing bernama Gasper (raja Arab), Melkhior (raja Persia) dan Balthazar (raja India). Tetapi ini hanya tradisi. Alkitab tidak mengatakan siapa nama-nama mereka. Jadi jawaban paling aman adalah ”Tidak tahu!” &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersambung….&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-7516776299101993239?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/7516776299101993239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=7516776299101993239&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/7516776299101993239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/7516776299101993239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2008/12/menjawab-pertanyaan-pertanyaan-seputar_2802.html' title='MENJAWAB PERTANYAAN- PERTANYAAN SEPUTAR NATAL (1)'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-9202476451616485892</id><published>2008-12-21T10:11:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T10:18:56.920-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Natal'/><title type='text'>MENJAWAB PERTANYAAN- PERTANYAAN SEPUTAR NATAL (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Esra Alfred Soru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 7 : Sebenarnya orang-orang majus itu berasal dari daerah mana dan siapakah mereka sesungguhnya? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Tidak banyak keterangan dari Alkitab tentang orang-orang majus ini kecuali informasi bahwa mereka berasal dari Timur (Mat 2:1). Banyak penafsir setuju bahwa “Timur” di sini menunjuk kepada bagian timur dari Yudea yang menunjuk kepada daerah Persia dan Arabia (Kej 25:6). Sebagian menganggapnya daerah Mesopotamia dan Babilonia. Kata “Majus” ini adalah kata yang sulit dipahami dalam pengertian kita saat ini. Alkitab-Alkitab bahasa Inggris menyebutnya ‘wise man’ (orang bijaksana). Kata ini dalam bahasa Yunaninya adalah ‘magoi’. Dalam perkembangan di kemudian hari kata ini sering dihubungkan dengan kata ‘magician’ yang dapat berarti tukang sihir. Namun sesungguhnya arti kata ini tidaklah sesempit pengertian masa kini. J.J. de Heer berkata : “Pada aslinya kata itu berarti imam-imam di Persia, ... ‘. (Tafsiran Alkitab Injil Matius; hal. 22). Homer A. Kent, Jr  juga memberikan keterangan : “Orang-orang Majus (magoi) aslinya merupakan kasta imamat di kalangan orang Persia dan Babilonia (band. Dan 2:2, 48; 4:6-7; 5:7). Nama ini kemudian oleh orang Yunani dikenakan pada semua ahli sihir atau dukun (Kis 8:9; 13:8). Matius menggunakan kata ini dalam arti yang lebih baik untuk mengacu pada tokoh-tokoh terhormat dari agama Timur”. (The Wycliffe Bible Commentary; hal. 25). Dalam Albert Barnes’ Notes on the Bible juga dicatat bahwa : “Orang-orang ini adalah ahli-ahli filsafat, imam-imam atau ahli-ahli perbintangan. Mereka hidup terutama di daerah Persia dan Arabia. Mereka adalah orang-orang terpelajar di daerah timur yang mahir dalam astronomi, agama dan obat-obatan. Dengan demikian kita mengerti bahwa orang-orang Majus ini adalah para imam, orang-orang terpelajar/terhormat, orang-orang kaya dan berkedudukan tinggi yang sangat pandai dalam hal-hal agama, pengobatan dan perbintangan. Perhatikan juga keterangan William Barclay berikut ini : “Para Majus adalah orang-orang yang mengetahui filsafat, ilmu kedokteran dan ilmu alam. Mereka juga mampu menafsirkan mimpi serta meramalkan hal-hal yang akan terjadi….orang Majus adalah orang yang baik dan suci, yang selalu berusaha mencari kebenaran”. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari- Matius; hal. 40). Selanjutnya Herodotus memberikan keterangan lebih rinci tentang orang-orang Majus ini bahwa : “Mereka aslinya berasal dari sebuah suku bangsa Medi. Bangsa Medi adalah sebagian dari kekaisaran Persia. Bangsa Medi pernah mencoba untuk menggulingkan kuasa Persia dan menggantikannya dengan kuasa Media. Usaha ini gagal. Sejak saat itu bangsa Majus tidak pernah lagi mempunyai keinginan atau ambisi untuk memiliki kekuasaan dan Prestise. Dan selanjutnya mereka memilih menjadi imam saja. Di tengah-tengah bangsa Persia para Majus tersebut berfungsi persis sama seperti fungsi orang-orang Lewi di tengah-tengah bangsa Israel. Mereka menjadi guru dan pembimbing para raja Persia. Di Persia tidak ada persembahan yang dapat dipersembahkan kecuali kalau ada orang Majus yang hadir dalam upacara itu. Jadi orang Majus dianggap sebagai orang suci dan orang yang bijaksana” (ibid : 39). Orang-orang Yahudi percaya bahwa mereka adalah imam-imam dalam kerajaan Syeba dan Arabia yang adalah keturunan Abraham dari Ketura dan mereka mengajar atas nama Allah yang telah mereka terima dari tradisi lisan Abraham (Kej 25:6). Sangat mungkin mereka ini sudah memiliki hubungan dengan orang-orang Yahudi dalam pembuangan, atau dengan nubuat dan pengaruh Daniel, sehingga mereka memiliki nubuat-nubuat Perjanjian Lama mengenai Mesias. (The Wycliffe Bible Commentary; hal. 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 8 : Sebenarnya bintang apakah yang dilihat oleh orang-orang majus itu sehingga mereka mengikutinya dan membawa mereka sampai bertemu dengan Yesus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Sudah terdapat banyak usaha untuk menjelaskan bintang Natal/bintang Betlehem ini secara ilmiah. (1) Ada yang berkata bahwa ini adalah konyungsi planet yakni situasi dimana beberapa planet berada dalam satu garis dengan bulan yang terlihat dari bumi sehingga terlihat beda dengan bintang-bintang pada umumnya. Namun persoalannya adalah karena konyungsi planet bersifat tetap untuk jangka waktu lama, tentu agak kurang cocok dengan apa yang dilihat orang majus. (2) Kepler pernah mengatakan bahwa bintang ini adalah “Supernova”. Supernova adalah planet yang meledak dan kehabisan energi sampai akhirnya meredup. Ini terjadi pada tanggal 10 Oktober 1604 di mana sementara Kepler, mengamat-amati hubungan Jupiter dan Saturnus yang terdapat dalam konstelasi Sagitarius di langit, tiba-tiba muncul sebuah bintang secerah Jupiter, yang tampak di antara Jupiter dan Saturnus. Kepler menghitung bahwa kejadian ini terjadi setiap hampir 800 tahun sekali. Berarti 2 kejadian sebelumnya terjadi sekitar tahun 7 SM. Ia lalu menulis sebuah buku berjudul De Stella Nova in Pede Serpentarti dan menghubungkan supernova ini dengan tahun kelahiran Kristus seperti perhitungan Laurence Suslyga bahwa Kristus lahir di tahun 4 SM. Tahun 1614 Kepler mempublikasikan kesimpulannya bahwa supernova yang kelihatan tahun 1604 juga adalah supernova yang tampak di tahun 7 atau 6 SM dan dikenal sebagai bintang Betlehem. Kepler percaya bahwa supernova itu sengaja "ditempatkan" Tuhan untuk memimpin orang-orang Majus untuk berjumpa dengan Yesus. Terhadap pendapat ini Herlianto berkata bahwa : “Kelihatannya supernova juga tidak cocok, karena supernova sekalipun bisa meledak dan kelihatan sangat terang dan bisa berlangsung beberapa minggu, data Alkitab tidak menunjukkan adanya bintang yang sinarnya sangat terang, kecuali bahwa bintang itu seakan-akan petunjuk arah”. (www.yabina.org) (3) Ada juga yang berkata bahwa bintang itu adalah sebuah meteor yakni benda langit yang juga mengelilingi matahari, tetapi ketika dekat dengan bumi ia bisa tertarik gaya tarik bumi sehingga ketika memasuki atmosfir bumi ia terbakar karena gesekan dengan udara dan terlihat seperti bola api. Ada yang berkeberatan dengan pandangan semacam ini dengan alasan bahwa meteor biasa jatuhnya cepat sehingga tidak cocok dengan apa yang dilihat orang Majus yang seakan-akan berhenti di atas Betlehem. (4) Pandangan lain tentang bintang Betlehem ini yang paling banyak diterima adalah bahwa itu adalah sebuah komet yang kemudian hari disebut komet Halley berdasarkan penemunya yakni Edmond Halley. Tentang ini Herlianto memberi penjelasan :“Komit adalah benda langit yang mengelilingi matahari melalui lintas edar berbentuk parabola, dan bila sedang mendekati bumi maka akan kelihatan berekor (bintang berekor) dan akan kelihatan bergerak ke arah yang berlawanan dengan ekornya sehingga terlihat menunjuk arah tertentu. Komit bila terlihat di bumi bisa berlangsung selama beberapa minggu. Kemungkinannya, komitlah yang dilihat orang majus, apalagi kala itu kehadiran komit dipercaya sebagai pertanda adanya peristiwa besar di bumi, seperti bencana atau kelahiran atau kematian orang besar. Pada waktu Julius Caezar meninggal tercatat terlihat komit selama seminggu. Kemungkinan bintang itu komet memang besar, karena dalam Matius 2:1-10, terlihat bahwa bintang itu menunjuk suatu arah, berpindah tempat dan terlihat selama beberapa hari”. (ibid). Herlianto melanjutkan : “Komit itu muncul pada akhir tahun 1758 sampai Maret 1759. Komit itu mulai tercatat oleh astronom Cina pada tahun 239sM (Encarta), dan terakhir terlihat pada tahun 1986. Dari beberapa kehadiran komit yang kemudian dinamakan Halley itu lamanya berkisar 75 sampai 79 tahun. Dengan mengambil median 77, dihitung dari tahun 239sM, kemungkinan besar pada tahun-tahun sekitar 8 SM komit Halley mendekati dan terlihat di bumi dan berada di atas Yudea di hari kelahiran Yesus. Namun juga ada yang menolak dugaan ini dengan alasan bahwa : “Catatan mengenai penampakan komet tidak cocok dengan kelahiran Tuhan. Misalnya, Komet Halley tampak pada tahun 11 S.M., tetapi hari Natal yang pertama terjadi sekitar tahun 7 sampai 5 SM”. (Artikel ©Hx'02). Kalau begitu bintang apakah yang dilihat orang-orang Majus itu? Kita memang tidak dapat mengetahuinya dengan pasti dan itu tidaklah penting. Satu hal yang pasti adalah apa pun bintang itu, Allah telah memakainya sedemikian rupa untuk melaksanakan kehendak-Nya. Dalam artikel ©Hx'02 kembali dikatakan bahwa : “Tuhan telah sering menggunakan cahaya surgawi yang istimewa untuk membimbing umat-Nya, seperti kemuliaan yang memenuhi Kemah Suci (Keluaran 40:34-38) dan Bait Suci (1 Raja-raja 8:10) dan cahaya yang menyinari Rasul Paulus (Kisah Para Rasul 9:3). Tanda-tanda yang menunjukkan kehadiran Tuhan seperti itu dikenal sebagai Kemuliaan Shekinah, atau tempat tinggal Tuhan. Cahaya istimewa ini adalah manifestasi yang tampak dari keagungan Tuhan. Beberapa penjelasan para ahli astronom di atas mengenai Bintang Betlehem sangat bermacam-macam, tetapi semuanya itu menuju kepada satu kesimpulan saja. Satu hal yang dapat kita simpulkan bahwa munculnya Bintang Betlehem tersebut adalah salah satu kasih karunia Allah untuk menyambut datangnya Juruselamat dunia yang turun ke bumi untuk menyelamatkan umat manusia yaitu Tuhan Yesus Kristus”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 9 : Mungkinkah dalam zaman modern ini ada orang yang lahir dari seorang perawan lagi seperti Yesus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Tidak mungkin ! Peristiwa kelahiran yang ajaib seperti Yesus itu hanya bisa terjadi 1 kali dalam sejarah. Sebelum Yesus tidak ada, dan setelah Yesus tidak akan ada. Kalau anda bertanya pada saya mengapa tidak mungkin ada lagi? Saya akan mengajukan pertanyaan kembali pada anda “untuk apa perlu ada lagi kelahiran seperti Yesus? Jelas Yesus lahir dari perawan karena berkaitan dengan rencana penyelamatan manusia. Ia harus menjadi Juruselamat manusia dan karenanya Ia harus terbebas dari dosa asal yang diturunkan dari hasil perkawinan seorang laki-laki dan perempuan. Karenanya Ia perlu lahir dari seorang perawan saja. Spurgeon berkata : Tidak ada jalan lain tentang kelahiranNya; karena seandainya Ia ada dari seorang ayah yang berdosa, bagaimana Ia bisa mempunyai hakekat yang tak berdosa? Ia dilahirkan dari seorang perempuan, supaya Ia bisa menjadi manusia; tetapi bukan oleh laki-laki, supaya Ia bisa tidak berdosa (‘A Popular Exposition to the Gospel According to Matthew’, hal 15). Nah kalau ada orang yang lahir dari perawan saat ini, kita bertanya, untuk kepentingan apa? Jelas kelahiran dari perawan, sepanjang konsep Alkitab, berkaitan dengan masalah dosa asal. Tidak ada alasan lain selain itu. Karena Alkitab menyaksikan bahwa semua orang berdosa dan Kristus adalah satu-satunya manusia yang tak berdosa dan itu penting bagi pekerjaan penyelamatan-Nya dan pekerjaan itu sudah selesai, maka saya yakin tidak akan ada lagi kasus kelahiran dari perawan seperti yang dialami oleh Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 10 : Saya pernah membaca di majalah bahwa ada seorang perempuan perawan yang hamil tanpa pernah berhubungan seks sama sekali dengan seorang laki-laki. Bagaimana hal ini dilihat dalam kaitan dengan kelahiran Kristus? Tidakkah fakta itu menghancurkan keunikan dari kelahiran Kristus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Saya akui bahwa seorang perempuan perawan bisa saja hamil tanpa berhubungan seks. Apa ini bertentangan dengan penjelasan saya sebelumnya? Tidak! Pertanyaan sebelumnya kan berbunyi “Mungkinkah dalam zaman modern ini ada orang yang lahir dari seorang perawan lagi seperti Yesus? Jadi penekanan pertanyaan sebelumnya adalah “seperti Yesusnya”. Kalau seperti Yesus, saya yakin tidak mungkin ada tapi kalau sekedar hamil tanpa hubungan seks mungkin bisa saja terjadi. Saya juga pernah membaca sebuah majalah yang menceritakan tentang seorang perempuan muda pernah hamil tanpa pernah melakukan hubungan seks. Penelitian para dokter menjelaskan bahwa itu terjadi di kolam renang. Seorang pria melepaskan spermanya dan spermanya bergerak dengan cepat dan masuk melalui alat kelamin si wanita dan terjadilah pembuahan sehingga wanita itu jadi hamil. Jadi dia hamil memang tanpa hubungan seks tetapi tetap terjadi pembuahan (pertemuan sperma dan sel telur). Ini berbeda dengan kasus Yesus. Alkitab berkata bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus. Ini bukan berarti bahwa Roh Kudus membuahi Maria (tidak ada pertemuan sperma dan sel telur) melainkan Roh Kudus membuat sebuah mujizat sehingga terjadi kehamilan tanpa proses biologis. Dengan demikian kehamilan Maria tetap adalah satu-satunya peristiwa di dalam sejarah dan karena itu keunikan Kristus dalam hal kelahirannya tetap dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 11 : Di Mat 1:18 dikatakan bahwa Yusuf dan Maria masih bertunangan tetapi di ayat 19 dikatakan bahwa Yusuf adalah suami Maria dan karenanya Yusuf mau menceraikan Maria isterinya itu. Tidakkah ini saling bertentangan? Jadi yang benar mereka adalah tunangan ataukah suami isteri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Baiklah kita perhatikan ayat-ayat ini. Mat 1:18 : Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Jadi Yusuf dan Maria dikatakan masih bertunangan. Sekarang perhatikan Mat 1:19 : Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Jadi Yusuf dikatakan sebagai suami Maria. 2 ayat ini kelihatannya bertentangan namun sebenarnya ini bisa dimengerti dan diharmoniskan kalau kita mengerti tradisi di tempat itu pada jaman itu. Dalam tradisi mereka ada beberapa tahap menuju pernikahan (1) Pertunangan I (engagement). Pertunangan I ini terjadi pada waktu dua orang yang diper­tunangkan itu masih kecil, di mana mereka dipertunangkan oleh orang tua mereka, dan mereka belum saling kenal. Pertunangan I ini bisa dibatalkan. (2)  Pertunangan II (bethrotal). Pertunangan II ini terjadi setelah dua orang tadi sudah cukup umur. Pada saat pertunangan II ini mereka sudah disebut ‘suami istri’, tetapi mereka belum tinggal bersama dan mereka belum boleh melakukan hubungan seks. Bandingkan dengan ayat-ayat berikut. Ul 20:7 - “Dan siapa telah bertunangan dengan seorang perempuan, tetapi belum mengawininya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengawininya”. Ul 22:23-24 - “(23) Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan - jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, (24) maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu”. Perhatikan bahwa dalam ay 23nya disebutkan ‘bertunangan’ tetapi dalam ay 24nya disebut sebagai ‘istri’. Dalam tradisi Yahudi saat itu, pemutusan pertunangan II ini dianggap sebagai perceraian dan dianggap sebagai dosa. Pertunangan II ini hanya berlangsung 1 tahun. (3)  Pernikahan. Nah, pada saat itu, Yusuf dan Maria ada pada masa pertunangan II jadi mereka dapat disebut sebagai suami-isteri. Karena itu ay 18 tidak bertentangan dengan ay 19 maupun ayat 20 dan 24.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 12 : Darimana asal usul Santa Claus dan apa hubungannya dengan Natal? Bolehkah perayaan Natal diisi dengan acara Santa Claus? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Sekarang ini Natal hampir-hampir diidentikkan dengan Santa Claus. Di mana-mana (toko, jalan, mall, TV, dll) orang-orang dengan kostum Santa Claus bermunculan. Bahkan tidak jarang dihadirkan dalam gereja. Ada juga radio Kristen tertentu yang membuat acara khusus jumpa Santa Claus. Siapakah Santa Claus ini? Dia tidak pernah muncul di Alkitab dalam cerita-cerita Natal. Tetapi mengapa begitu populer? Encyclopedia Britannica 2000 mengatakan bahwa : ‘Santa Claus’ berasal dari St. Nicholas, yang keberadaannya tidak dibuktikan oleh dokumen sejarah manapun. Jadi tidak ada yang pasti yang kita ketahui tentang hidupnya. Menurut tradisi, ia dilahirkan di kota Lycia pelabuhan kuno di Patara (Asia Kecil), dan waktu muda berkelana ke Palestina dan Mesir. dan sekembalinya ke Myra menjadi uskup Lycia (abad-4). Ia dipenjara pada masa pemerintahan kaisar Diocletian, tetapi lalu dibebaskan pada masa pemerintahan kaisar Konstantine yang Agung, dan menghadiri Sidang Gereja Nicea (tahun 325 M.). Setelah kematiannya ia dikuburkan di Myra, dan pada tahun 1087M seseorang mencuri jenazahnya dan membawanya ke Bari, Italia. Ini menjadikan dia populer di Eropa dan Bari menjadi tempat yang dipenuhi oleh orang-orang yang berziarah. Mengapa Nicholas kemudian terkenal dan melegenda? Nicholas terkenal sebagai menggambarkan uskup yang ramah yang suka menolong anak dan orang miskin dengan membagikan hadiah-hadiah. Reputasi Nicholas berkenaan dengan kedermawanan dan kebaikannya menyebabkan munculnya dongeng-dongeng berkenaan dengan mujizat-mujizat yang dilakukannya terhadap orang-orang yang miskin/tidak bahagia, bahkan mujizat kebangkitan orang mati. Legenda ini kemudian menyebar ke seluruh Eropa dan lebih terkenal di Belanda dengan nama SINTERKLAAS. Di Belanda, cerita tentang Sinterklaas ini akhirnya berkembang sehingga lebih berbau takhyul dan dongeng.  Sinterklaas digambarkan sebagai orang tua berjanggut putih panjang berpakaian uskup menaiki kuda yang bisa terbang ke atap rumah dibantu budaknya Swarte Piet (Pit Hitam). Sinterklaas datang pada tanggal 5 Desember malam ke rumah-rumah untuk memberi hadiah bagi anak-anak yang baik melalui cerobong asap. Cerita Sinterklaas ini makin menjadi-jadi ketika bercampur baur dengan dongeng ‘pemberi hadiah’ kafir yang sudah ada sebelumnya, seperti Befana (Roma), Berchta &amp; Knecht Ruprecht (Jerman), Odin (Norwegia) yang memiliki kekuatan sihir yang menghukum anak-anak nakal &amp; menghadiahi anak-anak yang baik, dan biasa menaiki kereta terbang yang ditarik rusa kutub hingga Sinterklaas akhirnya sering digambarkan naik kereta terbang ditarik rusa kutub (dongeng kafir). Legenda Nicholas/Sinterklaas ini kemudian dibawa pada abad-17 ke koloni baru di New Amsterdam (sekarang New York) di benua Amerika dan kemudian dikenal sebagai Santa Claus yang merupakan orang gemuk berjanggut putih memakai mantel dan kerpus berwarna merah yang menaiki kereta ditarik 8 rusa kutub yang bisa terbang. Legenda Santa Claus ini mencapai bentuknya pada abad-19 yang kemudian dirayakan dengan pemberian hadiah di malam Natal (24 malam). Legenda Santo Nicholas ini di dirayakan sebagai Pere Noel di Perancis, Julenisse di Skandinavia, Father Christmas di Inggris. Figur rusa ke-9 dinamakan Rudolph yang memiliki hidung merah mengkilat diperkenalkan pada tahun 1939. Dari semua ini kita bisa melihat bahwa cerita SINTERKLAAS atau SANTA CLAUS ini jelas-jelas merupakan sesuatu yang salah, karena bukan hanya tidak ada urusannya sama sekali dengan Natal, tetapi bahkan bersifat dusta / takhyul / dongeng. Ir. Herlianto berkata : “Sekalipun Santa Klaus dianggap sebagai lambang semangat memberi hadiah khususnya untuk anak-anak, namun karena sifat pencampurannya dengan cerita-cerita magis kafir, misalnya kehadiran Santa Klaus yang penuh mujizat &amp; naik kereta ditarik rusa terbang, dan peri bertongkat sihir dalam perayaan ‘Magic Christmas’, banyak juga yang mempersoalkannya sebagai tidak sesuai dengan semangat Natal dan mempromosikan ketamakan dan komersialisasi yang telah dimanipulasikan oleh para pengusaha mainan anak-anak, makanan &amp; minuman, dan hiburan. (www.yabina.org). Ia melanjutkan : “Gambaran ‘Sinterklaas’ yang juga populer di Indonesia juga bukan contoh baik bagi anak-anak karena dinilai banyak orang sebagai rasist, Orang tua kulit putih yang pengasih dan budak kulit hitam yang kejam yang suka mencambuki anak-anak nakal. Karena sejarah kehidupan Nicholas tidak jelas, Paus Paulus VI menanggalkan perayaan Santo Nicholas dari kalender resmi gereja Roma Katolik pada tahun 1969. (www.yabina.org). Melihat cerita Santa Claus seperti ini maka menurut saya Santa Claus / Sinterklaas, baik gambarnya, patung / bonekanya, beserta lagu-lagunya, harus disingkirkan dari perayaan Natal. Gereja atau lembaga Kristen tidak boleh memasukan dongeng Santa Claus ini dalam perayaan Natal. Tidak perlu berpakaian Santa Claus dalam perayaan Natal, tidak perlu membuat drama Natal yang menghadirkan tokoh Santa Claus, tidak perlu mengadakan acara-acara SBSC (“SEMALAM BERSAMA SANTA CLAUS”) atau “JUMPA SANTA CLAUS” untuk anak Sekolah Minggu (apalagi dipungut tiket).  Bagi para orang tua, saran saya tidak perlu mengantar anak saudara untuk hadir dalam acara-acara seperti itu. Semua itu hanya mendidik anak Sekolah Minggu atau anak saudara untuk mempercayai dongeng yang tidak ada kaitan dengan Natal. Ini semua adalah praktek yang salah harus dibuang dari perayaan Natal. Ini fokus yang salah dalam perayaan Natal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 13 : Apakah salah jika kita mengajarkan kepada anak tentang Santa Claus? Intinya adalah pesan moral yang mau disampaikan kepada anak agar rajin berdosa, rajin sekolah dan baik dengan teman, dll? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Sudah saya jelaskan bahwa cerita tentang Santa Claus yang hadir pada saat Natal hanyalah dongeng yang telah bercampur dengan berbagai cerita dongeng kafir lainnya. Karenanya bagi saya tetaplah salah kalau kita mengajar anak kita tentang Santa Claus. Memang pelajaran moral bisa saja ditarik dari sebuah kisah dongeng sekalipun seperti cerita tentang Malin Kundang, Sampuraga dan  cerita-cerita rakyat lainnya tetapi melihat pengaruhnya yang sangat besar dan sering dihadirkannya Santa Claus dalam perayaan Natal tentu saja dapat membuat anak yakin seolah-olah Santa Claus itu memang benar-benar ada. Jika ingin memberikan pelajaran moral kepada anak saudara, mengapa harus dari Santa Claus? Bukankah Alkitab penuh dengan cerita-cerita yang sarat pelajaran moralnya? Jadikanlah kisah-kisah Alkitab sebagai pelajaran moral bagi anak-anak saudara. Saya kira itu jauh lebih baik daripada cerita Santa Claus.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 14 : Apa artinya mas, kemenyan dan mur yang dipersembahkan orang Majus kepada bayi Yesus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Banyak orang menafsirkan mas, kemenyan dan mur ini secara alegori. (Catatan : Alegori adalah suatu bentuk penafsiran yang mencoba merohanikan segala sesuatu di dalam Alkitab yang sebenarnya tidak mempunyai makna rohani). Mereka lalu mengatakan bahwa mas sering diartikan sebagai simbol kerajaan. Jadi ini menyatakan bahwa Yesus adalah Raja. Mur sering digunakan untuk merempah-rempahi orang mati dan karenanya menyatakan bahwa Yesus datang untuk mati. Kemenyan sering dipakai oleh imam dan dengan demikian menyatakan Yesus sebagai imam. Tafsiran seperti ini kelihatannya menarik tetapi jelas tidak tepat. Cerita tentang orang majus adalah sebuah historical narrative (cerita sejarah) dan karenanya tidak boleh dialegorikan seperti itu. Kalau begitu bagaimana kita harus menafsirkan mas, mur dan kemenyan dari para majus itu? Tafsiran yang benar adalah bahwa mas, mur dan kemenyan merupakan hasil-hasil terbaik dari negeri Timur (tempat asal orang-orang majus) itu. Jadi mereka datang mencari Yesus dengan mempersembahkan hasil-hasil terbaik dari negeri mereka untuk raja yang baru lahir itu. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersambung….&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-9202476451616485892?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/9202476451616485892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=9202476451616485892&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/9202476451616485892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/9202476451616485892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2008/12/menjawab-pertanyaan-pertanyaan-seputar_21.html' title='MENJAWAB PERTANYAAN- PERTANYAAN SEPUTAR NATAL (2)'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-5204886080107109416</id><published>2008-12-21T10:05:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T10:10:05.941-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Natal'/><title type='text'>MENJAWAB PERTANYAAN- PERTANYAAN SEPUTAR NATAL (3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Esra Alfred Soru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 15 : Bagaimana Yesus bisa disebut Anak Daud padahal Dia tidak ada hubungan darah dengan Daud ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawab&lt;/span&gt; : ‘Anak Daud’ adalah sebuah gelar yang diberikan kepada Yesus Kristus dan gelar ini berkaitan erat dengan gelar Mesias. Orang Yahudi percaya bahwa Mesias yang akan datang itu adalah keturunan Daud. Yoh 7:42 : “Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal." Jadi gelar ‘Anak Daud’ yang dikenakan pada Yesus untuk membuktikan bahwa sesungguhnya Ia adalah Mesias yang dijanjikan di dalam PL itu. Tetapi benarkah Mesias (Kristus) adalah keturunan Daud? Perhatikan sejumlah ayat ini. Yer 23:5 : “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri”. Ayat ini jelas adalah nubuatan tentang Mesias. (Band. Yer 33:15). 2 Sam 7:16 : “Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."  Jelas janji ini diberikan bukan dalam kaitan dengan Salomo karena kerajaan yang dipimpin Salomo tidak kokoh selama-lamanya. Ini jelas menunjuk pada sebuah kerajaan rohani yang dibawa dan dipimpin oleh Mesias sendiri dan dengan demikian Ia adalah keturunan Daud. Pada waktu malaikat memberitakan kelahiran Yesus kepada Maria, ia berkata bahwa : “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya” (Luk 1:32). Zakharia yang dipenuhi Roh Kudus menyanyikan nyanyian pujian yang berbunyi demikian : "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu…” (Luk 1:68-69). Jadi jelas bahwa Kitab Suci sendiri bersaksi Yesus adalah keturunan Daud dan dengan demikian mempunyai hubungan darah dengan Daud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 16 : Kalau memang Yesus bisa dikandung dari pekerjaan Roh Kudus lewat seorang perawan, mengapa bukan melalui perawan yang belum ada tunangan saja? Mengapa Yusuf dilibatkan sedangkan ia tidak punya fungsi apa-apa untuk menghadirkan Yesus di dalam kandungan Maria?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Memang Yusuf tidak mempunyai fungsi apa-apa untuk menghadirkan bayi Yesus dalam kandungan Maria. Itu murni pekerjaan Roh Kudus. Tetapi bahwa Yusuf dihadirkan dalam kisah Natal oleh Allah tentu ada tujuannya. Kalau begitu apa tujuannya? Ingat bahwa Mesias yang akan datang yang dijanjikan dalam PL haruslah keturunan Daud dan karenanya Yesus haruslah lahir dari jalur keturunan Daud. Yesus lahir dari Maria dan sebenarnya Maria sendiri adalah keturunan Daud (lihat silsilah Yesus yang ditulis oleh Lukas yang memang ditulis dari jalur Maria). Kalau begitu sebenarnya Yesus sudah memenuhi syarat dari jalur Maria. Namun status Maria sebagai seorang wanita mungkin saja akan dipersoalkan dalam budaya paternalistik Yahudi yang sangat menekankan pentingnya laki-laki. Dan itu tentu berdampak pada pengakuan kemesiasan diri-Nya. Itulah sebabnya Yusuf dilibatkan dalam kisah Natal di mana ia pada akhirnya menerima Yesus sebagai anaknya yang sah (walau bukan secara biologis) di mana Yusuf sendiri adalah keturunan Daud sebagaimana kesaksian  Mat 1:20 : “Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Dalam tradisi Yahudi seorang anak memperoleh hak penuh sebagai anak apabila seorang laki-laki menerimanya sebagai anak dan mau memberikan satu nama kepadanya. Karena itu sewaktu Yusuf menerima Yesus sebagai anaknya, Yesus benar-benar adalah anaknya secara legal/yuridis. Jadi dari jalur yang sebenarnya (Maria) Yesus adalah keturunan Daud, dari sudut pandang yuridis, Ia juga adalah keturunan Daud dari Yusuf. Ini adalah argumentasi tak tergoyahkan bagi orang Yahudi yang tidak mengakui kemesiasan Yesus. Jadi intinya adalah bahwa Yusuf dipakai oleh Allah untuk memberikan legalitas terhadap kemesiasan Yesus sebagai seorang keturunan Daud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 17 : Apakah Kristen Tauhid (Unitarian) Frans Donald juga merayakan Natal?  Kalau mereka merayakan Natal, bukankah Natal adalah kehadiran pribadi kedua dari Allah Tritunggal dalam sejarah manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Tidak! Pihak Unitarian (Frans Donald) sama sekali menolak perayaan Natal bahkan menentang perayaan Natal. Frans Donald dalam bukunya “Kasus Besar Yang Keliru” (hal.17) mengatakan : “Apakah penting merayakan hari kelahiran Yesus Kristus, sementara tidak ada satu pun ayat di Alkitab yang mengajarkan untuk merayakan hari kelahiran Yesus, dan tidak ada perintah di Alkitab yang memerintahkan atau menyuruh kita untuk memperingati hari kelahiran Yesus? Benarkah tradisi Natal merupakan ajaran dari Tuhan atau sekedar perintah dan ajaran manusia belaka? Ada tertulis dalam I Korintus 11:24-26, yang Yesus inginkan dari para pengikutnya adalah mengadakan peringatan akan kematiannya, bukan kelahirannya”. Jadi menurut Frans Donald, Alkitab tidak pernah memerintahkan kita untuk merayakan Natal. Namun satu hal yang tidak disadari oleh Frans Donald adalah bahwa tidak ada 1 ayat Kitab Suci pun yang melarang kita untuk merayakan Natal. Ayat 1 Kor 11:24-26 berisi perintah untuk memperingati kematian Kristus tetapi bukan berisi larangan untuk memperingati kelahiran-Nya. Harus diakui bahwa perayaan Natal yang dilakukan oleh orang Kristen memang merupakan tradisi, tetapi saya berpendapat bahwa tradisi tidak salah selama tradisi itu tidak bertentangan dengan Kitab Suci dan selama tradisi itu tidak kita paksakan/haruskan kepada orang-orang lain. Bukankah dalam gereja ada banyak hal-hal yang tidak diperintahkan, dan hanya bersifat tradisi, misalnya penggunaan 12 Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami dalam banyak gereja-gereja Protestan, pendeta memakai toga; paduan suara juga demikian. Lalu adanya salib di gereja. Siapa yang menyuruh memasang tanda salib itu? Dan bagaimana bentuk salib Yesus? Berbentuk tiang tegak saja, atau berbentuk seperti huruf X, Y, T? Atau seperti yang biasa kita kenal? Kita bahkan tidak tahu dengan pasti bagaimana bentuk salib yang digunakan terhadap Yesus! Memang ada orang-orang yang melarang adanya salib di gereja, tetapi mereka juga tidak mempunyai dasar untuk melarang, selama salib itu tidak disembah. Adanya pengedaran kantong kolekte; siapa yang memerintahkan praktek ini? Dalam Bait Allah, tidak ada hal seperti itu, karena mereka menggunakan peti persembahan, dan orang yang mau mempersembahkan, mempersembahkan ke dalam peti tersebut. (Band. Luk 21:1-2). Juga doa dengan menutup mata, tunduk kepala, dan sebagainya. Sakramen dan pemberkatan pernikahan hanya boleh dilayani oleh pendeta, upacara pemberkatan nikah harus dilakukan di gereja, adanya kebaktian tutup peti waktu kematian, kebaktian penghiburan, dan kebaktian / upacara penguburan pada saat ada orang Kristen yang meninggal dunia. Semua ini tidak pernah diperintahkan, tetapi juga tidak dilarang, dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci. Jadi saya berpendapat perayaan Natal, dan hari-hari raya Kristen yang lain juga demikian. Biar pun tidak ada ayat yang memerintahkan merayakan Natal tetapi juga tidak ada ayat yang melarangnya bukan ? Keberatan Frans Donald yang lain terhadap perayaan Natal adalah karena dikatakan Natal berasal dari kekafiran. (“Kasus Besar Yang Keliru”, hal.21-22). Saya kira keberatan tersebut menunjukkan bahwa Frans Donald kurang memahami latar belakang/sejarah Natal yang berkaitan dengan upacara kekafiran itu. Di bagian pertama tulisan ini sudah saya jelaskan bahwa memang benar tanggal 25 Desember adalah hari kelahiran Dewa Matahari (Ra) tetapi perayaan Natal yang ditepatkan pada tanggal 25 Desember bukan bertujuan untuk orang Kristen terlibat kekafiran melainkan untuk menjauhkan orang Kristen dari budaya kafir tersebut. Perayaan Natal tanggal 25 Desember itu adalah sebuah perayaan tandingan terhadap hari raya Saturnalia (hari kelahiran Dewa Matahari). Silahkan baca kembali bagian pertama tulisan saya ini (Pertanyaan 1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 18 : Adakah ayat-ayat Alkitab yang minimal dapat dipakai untuk mendukung bolehnya perayaan natal? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Ada! 1Kor 6:12 : “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun”. Juga 1 Kor 10:23 : “‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun”. John Calvin mengomentari ayat-ayat ini dengan berkata : “di sini ia membicarakan tentang hal-hal lahiriah, yang Allah tinggalkan pada pemilihan bebas dari orang-orang percaya” sedangkan dalam Pulpit Commentary dikatakan demikian : “Dengan ‘segala sesuatu’, tentu saja, hanya dimaksudkan ‘segala sesuatu yang bukannya baik ataupun buruk dalam diri mereka sendiri’ Jadi ayat ini berhubungan dengan hal-hal yang tidak diperintahkan ataupun dilarang oleh Tuhan. Hal-hal seperti ini boleh dilakukan dengan 2 syarat : (1) Hal itu berguna / membangun. Contoh yang salah misalnya tidur sepanjang hari; ini jelas tidak berguna. (2) Hal itu tidak memperhamba kita. Contoh yang salah misalnya rokok, ganja, atau bahkan makan berlebihan, dan sebagainya; ini jelas memperbudak. Nah, ayat-ayat di atas bisa mendukung pelaksanaan hal-hal yang tidak diperintahkan, tetapi juga tidak dilarang oleh Kitab Suci, selama hal-hal itu berguna / membangun. Sekarang, kalau kita menerapkan pada perayaan Natal, maka jelas bahwa perayaan Natal tidak memperhamba, tetapi justru berguna dan membangun. Apa gunanya dan dalam hal apa perayaan Natal itu membangun? (1) Natal berguna untuk pemberitaan Injil. Banyak orang yang tidak pernah ke gereja, tetapi mau ke gereja pada hari Natal, dan ini merupakan suatu kesempatan bagi kita untuk memberitakan Injil kepada mereka. Karena itu seharusnya khotbah-khotbah Natal berisi pemberitaan Injil kepada para pendengarnya. Bahkan dalam gereja-gereja yang tidak injili, sekalipun khotbahnya tidak memberitakan Injil, tetapi pada perayaan Natal tetap ada lagu-lagu Natal yang injili, dan pembacaan ayat-ayat yang bersifat penginjilan, sehingga Injil tetap diberitakan pada Natal. Mengapa kita harus membuang perayaan Natal, kalau itu memang menyebabkan penyebaran Injil? Bahkan kartu Natal, yang dianggap sebagai pemborosan, dan memang bisa merupakan pemborosan, bisa diarahkan pada penginjilan, yaitu kalau kita memilih kartu Natal yang kata-katanya mengandung Injil, atau menuliskan kata-kata yang bersifat penginjilan. Saudara juga bisa menggunakan HP saudara untuk mengirimkan sms yang bukan hanya berisikan kata-kata ‘Selamat Hari Natal’ tetapi juga kata-kata / ayat-ayat yang bersifat penginjilan. Karena itu Natal jelas bermanfaat. (2) Untuk mengingatkan jemaat akan kasih Allah. Perenungan tentang Allah yang mau menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, membuat kita bisa merasakan kasih Allah kepada kita. Dan ini bisa menyegarkan iman orang-orang Kristen, dan mengembalikan mereka pada kasih mereka yang semula kepada Allah. (3) Untuk sarana persekutuan, dan lebih mendekatkan jemaat satu sama lain. Saya tidak anti pesta Natal, selama tidak keterlaluan / terlalu mewah, karena saya berpendapat hal itu bisa mempererat persekutuan antar jemaat. Dalam PL juga ada pesta-pesta yang ditetapkan oleh Tuhan, lalu mengapa dalam PB kita tidak boleh mengadakan pesta kalau hal itu memang berguna? Jadi, rayakanlah Natal dengan pesta, tetapi aturlah sedemikian rupa, supaya pesta itu menjadi sesuatu yang memajukan persekutuan di antara jemaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 19 : Natal adalah saat di mana Allah menjelma menjadi manusia. Memangnya mengapa Allah harus menjadi manusia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Benar, Natal adalah saat di mana Allah menjelma menjadi manusia. Bahasa teologianya adalah “inkarnasi” (masuk ke dalam daging). Yoh 1:14 berkata : “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita…”. Lalu mengapa Allah harus menjelma menjadi manusia? Alkitab mengatakan kepada kita bahwa upah dari dosa adalah maut (Rom 6:23). Artinya semua manusia yang berdosa pasti akan mengalami kematian (Band. Kej 2:17). Nah, jika Allah mau menyelamatkan manusia, Ia tidak mungkin menyelamatkan manusia begitu saja. Ia adalah Allah yang adil dan karenanya dosa tetap harus dihukum dan hukumannya adalah kematian/maut. Tetapi kalau manusia berdosa yang harus menerima hukuman mati itu sendiri maka sama dengan mereka tidak diselamatkan. Supaya mereka diselamatkan maka harus ada yang mati menggantikan manusia berdosa dan itu adalah Allah sendiri. Nah, berhubung Allah tidak bisa mati maka Ia perlu menjelma menjadi manusia terlebih dahulu supaya bisa mati. Dan memang Ia akhirnya mati disalibkan dan oleh kematian-Nya itu kita manusia berdosa diselamatkan. Charles Ryrie berkata : “Meskipun dalam Alkitab ada banyak alasan yang dinyatakan untuk inkarnasi, tetapi yang paling penting adalah Ia ingin menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Matius 1:21). Untuk melaksanakan hal ini harus terjadi inkarnasi yaitu Allah yang menjelma dalam daging. Allah telah menyatakan bahwa hukuman dosa ialah maut. Berhubung Allah tak dapat mati, maka harus terjadi suatu inkarnasi agar ada tabiat/sifat manusia yang bisa mengakibatkan kematian dan dengan demikian membayar hukuman dosa’ (Teologi Dasar : Buku 2; hal. 22)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 20 : Bagaimana mungkin Allah berubah menjadi manusia? Bukankah salah satu sifat Allah adalah tidak berubah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Siapa yang bilang bahwa waktu Natal (inkarnasi) Allah berubah menjadi manusia? Ini pandangan yang salah! Allah tidak pernah berubah menjadi manusia. Yang benar adalah Allah mengambil rupa manusia. Artinya, sewaktu Allah menjadi manusia, Ia sama sekali tidak kehilangan sebagian/seluruh keallahan-Nya. Jadi Ia tetap adalah Allah. Seseorang berkata : “Inkarnasi tidak berarti bahwa LOGOS itu berhenti menjadi apa adanya Dia sebelum saat itu”. Pdt. Budi Asali berkata : “Kalau kita menyoroti kata ‘menjadi’ dalam Yoh 1:14, maka kita perlu ingat bahwa kata ini bisa digunakan dalam 2 arti : (1) kalau kita berkata ‘nasi sudah menjadi bubur’, maka itu berarti bahwa mula-mula hanya ada nasi, dan setelah itu hanya ada bubur, sedangkan nasinya hilang / tidak ada lagi. (2) kalau saya berkata ‘tahun 1993 saya menjadi pendeta’, maka itu berarti mula-mula ada saya, dan pada tahun 1993 itu saya tetap ada / tidak hilang, tetapi lalu ditambahi dengan jabatan pendeta. Kalau kita berbicara tentang ‘Firman / Allah yang menjadi manusia’, maka kita harus mengambil arti ke 2 dari kata ‘menjadi’ tersebut! Jadi, pada waktu Allah menjadi manusia, keilahian Yesus tidak hilang / tidak berkurang sedikitpun, tetapi Ia justru ketambahan hakekat manusia pada diriNya”. Jadi Allah menjadi manusia berarti bahwa Allah mengambil hakikat manusia (tubuh &amp; jiwa) tanpa mengalami perubahan dalam hakikat-Nya, tanpa kehilangan sifat-sifatNya, tanpa menghentikan / mengurangi kegiatan-Nya. Leon Morris berkata : “Kita harus berpegang / percaya bahwa inkarnasi berarti penam­bahan terhadap sesuatu yang sedang dilakukan oleh Firman, dan bukannya penghentian dari sebagian besar kegiatan-kegiatanNya”. Karena itu inkarnasi tidak berarti bahwa Allah telah berubah menjadi manusia. Ia tetap Allah tetapi sekarang mengambil rupa manusia sama seperti kita dan karenanya Ia mempunyai 2 tabiat (ilahi dan manusiawi). Doktrin Kristologi ortodoks percaya bahwa Yesus adalah 100% Allah, 100% manusia. Allah yang sejati dan manusia yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan 21 : Dalam kisah Natal di Alkitab Yusuf memang diceritakan, tetapi anehnya ia sama sekali tidak mengeluarkan 1 kata pun. Ada nyanyian pujian Maria tetapi tidak ada nyanyian pujian Yusuf. Lalu teladan apakah yang dapat kita tiru dari Yusuf ini?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab&lt;/span&gt; : Yusuf pasti pernah mengeluarkan kata-kata dalam kisah Natal. Ia tidak bisu. Hanya saja Alkitab tidak mencatat kata-katanya. Saya juga tidak tahu mengapa Alkitab tidak mencatat 1 kalimat pun yang keluar dari mulut Yusuf. Mungkin karena ia memang bukan tokoh utama dalam cerita kelahiran Yesus. Meskipun demikian itu tidak berarti bahwa kita bisa meneladani Yusuf? Bahkan menurut saya begitu banyak teladan dan sikap positif yang dapat kita pelajari darinya. Yusuf memberikan teladan kepada kita bukan dari kata-katanya melainkan dari perbuatannya. Beberapa hal yang dapat dicatat adalah (1) Yusuf adalah seorang yang tulus hatinya. Alkitab mengatakan bahwa Yusuf adalah seorang yang tulus hatinya (benar), tidak mau mencemarkan nama Maria (Mat 1:19). Ayat ini dalam Alkitab NIV berbunyi sebagai berikut : ‘Because Joseph her husband was a righteous man and did not want to expose her to public disgrace, he had in mind to divorce her quietly’ (Karena Yusuf suaminya adalah orang yang benar dan tidak mau menyingkapkan dia menjadi aib umum, ia berpikir untuk menceraikannya dengan diam-diam). Dalam KJV dikatakan : ‘Then Joseph her husband, being a just man, and not willing to make her a public example, was minded to put her away privily’ (Maka Yusuf suaminya, yang adalah seorang yang benar, dan tidak mau membuatnya sebuah contoh umum / bagi masyarakat, bermaksud untuk menyingkirkannya dengan diam-diam). Perhatikan bagian yang saya garis bawahi itu dari terjemahan KJV itu. Yusuf sebetulnya berhak, bukan hanya untuk menceraikan Maria, tetapi bahkan membuatnya dijatuhi hukuman mati (bdk. Ul 22:23-24  Im 20:10  Yoh 8:5), dan dengan demikian menjadikan Maria contoh bagi masyarakat untuk tidak melakukan perzinahan. Tetapi Yusuf tak mau melakukan hal itu. Kalaupun Yusuf tak mau mengusahakan hukuman mati untuk Maria, ia sebetulnya bisa merusak nama baik Maria (perhatikan bagian yang saya garis bawahi dari terjemahan NIV di atas). Dan memang sakit hati karena merasa dikhianati oleh pacar / tunangan adalah sesuatu yang sangat sering menyebabkan seseorang lalu merusak nama baik pacar / tunangan yang tadinya ia cintai, apalagi kalau ia sudah mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan dengan pacarnya itu. Tetapi Yusuf, sekalipun merasa dikhianati dan sudah mengambil keputusan untuk menceraikan Maria, tidak mau mencemarkan nama Maria. Karena itulah maka ia bermaksud menceraikan Maria dengan diam-diam. Seandainya Yusuf itu tukang gossip / fitnah seperti banyak orang Kristen zaman sekarang, mungkin Maria akan begitu stress sehingga keguguran! Dan kalau demikian, tidak akan ada Juruselamat bagi saudara dan saya! (2) Yusuf  tidak gegabah. Ini terlihat dari Mat1: 20 di mana ia ‘mempertimbangkan’ maksudnya untuk menceraikan Maria. (3) Yusuf percaya pada Firman Tuhan. Ia percaya kepada Firman Tuhan yang disampaikan malaikat Tuhan kepadanya melalui mimpi (Mat 1: 20-24). Sebenarnya kata-kata malaikat dalam mimpi itu amat tidak masuk akal. Coba renungkan, andaikata saudara menjadi Yusuf, di mana tunangan saudara tiba-tiba menjadi hamil, apakah saudara bisa mempercayai kata-kata malaikat yang menyatakan bahwa kehamilan itu dari Roh Kudus (Mat 1:20b)? Hebatnya, Yusuf percaya pada Firman Tuhan yang disampaikan oleh malaikat itu. (4) Yusuf  taat pada Firman Tuhan (Mat 1: 24-25). Hal-hal yang perlu disoroti tentang ketaatannya antara lain bahwa ia taat secara langsung / tidak menunda (Mat 1:24), juga ia menikah dengan Maria. Kata-kata dalam Mat 1:24 akhir yang mengatakan bahwa Yusuf ‘mengambil Maria sebagai istrinya’, jelas menunjuk pada pernikahan Yusuf dan Maria. Ia juga tidak malu mengambil Maria sebagai istri, padahal Maria sudah mengandung sebelum mereka menikah, dan Maria tidak mengandung dari dia. Apakah ia tidak mempertimbangkan apa kata para tetangga, keluarga, dan teman kalau mereka melihat bahwa Maria melahirkan anak sekalipun baru menikah selama 5 bulan? Selain itu ia juga rela untuk tidak bersetubuh dengan Maria sampai Yesus lahir (Mat 1: 25). Tidak adanya persetubuhan sampai Yesus lahir merupakan sesuatu yang penting karena perempuan yang mela­hirkan Yesus haruslah seorang perawan. (Band Mat 1:23 dan Yes 1:14). Dan ‘menikah, tetapi tidak bersetubuh’ jelas merupakan sesuatu pengorbanan! Tetapi Yusuf rela mengalami semua itu! Yusuf juga menamakan anak itu Yesus sesuai dengan Firman yang disampaikan oleh malaikat (Mat 1:23-25). Semua ini membuktikan bahwa Yusuf adalah orang yang taat kepada Firman Tuhan. Jadi meskipun Yusuf tidak mengeluarkan 1 kata pun dalam kisah Natal tetapi teladan yang ia berikan sangat banyak dan berguna bagi kita saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Demikianlah jawaban-jawaban yang dapat saya berikan bagi pertanyaan-pertanyaan seputar Natal. Semoga apa yang saya jelaskan dapat berarti dan menambah pengetahuan bagi saudara semua tentang peristiwa Natal. Mari kita merenung sejenak lewat sebuah puisi indah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tuhan,…terima kasih untuk hariMu yang indah/ Matahari baru terbit, natal kini menghampiri lagi/ Saat manis yang selalu kukenang/ Saat kasih membungkus rasa/ Berkumpul bersama teman, sahabat serta sanak famili/ Tertawa dan bercanda dalam gerai suka yang membalut/ Sejenak duka terlupakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut sebuah ruang/ Tampak nyala lilin redup diiringi samar kidung Natal/ Membuat terpana yang memandang tak bergeming/ Sulit dilukis kata, sulit digambarkan rasa/ Tak mampu menyentuh/ Hanya nurani yang berbisik lirih/ Semoga Natal tahun depan kita masih bisa bersama dalam potret realita/ Dalam keharuman aroma Natal yang syahdu/ Menyongsong kelahiran Sang Juru Selamat dengan sejuta damai berbingkai ketulusan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran-Mu sungguh berarti/ Membuat segala sesuatu berjiwa/ Segala sesuatu terasa hidup/ Seakan ikut berbicara tentang hasrat seorang insan yang mengasihi-Mu/ Menemukan kembali saat terindah dalam hidup ini/ Yang tak mudah mendapatkan kebahagiaan dalam diri sendiri/ Tapi juga tak mungkin menemukan di tempat lain/ Hanya sujud menghampiri-Mu lewat sepenggal doa yang tak terucap namun bergumam dalam sukma.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Natal 25 Desember 2008 yang membawa makna tersendiri dalam hati. Selamat tahun baru 1 Januari 2009 yang membuat kita makin menyadari arti dari kehidupan kita di mata Tuhan dan sesama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-5204886080107109416?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/5204886080107109416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=5204886080107109416&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/5204886080107109416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/5204886080107109416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2008/12/menjawab-pertanyaan-pertanyaan-seputar.html' title='MENJAWAB PERTANYAAN- PERTANYAAN SEPUTAR NATAL (3)'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-2602041664072318518</id><published>2008-12-11T08:01:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T08:03:44.470-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>MEMBONGKAR INKONSISTENSI &amp; KECURANGAN FRANS DONALD (2-Habis)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Atas Tulisan Frans Donald&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esra Alfred Soru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans Donald juga mengutip kata-kata Arthur Weigall dalam bukunya “The Paganism in Our Christianity” yang mengatakan : “Yesus Kristus tidak pernah menyebutkan perwujudan demikian, dan di manapun dalam Perjanjian Baru tidak terdapat kata ‘Tritunggal’. Gagasannya baru diterima oleh gereja tiga ratus tahun setelah kematian tuan kita”. Selanjutnya Frans menulis : The Paganism in Our Christianity, juga mengatakan: “Namun orang-orang Kristen yang pertama pada awal mula tidak pernah mempunyai pikiran untuk menerapkan gagasan [Tritunggal] kepada kepercayaan mereka sendiri. Mereka memberikan pengabdian mereka kepada Allah Bapa dan kepada Yesus Kristus, Anak Allah, dan mereka mengakui .. Roh Kudus; tetapi tidak ada buah pikiran bahwa ketiga pribadi ini adalah suatu Tritunggal,”; “Asal usul Tritunggal sepenuhnya kafir”. Apa yang dikutip Frans ini dari Arthur Weigall memang benar. Tidak ada manipulasi kutipan seperti yang ia lakukan pada The New Encyclopedia Britannica. Hanya saja perlu pembaca ketahui bahwa Arthur Weigall, pengarang buku “The Paganism in Our Christianity” tsb dalam bukunya menyatakan bahwa ada banyak hal di dalam kekristenan yang berasal dari paganisme (kekafiran), sehingga dalam prakteknya ia menyatakan bahwa Kristen adalah kafir, termasuk juga ajaran-ajaran yang dianut oleh Saksi Yehovah dan Unitarian. Hal lain yang dikatakannya Weigall antara lain : 12 murid berasal dari zodiac, 27 buku Perjanjian Baru tidak sah, nama Maria (ibu Yesus) berasal dari kafir, kelahiran Yesus dari perawan berasal dari kafir, Yesus tidak mati di kayu salib, Yesus adalah Anak Allah berasal dari kafir, hari Sabat berasal dari kafir, konsep darah untuk menebus dosa berasal dari kekafiran, penjelmaan Firman dalam Yohanes 1:1 berasal dari kekafiran, konsep malaikat yang sudah ada sebelumnya adalah konsep abad ke 4, dll. Kesimpulannya, Arthur Weigall mengatakan hampir seluruh konsep Kristen adalah kafir, termasuk juga ajaran-ajaran yang diterima oleh Saksi-Saksi Yehuwa dan tentu termasuk di dalamnya adalah Unitarianisme. Karenanya seorang penulis mengomentari Weigall sebagai berikut : “Weigall  adalah seorang modernis dan ia tidak percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Ia membuang 99% dari apa yang dipercaya oleh Saksi Yehovah maupun Trinitarian dari mana berasal dari kekafiran. Saksi Yehovah meninggalkan kesan bahwa Weigall membebaskan Saksi Yehovah dari komentarnya! (www.bible.ca.com). Penulis tersebut menyinggung Saksi Yehovah karena memang tulisan Weigall juga dikutip oleh aliran Saksi Yehovah dalam buku mereka “Why Should Believe in the Trinity’  yang saya yakin diacu oleh Frans Donald. Jadi Saksi Yehovah dan Frans Donald sama curangnya dalam hal ini di mana mereka tidak mengungkapkan hal ini. Mereka hanya mengutip kata-kata Weigall saja tentang Tritunggal dan mengabaikan fakta lainnya termasuk paham mereka sendiri yang dianggap Weigall juga adalah kafir. Jikalau Frans Donald membenarkan kata-kata Weigall tentang Tritunggal, apakah ia juga akan membenarkan pendapat Weigall bahwa 12 murid berasal dari zodiac? Apakah ia juga akan membenarkan pendapat Weigall bahwa kelahiran Yesus dari perawan berasal dari kafir? Apakah ia juga akan membenarkan pendapat Weigall bahwa Yesus tidak mati di kayu salib? Apakah ia juga akan membenarkan pendapat Weigall bahwa hari Sabat berasal dari kafir? Bukankah gerejanya Frans Donald tidak berbakti pada hari minggu melainkan hari sabtu? Jelas terlihat bahwa Frans Donald mencoba menyesatkan umat dengan memberi kesan seolah-olah Arthur Weigall menentang Tritunggal dan juga setuju dengan pendapat Unitarianisme padahal tidak sama sekali. Benar-benar sebuah kecurangan yang sangat licik. Saya kira Frans Donald layak disebut “serigala berbulu domba” sesuai Mat 7:15 - "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Satu lagi yang dikutip Frans Donald untuk mendukung pandangannya adalah dari “Encyclopedia of Religion and Ethics” yang mengatakan: “Pada mulanya kepercayaan Kristen bukan kepada Allah Tiga Serangkai [Tritunggal] … Halnya tidak demikian pada zaman rasul-rasul atau sebelumnya, seperti diperlihatkan dalam Perjanjian Baru dan tulisan-tulisan Kristen awal lainnya”. Di sini lagi-lagi terlihat bahwa Frans Donald adalah penipu besar yang memanipulasi data untuk mendukung paham yang ia anut. Sebenarnya sepenggal kalimat yang dikutip Frans Donald ini adalah pembahasan dari James Hastings tentang “Tritunggal Ekonomi dan Tritunggal Esensial”. Berikut  saya kutipkan kalimat dari “Encyclopedia of Religion and Ethics” ini : Ketritunggalan Ekonomi dan Esensial : Transisi dari pengalaman Tritunggal ke dogma Tritunggal dapat digambarkan dalam istilah lain sebagai transisi dari Tritunggal Ekonomi atau Tritunggal Dispensasional (Yun) ke Tritunggal esensial atau imanen atau ontologis (Yun). Pada mulanya kepercayaan Kristen bukanlah Trinitarianisme (Cat. Frans Donald menerjemahkannya sebagai ‘Allah tiga serangkai’) dalam suatu referensi ontologis yang ketat. Halnya tidak demikian pada zaman-rasul atau sebelumnya, seperti diperlihatkan dalam Perjanjian Baru dan tulisan-tulisan Kristen awal lainnya. Demikian juga tidak dalam zaman para pakar apologetika Kristen”. (Encyclopedia of Religion and Ethics, James Hastings, Trinity, hal. 461). Perhatikan kutipan lengkap dari kalimat di atas dan bandingkan dengan apa yang dikutip oleh Frans Donald. Ternyata Frans Donald hanya mengutip bagian yang saya garis bawahi saja dan dengan sengaja menghilangkan/membuang/tidak mengutip kalimat “dalam suatu referensi ontolologis yang ketat”. Jadi sebenarnya James Hasting bukan mengatakan bahwa “Pada mulanya kepercayaan Kristen bukanlah Trinitarianisme” melainkan “Pada mulanya kepercayaan Kristen bukanlah Trinitarianisme dalam suatu referensi ontolologis yang ketat.” Maksud Hastings adalah bahwa kepercayaan tentang Tritunggal itu ada tetapi tidak secara eksplisit atau ketat atau terang-terangan di dalam Alkitab. Itu yang dimaksudkan oleh Hastings tapi kata-kata Hastings ini diputarbalikkan oleh Frans Donald untuk mendukung pemahaman Unitarian. Hebat sekali penipuan yang kau lakukan Frans? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya sudah membuktikan bahwa hampir sebagaian besar kutipan yang dilakukan oleh Frans Donald adalah hasil penipuan dan manipulasi. Saya memang tidak memiliki buku Bernard Lohse “A Short History of Christian Doctrine”, L.L. Paine “A Critical History of The Evolution of Trinitarianism” dan Chief Rabbi J.H Herzt, dan juga sumber-sumber tentang apa yang dikatakan Romo Tom Jacobs, SJ. (Guru Besar Emeritus Tafsir Kitab Suci, Sanata Dharma Yogyakarta), Hortensius Florimond Mandaru, dan juga Profesor J.B. Banawiratma namun siapa bisa jamin bahwa dalam buku-buku ini Frans mengutip dengan jujur jikalau sebagian besar telah dibuktikan bahwa ia mengutip dengan cara tidak jujur? Melihat cara yang dipakai Frans Donald ini sama persis dengan cara yang dipakai Saksi Yehovah, saya jadi curiga, mungkinkah ini adalah mentalitas para Unitarian yang antri Tritunggal ini ? Beginikah cara kerja Unitarian yang mengaku diri Alkitabiah dan bukan konsiliah ? Sungguh memalukan! Menipu, menyesatkan, memanipulasi, licik, penuh kebohongan, memalsukan, memfitnah, dll. Kalau sudah demikian, saya ingin bertanya : “Salahkah kita kalau kita katakan bahwa Frans Donald adalah nabi palsu, guru palsu, penyesat, serigala berbulu domba ?” “Salahkah jika Sdr. Anton Bele berkata ‘Anathema Sit !?’ Silahkan pembaca menilai sendiri!!! Saya hanya menghadirkan Frans Donald yang sudah ‘telanjang’ di hadapan para pembaca sekalian dan silahkan masing-masing orang memberikan penilaian kepada si Unitarian ini!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tentang Romo Tom Jacobs, SJ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Frans Donald dalam tulisannya juga mengutip kata-kata Romo Tom Jacobs, SJ (Guru Besar Emeritus Tafsir Kitab Suci, Sanata Dharma Yogyakarta) yang berkata : “Saya keberatan dengan istilah Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Yang benar ya Bapa itu Allah, Yesus itu jalan menuju Allah”; “Rumusan bahwa Yesus 100% Allah 100% manusia, itu tidak tepat”; “Rumusan 100% Allah 100% manusia, ini hasil konsili Kalkedon, bukan kitab suci”; “[di alkitab] Yesus tidak pernah disebut sebagai Allah [sejati]”; “Dulu sebelum tahun 1974, …saya yakin Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia, …tetapi setelah 1974 sampai sekarang, saya tidak lagi berdoa kepada Yesus, tapi saya berdoa kepada Allah, bersama-sama dengan Yesus dengan dorongan Roh Kudus. … Saya lebih kristiani sejak percaya Yesus bukan Allah daripada sebelumnya”. Entah apa maksudnya Frans Donald mengutip kata-kata Romo Tom Jacobs ini yang dijelaskannya sebagai Guru Besar Tafsir Kitab Suci. Mungkin saja untuk memperlihatkan pada Sdr. Anton Bele yang dalam tulisannya “Anathema Sit!” memperkenalkan diri sebagai ‘Dosen Kitab Suci, Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS) Keuskupan Agung Kupang…’ bahwa orang yang lebih senior dan lebih pakar dari anda saja yang juga beragama Katolik ternyata tidak percaya doktrin Tritunggal dan tidak percaya Yesus adalah Allah yang sejati. Saya tidak peduli dengan itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Satu hal yang ingin saya katakan bahwa seandainya benar bahwa Romo Tom Jacobs memang mengatakan kalimat-kalimat di atas, itu tidak mengherankan bagi saya. Jelas kata-katanya menunjukkan bahwa dia sesat. Tetapi bukankah dia adalah Guru Besar Tafsir Kitab Suci? Memangnya Guru Besar Tafsir Kitab Suci tidak bisa sesat? Jikalau ada nabi palsu, rasul palsu maka tidak heran kalau ada guru palsu termasuk guru besar palsu. Istilah “nabi palsu” ada dalam Kitab Suci. Nabi adalah seorang pemberita Firman. Jadi penyesatan bisa datang dan banyak datang justru dari para pemberita Firman atau pengajar Firman. Jadi jika Frans Donald mengutipkan kata-kata Romo Tom Jacobs yang tidak percaya doktrin Tritunggal dan keallahan Yesus maka bagi saya itu bukan berarti bahwa doktrin Tritunggal dan keallahan Yesus tidak benar melainkan hanya menunjukkan bahwa seorang guru besar dalam soal tafsir Kitab Suci saja bisa sesat apalagi Frans Donald yang tak pernah belajar menafsir Kitab Suci dengan baik ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekarang saya ingin menanggapi satu hal saja dari kata-kata Romo Tom Jacobs. Ia berkata : “Dulu sebelum tahun 1974, …saya yakin Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia, …tetapi setelah 1974 sampai sekarang, saya tidak lagi berdoa kepada Yesus, tapi saya berdoa kepada Allah, bersama-sama dengan Yesus dengan dorongan Roh Kudus. … Saya lebih Kristiani sejak percaya Yesus bukan Allah daripada sebelumnya”. Yang ingin saya persoalkan adalah bahwa Romo Tom Jacobs tidak lagi berdoa kepada Yesus. Hal ini sebenarnya membuat Guru Besar Tafsir Kitab Suci ini tidak ada bedanya dengan Saksi Yehovah karena Saksi Yehovah juga menolak berdoa kepada Yesus seperti dikatakan dalam buku mereka : “kita hendaknya berdoa hanya kepada Allah, Yehuwa. ... Akan tetapi semua doa kita hendaknya diucapkan dalam nama Yesus”  (Apa yang Allah Tuntut dari Kita?, hal 14, 15) dan juga : “Doa harus ditujukan hanya kepada Yehuwa dengan perantaraan Kristus” (Saksi-Saksi Yehuwa - Siapakah Mereka?, hal 13). Sekarang kita akan menguji tindakan dan keyakinan Romo Tom Jacobs ini dari Kitab Suci. Jikalau Romo Tom Jacobs tidak lagi berdoa kepada Yesus, lalu bagaimana si Guru Besar Tafsir Kitab Suci ini memahami kata-kata Yesus dalam Yoh 14:14 : “Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya.’”. Bukanlah kata ‘kepadaKu’ ini menunjukkan bahwa doa bukan hanya boleh ditujukan kepada Bapa, tetapi juga kepada Yesus? Leon Morris (NICNT) berkata : “Keduanya (Bapa dan Anak) tidak terpisahkan, seperti dalam sepanjang paragraf ini. Itu sebabnya doa bisa ditujukan kepada yang manapun dari Mereka”. (New International Commentary of the NT, hal 646). Lalu bagaimana ia menafsirkan Kis 7:59-60 di mana Stefanus menjelang kematiannya, berdoa kepada Yesus? Kis 7:59-60 : “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’ Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu meninggallah ia”. Ingatlah bahwa saat itu ia dipenuhi oleh Roh Kudus (Kis 7:55). “Masakan ia salah dalam menujukan doanya pada saat ia dipenuhi oleh Roh Kudus? Bagaimana lagi dengan Paulus yang juga berdoa kepada Yesus ? 2 Kor 12:8-9 : “Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. Perhatikan bahwa kata ‘kuasaKu’ (ay 9a) sama dengan ‘kuasa Kristus’ (ay 9b). Jadi kata ‘Tuhan’ dalam ayat 8, kepada siapa Paulus menujukan doanya, pasti adalah ‘Tuhan Yesus’. Juga mereka menggunakan kata ‘memohon’, dan karena itu bagian ini merupakan dasar yang kuat untuk menunjukkan bahwa doa boleh ditujukan kepada Yesus! Lihat juga 1 Tes 2:18, 3:10-11 - “(2:18) Sebab kami telah berniat untuk datang kepada kamu - aku, Paulus, malahan lebih dari sekali -, tetapi Iblis telah mencegah kami. ... (3:10) Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. (3:11) Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu”. Bukankah dalam teks ini terlihat bahwa Paulus berdoa dan berharap, bukan hanya kepada Bapa, tetapi juga kepada Yesus, untuk membuka jalan sehingga ia bisa datang ke Tesalonika? Bagaimana lagi ia menafsirkan Wah 22:20 yang adalah doa Rasul Yohanes : “Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: ‘Ya, Aku datang segera!’ Amin, datanglah, Tuhan Yesus!”. John Owen mengatakan : “Demikianlah seluruh Kitab Suci ditutup dengan suatu doa dari gereja kepada Tuhan Kristus, menyatakan iman mereka kepadaNya: ‘Datanglah, Tuhan Yesus’, Wah 22:20” (The Works of John Owen’, vol I, hal. 111). Lalu bagaimana lagi dengan 1 Kor 1:2b di mana semua orang percaya di segala tempat berdoa kepada Yesus? 1Kor 1:2b : “dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita”. Kata-kata ini jelas menunjukkan bahwa orang kristen boleh berdoa kepada Yesus! Juga beberapa orang berdialog (berdoa) dengan Yesus (setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga), misalnya seperti yang dilakukan oleh Saulus (Kis 9:4-6), Ananias (Kis 9:10-16), Petrus (Kis 10:13-16). Bagaimana lagi si guru besar ini menafsirkan Wah 5:8 yang menunjukkan bahwa doa orang-orang kudus dipersembahkan kepada Yesus. Wah 5:8 : “Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus”. Atau mungkinkah Frans Donald mau membantu Tom Jacobs menafsirkan ayat-ayat di atas? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sdr. Frans Donald, bukankah dalam tulisan anda, anda mengatakan bahwa : “Kami (Unitarian) pakai ukuran Alkitab saja, sementara para Trinitarian memakai ukuran konsili-konsili”. Sekarang saya tanya pada anda, dalam hal berdoa kepada Yesus, anda mau pegang kata-kata Alkitab atau kata-kata Tom Jacobs si Guru Besar yang sesat itu? Kalau anda mengikuti Alkitab saja, lalu mengapa anda kutip kata-kata Tom Jacobs sebagai pembuktian dari anda dalam menolak doktrin Tritunggal dan keallahan Yesus ? Tapi kalau anda setuju dengan kata-kata Tom Jacobs, memang saya tidak heran karena sama sesatnya tetapi bagaimana dengan klaim anda : “Kami (Unitarian) pakai ukuran Alkitab saja’ ? Apa itu hanya teori bohong-bohongan seperti kebohongan-kebohongan dan tipu daya anda yang sudah saya singkapkan ? Anda yang tak setia pada Alkitab tetapi menuduh kami yang percaya doktrin Tritunggal sebagai tidak Alkitabiah. Saya kira peribahasa ini cocok untuk anda : 'Kuman di seberang lautan tampak, tetapi gajah di pelupuk mata tidak tampak' atau dalam bahasa Kitab Suci : 'Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.'" (Mat 7 :3-5). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesimpulan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sepanjang empat hari ini saya menulis dan memperlihatkan bahwa semua tudingan Frans Donald kepada doktrin Tritunggal sama sekali tidak benar. Ia tidak memahami sejarah dengan baik tetapi berbicara seolah paling mengerti sejarah. Ia juga melakukan inkonsistensi-inkonsistensi di dalam tulisannya dan yang lebih parah lagi adalah ia dengan sangat licin dan licik bagaikan ular memanipulasi data dari berbagai sumber untuk mendukung pandangan Unitariannya sekaligus memfitnah doktrin Tritunggal. Jelas saja Allah dan Yesus yang diajarkan oleh Frans Donald adalah Allah dan Yesus yang lain dari yang diberitakan Kitab Suci. Ia adalah penyesat dan nabi palsu. Camkan kata-kata rasul Paulus : “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia”. (Gal 1:8-9). – THE END.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-2602041664072318518?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/2602041664072318518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=2602041664072318518&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2602041664072318518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2602041664072318518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2008/12/membongkar-inkonsistensi-kecurangan_11.html' title='MEMBONGKAR INKONSISTENSI &amp; KECURANGAN FRANS DONALD (2-Habis)'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-2418704991887546343</id><published>2008-12-11T07:52:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T07:55:16.056-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>MEMBONGKAR INKONSISTENSI &amp; KECURANGAN FRANS DONALD (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Atas Tulisan Frans Donald&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esra Alfred Soru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inkonsistensi Frans Donald&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Di dalam tulisan tanggapannya terhadap Sdr. Anton Bele, Frans Donald berkali-kali mengklaim bahwa doktrin Tritunggal adalah produk konsili Nicea sedangkan paham Unitariannya dibangun di atas dasar Alkitab (Sola Scriptura). Berikut kata-kata Frans Donald : “Dan tulisan saya di Timex pada tanggal 11 dan 12 Agustus yang lalu tersebut berbicara dalam Perspektif Iman Kristiani yang Alkitabiah,…”; “Tapi kalau suatu ‘Iman Kristiani’ dibangun bukan atas dasar konsili-konsili, melainkan atas dasar Alkitab (Sola Scriptura), ….”; “Kami (Unitarian) pakai ukuran Alkitab saja, sementara para Trinitarian memakai ukuran konsili-konsili”. Jadi Frans Donald mengklaim bahwa apa yang ia ajarkan (doktrin Unitarian) adalah doktrin yang berdasarkan pada Alkitab, bahkan Alkitab saja (Sola Scriptura). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebenarnya dengan mengikuti semua perdebatan saya melawan Frans Donald (baik debat langsung maupun tertulis lewat koran Timex ini) pembaca sudah dapat melihat bahwa dasar-dasar doktrin Tritunggal dan keallahan Yesus sangatlah kuat dan tidak pernah bisa digugurkan oleh Frans Donald. Sebaliknya dasar-dasar yang dipakai oleh Frans untuk menopang doktrin Unitariannya sudah dihancurkan tanpa pernah bisa ia bantah. Dari sini saja jelas bahwa doktrin Unitarian justru bukan doktrin yang Alkitabiah. Lebih daripada itu apa yang dikatakan Frans Donald di atas justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan sekaligus memperlihatkan inkonsistensinya. Secara eksplisit Frans berkata bahwa Unitarian memakai ukuran Alkitab saja (Sola Scriptura). Itu berarti bahwa doktrin-doktrin Frans Donald haruslah hanya berdasarkan Alkitab saja dan tidak ada dasar yang lain. Anehnya, dalam tulisan sebelumnya, ia memperkenalkan diri sebagai penulis buku ‘ALLAH DALAM ALKITAB DAN AL QURAN ; SESEMBAHAN YANG SAMA ATAU BERBEDA ?’ Pada bagian kata pengantar dari buku tersebut (hal 10), Dr. Tjahyadi Nugroho, MA memberikan gambaran tentang tulisan Frans Donald dengan berkata : “Sejak awal pembaca diajak bersepakat untuk menjadikan Alkitab dan Al-Quran sebagai fondasi kajian, ... ”. Selanjutnya pada hal. 21 (pada bagian ‘Catatan Penulis’) dikatakan sebagai berikut: “Dalam buku ini, penulis sedapat mungkin menggunakan metode ‘kitab suci apa adanya’: membaca Al-Quran dengan metode tafsir Al-Quran bi Al-Quran, yaitu penafsiran ayat Al-Quran dengan ayat Al-Quran juga; membaca Alkitab dengan metode sola scriptura (hanya Alkitab saja) dan scriptura interpres scriptura (Alkitab ditafsirkan oleh Alkitab sendiri, ayat menjelaskan ayat), ...”. Dari kutipan-kutipan di atas nampak sekali inkonsistensi dari Frans Donald. Bagaimana mungkin ia mempercayai doktrin ‘Sola Scriptura’ (Hanya Alkitab saja) di satu sisi dan di sisi yang lain menjadikan Alkitab dan Al-Quran sebagai fondasi kajian? Bagaimana mungkin ia membaca Alkitab dengan metode Sola Scriptura sambil melibatkan Al-Quran sebagai dasar tulisannya? Alkitab dan Al-Quran merupakan 2 buah Kitab Suci yang bukan hanya berbeda tetapi juga bertentangan! Sebagai contoh,  dalam Alkitab dikatakan bahwa Abraham mempersembahkan Ishak, sedangkan dalam Al-Quran dikatakan bahwa Abraham mempersembahkan Ismael. Ini betul-betul 2 cerita yang bertentangan frontal; dan tidak mungkin bisa diharmoniskan! Ini baru contoh tentang cerita, lebih-lebih kalau contoh perbedaan / pertentangan secara doktrinal! Misalnya dalam hal doktrin Allah Tritunggal, keilahian Kristus, Penebusan, keselamatan oleh iman saja, dan sebagainya. Jadi, seseorang yang mempunyai logika, hanya bisa menerima salah satu dari kedua Kitab Suci ini sebagai yang benar. Menerima kedua-duanya merupakan tindakan bodoh yang tidak mempunyai akal sehat! Dan menerima keduanya sambil juga percaya doktrin ‘Sola Scriptura’ adalah tindakan yang lebih bodoh lagi’! Dan itulah yang dilakukan Frans Donald. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Inkonsistensi lain yang nampak dalam tulisan Frans Donald adalah sekurang-kurangnya ada 2 kutipan yang ia berikan yang menolak doktrin Tritunggal dengan alasan bahwa kata ‘Tritunggal’ sendiri tidak ada dalam Alkitab. Yang pertama dari The New Encyclopedia Britanica yang mengatakan: “Kata Tritunggal atau doktrinnya yang jelas tidak terdapat dalam Perjanjian Baru”. Juga dari sejarahwan Arthur Weigall menyatakan : “Yesus Kristus tidak pernah menyebutkan perwujudan demikian, dan di manapun dalam Perjanjian Baru tidak terdapat kata ‘Tritunggal’. Gagasannya baru diterima oleh gereja tiga ratus tahun setelah kematian tuan kita”. (The Paganism in Our Christianity). Walaupun ini hanya kutipan (bukan kata-kata langsung dari Frans Donald) namun dengan mengutip sumber-sumber di atas, jelas memperlihatkan bahwa salah satu keberatan Frans terhadap doktrin Tritunggal adalah karena kata ‘Tritunggal’ sendiri tidak ada di dalam Alkitab. Keberatan ini umum datang dari semua kaum anti Trinitarian termasuk di dalamnya Saksi-Saksi Yehuwa. Kaum Trinitarian sendiri bukannya tidak tahu bahwa kata ‘Tritunggal’ tidak terdapat di dalam Alkitab. Walaupun kata tersebut tidak ada di dalam Alkitab, itu tidak berarti bahwa konsepnya juga tidak ada? Konsepnya jelas ada! Yang ingin saya tekankan di sini adalah inkonsistensi dari Frans Donald. Jikalau menurut Frans Donald sebuah istilah yang tidak ada di dalam Alkitab berarti ajarannya/konsepnya juga tidak ada, lalu bagaimana dengan istilah ‘Sola Scriptura’ sendiri yang ia pakai ? Frans Donald menulis “Tapi kalau suatu ‘Iman Kristiani’ dibangun bukan atas dasar konsili-konsili, melainkan atas dasar Alkitab (Sola Scriptura), ….” Berarti Frans Donald percaya pada doktrin ‘Sola Scriptura’. Sekarang saya minta kepada Frans Donald untuk menunjukkan kepada saya 1 ayat saja dalam Alkitab yang ada kata ‘Sola Scriptura’nya. Cari sampai mabuk pun anda tak akan bisa menemukannya karena memang kata itu tidak ada di seluruh Alkitab. Lalu mengapa anda bisa mempercayai doktrin ‘Sola Scriptura’ itu ? Bukankah menurut kaum anti Trinitarian kalau istilahnya tidak ada maka konsepnya juga tidak ada ? Atau peraturan itu hanya berlaku bagi kata ‘Tritunggal’ dan tidak berlaku bagi kata ‘Sola Scriptura’ ? Jadi kalau kata ‘Tritunggal’ tidak ada dalam Alkitab maka doktrin Tritunggalnya ditolak sedangkan kata ‘Sola Scriptura’ walaupun tidak ada di dalam Alkitab tetapi anda percayai dan pakai ? Sungguh sebuah inkonsistensi yang sangat naif. Dan itulah yang dilakukan Frans Donald.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kecurangan Frans Donald&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain inkonsistensi yang ditampilkan Frans Donald dalam tulisannya, saya juga menemukan adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan olehnya. Di dalam tulisannya Frans mengutip banyak sumber yang menolak doktrin Tritunggal seperti The Encyclopedia of Religion, New Catholic Encyclopedia, Imam Jesuit Edmund Fortman (The Triune God), The New Encyclopedia Britannica, Bernard Lohse (A Short History of Christian Doctrine), The New International Dictionary of New Testament Theology, Karl Barth, Profesor E. Washburn Hopkins (Origin and Evolution of Religion), Arthur Weigall (The Paganism in Our Christianity), L.L. Paine (A Critical History of The Evolution of Trinitarianism), Chief Rabbi J.H Herzt, Romo Tom Jacobs, SJ. (Guru Besar Emeritus Tafsir Kitab Suci, Sanata Dharma Yogyakarta), Hortensius Florimond Mandaru, dan juga Profesor J.B. Banawiratma. Terus terang saya tidak mempunyai dan membaca semua buku yang disebutkan di atas ini. Tetapi sebagian besar buku-buku yang ia sebutkan sudah saya baca, dan saya menemukan bahwa Frans Donald telah memanipulasi kutipan-kutipan sedemikian rupa sehingga mendukung paham yang ia anut. Perhatikan bahwa ketika mengutip sumber-sumber di atas, Frans sama sekali tidak memberitahu halaman berapa dari buku yang ia kutip, apalagi dari Encyclopedia volume berapa, halaman berapa, dll. Bukankah ini sebuah cara yang licik agar orang sukar melacak apa yang ia kutip? Tetapi syukur dengan kerja keras saya berhasil menemukan halaman-halaman dari buku-buku yang dikutip Frans dan ternyata ia memang manipulator ulung. Benarkah demikian? Mari kita lihat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Frans Donald memulai daftarnya yang panjang dengan mengutip kata-kata dari The Encyclopedia of Religion yang mengatakan : “para teolog dewasa ini setuju bahwa Alkitab Ibrani tidak memuat doktrin tentang Tritunggal”. Selanjutnya ia mengatakan :  The Encyclopedia of Religion, juga mengatakan: “Para teolog setuju bahwa Perjanjian Baru juga tidak memuat doktrin yang jelas mengenai Tritunggal.” Memang benar bahwa The Encyclopedia of Religion menulis kata-kata di atas namun The Encyclopedia of Religion ini melanjutkan dengan membahas “teks-teks binitarian” dan faktanya adalah bahwa ada banyak bagian dalam Encyclopedia ini yang menyampaikan konsep ketritunggalan Allah seperti kalimat “Allah yang mengambil rupa daging dalam Kristus” dan bahwa asal usul doktrin Tritunggal “mungkin secara sah dicari dalam Alkitab…Apa yang Kitab Suci ceritakan sebagai pekerjaan Allah … adalah sumber dari doktrin Trinitarian yang muncul belakangan.  (The Encyclopedia of Religions, vol.15.pg.54). Jadi rupanya Frans Donald hanya melihat dan mengutip bagian awal dari penjelasan dalam  The Encyclopedia of Religion tetapi mengabaikan bagian-bagian selanjutnya. Mengapa ia melakukan itu? Karena bagian awal itu kelihatannya mendukung pandangannya sendiri. Benar-benar sebuah tindakan yang tidak fair dan bersifat menipu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnya Frans Donald mengutip New Catholic Encyclopedia yang mengatakan: “Doktrin Tritunggal tidak diajarkan dalam Perjanjian Lama”. Frans menghentikan kutipannya sampai di situ sehingga seolah-olah New Catholic Encyclopedia menolak doktrin Tritunggal. Padahal ketika New Catholic Encyclopedia ini mengatakan bahwa “Doktrin Tritunggal tidak diajarkan dalam Perjanjian Lama”, selanjutnya dikatakan bahwa : “Di dalam Perjanjian Baru bukti yang paling tua ditemukan dalam surat Paulus, secara khusus 2 Kor 13:13 dan 1 Kor 12:4-6. Di dalam Injil-Injil, bukti-bukti dari Tritunggal ditemukan dengan tegas hanya di dalam formula baptisan pada Mat 28:19….Akan tetapi pada banyak bagian dalam Perjanjian Lama, ungkapan-ungkapan digunakan yang oleh bapa-bapa gereja dilihat sebagai referensi atau bayang-bayang dari Tritunggal….Pikiran umat Tuhan sedang dipersiapkan untuk suatu konsep yang akan dilibatkan dalam wahyu yang akan datang terhadap doktrin Tritunggal”  (New Catholic Encyclopedia, vol. 14, pg. 306). Dari sini jelas bahwa  New Catholic Encyclopedia percaya akan doktrin Tritunggal tetapi malah dikutip Frans untuk menunjukkan pada pembaca seolah-olah menolak doktrin Tritunggal. Pengutipan yang tidak lengkap ini bukankah merupakan sebuah cara yang kotor dan licik dari Frans Donald? Silahkan pembaca menilai saja sendiri!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berikutnya Frans Donald mengutip Imam Jesuit Edmund Fortman yang dalam bukunya The Triune God, mengakui : “Perjanjian Lama … tidak secara tegas atau pun samara-samar memberi tahu kepada kita mengenai Allah Tiga Serangkai yang adalah Allah, Anak dan Roh Kudus … Bahkan mencari di dalam ‘Perjanjian Lama’ kesan-kesan atau gambaran di muka atau ‘tanda-tanda terselubung’ mengenai Tritunggal dari pribadi-pribadi, berarti melampaui kata-kata dan tujuan dari para penulis tulisan-tulisan suci”. Meskipun Fortman mengatakan kalimat seperti di atas, ia merubah pernyataannya dengan : “mungkin bisa dikatakan bahwa beberapa dari tulisan-tulisan ini tentang Firman dan hikmat dan roh benar-benar menimbulkan suasana di mana orang-orang Yahudi dapat berpikir tentang pluralitas dalam keallahan. Akan tetapi penulis-penulis ini pasti memberikan kita kata-kata yang digunakan oleh Perjanjian Baru untuk menunjukkan ketiga pribadi Tritunggal, Bapa, Anak, Firman, Hikmat, Roh. (The Triune God, 1972, pg.9). Dari kalimat yang dikutip Frans, kelihatan bahwa Fortman menolak doktrin Tritunggal. Tetapi dari kata-kata Fortman yang tidak dikutipnya memperlihatkan yang sebaliknya. Sayangnya kata-kata itu tidak dikutip oleh Frans Donald. Ia hanya mengutip kata-kata yang ia anggap mendukung pandangannya saja. Benar-benar curang!!! Frans Donald sekali lagi mengutip kata-kata Fortman : “Para penulis Perjanjian Baru … tidak memberi kita doktrin Tritunggal yang resmi atau dirumuskan, juga tidak ajaran yang jelas bahwa dalam satu Allah terdapat tiga pribadi ilahi yang setara… Di manapun kita tidak menemukan doktrin Tritunggal dari tiga subyek kehidupan dan kegiatan ilahi yang berbeda dalam keilahian yang sama”. Ini memang benar kata-kata Fortman. Tetapi kecurangan Frans Donald terlihat lagi di sini di mana ia tidak mengutip kalimat-kalimat selanjutnya yang berbunyi : “Jika kita menerima penulis-penulis Perjanjian Baru bersama, mereka menyatakan kepada kita bahwa hanya ada satu Allah, pencipta dan Tuhan dari alam semesta…Mereka menyebut Yesus sebagai Anak Allah, Mesias, Tuhan, Juruselamat, Firman, Hikmat. Mereka memberikan kepada-Nya fungsi ilahi dari penciptaan, penebusan, penghakiman. Kadang-kadang mereka secara jelas memanggilnya Allah…Mereka memberikan kepada kita bukan suatu formula dari doktrin Tritunggal, bukan suatu pengajaran yang eksplisit bahwa ada satu Allah dengan tiga pribadi yang setara. Tetapi mereka memberikan kepada kita sebuah dasar Trinitarianisme, data darimana doktrin ketritunggalan Allah diformulasikan. (Triune God, pp. xv-xvi). Kalimat terakhir yang saya garis bawahi ini penting sekali dan membuktikan bahwa Fortman tidak anti doktrin Tritunggal. Herannya bagian ini sengaja dibuang/tidak dikutip oleh Frans Donald untuk mendukung asumsinya. Rupanya si Unitarian yang satu ini benar-benar pemfitnah, penipu ulung, ular beludak!!!   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Berikutnya lagi Frans Donald juga mengutip The New Encyclopedia Britannica yang mengatakan : “Kata Tritunggal atau doktrinnya yang jelas tidak terdapat dalam Perjanjian Baru” Mengacu pada Encyclopedia Britannica, Trinity, Vol. X, 1979 maka kalimat lengkap dari kutipan tersebut adalah : “Kata Tritunggal atau doktrinnya yang jelas tidak terdapat dalam Perjanjian Baru, Yesus dan pengikut-Nya juga tidak bermaksud untuk menentang Shema dalam Perjanjian Lama: "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ulangan 6:4) … Karenanya, Perjanjian Baru dibentuk berdasarkan doktrin Tritunggal. Doktrin ini dibentuk secara bertahap selama beberapa abad dan melalui banyak kontroversi”. (hal.126). Perhatikan kutipan ini dengan baik. Dengan memotong kalimat lengkapnya yang terdapat pada bagian bawah yang berbunyi “Karenanya, Perjanjian Baru dibentuk berdasarkan doktrin Tritunggal”, Frans Donald telah membengkokkan arti sesungguhnya dari pernyataan itu. Selanjutnya kalau mengacu pada The New Encyclopedia Britannica, Vol. XI maka kalimat selanjutnya berbunyi : “walaupun doktrin eksplisitnya tidak dinyatakan, itu dinyatakan secara implisit dalam halaman-halaman Kitab Suci. Jadi Perjanjian Baru membangun dasar bagi doktrin Tritunggal” (hal. 928). Dengan demikian apa yang dilakukan Frans Donald ini adalah sebuah kecurangan dan upaya penipuan/penyesatan dengan sengaja terhadap umat/publik. Benar-benar keterlaluan dan kotornya otak si penyesat satu ini!!!   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lebih lanjut Frans Donald berkata : The New International Dictionary of New Testament Theology, dan teolog Protestan Karl Barth, mengatakan: “Perjanjian Baru tidak memuat doktrin Tritunggal yang diperkembangkan”. “Alkitab tidak memuat deklarasi yang terus terang bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah dari zat yang sama”. Apa yang dikatakan Frans Donald ini sungguh aneh. Memang Barth mengatakan kalimat di atas tetapi yang tidak diketahui atau saya kira lebih tepatnya ditutupi oleh Frans adalah bahwa Barth masih mengakui, “Dasar teologi adalah Trinitas yang hidup itu sendiri. Firman Tuhan bukanlah sesuatu hal atau obyek, tapi Tuhan sendiri. (New International Dictionary of the Christian Church, 1978; J.D. Douglas, Zondervan Publishing House, Grand Rapids, MI, pg.107). Poin yang Barth tekankan dalam bukunya adalah bahwa : “Pada saat Alkitab kekurangan "ungkapan deklarasi" tentang Tritunggal, Perjanjian Baru tidak berisi kesulitan, formula tiga dari 2 Kor 13:13 di mana Allah, Tuhan Yesus Kristus dam Roh Kudus disebutkan secara bersama-sama (band. 1 Kor 12:4). Ketritunggalan Bapa, Anak dan Roh Kudus terjadi dalam formula baptisan dalam Mat 28:19. (The New International Dictionary of New Testament Theology, vol. 2, p. 84).  Dari apa yang saya ungkapkan ini jelas bahwa Karl Barth percaya akan doktrin Tritunggal hanya saja otak Unitarian satu inilah yang memperlihatkan sebaliknya. Dasar penyesat!!!   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnya Frans Donald mengutip Profesor E. Washburn Hopkins dari Yale University, menekankan: “Bagi Yesus dan Paulus doktrin Tritunggal jelas tidak dikenal; … mereka tidak mengatakan apa-apa mengenai itu” (Origin and Evolution of Religion). Lagi-lagi kutipan ini membuktikan betapa liciknya Frans Donald. Perhatikan kalimat lengkap dari buku  “Origin and Evolution of Religion” E.W. Hopkins :  "Permulaan doktrin Tritunggal telah muncul dalam Injil Yohanes. "Bagi Yesus dan Paulus, doktrin Tritunggal rupanya tidak dikenal;... mereka tidak mengatakan apa-apa mengenai itu." (Origin and Evolution of Religion, hal. 336). Perhatikan keseluruhan kalimat di atas. Rupanya Frans hanya mengutip kalimat yang saya garis bawahi saja tetapi sengaja membuang kalimat awalnya yang berbunyi "Permulaan doktrin Tritunggal telah muncul dalam Injil Yohanes”. Jadi bukankah ini menunjukkan betapa liciknya Frans Donald?  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersambung….&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-2418704991887546343?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/2418704991887546343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=2418704991887546343&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2418704991887546343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2418704991887546343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2008/12/membongkar-inkonsistensi-kecurangan.html' title='MEMBONGKAR INKONSISTENSI &amp; KECURANGAN FRANS DONALD (1)'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-2346446868282760200</id><published>2008-12-11T07:48:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T07:51:58.329-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>BENARKAH DOKTRIN TRITUNGGAL PRODUK KONSILI NICEA? (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Atas Tulisan Frans Donald&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esra Alfred Soru &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Novatian (Tahun 235 M)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Novatian mengatakan : Alkitab menjelaskan Kristus sebagai Allah sebanyak menjelaskan Allah sebagai manusia. Alkitab menjelaskan Yesus Kristus sebagai manusia terlebih lagi menjelaskan Kristus Tuhan sebagai Allah. Karena tidak dirancangkan untuk Dia sebagai  Anak Allah  saja, tetapi juga sebagai Anak Manusia, atau bukan saja dikatakan sebagai Anak Manusia tetapi Dia juga biasa berbicara sebagai Anak Allah. Jadi Dia adalah Anak Allah dan Anak Manusia. Dia dua-duanya. Menjadi tidak sempurna jika Dia hanya salah satu, Dia tidak dapat menjadi salah satu saja. Dan sebagaimana natur telah menentukan bahwa Dia harus dipercayai sebagai manusia yang berasal dari manusia, maka natur yang sama juga telah menentukan Dia sebagai Anak Allah yang adalah Allah…. karena itu, biarlah mereka yang membaca bahwa Yesus Kristus Anak Manusia itu adalah manusia juga membaca bahwa Yesus yang sama juga adalah Allah dan Anak Allah. (Treatise on the Trinity 11). Jelas bahwa Novatianus mempercayai rumusan Kristologi seperti yang dipercaya saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ignatius dari Anthiokia (Tahun 250 M)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ignatius dalam suratnya kepada jemaat Efesus mengatakan bahwa “Kita juga punya seorang tabib yaitu Tuhan Allah kita, Yesus Kristus, sang Firman dan Anak tunggal Allah sebelum waktu ada, yang kemudian menjadi manusia dari perawan Maria.  (Letter to the Ephesians). Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, ia menulis : “Bagi Allah kita Yesus Kristus, ada di dalam Bapa adalah penyataan yang lebih jelas. Pekerjaan ….”  (Letter to the Romans).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cyprian dari Carthage (Tahun 253 M)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cyprian mengatakan : Siapa yang menyangkal Yesus sebagai Allah tidak dapat menjadi bait Roh Kudus”. (Letters 73:12) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gregory the Wonder-worker (Tahun 262 M)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gregory the Wonder-worker mengatakan : “Tetapi beberapa orang telah memperlakukan Roh Kudus secara tidak benar, ketika mereka dengan yakinnya menyatakan bahwa tidak ada 3 pribadi dan memperkenalkan (ide) satu pribadi tanpa subsistence. Alasan kita berbeda dari Sabellius yang percaya bahwa Bapa dan Yesus adalah pribadi yang sama…inilah keyakinan kita, karena kita percaya bahwa 3 pribadi yang disebut Bapa, Anak dan Roh Kudus menyatakan memiliki satu ketuhanan: karena satu keilahian ditunjukkan berdasarkan natur dalam Tritunggal yang menguatkan keesaan dari natur. (A Sectional Confession of Faith 8). Ia melanjutkan : Tetapi jika mereka berkata, bagaimana mungkin ada 3 pribadi tetapi satu keilahian? Kita seharusnya menjawab: Bahwa memang ada 3 pribadi, karena ada Pribadi Allah Bapa dan Pribadi Anak dan Pribadi Roh Kudus; memang tiga tetapi satu keilahian, karena hanya ada satu substansi dalam Tritunggal. (A Sectional Confession of Faith, 14). Jelas ia percaya kepada doktrin Tritunggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Methodius (Tahun 305 M)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Methodius mengatakan : “Karena kerajaan Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu, bahkan substansi mereka adalah satu dan kedaulatanNya satu. Yang mana, dengan pemujaan yang satu dan sama, kita menyembah satu Allah dalam 3 pribadi, sumber hidup tanpa awal, tidak diciptakan, tanpa akhir dan tak tergantikan. Karena Allah Bapa tidak akan pernah berhenti menjadi Bapa, maupun Anak berhenti menjadi Anak dan Raja, pun Roh Kudus berhenti menjadi sebagaimana adanya Ia. Karena Pribadi dalam Tritunggal tidak akan mengalami pengurangan dalam kekekalan, komunikasi dan dalam kedaulatan. (Oration on the Psalms 5). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Arnobius (Tahun 305 M)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Arnobius  berkata : Memang ada beberapa orang yang gusar, marah dan dengan bersemangat berkata, Apakah Kristus Tuhanmu? Memang Dia Tuhan, dan Allah dari kuasa yang tersembunyi” menjadi jawaban kita.  (Against the Pagans 1:42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lactantius (Tahun 307 M&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lactantius jelas mempercayai rumusan Kristologi seperti yang dipercaya sekarang ini. Ia berkata : “Dia adalah Anak Allah dalam roh dan Anak manusia dalam daging. Jadi Dia Allah dan manusia. (Divine Institutes 4:13:5).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikianlah iman bapa-bapa gereja pada masa pra konsili Nicea. Jelas terlihat bahwa mereka percaya akan doktrin Tritunggal dan keallahan Yesus. Walaupun ada beberapa di antara mereka yang mempunyai konsep Tritunggal yang tidak sempurna namun jelas bahwa iman kepada Allah Tritunggal itu sudah hidup dalam hati dan pikiran mereka jauh sebelum diselenggarakannya konsili Nicea. Itu berarti bahwa doktrin Tritunggal bukan hasil dari konsili Nicea pada tahun 325. Dengan demikian pernyataan FD bahwa doktrin Tritunggal dan keallahan Yesus adalah hasil/produk dari konsili Nicea adalah sesuatu yang tidak benar dan hanya menunjukkan bahwa FD buta sejarah. Tidak mengerti apa-apa tentang sejarah doktrin Tritunggal tetapi berbicara seperti orang yang tahu banyak. Dan itu sekaligus juga merupakan fitnahan terhadap doktrin Tritunggal. Saya sarankan kepada Frans secara pribadi agar sebaiknya anda belajar yang lebih banyak supaya statement-statement anda tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri dan semua pembaca Timex akan melihat kebodohan dan kecerobohan anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KONSILI NICEA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jikalau iman akan Allah Tritunggal sudah hidup dalam hati dan pikiran para bapa gereja sebelum konsili Nicea (tahun 325), lalu apa sebenarnya yang terjadi pada konsili Nicea sehingga para Unitarian seperti Frans Donald dan juga grup Saksi-Saksi Yehuwa selalu menuduh bahwa doktrin Tritunggal adalah produk konsili tersebut ? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada abad 4 muncul suatu ajaran yang dicetus oleh seorang bernama Arius, seorang penatua gereja di Alexandria. Arius mengemukakan bahwa Anak Allah (Yesus) adalah ciptaan dan sebagai Firman (logos). Ia bukanlah Allah dan juga bukan manusia biasa. Firman (Yesus) adalah ciptaan yang berada di antara Allah dan manusia, ia lebih rendah dari Bapa, namun diangkat sebagai ‘anak angkat’ dengan gelar ‘Anak Allah.’ Firman itu diciptakan pertama dan paling besar dari semua ciptaan, kemudian Firman itu diberi kuasa untuk menciptakan yang lainnya. Jadi ada saatnya di mana Firman itu tidak ada, kemudian diciptakan oleh Allah dan disebut ‘Allah’ juga. Bernhard Lohse memberikan keterangan tentang ajaran Arius sebagai berikut : “Firman, pada pihak lain, yang dalam Yesus Kristus menjadi daging, adalah ciptaan Allah, diciptakan Allah dari ketiadaan sebelum permulaan waktu. Hal itu tidak berarti bahwa Arius menempatkan Anak sederajat dengan ciptaan lain. Menurut Arius, Anak adalah suatu ciptaan yang sempurna, tetapi ia bukanlah ciptaan lainnya. (Pengantar Sejarah Dogma Kristen; hal. 61). Encyclopedia Britannica 2000 memberi keterangan tentang Arianisme (ajaran Arius) ini sebagai berikut : Suatu bidat / sekte Kristen yang mula-mula diusulkan pada abad ke 4 oleh seorang penatua dari Alexandria bernama Arius. Bidat ini menegaskan bahwa Kristus bukan sungguh-sungguh ilahi, tetapi suatu makhluk ciptaan. Alasan dasar dari Arius adalah keunikan dari Allah, yang adalah satu-satunya yang ada dari diriNya sendiri / ada dengan sendirinya dan yang tidak berubah; Anak, yang tidak ada dengan sendirinya, tidak bisa adalah Allah. Karena keallahan itu unik, itu tidak bisa dibagikan / dimiliki bersama atau diberikan, dan karena itu Anak tidak bisa adalah Allah. Karena keallahan adalah sesuatu yang tidak bisa berubah, maka Anak, yang bisa berubah, karena digambarkan dalam kitab-kitab Injil sebagai bertumbuh dan berubah, tidak bisa adalah Allah. Karena itu, Anak harus dianggap sebagai suatu makhluk ciptaan yang diciptakan dari tidak ada dan mempunyai permulaan. Selanjutnya, Anak tidak mempunyai pengetahuan langsung tentang Bapa, karena Anak itu terbatas dan berasal dari ordo keberadaan yang berbeda…” Itulah yang diajarkan Arius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana tanggapan bapak-bapak gereja terhadap ajaran Arius ini? Pada umumnya mayoritas bapak gereja menolak ajaran Arius yang dianggap tidak sesuai dengan Alkitab. Alexander, uskup Alexandria menentang pemikiran Arius hingga terjadilah perdebatan yang sangat sengit bahkan melibatkan beberapa pimpinan jemaat. Masalah ini akhirnya ditangani oleh Kaisar Konstantin dengan diadakannya Konsili Nicea pada tahun 325 untuk membahas kontroversi ajaran Arius ini. Bagaimana hasilnya? Ternyata mayoritas yang hadir  dalam konsili itu (sekitar 300 peserta) menolak ajaran Arius dan menganggapnya tidak sesuai dengan Firman Tuhan dan meneguhkan kepercayaan semula mengenai keallahan Yesus yang setara dan sehakikat dengan Allah Bapa. Namun karena Konstantin ingin netral, hasil Konsili tidak ditindaklanjuti olehnya apalagi anaknya bersimpati kepada Arius. Juga waktu itu Eusebius, uskup Konstantinopel, kawan dekat Arius memfitnah Athanasius sehingga Athanasius beberapa kali harus masuk keluar penjara. Namun, iman Athanasius tetap teguh dan ia terus berjuang memperjuangkan kebenaran. Dengan kematian Alexander (328), Athanasius menggantikannya, dan ia tetap teguh mempertahankan imannya dan sekali lagi dalam Konsili Konstantinopel (381), ajaran keallahan Yesus kembali diteguhkan dan ketritunggalan Allah dirumuskan sebagai ajaran Trinitas, akibatnya Arianisme mengalami kemunduran hingga menghilang pada tahun 650. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejarah singkat ini kita dapat mengetahui bahwa sebenarnya doktrin Tritunggal bukanlah kepercayaan yang berkembang pada abad ke-4 yang dihasilkan oleh gereja Kristen seperti yang dituduhkan atau lebih tepat difitnahkan si penyesat Frans Donald ini. Yang terjadi adalah bahwa dalam menghadapi bidat Arius maka gereja merasa perlu memberikan perumusan yang jelas akan kepercayaan yang sudah ada sejak awal kekristenan itu. Inilah faktanya! Jadi sekali lagi terbukti bahwa Frans Donald adalah orang yang buta sejarah, tidak memahami sejarah dogma Kristen dengan baik. Anehnya ia berteriak-teriak bak pahlawan kesiangan yang ingin menghapus doktrin Tritunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang ingin saya tambahkan adalah bahwa doktrin Arius yang mulai menghilang tahun 650 itu muncul lagi pada abad modern ini lewat aliran-aliran seperti Saksi-Saksi Yehuwa dan Unitarianisme. Aliran Saksi-Saksi Yehuwa dan Unitarianisme ini mempunyai ajaran yang sangat mirip dengan ajaran Arius di mana mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah sejati dan menganggap Yesus sebagai ciptaan pertama dari Allah, Ia adalah penghulu malaikat Mikhael. Ia berada di atas manusia tetapi di bawah Allah. Ia adalah setengah Allah. Frans Donald telah menulis buku dengan judul “Ternyata Yesus Malaikat”. Mereka percaya bahwa Yesus juga Allah tetapi bukan Allah sejati. Saksi-Saksi Yehuwa percaya bahwa Yesus adalah Allah tetapi Allah kecil atau Allah Yunior. Jadi dapat dikatakan bahwa Arius itu adalah bapak moyang atau nenek moyangnya Saksi-Saksi Yehuwa dan Frans Donald. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan doktrin Arius di atas? Bernhard Lohse menganalisa ajaran Arius dengan berkata : “Pada akhirnya Arius tiba pada banyak persoalan yang tidak dapat diselesaikan, yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada persoalan-persoalan yang telah ia selesaikan. Ia mau memegangi keunikan Allah, dan kelihatannya ia memang berhasil. Tetapi dalam kenyataannya ia menjadikan Kristus semacam setengah-Allah (demigod); bukan sebagai manusia, juga bukan Allah. (Pengantar Sejarah Dogma Kristen; hal. 61). Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik Arianism menulis tentang ajaran Arius ini : Menurut penentang-penentangnya, khususnya uskup Athanasius, ajaran Arius menurunkan Anak menjadi ‘seorang setengah allah’, dan dengan demikian memperkenalkan kembali politeisme (karena penyembahan kepada Anak tidak ditinggalkan), dan merusak / meruntuhkan konsep penebusan Kristen, karena hanya Ia yang adalah sungguh-sungguh Allah yang bisa memperdamaikan manusia dengan keallahan. ...”. Philip Schaff mengutip kata-kata Athanasius yang menyerang Arianisme : “Arianisme mengajarkan dua allah, satu allah tidak diciptakan dan satu allah diciptakan, satu allah yang tertinggi dan satu allah sekunder, dan jatuh kembali ke dalam politeisme kafir. ... Athanasius menuduh pengikut-pengikut Arianisme dengan dualisme dan kekafiran” (History of the Christian Church’, vol III, hal 648-649). Walter Martin menulis : “Menara Pengawal (Majalah Saksi Yehuwa) ... membuat Yesus ‘allah yang kedua’ dan dengan demikian memasukkan politeisme ke dalam kekristenan” (The Kingdom of the Cults’, hal 69). Selain itu doktrin mereka (Arius, Saksi-Saksi Yehuwa, Unitarianisme) jelas bertentangan dengan banyak ayat Kitab Suci seperti Kel 20:3 : “Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu”. Yes 44:6 : “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari padaKu”. Yes 45:5 : “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku”. Juga Yes 43:10 : “‘Kamu inilah Saksi-SaksiKu,’ demikianlah firman TUHAN, ‘dan hambaKu yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepadaKu dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi”. Dari semua ini jelas bahwa ajaran Arius, Saksi-Saksi Yehuwa dan Unitarianisme membuat mereka menjadi satu golongan dengan agama-agama kafir. Saksi-Saksi Yehuwa sering menuduh bahwa agama Kristen dengan doktrin Tritunggalnya adalah kafir. Demikian juga dengan Frans Donald dan Unitarianismenya. Tetapi justru dengan kepercayaan mereka tentang Allah yang diciptakan, Allah kecil - Allah besar, setengah Allah, dll menunjukkan bahwa ajaran merekalah yang sesungguhnya kafir. Mereka berusaha memasukkan politeisme ke dalam kekristenan. Jadi tindakan Frans Donald itu seperti ‘maling teriak maling’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Frans Donald, dalam buku anda, anda membantah ayat-ayat dasar dari doktrin Tritunggal tetapi itu semua sudah saya jawab. Anda tidak memberikan jawaban balik malah menantang debat di Surabaya. Saya ladeni anda dan kawan-kawan hingga menyerahnya kalian pada debat ke IX. Anda ternyata masih terus berkoar-koar bahwa Yesus bukan Allah sejati dalam opini anda sebelumnya yang dimuat di Timex. Itu pun sudah saya bantah dan anda sama sekali tidak bisa menjawabnya. Ketika Sdr. Anton Bele menanggapi tulisan anda, anda balik menyerang doktrin Tritunggal dengan mengatakan bahwa doktrin Tritunggal tidak Alkitabiah, hasil/produk konsili Nicea dan kafir. Dan sekarang lewat tulisan ini sudah saya buktikan bahwa anda buta sejarah. Doktrin Unitarian anda sendirilah yang kafir dan tidak Alkitabiah. Karena itu anda boleh dengan mengatakan pada Sdr. Anton Bele : “…Kehadiran Gereja Roma Katolik merupakan hasil kompromi antara kekristenan dengan Romawi yang bertradisi pagan, yang kemudian dalam perkembangan sejarah imannya dibangun melalui putusan konsili-konsili yang penuh muatan politis. Jadi kalau andaikan mau dihakimi berdasar konsili, maka saya (dan para penolak doktrin Tritunggal, Unitarian, Saksi Yehuwa, Mormon, Islam, Yahudi, Kristen Liberal, dll-nya yang tegas menolak Tritunggal) bisa saja anda sebut sebagai ‘Anathema Sit!’ (terkutuklah dia!)” namun saya yakin bahwa ‘Anathema Sit’ yang dikatakan Anton Bele itu cocok untuk anda dan semua rekan penolak doktrin Tritunggal yang anda sebutkan di atas. Namun ‘Anathema Sit’ yang saya maksudkan bukanlah ‘Anathema Sit’ ala Katolik Roma yang dilakukan oleh Paus yang anda analogikan sebagai Lurah melainkan ‘Anathema Sit’ ala Kitab Suci yang dilakukan oleh Allah sendiri (yang anda analogikan sebagai Presiden) sebagaimana yang dikatakan Paulus dalam Gal 1:8-9 : “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia”. Anda boleh dengan percaya diri mengatakan : “Saya tentu tidak perlu merasa cemas jika dibenci oleh Lurah sementara disayangi oleh Presiden. Presiden jauh lebih berkuasa dari pada Lurah. Lurah hanya bisa berkuasa di kelurahannya saja, jauh berbeda dengan Presiden” tapi bagaimana kalau rasa tidak cemas anda itu adalah rasa tidak cemas yang palsu yang diberikan setan? Bagaimana kalau justru yang terjadi adalah anda dibenci oleh Lurahnya sekalian Presidennya? Betapa tragis nasib anda. Karena itu : “BERTOBATLAH!!!” &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersambung….&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/966186465377145366-2346446868282760200?l=pelangikasihministry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/feeds/2346446868282760200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=966186465377145366&amp;postID=2346446868282760200&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2346446868282760200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/966186465377145366/posts/default/2346446868282760200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pelangikasihministry.blogspot.com/2008/12/benarkah-doktrin-tritunggal-produk_11.html' title='BENARKAH DOKTRIN TRITUNGGAL PRODUK KONSILI NICEA? (2)'/><author><name>PELANGI KASIH MINISTRY</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_H0LA3PNM7iE/SLgpSI5mIfI/AAAAAAAAAJc/ijfS5mrw2qw/S220/SekolahPelangiKasih.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-966186465377145366.post-5861425835204639678</id><published>2008-12-11T07:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T07:48:37.519-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Trinitarian VS Unitarian'/><title type='text'>BENARKAH DOKTRIN TRITUNGGAL PRODUK KONSILI NICEA? (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanggapan Atas Tulisan Frans Donald&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esra Alfred Soru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 31 Oktober dan 1 November yang lalu, harian pagi Timor Express menurunkan tulisan Frans Donald (selanjutnya saya sebut FD) yang adalah tanggapannya terhadap tulisan Sdr. Anton Bele dengan judul “Anathema Sit!” yang diturunkan Timex 24 September 2008). Sebelumnya FD menurunkan tulisannya dengan judul “Benarkah Yesus itu Tuhan” (11-12 Agustus 2008) dan sudah saya berikan tanggapan terhadapnya. Setelah itu barulah menyusul tanggapan Sdr. Anton Bele. Dalam tanggapan itu sudah saya buktikan dari Alkitab bahwa semua klaim FD sama sekali tidak Alkitabiah dan dengan demikian semua yang dikatakannya otomatis gugur. Anehnya FD sama sekali tidak memberikan jawaban atas sanggahan saya malah sebaliknya mengemukakan klaim-klaim yang lain bahwa doktrin Tritunggal adalah hasil/produk konsili Nicea dan bersifat kafir dalam tanggapannya terhadap Anton Bele. Ia sama sekali tak bisa mempertahankan pendapatnya namun terus saja berkoar. Semua ini hanya membuktikan bahwa FD sama sekali tidak tahu malu dan ia tidak lebih daripada seorang penyesat sekaligus pengecut. Semua orang yang mengikuti tanggapan-tanggapan saya terhadapnya (asal tidak buta) akan tahu bahwa FD selalu menghindari serangan-serangan yang saya berikan dan sama sekali tidak memberikan jawabannya. Namun demikian dengan tidak tahu malu ia menyebut doktrin Unitariannya sebagai doktrin yang Alkitabiah sedangkan doktrin Tritunggal tidak Alkitabiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari semua yang dikatakan FD, intinya adalah bahwa doktrin Tritunggal sama sekali tidak punya dasar Alkitabiahnya melainkan hanyalah produk dari konsili Nicea. Berikut ini kata-kata FD : “Doktrin Tritunggal hasil konsili itukah yang anda maksud sebagai inti Iman Kristiani?”, “Dan tulisan saya di Timex pada tanggal 11 dan 12 Agustus yang lalu tersebut berbicara dalam Perspektif Iman Kristiani yang Alkitabiah, dan bukan Iman Kristiani hasil konsili-konsili gereja yang melahirkan rumusan Tritunggal. Artinya, bicara soal kekristenan, tentu harus dibedakan antara ‘Kristen Alkitabiah’ dengan ‘Kristen Konsiliah’”, “Kami (Unitarian) pakai ukuran Alkitab saja, sementara para Trinitarian memakai ukuran konsili-konsili.” “Artinya jelas opini saya mengenai ketuhanan Yesus dan doktrin Tritunggal tidaklah saya dasarkan dari doktrin gereja hasil konsili Nikea, Kalkedon, atau pun konsili-konsili lainnya dari gereja yang berkuasa saat menciptakan doktrin tersebut. Nah, oleh karena opini saya tidak berdasar atas putusan-putusan konsili, maka wajar saja jika opini saya kemudian tidak selaras dengan hasil konsili-konsili gereja yang melahirkan doktrin Tritunggal tersebut. Benarkah doktrin Tritunggal sama sekali tidak mempunyai dasar Alkitabiah dan adalah produk konsili dan dengan demikian doktrin Tritunggal bersifat pagan (kafir)? Ataukah justru FD lah yang buta sejarah, tidak mengerti Alkitab dan dengan demikian apa yang dikatakannya adalah sebuah fitnahan terhadap kekristenan? Kita akan melihatnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KEPERCAYAAN PRA NICEA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Konsili Nicea diadakan pada tahun 325 M. Jika menurut FD doktrin Tritunggal adalah produk dari konsili Nicea, tentulah doktrin Tritunggal (termasuk di dalamnya doktrin keallahan Yesus) baru muncul setelah tahun 325 dan dengan demikian tidak ada orang yang percaya kepada doktrin Tritunggal sebelum tahun 325. Benarkah demikian? Tidak! Justru sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa bapa-bapa gereja pra Nicea percaya bahwa Yesus adalah Allah dan dengan demikian juga percaya kepada doktrin Tritunggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aristides (Tahun 140 M)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tahun 140 M seorang yang bernama Aristides mengatakan bahwa : “Orang Kristen adalah mereka yang berada di atas setiap orang di bumi, yang telah menemukan kebenaran karena mereka mengakui adanya Allah, pencipta dan penyebab segala sesuatu, di dalam Putera satu-satunya dan di dalam Roh Kudus. (Apology 16). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Justin Martyr (Tahun 150 M)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tahun 150 M Justin Martyr menulis : “Allah dari alam semesta memiliki seorang Putera, yang juga menjadi yang pertama dilahirkan dari Firman Allah, bahkan Allah. (Justin Martyr, First Apology, ch 63). Ia mengutip Ibrani 1:8 untuk membuktikan keilahian Kristus, "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya (Dialogue with Trypho, ch 56) dan mengatakan : Oleh karena itu kata-kata ini (Ibr 1:8) menyatakan dengan tegas bahwa Ia (Kristus) disaksikan oleh Dia yang menetapkan/mengadakan segala sesuatu, sebagai yang layak untuk disembah, sebagai Allah dan sebagai Kristus. (Dialogue with Trypho, ch. 63). Di dalam Justin Martyr in Chap. LXVI para muridnya mengatakan bahwa Ia (Justin) membuktikan dari kitab Yesaya bahwa Allah telah dilahirkan dari seorang perawan. Justin Martyr dalam dialognya dengan Trypho mengatakan kepada Trypho bahwa : “Ia yang dipanggil sebagai seorang manusia oleh Yehezkiel, Anak Manusia oleh Daniel, seorang anak oleh Yesaya, dan Kristus dan Allah yang disembah oleh Daud …. Untuk itu engkau harus mengerti bahwa ia yang dicatat oleh para nabi, tidak bisa kamu tolak bahwa Ia adalah Allah, …. (Dialogue of Justin with Trypho, A Jew, Chap. CXXVI [lihat juga The First Apology of Justin, Chap. XIII; XXII; LXIII; Dialogue of Justin with Trypho, A Jew, Chap. XXXVI; XLVIII; LVI; LIX; LXI; C; CV; CXXV; CXXVIII). Trypho juga mengatakan kepada Justin Martyr bahwa : “Kamu berkata bahwa Kristus sebagai Allah sebelum segala zaman dan bahwa Ia meredahkan diri dan dilahirkan menjadi manusia” (Dialogue with Trypho, ch.48). Kutipan-kutipan di atas membuktikan bahwa Justin Martyr yang hidup pada tahun 150 M sudah percaya bahwa Yesus adalah Allah.  Pada tahun 150 M juga Polycarpus dari Smirna mengatakan : Aku memuji-Mu untuk segala sesuatu, aku memberkati-Mu, aku memuliakan-Mu bersama dengan yang kekal dan Kristus surgawi, Putera-Mu yang terkasih, dengan siapa, kepada-Mu dan Roh Kudus, kemuliaan bagi kedua-Nya sekarang sampai selamanya. Amin! (Martyrdom of Polycarp 14). Jelas bahwa Polycarpus memuji dan menyembah dan memberi kemuliaan kepada Bapa, Kristus dan Roh Kudus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mathetes (Tahun 160 M)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tahun 160 M seorang bernama Mathetes berkata : Sang Bapa mengutus Firman di mana Ia dinyatakan kepada dunia…Ini adalah Ia yang berada dari awal, yang nampaknya seperti baru, dam telah ditemukan tua. Ini adalah Ia yang berada dari kekal, yang sekarang disebut Sang Putera. (Letter to Diognetus 11). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tatian the Syrian (Tahun 170 M)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tahun 170 M Tatian the Syrian berkata : "Kami tidak sementara melakukan suatu kebodohan, kamu orang Yunani jangan bohong ketika kami beritakan bahwa Allah telah lahir dalam bentuk seorang manusia (Address to the Greeks 21). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Melito dari Sardis (Tahun 177 M)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pada tahun 177 M, Melito dari Sardis mengatakan bahwa :  “Aktivitas dari Kristus setelah baptisan-Nya, secara khusus mujizat-mujizat-Nya memberikan indikasi dan jaminan pada dunia tentang keilahian-Nya yang tersembunyi di dalam daging. Allah, seperti seorang manusia sempurna, Ia memberikan indikasi positif  dari kedua natur-Nya : Keilahian-Nya, melalui mujizat-mujizat-Nya selama 3 tahun setelah baptisan-Nya, Kemanusiaan-Nya, selama 30 tahun sebelum Ia dibaptis, selama itu melalui kondisi-Nya menurut daging, Ia menyembunyikan tanda-tanda keilahianNya walaupun Ia adalah Allah yang sejati sebelum segala zaman” (Fragment in Anastasius of Sinai's The Guide 13). Nampak sekali bahwa Melito sudah mempercayai dua natur Kristus (keilahian dan kemanusiaan-Nya) persis seperti rumusan Kristologi saat ini. Philip Schaff menulis tentang Melito dari Sardis : ‘Kami bukan penyembah-penyembah dari batu yang tolol / tak berguna / tak berarti, tetapi memuja hanya satu Allah, yang ada sebelum semua dan di atas semua, dan Kristus-Nya betul-betul Allah Firman sebelum segala zaman’ (History of the Christian Church’, vol II, hal 738). Jelas bahwa bapa gereja ini menyembah dan memuja Kristus, dan mempercayai Yesus sebagai Allah yang kekal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Irenaeus (Tahun 180 M)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnya seorang bapa gereja bernama Irenaeus (tahun 180 M) menulis : Selanjutnya Ia (Allah) menciptakan segala sesuatu, bersama Firman-Nya yang dengan tepat disebut Allah dan Tuhan, …” (Against Heresies, Book III, ch. 8, section 3). Di bagian lain ia juga mengatakan : “Tetapi Sang Anak, berada dalam kekekalan bersama Sang Bapa, dari dulu, dari permulaan,… (Against Heresies, Book II, ch. 30, section 9). Ia juga berkata : “Kristus Yesus adalah Tuhan kami, dan Allah, dan Penyelamat, dan Raja” (Against Heresies, Book I, ch. 10, section 1). Selanjutnya : “Tetapi Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa, di atas segala manusia yang pernah hidup, Allah dan Tuhan dan Raja yang kekal, dan inkarnasi dari Firman, yang diproklamasikan oleh semua nabi dan rasul melalui Roh diri-Nya….”  (Irenaeus Against Heresies, chapter xix.2). Masih banyak kata-kata Irenaeus yang menunjukkan kepercayaannya seperti “Yesus Kristus Tuhan kami dan Allah kami dan Penyelamat dan Raja” (Against Heresies 1:10:1). “Ia bukan malaikat….Bersama dengan Dia (Bapa) selalu hadir Firman dan Hikmat, Sang Anak dan Roh Kudus….Ia menciptakan segala sesuatu sebagaimana yang dikatakan “Baiklah Kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Kita (Kej 1:26) (Against Heresies 4:20:1). “Yesus Kristus adalah satu dan sama, satu-satunya Anak Allah, Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna” (Against Heresies, Book III, ch. 16, Chapter Title).  Dan masih banyak lagi. Jelas bahwa tahun 180 Irenaeus sudah percaya bahwa Yesus adalah Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Theophilus dari Antiokhia (Mati tahun 181 M). &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Philip Schaff berkata tentang Theophilus dari Antiokhia: Ia adalah yang pertama menggunakan istilah ‘triad’ untuk Tritunggal yang kudus, dan sudah menemukan misteri ini dalam kata-kata ‘Baiklah Kita menjadikan manusia’ (Kej 1:26); karena ia berkata, ‘Allah berbicara bukan lain kepada AkalNya sendiri dan HikmatNya sendiri’, yaitu, kepada Logos dan Roh Kudus yang dipribadikan / dianggap sebagai pribadi’ – (History of the Christian Church’, vol II, hal 733).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Clement Of Alexandria (Tahun 190 M)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Clement dari Alexandria menulis : “Anak Allah berada dalam substansi yang sama dengan Bapa, kekal dan tidak diciptakan” (Fragments, Part I, section III). Selanjutnya : “Ia benar-benar adalah manifestasi dari Allah …”  (Exhortations, Chap 10).  Ia juga berkata : ‘Ia (Yesus) sendiri adalah Allah dan manusia dan sumber dari segala sesuatu…’  (Exhortation to the Greeks 1:7:1). Dalam buku yang lain Clement menulis : “Anak-Nya Yesus, Firman Allah adalah instruktur kita…Ia adalah Allah dan pencipta” (Instructor, Book I, ch. 11), “Instruktur kita yakni Anak,  seperti Bapa-Nya, tidak berdosa, suci, dan dengan jiwa yang sangat menderita, Allah dalam bentuk manusia, tak bernoda, pelayan dari kehendak Bapa-Nya, Firman yang adalah Allah, yang berada di dalam Allah, tangan kanan Allah, d
